Suatu hari di terminal ojek Pasar Oeba
Panas matahari Kupang memang panas keras, tapi Martinus sudah biasa. Ia duduk di atas jok motor bebek kesayangan, jaket ojek lusuh warna oranye sudah hampir pudar jadi merah muda, helm seadanya yang visornya retak di pojok kiri. Itu semua sudah jadi teman setia Martinus selama satu tahun terakhir.
Terminal ojek di Pasar Oeba ini ramai. Orang lalu-lalang bawa kantung belanjaan, suara klakson mobil dan sepeda motor campur aduk jadi satu. Martinus duduk santai sambil sesekali mengelap keringat di dahi.
“Om Martin! Om masih duduk manis di sini? Sudah dapat penumpang belum?”
Sakeus datang sambil mendorong motor Beat lamanya. Wajahnya hitam manis khas orang Timor, senyumnya lebar sampai kelihatan gigi depan. Ia parkir di samping Martinus lalu duduk di trotoar.
“Masih antri, Sake. Hari ini sepi. Kamu sendiri, sudah dapat berapa tadi?” Martinus bertanya sambil merokok.
“Baru dua kali antar. Tapi baiklah, yang penting untuk makan sudah ada,” jawab Sakeus santai.
Martinus hanya tersenyum. Matanya menyipit melihat ke arah utara, ke arah laut yang biru membentang. Ada sesuatu di matanya yang Sakeus sadari tapi tak pernah ia tanyakan. Matanya itu tenang. Tenang sekali. Bukan tenangnya orang yang pasrah, tapi tenangnya orang yang sudah lihat banyak hal dan memilih untuk diam.
“Om, Saya heran dengan kamu,” Sakeus buka suara.
“Heran apa?”
“Om balik dari Jakarta, sonde bawa mobil mewah, sonde bawa rumah besar. Langsung jadi tukang ojek. Padahal dulu Om terkenal di Jakarta, katanya jadi debt collector yang disegani. Bos-bos besar takut dengan Om.”
Martinus membuang puntung rokoknya. Ia memandang Sakeus lama.
“Sake, Saya dulu memang keras. Kejam juga. Setiap hari tagih utang, ancam orang, bikin orang takut. Tapi saya cape. Suatu kali… Saya bertemu seseorang yang ubah hidup saya.”
Dua tahun lalu, di sebuah Kedai Kopi di bilangan Jakarta Selatan, apartemen mewah di kawasan Senopati. Martinus berdiri di depan pintu unit 12B. Tugasnya hari ini: tagih utang Rp850 juta pada seorang Harun Firmansyah.
Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya dengan kacamata bundar dan kemeja putih berdiri tenang.
“Pak Harun? Saya debt collector. Tagihan Anda sudah jatuh tempo tiga bulan. Sekarang harus lunas atau barang disita,” kata Martinus dengan nada keras, sikap tubuhnya tegang siap membanting kalau perlu.
Harun tersenyum. Tidak marah. Tidak takut.
“Masuk dulu. Saya baru buat kopi.”
Martinus bingung. Biasanya orang teriak, minta waktu, atau malah panggil satpam. Tapi pria ini tenang. Ia masuk dan duduk di sofa.
“Mau kopi hitam atau dengan gula?” tanya Harun dari dapur.
“Hitam saja.”
Mereka duduk berhadapan. Harun menatap Martinus dengan mata teduh.
“Mas Martinus dari Kupang, ya? Saya dengar dari cara bicaranya.”
“Iya. Tapi itu bukan urusan bapak. Urusan sekarang, bapak bayar utang.”
“Utang itu urusan nanti,” Harun tetap tersenyum. “Tapi saya lihat mata mas Martinus. Matanya lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah jiwa. Saya tahu, karena dulu saya juga begitu.”
Martinus terdiam. Ada yang menusuk dadanya.
“Bapak ini mau cari masalah sama saya?”
“Sama sekali tidak. Saya mau tawarkan sesuatu. Mas mau belajar trading forex?”
“Apa itu?”
“Forex. Trading. Mengelola uang tanpa harus ancam orang. Tanpa harus pakai otot. Cukup pakai otak dan disiplin.”
Martinus ingin tertawa. Tapi ada sesuatu dari pria ini yang membuatnya bertahan di sofa.
“Bapak ini guru?”
“Panggil saya Harun. Saya dulu juga debt collector seperti mas. Tapi saya sadar, kekayaan yang didapat dari menekan orang lain tidak pernah membawa ketenangan. Saya belajar trading, dan itu mengubah hidup saya. Sekarang saya mengajar orang-orang yang mau berubah.”
Harun membuka laptopnya. Grafik merah hijau dengan angka-angka kecil bergerak.
