“Halo, apakah ada waktu untuk bicara?”
“Ini siapa, ya?” tanya saya heran.
“Saya minta waktu lima menit saja, apakah ada waktu, Mas?”
“Ya, silakan, ada apa, Mbak?”
Saya mengingat-ingat, rasanya belum pernah mendengar suara seorang teman yang begitu hangat dan mendesah seperti itu. “Boleh saya tanya dulu, ini dengan siapa, ya?”
“Ah, Mas ini mau tau aza? Saya cuma minta waktu lima menit saja, untuk saling pengertian, juga supaya bisa menyatukan perasaan.”
“Menyatukan perasaan? Apa maksudnya nih?” tanya saya.
Sepintas terpikir oleh saya, apa yang dimaksud wanita ini? Dan siapa pula ini? Sepertinya saya tak bisa mengingat wanita manapun yang pernah menelepon tanpa memberitahu namanya terlebih dahulu. Atau, saya sendiri memang tak pernah mempelajari teori atau cara-cara menelepon dengan baik.
Tadi dia menyinggung soal menyatukan perasaan, tapi perasaan macam apa yang bisa disatukan dalam tempo lima menit? Sekarang saja, sudah empat menit waktu berlalu. “Saya kira, masih ada satu menit untuk kita saling mengenal dan bertegur sapa, khususnya dengan laki-laki yang saya sukai dan saya kagumi selama ini, tapi… ah, waktunya sudah habis.”
Ia terdiam membisu, tak bicara sepatah kata pun. Saya tahu, wanita ini masih menahan ponselnya. Masih terdengar suara-suara samar dari deru kendaraan di kejauhan sana. “Halo… halo…?” sapa saya kemudian. Dan ponsel pun ditutup.
Pikiran saya berkecamuk, hingga kehilangan fokus pada alunan musik yang sedang saya nikmati di layar televisi. Dalam suasana resah dan galau, saya mengambil sebuah novel dari puluhan koleksi novel terbaru. Tak berapa lama, saya merasa haus dan melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air. Tiba-tiba, ponsel berdering. Ah, tentu dia lagi? Untuk beberapa saat saya menimbang, apakah harus mengacuhkannya dan tetap menuju dapur?
Tapi kemudian, saya kembali dan mengangkat ponsel itu dari atas meja, dan ternyata… dari istri saya.
Seketika saya melongokkan kepala melihat jam yang menunjukkan Pk. 12.05 siang.
“Sedang apa, Pah?” tanyanya.
“Biasa, sedang dengar musik sambil baca novel, ada apa gitu?”.
“Ah enggak, cuma nelpon aja… sudah nyeterika baju?” katanya sambil cengengesan.
“Belum, emang kenapa?”
“Biasanya kalau lagi galau, sibuk nyeterika baju?”
“Siapa yang lagi galau?” tanya saya pura-pura. “Kalau cuma dua bulan menganggur, saya kira biasa aja. Nanti juga akan ketemu pekerjaan yang cocok?”
Barangkali istri saya khawatir, dan segera menelpon ke rumah. Sebab, biasanya kalau saya menyeterika pakaian, ada saja yang enggak beres. Bisa panasnya berlebihan, bisa ada pakaian yang melar dan keriput, atau bisa juga lupa mencopot kabel setrum hingga berjam-jam.
“Ada yang mau disampaikan lagi selain soal nyeterika?” canda saya. Dan ia pun tertawa terkekeh-kekeh.
Sore harinya, menjelang usai jam kantor, istri saya telpon lagi, “Pah, ada kabar baik nih.”
“Kabar baik apaan?” tanya saya tak acuh.
“Papah bisa nulis puisi, kan?”
“Emang kenapa? Ada apa dengan puisi?”
“Begini, tadi waktu jam istirahat saya ketemu teman lama yang kerja di majalah remaja. Katanya, dia mau membuka rubrik ‘sastra populer’ untuk cewek-cewek remaja. Kalau untuk cerpen sudah ada editornya, tapi untuk puisi dalam minggu-minggu awal masih kosong. Ngomong-ngompng, Papah suka nulis puisi, kan?”
