Marto Gunawan kini sudah meninggal dunia. Tak seorang pun tahu penyebab kematiannya, termasuk para keluarga dan saudara-kerabatnya. Hanya seorang pembantunya yang bernama Masitoh saja yang mengetahui kenapa sampai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Karya monumentalnya yang sedang banyak dibahas di harian-harian nasional adalah “Tragedi Sumur Tua”. Banyak tokoh yang mati sia-sia dalam karya-karya sastranya. Kehidupan yang absurd dan tak rasional selalu melandasi tiap-tiap butir dari dialog-dialog para tokohnya. Kini, puluhan pelayat telah mendatangi kediamannya, termasuk saudara-kerabat dan belasan penggemarnya.
“Manusia tragedi itu rupanya kalah juga oleh kuman-kuman sekecil atom,” demikian seloroh salah seorang sahabatnya. Ia mengenang karyanya ketika dipentaskan beberapa waktu lalu di teater mini Taman Ismail Marzuki. Berkisah tentang kekisruhan politik dan tampilnya seorang jenderal militer yang berdiri tegak di atas tampuk kekuasaan.
Semua peristiwa itu hanyalah kebetulan semata, termasuk ribuan tahanan politik yang dikorbankan layaknya laron-laron yang muncul di sore hari, untuk kemudian mati bergelimpangan pada pagi harinya. Ia menampik keterlibatan Tuhan dalam kekisruhan politik itu, kemudian berakhir dengan kekalahan utusan Tuhan yang selanjutnya dieksekusi mati oleh penguasa dalam ending cerita. Dalam orasinya di suatu panggung terbuka, sastrawan yang sedang terbaring kaku itu berteriak lantang, “Itulah fakta sejarah! Itulah kebenaran yang tak bisa ditampik dengan alasan apapun, bahwa Tuhan hanya berpangku tangan, dan sama sekali tak terlibat dalam kejadian apa pun!”
Kini, Marto Gunawan tak bisa menggoreskan pena sama sekali. Ia telah turun panggung untuk selama-lamanya. Jenazahnya disemayamkan dalam peti mati yang terbuat dari kayu jati, dilapisi dengan kaca tebal yang bening. Segala persiapan untuk prosesi pemakaman telah diurus dengan sangat baik. Seandainya mendiang menyaksikan kejadian ini, mungkin dia akan merasa senang dan bangga. Wajahnya, seperti yang terlihat di balik permukaan kaca, tidaklah terlalu buruk. Beberapa wartawan menyaksikan senyuman samar pada raut mukanya yang putih seperti kapur barus.
Beberapa kerabatnya percaya, seolah-olah kematiannya telah dilalui tanpa rasa sakit. Dandanan dan polesan make up oleh pengurus pemakaman, seakan-akan menunjukkan sastrawan itu telah pulang ke haribaan Ilahi dengan damai sentosa. Handai taulan terus berdatangan hingga pukul tiga sore. Mereka turut-serta memberikan penghormatan terakhir, meskipun di antara mereka menolak untuk diwawancarai pihak wartawan.
“Apakah mendiang masih punya orang tua?” tanya wartawan pada seorang kerabatnya.
“Ibunya masih ada di kampung, tapi setahu saya dia tak pernah pulang ke kampung halamannya.”
Lalu, ia pun segera ngeloyor pergi, tak mau berkata-kata lagi. Tiap beberapa menit, bergantian para anggota keluarga mendekati peti mati dan menangisi wajah kaku di bawah permukaan kaca itu.
Setelah memberikan beberapa sambutan, para keluarga dan kerabat memosisikan diri dalam keadaan tenang dan penuh khidmat. Masing-masing menyadari pentingnya kehadiran mereka untuk mendukung dan memeriahkan suasana berkabung. Tak berapa lama, muncullah pendeta, yang kemudian disambut oleh isak-tangis janda mendiang. Lampu-lampu kecil di latar belakang tampak mulai meredup. Ratapan wanita itu memenuhi ruangan. Sang pendeta menenangkan sambil mendekati peti mati, sejenak merebahkan wajahnya pada kaca yang dingin.
Dua orang kerabat mendekati janda mendiang, menggiringnya agar tetap menempati tempat duduk di samping kedua anaknya. Dengan amat pilu dan murung, pendeta memulai eulogi bagi mendiang. Suaranya yang muram bercampur dengan isak-tangis dan kesedihan yang mendalam. Bagaikan aktor kawakan yang seakan diperlukan untuk membangun dan menghidupkan suasana.
Suara sang pendeta semakin meninggi dan lirih, terdengar bagai sepoi-sepoi angin di musim hujan bersama dengan latar petir dan gelegar guntur yang mencekam. Hari yang mendung menjadi semakin gelap, seiring dengan sayup-sayup ucapan sang pendeta. Tirai membentang di langit dan beberapa tetes hujan terdengar berjatuhan. Tampaknya segenap alam turut berduka atas kematian sang sastrawan.
Setelah nyanyian dilantunkan, para pengusung jenazah mengambil posisi di samping peti mati. Begitu baris terakhir dari lagu yang dinyanyikan usai, janda mendiang menjerit histeris sambil merentangkan kedua tangannya, bagaikan tangan seorang yang tenggelam di tengah laut dalam kegelapan malam. Tak berapa lama, wanita itu berangsur-angsur menyerah pada bujukan yang memintanya agar jangan terus-menerus menangisi sang mayat.
Kini, ia mulai lebih tenang dan luluh hatinya, kemudian sang pendeta menggiringnya agar menjauhi peti mati. Namun kemudian, wanita itu tiba-tiba berbalik lagi menuju peti mati seakan-akan mencari sesuatu sambil meraba-raba permukaan kaca. Lalu, ia mengangkat lengannya, dan sembari menjerit histeris ia pun terjengkang tak sadarkan diri.
Para pelayat berhamburan menuju peti mati, saudara-kerabat mengikuti dari belakang dengan tatapan terpana. Begitu jarum jam menunjukkan pukul empat sore, semua orang menatap wajah mendiang Marto Gunawan. Beberapa orang segera berbalik dengan raut pucat dan perut mual-mual. Seseorang yang mencoba melarikan diri dari pemandangan mengerikan itu, tiba-tiba tersandung penyangga peti mati hingga oleng ke samping. Begitu kerasnya ia menabrak hingga peti mati itu ambruk dan jatuh ke lantai. Kacanya pecah dan hancur berkeping-keping.
Dari salah satu lubang pecahan kaca, keluarlah seekor kucing hitam dengan tatapan matanya yang kebiruan. Ia melompat dan merangkak di sekitar lantai, sambil mengelilingi mayat yang terbujur kaku. Kucing itu menyeringai bangga, seakan baru memenangkan suatu perlombaan. Menurut kesaksian Masitoh, pembantu sang sastrawan, konon kucing bermata biru itulah yang menyerang mendiang di pagi hari, pada saat dia sedang membuka-buka halaman koran Kompas. (*)
Oleh: Putu Hikmat Walod
Penulis adalah Pengamat dan peneliti sastra mutakhir Indonesia, juga pegiat organisasi OI (Orang Indonesia), berdomisili di Palmerah Selatan, Jakarta Pusat.







