Kawanan yang Tak Pernah Pulang

oleh -98 Dilihat
banner 468x60

Fajar belum benar-benar lahir ketika Kustiono sudah berdiri di tepi sungai yang mengalir malas di antara batu-batu hitam, bekas muntahan gunung purba yang kini tampak jinak. Langit menggantung rendah, kelabu seperti kain kafan yang belum sempat dikibaskan. Hujan turun tipis, seperti seseorang yang ragu-ragu menangis. Di kejauhan, kawanan burung melintas dalam formasi yang rapi, membelah udara dengan ketenangan yang hampir terasa seperti doa.

Kabut turun perlahan dari lereng pegunungan, merayap seperti ingatan lama yang enggan pergi. Pepohonan berdiri dalam diam yang terlalu rapi, seolah mereka menyimpan rahasia yang tidak boleh terucap. Tanah yang tampak asri itu sesungguhnya rapuh—di balik
hijaunya, ia menyimpan luka yang diwariskan oleh cengkeraman penguasa asing yang mengorek perut bumi dengan keserakahan yang dibungkus janji kemakmuran. Sungai yang kini mengalir tenang itu dahulu adalah saksi bisu suara mesin dan jeritan, tetapi waktu telah mengajarinya untuk diam, untuk mengalir seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Di tepian sungai, jejak-jejak kehidupan tampak samar—bekas pijakan kaki, serpihan kayu, dan dulang-dulang yang diletakkan sembarangan seperti alat yang kehilangan makna. Penduduk pegunungan yang dulu menanam harapan di ladang kini menggantungkan nasib pada butiran emas yang tidak pernah pasti. Mereka hidup dalam ritme yang sunyi, di mana percakapan lebih sering terjadi di dalam kepala masing-masing daripada di antara sesama.

Dan di atas semua itu, langit yang kelabu menggantung seperti pertanyaan yang tak pernah.dijawab, sementara hujan yang turun perlahan seakan berusaha membersihkan sesuatu.yang tidak pernah benar-benar bisa hilang. Kustiono menunduk, mengaduk pasir dengan dulangnya. Tangannya terlatih, gerakannya sederhana, seperti seorang yang tidak pernah menginginkan lebih dari sekadar cukup. Di antara gemericik air dan denting batu yang saling bergesekan, ia mendengar sesuatu yang lain—sesuatu yang tidak berasal dari sungai, tetapi dari dalam dirinya sendiri. Sebuah kegelisahan yang perlahan tumbuh seperti lumut di dinding batu.

Dulu, sebelum tanah ini menjadi surak dan keras seperti hati yang terlalu sering dikhianati janji-janji, mereka adalah petani. Padi tumbuh seperti doa yang dijawab. Namun kini, tanah itu hanya menyimpan luka lama dari bekas tambang emas tinggalan penguasa lahan yang datang dari negeri asing, yang datang seperti kutukan. Sekarang para petani itu tidak lagi menanam kehidupan, hanya mengais sisa-sisa dari masa lalu. Kustiono mengangkat dulangnya, menggoyang perlahan. Air keruh mengalir keluar, menyisakan butiran pasir yang berkilau samar. Ia menatapnya lama, seolah-olah emas itu bukan sekadar logam, melainkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang diam-diam telah mengubah manusia menjadi pemburu sesamanya. “Bapak terlalu sering diam,” suara Tunjung Sewu tiba-tiba muncul di belakangnya.

Kustiono tidak menoleh. Ia mengenali suara itu seperti mengenali nafasnya sendiri. Anaknya, satu-satunya yang tersisa dari kehidupan yang dulu terasa utuh. Tunjung Sewutidak seperti dirinya. Matanya tajam, pikirannya seperti api yang tidak pernah padam. Iamembaca banyak hal, bahkan hal-hal yang tidak pernah tertulis.“ Diam itu bukan berarti tidak tahu,” jawab Kustiono pelan.“ Kadang diam itu justru tanda takut,” kata Tunjung Sewu. “Atau tanda setuju.” Hujan sedikit mengeras, seperti ingin menengahi percakapan mereka. Kustiono menatap sungai. Air itu mengalir, membawa apa saja yang jatuh ke dalamnya—daun, ranting, bahkan mungkin sejarah yang tidak pernah selesai.“ Dunia ini berubah, Pak,” lanjut Tunjung Sewu. “Orang-orang hilang. Ada yang bilang mereka pergi. Tapi tidak ada yang benar-benar tahu ke mana.”

Kustiono menelan ludah. Ia tahu. Atau setidaknya, ia merasa tahu. Namun pengetahuan itu seperti batu panas di dalam dada—tidak bisa dipegang, tetapi juga tidak bisa dilepaskan. Ia teringat kawanan burung yang selalu kembali setiap musim. Mereka terbang bersama, saling menjaga, tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Dunia burung, pikirnya, adalah dunia yang sederhana. Tidak ada kekuasaan yang membungkam. Tidak ada ketakutan yang dipelihara. “Burung-burung itu,” gumamnya, “mereka tidak pernah saling memangsa.” Tunjung Sewu tersenyum pahit. “Karena mereka tidak punya emas.” Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur batin Kustiono. Dalam. Gelap. Bergema. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang sama. Sungai, dulang, hujan, dan langit kelabu.