“Kalau waktu SMA dulu memang pernah.”
“Nah, itu kan pekerjaan gampang, Pah? Posisikan saja seolah-olah Papah masih anak umuran SMA, enggak sulit kan?”
“Gampang sih… tapi urusannya perebutan hak dan kekuasaan… lalu, anak-anak remaja Indonesia kerjanya ngapain, kalau soal rubrik puisi saja masih diserobot dan diambil-alih yang tua-tua?”
“Hmm,” cibir istri saya, “tapi ini pekerjaan halal, kan, lalu apa yang perlu dikhawatirkan?”
“Saya kira KNIL juga waktu memberantas pejuang kita, mengatakan itu perbuatan halal… termasuk Orde Baru waktu mengambil-alih kekuasaan, bagi mereka juga halal…”
“Tuh kan lari-lari ke sejarah lagi… Papah lagi membaca novel sejarah lagi, ya?”
“Kok tahu? Punya telepati, ya?”
Terdengar suaranya mendenguskan nafas, lalu sambungnya lagi dengan agak tercekat, “Pah, ingat enggak, sekarang tanggal berapa?”
“Tanggal limabelas,” jawab saya singkat.
“Coba ke minimarket sebentar untuk membayar tagihan listrik dan air.”
“Ok, siap, Bos,” balas saya, yang tentu makin membuat istri tambah jengkel.
***
Sebenarnya, tabungan saya masih cukup, karena saya telah menerima imbalan yang layak dari buku kumpulan cerpen (kumcer) yang cukup laku di pasaran. Kalau selama beberapa bulan saya – dan istri – tidak memerlukan barang mewah, tentu masih kecukupan untuk makan sehari-hari, meskipun selama beberapa bulan ini Indonesia masih dilanda kesulitan ekonomi karena melambungnya harga BBM dan listrik.
Setengah jam kemudian, istri saya nongol dari balik pintu, dan seketika bertanya soal “Cika” kucing piaraannya.
Saya bangkit dari sofa agak tergagap, “Aduh iya, saya lupa, Mah.”
“Cika! Cikaaa!” panggilnya keras.
Kucing itu berlari menuju istri saya dari arah dapur. Ia mengeong agak keras, seolah mengisyaratkan rasa lapar. Istri saya segera menuju dapur, mempersiapkan makanan Cika di atas mangkuk sambil menatap kecewa ke arah saya. Dan Cika pun menyantap makanannya dengan lahap.
Tak berapa lama, saya beranjak menuju kursi di serambi rumah. Sambil duduk-duduk merokok dan menyesap kopi, saya membayangkan diri sewaktu duduk di kelas 3 SMA dulu. Ketika itu, saya sedang getol-getolnya membaca otobiografi orang-orang sukses dan terkenal, hingga saya bercita-cita menjadi seorang pengacara. Saya bahkan lulus tes UMPTN masuk perguruan tinggi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, pada fakultas hukum. Tapi, setelah beberapa tahun hidup berumah-tangga, kenapa bisa jadi kacau-balau begini?
Saya menopangkan dagu pada meja sambil merenung keras. Sejak kapan jarum kompas seakan rusak dan patah-patah, sehingga arah kehidupan menjadi kesasar seperti ini? Sulit untuk menggambarkannya dengan jelas. Padahal, tak ada masalah dengan kebijakan kampus maupun universitas, juga tak pernah sekalipun terlibat masalah dengan urusan perempuan. Sejauh yang saya ingat, perjalanan hidup saya cukup normal. Memang bukan lulus yang terbaik di universitas, tetapi yang terjelek juga bukan.
Di awal September lalu, saya keluar dari pekerjaan di firma hukum, tanpa alasan yang jelas. Memang saya akui bahwa pekerjaannya tak bisa dibilang menyenangkan, tapi gajinya tak terlalu buruk dan atmosfer kantor cukup bersahabat. Tapi entah kenapa, sepertinya sulit bagi saya untuk menjadi orang kantoran penuh waktu.