“Ini pasar. Di sini, musuh terbesar bukan orang lain. Tapi diri sendiri. Emosi. Ketamakan. Ketakutan. Mas Martinus, kalau kamu bisa kalahkan itu, kamu bisa merdeka.”
Martinus pulang malam itu. Ia kembali ke Harun keesokan harinya. Lalu setiap hari selama enam bulan berikutnya.
Awalnya ia gagal. Terus gagal. Uang tabungannya habis. Ia hampir menyerah. Tapi Harun selalu berkata: “Disiplin, Martinus. Jangan lawan pasar. Ikuti alurnya. Seperti kamu dulu di laut Kupang, kamu ikuti arus, bukan lawan arus.”
Setahun kemudian, akun Martinus tembus miliaran. Ia memilih berhenti jadi debt collector. Harun tersenyum bangga.
“Kamu sudah merdeka, Martinus. Sekarang jangan biarkan uang itu menguasai dirimu.”
Merasa di Jakarta ia tidak bisa menjadi diri sendiri, Martinus memutuskan pulang kampung ke Kupang. Ia pulang dengan satu cara: menyamar.
Ia tahu betul keluarganya di kampung hampir selalu ingin bergantung pada orang lain. Ia tahu betul bagaimana “sandwich generation” menjerat orang seperti dirinya. Hal itu yang menyebabkannya tidak bisa kuliah dulu. Orang tuanya ternyata harus menanggung beban ekonomi keluarga besar, termasuk urusan adat keluarga yang butuh modal besar.
Begitu keluarganya tahu ia kaya, semua orang akan datang. Om yang punya utang, tante yang minta modal dagang, adik ipar yang minta dibelikan motor, keponakan yang minta dibelikan handphone atau pulsa. Mereka mendekat bukan karena sayang, tapi karena butuh uang.
Maka Martinus memilih jadi tukang ojek.
Setiap pagi ia pakai jaket lusuh, helm seadanya, lalu mangkal di terminal ojek Pasar Oeba. Hanya Sakeus yang tahu ia pulang. Tapi Sakeus juga tidak tahu kalau rekening Martinus berisi miliaran.
“Mart, kenapa kamu tidak mau pakai baju bagus? Kamu kan dari Jakarta, pasti ada simpanan,” Sakeus pernah bertanya.
“Simpanan sonde banyak, Sake. Cukup untuk hidup sederhana. Saya sonde mau ribet.”
Orang-orang di kampung seakan menjadi intel. Beberapa minggu kemudian, Ibu Dina dari gereja bercerita pada tetangga: “Ada orang kasih sumbangan besar ke panti asuhan Bethania. Tiga puluh juta, katanya transfer diam-diam.”
Bapak Hendrik dari pos ronda juga dengar: “Sekolah minggu dapat dana untuk seragam anak-anak, ada donatur dari Jakarta katanya, tapi tidak jelas siapa.”
Mulai ada bisik-bisik. Mata tertuju pada Martinus.
“Martinus itu anak mama, pulang dari Jakarta jadi tukang ojek. Tapi hidupnya tenang sekali, sonde pernah kelihatan susah. Ada apa ini?” bisik Yanto, tetangga depan rumah.
Yanto mulai mendekati Sakeus.
“Sake, Martinus itu kerja apa di Jakarta? Kok bisa pulang-pulang sonde kerja kantoran tapi hidupnya baik?”
Sakeus hanya menggeleng. “Saya tidak tahu, Yanto. Yang saya tahu, dia tukang ojek. Saya mangkal dengannya setiap hari.”
“Kamu tidak curiga? Kamu pernah liat hp-nya? Ada aplikasi apa?”
Sakeus terdiam. Ia pernah melihat sekilas. Aplikasi dengan grafik hijau merah. Tapi ia tak mau ikut campur.
Sabtu sore, Martinus datang ke rumah Sakeus. Anak Sakeus yang sulung, Lia, baru lulus SMP dan diterima di SMA negeri favorit. Tapi biaya pendaftaran dan seragam berat bagi Sakeus yang penghasilannya pas-pasan.
“Lia, kamu mau lanjut sekolah?” tanya Martinus.
“Iya, Om. Tapi Bapa bilang belum ada biaya.”
Sakeus tertunduk malu. “Lagi lagi usaha cari, Mart. Mungkin pinjam dulu ke koperasi.”
Martinus menggeleng. “Sake, jangan pinjam. Ada donatur dari Jakarta, teman lama Saya, dia mau bantu biaya sekolah Lia sampai tamat SMA. Saya sudah bicara dengannya, dia setuju.”
Sakeus menatap Martinus. Matanya berkaca-kaca. “Terlalu baik… donatur itu, saya boleh tahu siapa?”
“Orang baik yang suka bantu diam-diam. Dia tidak mau dipublikasi.”
Sakeus tidak bertanya lebih lanjut. Tapi dalam hatinya, ia mulai menyambung titik-titik.
