Rangkuman Kisah Cinta

oleh -115 Dilihat
banner 468x60

Sepertinya kiamat sudah dekat. Saya sedang duduk di jendela, dan awan hitam terlihat mengepul di angkasa, bagaikan asap-asap kelabu yang dikirim dari peperangan di Timur Tengah. Apakah Tuhan terlibat dalam pengelolaan radiasi nuklir yang mungkin akan merusak saluran pernafasan hingga menggerogoti kulit dan organ-organ tubuh manusia? Ataukah itu akibat radiasi hidrogen yang daya ledaknya ribuan kali lebih dahsyat ketimbang bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun-tahun kemerdekaan RI?

Di ambang jendela, saya melihat hujan-hujan rintik yang membuat orang-orang lalu-lalang dan berlarian mencari tempat berteduh. Saya melihat seorang ibu-ibu tetap berjalan pelan ketika hujan mulai turun dengan lebatnya. Entah, dari mana dia datang. Ke mana dia hendak pergi. Kenapa dia membiarkan dirinya kehujanan. Kenapa dia tak keberatan diguyur hujan seperti itu. Apa yang sedang dia pikirkan di tengah guyuran hujan yang semakin deras itu? Kenapa begitu banyak orang menderita, sementara yang lainnya sedang berteduh hangat di emperan pertokoan, bahkan tertidur pulas dengan selimut tebal di rumahnya?

Seorang wanita cantik keluar dari sebuah toko dengan kerudung hijabnya yang berwarna-warni. Sepertinya saya mengenal wanita itu. Parasnya bagaikan ilmuwan Persia yang sedang tekun merakit rudal hipersonik. Kenapa wanita cantik itu begitu peduli membawakan payung kepada ibu-ibu yang sedang berjalan itu, kemudian keduanya berhenti sejenak di perempatan sambil membelikannya chicken dan gorengan di samping jalan.

Memang, banyak pertanyaan yang dilontarkan seorang pria yang sedang menulis di samping jendela, sambil terus memandang wanita cantik di kejauhan, seraya menuntut ibu-ibu berusia 56 tahun berjalan menuju Stasiun Rawa Buntu. Tapi, benarkah ibu-ibu itu berusia 56 tahun, lalu si wanita cantik itu berapakah usianya, 35, 40, ataukah 45 tahun?

Apakah seorang penulis seperti saya, berhak untuk tahu jawabannya? Lalu, apa yang sedang dibicarakan kedua wanita itu di kejauhan? Apakah soal kekasihnya, suaminya, ataukah anak-anaknya di rumah?

Seberapa pantas saya harus memberi nama pada kedua wanita di kejauhan itu? Indah, Novia, Tuti, Tati, Tini, Yeti, Yana, Yuli, Nyayu, Eli, Ita, Sedy, Euis, Icah, Lala, Lela, Laila? Waduh, begitu banyak pertanyaan kenapa dan bagaimana yang berseliweran di kepala, dan barangkali saya akan semakin fokus untuk menuliskannya, jika saja ada seorang wanita cantik sedang duduk di samping saya.

Lalu, mengapa hijab merah yang dikenakan ibu-ibu itu seakan memudar, karena tertutup embun ataukah asap radiasi nuklir yang terbawa angin dari Timur Tengah, terhempas badai prahara akibat pertempuran antara Iran melawan Israel-Amerika?

Saya mengenali pola pertanyaan yang datangnya bertubi-tubi, khususnya mengenai kekacauan dan penderitaan hidup manusia, kemudian perihal munculnya Dajjal, Imam Mahdi dan Nabi Isa yang menyertai datangnya akhir zaman. Apakah benar, kiamat ini sudah di ambang pintu?

Tali renungan saya terputus, ketika terdengar suara ketukan pintu di luar. Dan setelah saya buka, tampaknya muncul seorang wanita cantik yang kerudungnya agak basah berwarna-warni. Ia membiarkan payungnya tergeletak di lantai karena masih teramat basah.

Memang, begitu banyak di dunia ini kisah-kisah cinta yang ditulis begitu nelangsa dan menyedihkan, sampai-sampai penduduk dunia terhipnotis, seakan tak menyadari bahwa kisah-kisah itu hanyalah rekaan penulis dan sastrawan belaka.

Kecuali kisah cinta yang saya rangkum ini. Sebab, ketika wanita cantik itu masuk ke toilet, lalu mengambil air wudlu dan mengganti pakaiannya dengan mukenah. Seketika itu, dia melaksanakan solat asar, kemudian mendekat ke ambang jendela di sebelah saya, sambil bersama-sama menatap rintik-rintik hujan di luar sana.

Dia duduk menemani saya, bercerita banyak tentang pengalaman seorang ibu-ibu yang baru diantarnya menuju Stasiun Rawa Buntu, terutama mengenai kisah cinta masa lalunya sewaktu sekolah di Pesantren Literasi di daerah Jayanti, Tangerang, lalu mendirikan kelompok pertemanan bernama Darqo 89.

Seketika itu, saya pun merangkum kisah yang dituturkannya, dengan ending cerita optimis dan menarik, bahwa akhir zaman dan kiamat rasanya masih cukup lama. (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia, juga menulis prosa untuk media-media nasional luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.