Saat itu, boleh dibilang saya sudah memperoleh pekerjaan yang layak. Di sisi lain, dalam pandangan banyak orang, saya terbilang cekatan ketika mengerjakan tugas. Saya dianggap cukup berwawasan, bekerja secara metodis, cepat tanggap, dan berpikir praktis. Inilah yang membuat beberapa kawan di kantor terheran-heran, mengapa saya harus mengambil keputusan yang serba mendadak itu. Jawaban saya bahwa saya sudah tak tahan, itu saja. Saya menganggap bahwa pekerjaan saya di kantor tak ada tujuan jelas. Bayangan masa depan juga kabur, di samping itu, pikiran saya bukan lagi dalam konteks semasa SMA dulu, karena sekarang segalanya serba berubah.
Ketika saya pulang dan memberitahu istri saat makan malam, bahwa saya mau berhenti dari pekerjaan, istri hanya menjawab singkat, “terserah”. Dan apa yang dimaksud dari kata terserah itu pun saya tidak paham. Kemudian, sambil menggigit kepala ikan lele, istri saya menambahkan, “Kalau kamu mau berhenti ya berhenti saja, mungkin itu pilihan hidupmu sendiri.”
Saya menerima kompensasi pemberhentian dari kantor, yang sekiranya cukup untuk keperluan beberapa bulan ke depan, ditambah dengan prosentasi honor dari penerbit yang tersimpan di bank. Istri saya pekerja kantoran di suatu sekolah desain yang gajinya lumayan besar. Beberapa kali ia mendapat tugas ilustrasi dari teman redakturnya, dan bayarannya cukup menggiurkan.
Jadi, selama beberapa bulan tinggal di rumah sebagai pengangguran, sambil asyik nonton teve, dengar musik dan baca novel, kami tetap masih punya pesangon. Bisa makan, mencuci dan menyeterika sendiri, dan siklus kehidupan kami tak terlalu berbeda ketimbang saya harus mondar-mandir ke kantor dan punya penghasilan bulanan. Karena itulah, saya memutuskan untuk berhenti bekerja.
***
Jam delapan pagi, setelah istri berangkat ke kantor, saya memeriksa dapur dan kulkas untuk kemudian berangkat ke minimarket, membeli segala kebutuhan yang harus dipenuhi untuk keperluan sehari dua hari ke depan. Saya membayar tagihan ponsel, listrik, serta mengganti galon air dan gas elpiji untuk keperluan memasak. Di rumah, segera saya menuju dapur dan memenuhi kulkas dengan persediaan makanan dan minuman.
Siang itu, saya sedang asyik duduk di ruang tengah sambil menonton teve, ketika ponsel tiba-tiba berdering lagi. Saya beranjak dari tempat duduk seraya mengangkatnya.
“Halo, Mas, kita sambung lagi untuk saling bertegur sapa, apakah ada waktu untuk lima menit saja?”
“Ini Mbak yang kemarin, kan?” tanya saya.
“Ya, tepat sekali, dan ini pasti Mas yang selalu saya kagumi itu, kan?”
“Baik, nanti dulu Mbak, saya mau kasih makan kucing piaraan dulu, ya. Kasih saya waktu sepuluh menit saja, oke?”
“Baik, sepuluh menit, ya?”
“Ya,” dan saya pun menutup ponsel saya.
Apa yang harus saya lakukan? Kenapa saya mau-mauan saja memberi waktu sepuluh menit untuk seorang penelepon wanita yang tak pernah mau memberi tahu namanya. Tepat sepuluh menit kemudian, ponsel berdering lagi, “Halo, Mas, sekarang tentu kita sudah sering bertegur sapa dan saling memahami satu sama lain,”
Wanita itu memiliki suara yang lembut dan tenang. Saya membayangkan, dia sedang menelepon sambil duduk selonjoran di kursi dengan kaki bersilang.
“Sekarang sudah bisa menebak siapa saya, kan?”
“Hmm, sepertinya saya masih belum bisa menebak… siapa ya?” tanya saya lagi.
Tiba-tiba suaranya pelan dan mendesah, “Saya adalah wanita yang sudah berpisah setelah tujuh tahun hidup bersama suami, dan selama tujuh tahun itu tak pernah ada saling pengertian.”