Lalu, di kampung sebelah, ada seorang janda tua bernama Mama Lerik. Ia hidup sebatang kara, rumahnya bocor, dan sudah seminggu hanya makan nasi dengan garam. Suatu malam, seseorang mengantarkan beras, telur, minyak, dan uang dua juta rupiah. Orang itu berkata ia hanya kurir, tak tahu siapa pengirimnya.
Mama Lerik menangis. Tetangganya bertanya-tanya. Tapi tidak ada yang tahu.
Martinus tahu. Ia yang mengatur itu semua.
Pukul delapan malam, Kupang mulai dingin. Angin laut bertiup lembut.
Martinus duduk di beranda rumahnya yang sederhana. Jaket ojek sudah dilepas. Kini ia memakai kaos lusuh yang sama seperti biasa. Di tangannya, ponsel menyala. Aplikasi trading terbuka.
Grafik bergerak. Profit lagi.
Martinus tersenyum tipis. Ia tidak lagi mengejar profit besar. Ia sudah punya cukup. Ia hanya menjaga agar kekayaannya tetap bekerja untuknya, bukan sebaliknya.
“Mart! Tidak tidur?”
Sakeus datang sambil membawa dua cangkir kopi panas. Wangi kopi Timor memenuhi beranda.
“Tidak, Sake. Masih menikmati angin malam.”
Sakeus duduk di kursi bambu di sampingnya. Mereka diam sejenak. Menikmati kopi.
“Mart,” Sakeus buka suara pelan. “Saya sudah tahu.”
Martinus menoleh. “Tahu apa?”
“Semua. Donatur untuk Lia, itu Om kan? Bantuan untuk Mama Lerik, itu Om juga kan. Dan grafik di hp Om, itu saya sudah lihat. Om main forex, makanya kamu kaya kan?”
Martinus tidak terkejut. Ia hanya tersenyum.
“Sake, kamu teman saya. Dari dulu kamu jujur, kamu tidak pernah minta apa-apa dari saya. Karena itu saya bantu Lia, bukan karena kamu minta, tapi karena Lia perlu.”
Sakeus menunduk. “Tapi kenapa kamu pura-pura jadi tukang ojek? Kamu punya uang banyak, kamu bisa hidup mewah.”
Martinus menyesap kopinya. Matanya memandang langit malam Kupang yang bertabur bintang.
“Sake, saya dulu debt collector. Saya lihat bagaimana uang bikin orang jadi buas. Saya juga lihat bagaimana kalau orang tau kamu punya banyak uang, orang akan datang. Bukan karena sayang, tapi karena butuh. Kakak saya, adik-adik, paman, tante, sepupu, semua akan datang. Saya akan jadi ATM berjalan. Itu jebakan sandwich generation, Sake. Saya tidak mau hidup untuk bayar hidup orang lain yang tidak mau berusaha.”
Sakeus mengangguk pelan.
“Dan teman-teman, kenalan,” Martinus melanjutkan. “Kalau mereka tahu, mereka akan mendekat. Pinjam uang, minta modal, ajak bisnis. Kalau saya kasih, satu orang datang, sepuluh orang datang. Kalau saya tolak, saya dicap sombong. Jadi lebih baik mereka tidak tahu. Saya hidup sederhana, Saya bisa bantu orang yang benar-benar butuh, dengan cara saya sendiri, tanpa ada yang memaksa.”
“Tapi Om tetap ojek setiap hari. Capek itu, Om?”
Martinus tertawa kecil. “Ojek itu topeng, Sake. Tapi juga jadi cara Saya tetap dekat dengan orang. Saya bisa lihat siapa yang susah, siapa yang butuh. Saya bisa dengar cerita mereka. Dan yang paling penting, saya tetap merasa… normal.”
Sakeus tersenyum. Ia mulai mengerti.
“Mart, kamu itu… orang kaya paling aneh yang saya kenal.”
“Bukan kaya yang penting, Sake. Yang penting merdeka. Bebas dari uang. Bebas dari tekanan orang. Bebas untuk jadi diri sendiri.”
Malam semakin larut. Kopi di cangkir mulai habis. Sakeus pamit pulang.
Martinus tetap duduk di beranda. Ia melihat ponselnya sekali lagi. Lihat grafik forex time frame besar masih berjalan sesuai trading plan-nya. Ia memasang titik stop loss, titik stop profit, titik take profit, menutup aplikasi, lalu menikmati dinginnya malam Kupang.
Di kejauhan, suara ombak laut tenang.
Martinus tersenyum. Ia sudah pulang. Ia sudah merdeka. Dan tidak ada yang perlu tahu, kecuali caranya berbagi yang diam-diam dan kebebasan yang tak bisa dibeli dengan uang mana pun.
Tamat
Oleh: Krismanto Atamou







