Hotel Prodeo dan Pikiran Orang Indonesia

oleh -1416 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Enzen Okta Rifai, Lc.

Dalam dunia politik, tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Boleh jadi, figur yang kemarin adalah “musuh” hari ini berubah wujud menjadi “kawan”. Sebaliknya, orang yang kemarin dijadikan kawan boleh jadi hari ini bisa menjadi musuh. Begitupun dengan iklim perpolitikan di Indonesia, sehingga kita mengenal istilah “hangat-hangat tahi ayam”. Meskipun sekarang terasa hangat dan segar, boleh jadi dalam waktu singkat berubah seketika menjadi dingin dan bau menyengat.

Novel Hotel Prodeo (2010), karya Remy Sylado setebal 1.016 halaman, menggambarkan seorang tokoh sentral bernama Dharsana berpangkat Komisaris Besar (Kombes), selaku prajurit senior Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Akibat terlilit utang, Dharsana menjual semua harta warisan dari orang tuanya, kepada mertua Jeng Retno, yang menjadi wanita selingkuhannya. Dharsana meninggalkan istrinya yang lumpuh, lalu hidup bersama janda kaya di Jakarta, mantan istri seorang Duta Besar Prancis di Indonesia.

Lalu, berputarlah harta haram dari hasil “riba” untuk membiayai gaya hidup hedonis yang cenderung menghalalkan segala cara. Selain Jeng Retno, ia pun berselingkuh dengan banyak wanita lain, termasuk ibu dari kekasih anak tirinya. Itulah yang membuat sang Kombes diberi gelar DB, singkatan dari “Doyan Banget”, sehaluan dengan tokoh tentara berpangkat jenderal dalam novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang” (Hafis Azhari). Namun, Remy Sylado lebih memperjelas status Dharsana sebagai seorang ABRI sekaligus anggota DPR-RI yang angkuh dan serakah, menyalahgunakan kekuasaan untuk memuluskan setiap rencana yang dicita-citakannya. Dari situlah pangkal kejahatan Dharsana beranak-pinak dan ikut menyeret orang-orang terdekatnya, serta menimbulkan trauma pada kehidupan banyak orang.

Novel Pikiran Orang Indonesia nyaris memiliki latar yang sama, meski menggunakan corak pewartaan yang sangat berbeda. Kedua novel tersebut berlatar situasi kondisi di seputar akhir kekuasaan rezim militerisme Orde Baru. Misalnya, unjuk rasa besar-besaran hingga kericuhan dan penjarahan, bahkan pembantaian etnis Tionghoa, yang membuat kedua novel itu terasa benar-benar hidup. Berbeda dengan novel “Laut Bercerita” (Leila S Chudori) yang lebih menggunakan corak sastra eksistensialisme Eropa, sebagai akibat dari reruntuhan puing-puing Perang Dunia yang terasa amat getir dan nelangsa, hingga merasuki ranah psikologi kaum militer kita.

Sedangkan, Hotel Prodeo begitu fasih menuturkan sistem politik Indonesia yang dibumbui psikologi kehidupan keluarga sebagai miniatur psikologi bangsa ini. Perselingkuhan Dharsana, sehebat apapun ia menutupinya dengan kharisma dan wibawa yang ringkih, pada waktunya terungkap juga oleh seorang anak tirinya yang cerdas dan bicara blak-blakan, terutama ketika ia dipengaruhi obat-obatan terlarang yang menjadi candu kesehariannya.

Hal ini membuat Dharsana merasa limbung dan campur aduk antara memelihara kepura-puraannya di depan publik. Sementara, orang-orang terdekatnya menatapnya dengn sorotan sinis, lantaran tersingkap beberapa persangkaan yang berkembang menjadi tuduhan, bahwa kematian sang anak tiri akibat ulah perbuatannya sendiri.