“Lalu, dari mana bisa kenal saya, dan kenapa harus saya yang dihubungi, Mbak?”
“Berani tebak, tentu saya punya alasannya,” goda wanita itu.
“Coba jelaskan,” pancing saya lagi.
“Alasannya adalah…,” wanita itu melafalkan perlahan, seakan sedang mengunyah remah-remah makanan secara teratur, “karena saya sangat mengenal kamu.”
“Kenal di mana? Kapan?”
“Suatu hari di suatu tempat,” ujar wanita itu. “Tapi tak usahlah kita membahas soal itu, karena yang penting saat ini, kan? Iya, kan? Saat itu sudah cukup lama terlewati, tetapi saat ini… kita sedang merasakannya, kan?”
“Merasakan apa, nih?” tanya saya lagi.
“Tentu ada rasa yang indah ketika seorang wanita menelepon seorang lelaki yang merupakan pujaan hatinya.”
Saya menghela nafas dalam-dalam, lalu sambung saya, “Coba buktikan bahwa kamu kenal dengan saya.”
“Dalam soal apa?”
“Umur?”
Ia terdiam sejenak, kemudian ujarnya, “Tigapuluh dua, lebih tiga bulan. Ayo, apa lagi?”
“Tempat tinggal?”
“Komplek Karang Asem Nomor 12, kota Cilegon, sudah puas?”
Seketika saya terperangah, tak bisa membuka mulut. Rupanya wanita itu benar-benar mengenal saya. Maka, saya pun memeras otak, dan saya memang tak bisa mengenali suara orang. Kalau soal nama, wajah, tentu saya bisa ingat, tapi kalau suara? Apalagi melalui saluran ponsel.
“Baik, sekarang giliran Mas yang harus menebak siapa saya,” usulnya kemudian. “Apa yang bisa Mas bayangkan dari suara saya? Wanita seperti apakah saya ini? Ayo, coba tebak,” desak wanita itu.
Saya pun pura-pura menebaknya, “Duapuluh tujuh lebih empat bulan?”
“Ah, salah.”
“Jalan Ahmad Yani Nomor 23 Kota Tangerang?”
“Ah, salah besar… alias ngawur,” terdengar tawanya terkekeh-kekeh.
Sepertinya saya sudah memanas-manasinya, dan saat tantangan sudah diterima, tak ada jalan balik. Saya memang jago dalam soal tebak-tebakan, tapi urusan yang satu ini, bagaimana pula saya bisa menebak suara yang merdu dan mendesah ini. Setahu saya, saya tak pernah punya teman kantor yang suaranya menantang seperti ini. Tapi, nanti dulu… saya perlu menebak sekali lagi… ah, ya! Sepertinya dia!
“Oke, saya tebak sekali lagi… pernah kuliah di Untirta, kan?”
“Ya, benar, lalu tinggal di mana?”
“Di Ciloang, Serang, Nomor 69, iya kan?”
“Hihihi tepat sekali… hebat sekali kau!”
“Ah, siapa sih yang enggak kenal sama kamu?” kata saya merayu.
“Bukan main,” puji wanita itu, lalu terdengar ia sedang menyesap minuman dari gelas.
Saya tersenyum dalam kesendirian. Kok bisa, ya? (pikir saya). Saya kira persahabatan saya dengan Irawaty sewaktu di kampus dulu biasa-biasa saja. Mantan pacar juga bukan? Ada puluhan perempuan di fakultas hukum yang saya kenal dekat, bahkan lebih akrab ketimbang dia. Kok, tiba-tiba dia yang justru menelpon saya, dalam rentang waktu lebih dari sepuluh tahun.
Waktu kuliah di semester awal, saya memang pernah menghadiri acara ulang tahunnya di jalan Ciloang, Serang. Tetapi, itu pun karena saya diajak oleh sahabat dekatnya yang tinggal di Kota Cilegon. Dia memang cantik, semua orang juga tahu. Bahkan, pernah ia menjadi salah satu dari nominator dalam ajang puteri kecantikan (miss universe) tingkat kampus se-Provinsi Banten.