Namun sesuatu mulai berubah. Ada bisik-bisik yang beredar di antara para pendulang. Tentang orang-orang yang datang dari kota. Tentang tanah yang akan “dibersihkan”. Tentang daftar nama. Kustiono mencoba mengabaikannya. Ia memilih percaya bahwa hidup akan tetap berjalan seperti biasa, seperti air sungai yang tidak pernah berhenti meski dunia berubah. Namun pikirannya tidak bisa benar-benar diam. Setiap malam, ia terbangun dengan dada sesak, seolah ada sesuatu yang mengetuk dari dalam.

Tunjung Sewu semakin sering pergi. Ia bertemu dengan orang-orang yang juga gelisah, yang berbicara tentang keadilan, tentang keberanian, tentang sesuatu yang lebih besar dari sekadar bertahan hidup. “Agama bukan hanya tentang doa, Pak,” ia pernah mengatakan itu di suatu malam. “Tapi tentang keberanian melawan yang salah.” Kustiono menatap anaknya lama. Wajah itu mengingatkannya pada ibunya—keras, tetapi penuh cahaya. Ia ingin berkata sesuatu, tetapi kata-kata terasa seperti burung yang enggan hinggap.

“Tidak semua yang salah bisa dilawan,” akhirnya ia berkata. “Kalau begitu, yang salah akan terus hidup,” jawab Tunjung Sewu. Hujan turun lebih deras malam itu. Seperti langit yang kehilangan kesabaran.

*****

Suatu sore menjelang petang, ketika kabut hampir sepenuhnya terangkat, Kustiono menemukan sesuatu di dasar dulangnya. Bukan emas. Bukan batu. Sesuatu yang membuat tangannya gemetar. Sebuah potongan kain. Kecil. Lusuh. Namun ia mengenali motifnya. Itu adalah kain yang sering dipakai Tunjung Sewu. Dunia tiba-tiba terasa berhenti. Air sungai tetap mengalir, tetapi waktu seperti membeku. Kustiono menatap kain itu lama, seolah berharap ia salah. Seolah berharap ini hanya kebetulan. Namun hatinya tahu. Ia berdiri perlahan, menatap sekeliling. Sungai itu tiba-tiba terasa berbeda. Tidak lagi sekadar aliran air, tetapi seperti luka panjang yang menyimpan pertanyaan. Di kejauhan, kawanan burung kembali melintas.

Kali ini, formasi mereka tidak serapih biasanya. Ada yang tertinggal. Ada yang terpisah. Kustiono melangkah menyusuri sungai. Setiap langkah terasa berat, seperti membawa seluruh beban dunia. Hujan turun lagi, lebih deras, seolah ingin menghapus sesuatu yang tidak bisa dihapus. Dan kemudian ia melihatnya. Di antara bebatuan, tersangkut di akar pohon yang mencengkeram tepi sungai seperti tangan yang tidak ingin melepaskan, ada tubuh. Diam. Pucat. Seperti bayangan yang kehilangan pemiliknya. Tunjung Sewu.

Kustiono tidak berteriak. Ia hanya berdiri, seperti pohon yang tiba-tiba kehilangan musim. Dunia terasa sunyi. Bahkan suara hujan pun seperti menjauh. Ia mendekat perlahan, berlutut di samping tubuh anaknya. Wajah itu tenang. Terlalu tenang. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti bertanya. Di lehernya, ada bekas memar akibat guratan tali tambang. Kustiono menutup mata. Dalam gelap itu, ia melihat banyak hal—wajah-wajah yang hilang, suara-suara yang dibungkam, doa-doa yang tidak pernah dijawab.

Ia teringat kata-kata Tunjung Sewu. Kalau begitu, yang salah akan terus hidup. Kustiono membuka mata. Hujan jatuh di wajahnya, bercampur dengan sesuatu yang akhirnya tidak bisa lagi ia tahan. Namun yang keluar dari mulutnya bukan tangisan. Senyum yang aneh. Retak. Seperti cermin yang sudah terlalu lama menahan bayangan. Ia mengangkat tubuh anaknya, memeluknya seperti memeluk sesuatu yang baru saja ia pahami—bahwa dunia tidak pernah benar-benar terbagi antara yang baik dan yang jahat, tetapi antara yang berani melihat dan yang memilih berpaling.

Di langit, kawanan burung itu kembali melintas. Sungai terus mengalir. Membawa semuanya. Termasuk yang tidak pernah ingin diingat. (*)

Oleh: Fileski Tanjung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.