Dharsana merancang sekenario jahat, seolah-olah anak tirinya mati karena overdosis, disebabkan putus cinta dengan sang kekasih. Narasi terus berkembang hingga sang kekasih mengalami gangguan jiwa dan memutuskan bunuh diri karena diliputi oleh rasa bersalah. Tabiat buruk dari sang Komisaris Besar ABRI itu, tentu saja tidak dapat dibenarkan oleh kacamata moral mana pun, sehaluan dengan tabiat buruk tokoh utama dalam novel “Jenderal Tua dan Kucing Belang”.

Berbeda dengan penokohan Puya ke Puya (Faisal Oddang) atau Sang Keris (Pandji Sukma), novel Hotel Prodeo nampak memiliki alur yang sangat rumit dan sulit ditebak. Struktur cerita yang bersambung dan maju secara kronologis, serta konflik yang teramat kompleks, membuat saya membuka halaman demi halaman dengan cepat, melalui cara maju-mundur sebagaimana membaca novel komedi politik Indonesia dalam Perasaan Orang Banten.

Kehadiran tokoh-tokoh pelengkap dalam Hotel Prodeo, terutama Rahmat Wirjono sahabat Dharsana, sekaligus atasannya yang mengingkari sumpah setia di pengadilan, ditambah Juminah si pengacara cerdas, sangat memiliki andil untuk memecahkan misteri pembunuhan keji yang dilakukan Dharsana. Novel ini akan menambah pengetahuan kita dalam pemecahan masalah di bidang hukum, sesuatu yang tak bisa ditemukan pada novel Pikiran Orang Indonesia yang lebih mengedepankan aspek filosofis dan antropologis.

Problem hukum yang digeluti sang pengacara untuk menyingkap tabir kemungkaran, barangkali membuat penulis sekelas Eka Kurniawan, Felix Nessi, Djenar, Ayu Utami, Dee Lestari, bahkan sekelas Budi Darma, mungkin diperlukan kuliah hukum bertahun-tahun untuk sanggup menuangkannya ke dalam narasi sastra yang apik seperti Hotel Prodeo ini.

Ending novel ini juga menarik, hingga memuaskan setiap pembaca yang memiliki kepekaan pada hati nurani dan pesan-pesan ilahiyah, bahwa setiap kebaikan pasti akan diganjar dengan kebaikan pula. Namun sebaliknya, setiap perbuatan jahat dengan rencana sehebat apapun manusia menutupinya, toh akhirnya Tuhan memberi jalan bagi orang-orang baik untuk membuka dan menyingkap kebenaran pada waktu dan momentum yang tepat.

Tokoh Dharsana mengingatkan kita pada film peraih academy award “Departed” (2006) yang diperankan Jack Nicholson, yang tetap konsisten dengan tabiat dan wataknya yang keji dan jahat. Sebaliknya, tokoh Ibu Intan juga terus membayang-bayangi hidupnya hingga ke meja hijau, bagaikan sosok kucing belang yang mudah saja dimusnahkan, namun ia berfungsi selaku “bumerang” yang justru mencelakakan hidupnya di kemudian hari.

Lika-liku menarik di seputar persidangan Dharsana, menurut saya, hanya penulis sekaliber Remy Sylado yang sanggup mengungkapkannya. Untuk membuktikan Dharsana bersalah, sang penulis membuat semua pihak (bahkan pembaca) berpikir keras untuk mencari bukti, hingga persidangan harus ditunda berkali-kali.

Novel Hotel Prodeo sebagaimana Pikiran Orang Indonesia, juga menyingkap hirarki kekuasaan orang-orang yang mencandu kekejian dan kejahatan. Jika seorang politisi terbiasa berbuat jahat, meskipun dibungkus dengan hedonisme yang dimanipulasi menjadi demokrasi yang humanis, toh semua cara yang ditempuh untuk mencapai kepuasan, hanyalah ambisi dan hawa nafsu yang kelak merugikan banyak orang.

Pikiran dan perasaannya akan meracuni sebagian masyarakat, sampai pada waktunya ia akan menentukan keputusan politik untuk menegasikan kelompok lain (liyan), yang dianggap merintangi obsesi

Penulis adalah Alumni perguruan tinggi International University of Africa, Republik Sudan, telah menulis berbagai esai dan opini di berbagai harian nasional, luring dan daring

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.