“Tapi, Ira,” sambung saya kemudian, “ngomong-ngomong, benar apa yang kamu bilang tadi?”
“Yang mana tuh?” tanyanya.
“Tentang berpisah tadi… kalau tidak salah, kamu tadi bilang, sebagai janda yang sudah berpisah setelah tujuh tahun hidup bersama suami, dan selama tujuh tahun itu tak pernah saling memahami. Mudah-mudahan saya enggak salah denger.”
“Kok mudah-mudahan? Sepertinya kamu mensyukuri nih?”
“Maksud saya, soal pendengarannya, apakah saya enggak salah dengar?”
“Enggak juga, memang benar adanya.”
“Dulu kan, waktu kamu menikah ramai sekali acara resepsinya? Bahkan, sempat mengundang Wali Band, juga penceramah kondang?”
“Yang lalu biarlah berlalu, tapi bagaimanapun, sekarang saya sudah janda… janda tingting, hihihi,” ia pun cekikikan.
Saya tersenyum, dan berpikir sejenak, “Saya heran, kenapa kalau kawinan orang-orang bikin acara ramai sekali, tapi kalau perceraian mereka melakukannya diam-diam. Coba kalau saya tahu… maksud saya, sudah berapa lama kamu berpisah?”
“Sudah dua tahun.”
“Punya momongan?” tanya saya lagi.
“Punya satu, empat tahun. Kamu sendiri?”
“Belum.”
“Padahal sudah menikah selama… empat tahun?” tebaknya.
“Lima tahun malah.”
“Mudah-mudahan kalian langgeng dan… selalu saling memahami, tentunya.”
“Ya, mudah-mudahan,” kata saya agak tergagap.
***
“Irawaty, boleh saya tanya sesuatu, yang sifatnya agak pribadi?” tanya saya keesokan harinya.
“Boleh-boleh aja, silakan… lagipula saya juga udah banyak tanya tentang kamu.”
“Sepertinya kamu banyak berubah saat ini… barangkali setelah menikah dan punya anak ini?”
“Tergantung perubahannya, dalam hal apa, nih?”
“Sewaktu di kampus Untirta dulu, saya melihat kamu sebagai sosok yang polos dan pendiam.”
“Oya? Tapi kan masalah perjalanan waktu, pengalaman hidup, kondisi zaman juga sangat memengaruhi seseorang hingga dia banyak berubah.”
“Faktor genealogi dan keturunan?”
“Ya, tentu saja itu bagian terpenting. Bukankah buah itu jatuh tidak akan jauh dari pohonnya?”
“Tapi sewaktu di fakultas hukum, saya sempat mengenal akrab beberapa teman perempuan, termasuk kamu, tetapi bukankah kamu kelihatan tenang dan kalem ketimbang beberapa teman perempuan lainnya?”
“Tadi sudah saya bilang segalanya bisa berubah, termasuk kecenderungan atau hobi seseorang. Saya sendiri tidak membayangkan betapa dulu saya terobsesi bercita-cita sebagai hakim atau jaksa, tetapi oleh perjalanan waktu, siapa yang menduga tiba-tiba saya tertarik pada dunia sastra setelah membaca karya-karya para penulis milenial.”
Di dalam buku kumpulan cerpen saya, memang tertera foto, nomor ponsel, tanggal lahir, termasuk alamat rumah pada cover halaman belakang. Dugaan saya tidak meleset, mengapa ia banyak tahu tentang diri saya, bahkan termasuk umur dan alamat saat ini. Pada buku itu, saya tidak sempat mencantumkan nama istri berikut Cika kucing piaraannya. Bukan berarti saya tidak suka pada kucing, tetapi kalau perhatian terhadap suami terabaikan gara-gara urusan kucing, bagi saya ada masalah keadilan yang mesti dipersoalkan.
Sebelum menutup ponsel, saya menganjurkan Irawaty agar jangan menelepon pada malam hari. Sebaiknya siang hari saja. Seketika dia memancing dengan pertanyaan, “Apa salahnya kalau saya menelepon malam hari?”
