PONSEL saya biarkan tergeletak dan beberapa kali berdering, namun saya malas mengangkatnya. Beberapa buku yang saya beli di toko beberapa hari lalu
Sebuah Rosario untuk Perasaan yang Tak Dimiliki
Di kota karang (Kupang) yang tenang, setiap hari Minggu terakhir dalam bulan selalu terasa berbeda bagi para frater. Itu adalah hari “outing”
Martinus
Suatu hari di terminal ojek Pasar Oeba Panas matahari Kupang memang panas keras, tapi Martinus sudah biasa. Ia duduk di atas jok
Prajurit Senewen
Ketika Indonesia masih di bawah bayang-bayang kekuasaan Orde Baru, seorang tentara muda dari Banten mendaftar sebagai tentara sukarela untuk ikut-serta memerangi para
Kawanan yang Tak Pernah Pulang
Fajar belum benar-benar lahir ketika Kustiono sudah berdiri di tepi sungai yang mengalir malas di antara batu-batu hitam, bekas muntahan gunung purba
Segenggam Pagi untuk Kekasih
Aku selalu percaya bahwa pagi adalah sesuatu yang bisa digenggam, meski orang-orang di kota ini menganggapnya hanya sebagai jeda singkat sebelum deru
Mengubur Komandan Tempur
Kedua tentara yang diutus pemerintah Orde Baru untuk menumpaskan pemberontakan di Timor Timur, kini tak bisa berkutik lagi. Mereka menunduk menatap ke
Rangkuman Kisah Cinta
Sepertinya kiamat sudah dekat. Saya sedang duduk di jendela, dan awan hitam terlihat mengepul di angkasa, bagaikan asap-asap kelabu yang dikirim dari
Makan Baso Bersama Para Kiai
“Kami makan baso bersama para kiai di rumah Ibu Aisah,” begitu kata Ibu Hani, “juga bersama dosen, pengusaha, sastrawan dan lain-lain.” Hari
Merawat Para Pasien Covid-19
Cerpen Hafis Azhari ini pernah ditayangkan NU Online sejak 3 Juli 2021, yang membuat penulisnya diklaim sebagai “Sastrawan Syiah Tersesat”, suatu tuduhan
- 1
- 2
- …
- 17
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