Saya pun membalasnya dengan kata-kata bersayap, “Sebab terang dan gelap adalah dua hal yang berbeda.”
***
“Jadi kamu sudah berumah-tangga selama lebih dari lima tahun, dan belum punya anak?” keesokannya Irawaty menelepon saya kembali.
“Ya,” jawab saya, “saya sendiri enggak ngerti kenapa saya tidak dikaruniai seorang anak. Padahal, seorang anak adalah titipan Tuhan. Apakah saya ini tipikal orang yang tidak pantas dititipi, atau istri saya, ataukah kami kedua-duanya? Misteri ini sulit sekali dipecahkan.”
“Saya dikaruniai anak, tetapi di sisi lain, hubungan kami tidak selancar apa yang dibayangkan. Kadang orang bertanya-tanya, ‘ada problem apa, ada masalah apa’?”
“Termasuk saya sendiri tentu menanyakan hal yang sama?”
Dia menghela napas panjang, dan balasnya, “Saya kira, enggak ada wanita tanpa masalah yang menelepon seorang lelaki tanpa memberitahu identitasnya?” ia terdiam sesaat, “meskipun saya sudah kenal kamu, juga karya-karya kamu, tetapi kita kan belum pernah ngobrol dari hati ke hati sejak masa kuliah dulu?”
Ya, dulu saya dan teman-teman sangat mengagumi dia karena kecantikannya. Lagipula, laki-laki mana yang tidak mengagumi seorang nominator puteri kecantikan kampus, meski dalam pandangan pertama sekalipun. Tidak ada urusan apakah wanita itu cerdas atau tidak, bahkan berkarakter atau tidak, tetapi penilaian laki-laki nampaknya simpel saja, yakni apa yang terlihat secara kasatmata.
Perintah agama menganjurkan adanya faktor keimanan, keturunan, kekayaan dan kecantikan. Tetapi sudut pandang manusiawi, selalu saja menilai secara apa adanya, yang terlihat secara kasatmata. Faktor keimanan atau leluhur nampaknya kompleks untuk dipahami, juga kekayaan yang merupakan bagian dari hak milik leluhurnya, tetapi faktor kecantikan? Nampaknya simpel dan sederhana untuk dipahami. Dan waktu satu dasawarsa, saya kira tidak banyak mengubah penampilan seorang wanita yang mampu berdandan, juga memahami kualitas kecantikan dan keindahan seperti Irawaty.
“Cika! Cikaaa!”
Terputuslah tali renungan saya karena dikagetkan oleh suara istri yang tiba-tiba berteriak keras dari balik pintu.
“Kok tumben, masih siang sudah pulang?” tanya saya.
“Teman-teman di kantor sedang mengikuti suntik vaksin Covid-19 untuk varian terbaru. Jadi, saya pulang duluan.”
“Lalu, Mamah sudah divaksin?”
“Sudah,” katanya tak acuh.
“Kok enggak ngajak-ngajak sih?”
Dia tidak menjawab, dan kembali mencari-cari Cika di dapur. “Cika mana, Pah?” tanyanya kemudian.
“Enggak tahu, tadi ada di depan rumah, tapi sudah Papah kasih makan sih.”
“Tapi sekarang di mana?” katanya marah.
“Enggak tahu, Mah, tadi saya nonton teve, terus baca novel. Mana sempat saya perhatikan dia setiap menit dan detik?”
Istri saya berlari-lari di sekitar pekarangan hingga di luar pagar rumah. Barangkali ia khawatir Cika keluar pagar dan tertabrak kendaraan. Ia bertanya-tanya juga ke rumah tetangga, tetapi tidak ada Cika di sana.
“Apakah Papah buka-buka pintu pagar tadi?”
“Enggak,” jawab saya, “seharian Papah di dalam rumah, enggak keluar sekali pun.”
“Kok bisa enggak ada?” tatapan penuh kecurigaan menusuk ke arah saya.
***
Saya tahu, istri saya juga membaca cerpen-cerpen yang saya tulis, tetapi diam-diam ia tidak mengakuinya. Kalau ia membaca karya asing seperti Stephen King atau Edgar Allan Poe, ia mau menunjukkan terang-terangan pada saya. Juga tak ragu-ragu untuk membacanya di atas sofa sambil nonton televisi. Ia pun pernah menitip kumpulan cerpen Edgar berjudul “Kucing Hitam” ketika saya menyatakan akan mampir ke toko buku sepulang kunjungan ke rumah sahabat lama.
Setelah membaca buku Edgar Allan Poe, tiba-tiba istri saya membeli seekor kucing dari pasar, sekitar lima bulan lalu, lalu memberinya nama “Cika”. Secara pribadi, saya sendiri tidak ada masalah dengan keberadaan Cika di rumah, tetapi lama kelamaan dia seperti mengidap histeria dan terobsesi dengan seekor kucing. Dia akan berteriak-teriak ketika membuka ponsel, terutama ketika ada tampilan menarik tentang kucing piaraan. Bahkan, dia mengoleksi CD dan buku-buku ensiklopedia khusus tentang fauna dan kucing-kucing. Konon, ketika seorang pemelihara kucing terobsesi dengan kucingnya, separuh dari nyawanya adalah nyawa kucing. Apabila si kucing menghilang, maka si pemelihara ikut menghilang dengan sendirinya, baik secara kias maupun harfiah.
Entahlah, saya sendiri tak begitu percaya takhayul, dan tak yakin dengan bualan omong kosong itu. Tetapi, ketika mendengar cerita sehoror itu, tubuh saya terasa merinding juga.
Suatu pagi, ketika istri saya berangkat ke kantor, entah lantaran daya magnet dari mana, tiba-tiba saya memencet beberapa nomor ponsel di ruang tengah. Seketika muncul jawaban sebelum sempat saya menanyakan sesuatu.
“Ah, kebetulan sekali kamu nelpon.”
“Emang ada apa nih?” tanya saya pada Irawaty.
“Siang ini di desa saya ada acara penyuntikan vaksin Covid-19 unuk varian terbaru, apakah kamu sudah divaksin?”
“Belum tuh,” jawab saya.
“Apakah kamu mau ikut-serta divaksin? Cukup dengan menunjukkan KTP saja, kita masih satu provinsi kan?” tawarnya.
“Organisasi apa yang mengadakan? Atau partai apa?”
“Ah, saya kira kita ini nonpartisan, biar dari partai apapun yang mengadakan. Yang penting kita sehat kan? Dan kesehatan itu karunia Tuhan, bukan karena jasa-jasa dari partai apapun,” katanya agak diplomatis.
Jantung saya agak deg-degan ketika Irawaty memakai frase ‘kita’, tetapi hati saya merasa hangat dan pikiran terasa tenang dan damai. Lalu, tambah saya, “Benar juga sih, kadang-kadang kita lupa bahwa sehat itu adalah karunia yang harus disyukuri. Padahal karunia sebesar apapun, tak akan terasa nikmat bila tidak disyukuri.”
“Ya, saya pun pernah membaca kata-kata itu dari salah satu tokoh cerpen yang kamu tulis, hehe.”
Siang itu juga, kami sepakat untuk berjumpa di lokasi tempat diadakannya penyuntikan vaksin. Setelah lebih dari satu dasawarsa tak berjumpa sejak lulus kuliah, dugaan saya tidak meleset. Irawaty masih tetap cantik seperti dulu, biarpun dia seorang janda dan sudah memiliki seorang anak. Kami bertemu sekitar satu jam sebelum pelaksanaan acara dimulai. Hingga kemudian, saya sempat menawarinya makan somay Bandung di sekitar jalan Pakupatan Kota Serang. Ternyata, dia senang sekali dengan ajakan saya.
***
Jam setengah enam sore istri saya pulang, dan seketika berceloteh seperti menghakimi, “Kamu ke mana aja jam setengah duabelas siang tadi? Saya telpon berkali-kali, tapi kok ponselnya enggak dinagkat?”
Saya menyesap kopi dan menyalakan rokok, berdehem beberapa kali. “Tadi saya keluar sebentar ke minimarket untuk membeli rokok,” kata saya beralasan.
“Kamu lupa ya? Saya suruh bayar tagihan listrik samaPAM?”
“Sudah saya bayar, Bos,” kata saya. Tapi ia tetap menampakkan muka cemberut dan tak mau tersenyum.
“Kalau soal Cika?”
“Belum ketemu.”
“Belum ketemu juga?” katanya melotot.
“Belum,” jawab saya apa adanya.
“Kamu sudah cari ke mana aja?”
“Ke mana-mana tetap belum ketemu.”
Suaranya nampak resah dan kecewa. Raut mukanya seperti seorang yang sangat tertekan dan merasa kehilangan. Saya mengamit handuk dan masuk ke kamar mandi. Selesai membersihkan badan, saya masih melihat istri saya duduk di sofa seperti patung. Tak ada gairah sama sekali.
“Ada masalah apa, Mah?” tanya saya lagi.
“Cika sudah enggak ada,” katanya dengan tatapan menerawang.
“Siapa bilang?”
“Cika sudah mati,” katanya terisak-isak, sambil membanting sebuah majalah dari tangannya.
“Kamu yakin? Kamu sudah melihat bangkainya? Ah, sudahlah, nanti juga kalau kelaparan dia pulang sendiri?”
“Enggak mungkin, dia sudah mati,” katanya sambil menatap ke langit-langit.
“Kalau mati, tentu ada bangkainya? Dari mana kamu tahu kalau dia sudah mati?”
“Dia sudah mati… kamu yang membunuhnya,” tiba-tiba matanya melotot dan menyeringai.
“Apa-apaan kamu?” protes saya, “bagaimana mungkin saya tega membunuh seekor kucing?”
“Mungkin bangkainya kamu masukkan ke dalam karung, dan kamu buang ke laut Merak?”
“Ngomong apa sih, kamu?” kata saya jengkel.
“Iya, kamu membuangnya ke Pelabuhan Merak, kan?” telunjuknya tiba-tiba menodong ke arah saya.
“Jangan ngaco kamu… jangan asal main tuduh begitu, ini enggak adil…”
“Buktinya, kamu enggak pernah suka sama kucing?”
“Saya memang enggak terlalu suka… maksud saya, enggak terlalu tergila-gila kayak kamu… tapi bukan berarti saya ini pembunuh kucing?”
“Iya, pokoknya kamu memang enggak pernah suka sama Cika?”
“Hey, kalau saya enggak terlalu suka sama Cika, apa kamu lantas seenaknya menuduh saya menyiksa Cika? Jangan main vonis gitu dong!”
“Pokoknya kamu yang membunuh Cika… bisa jadi kamu menyuruh orang lain… tanpa harus melakukan dengan tangan sendiri…”
“Emangnya saya ini pembunuh berdarah dingin?” canda saya.
“Iya! Memang kamu yang membunuhnya?” teriaknya dengan tubuh gemetar.
“Hey, hey!” saya pun membanting handuk di atas sofa. Serba salah. Lagi-lagi saya menghadapi jam-jam yang tak masuk akal.
Saya meneguk sisa kopi yang ada di meja ruang depan. Tiba-tiba suara ponsel berdering.
“Itu suara ponsel kamu, coba angkat… saya pengen dengar itu suara siapa?”
Ponsel terus-menerus berdering, sekali, dua kali, tiga kali. Pada dering yang ketigabelas saya pun mengangkatnya. Ternyata benar, itu suara Irawaty. Seketika itu, istri saya memastikan tuduhannya, bahwa kematian Cika disebabkan kerjasama terselubung antara saya dan pacar gelap saya, Irawaty. Lagi-lagi, saya dihadapkan pada hari-hari yang tak masuk akal. (*)
Oleh: Alim Witjaksono
Penulis adalah cerpenis dan kritikus sastra kontemporer Indonesia. Menulis cerpen dan kritik sastra di berbagai media massa luring dan online, di antaranya: litera.co.id, alif.id, inilahbanten.com, Kabar Madura, Kabar Banten, Satelit News, Tangsel Pos dan lain-lain.







