Dari Balada Kritik Sosial menuju Romantisme Ekologis di Tanah UNWIRA

oleh -125 Dilihat
Iwan Fals didampingi putrinya Annisa Cikal Rambu Basae menanam pohon mahoni di Kampus UNWIRA Kupang, Rabu (3/6/2026). (Foto: VN)
banner 468x60

SELAMA bertahun-tahun, kita mengenal Iwan Fals melalui lirik-liriknya yang menyalak tajam sebuah potret jernih sekaligus tamparan bagi realitas sosial yang timpang. Suaranya adalah corong kaum marginal, sementara petikan gitarnya bertindak bak martil yang meruntuhkan tembok-tembok keangkuhan struktural. Namun, menyaksikan sang legenda berdiri langsung di bumi Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang, menghadirkan sebuah lanskap emosi yang sama sekali berbeda.

Di bawah sengatan terik matahari Timor yang membakar, tangan yang biasanya lincah memetik senar gitar itu kini menyentuh tanah dengan takzim, memeluk erat bibit pohon, lalu membenamkannya ke dalam rahim bumi. Momen sunyi ini mengingatkan kita pada dimensi lain dari perjuangannya yang tak kalah magis: sebuah kesetiaan tanpa syarat pada alam sang penemu kehidupan. Iwan sedang membuktikan bahwa membela rakyat tidak hanya berarti mengutuk para penguasa, tetapi juga merawat tanah tempat rakyat itu berpijak.

Ungkapan yang mengatakan Satu Pohon, Sejuta Kehidupan di tengah arus modernisasi global yang kerap kali berjalan linear dengan perusakan lingkungan, kalimat ini bukan sekadar slogan puitis penyejuk ruang seminar. Ini adalah sebuah aksi nyata, sebuah antitesis dari modernisasi yang destruktif. NTT, dengan karakteristik iklim dan geografisnya yang menantang, membutuhkan aksi mitigasi iklim yang taktis, bukan sekadar tumpukan dokumen teori di rak-rak birokrasi.

Ketika Iwan Fals hadir dan melumuri tangannya dengan tanah Kupang, ia sedang meruntuhkan jarak antara seni, intelektualitas, dan bumi. Kehadiran Sang Legenda menegaskan bahwa kritik terbaik terhadap kerusakan lingkungan tidak melulu lahir dari mimbar aksi atau petisi digital, melainkan dari kesediaan kita untuk membungkuk, menggali tanah, dan memastikan kehidupan baru berakar dengan baik.

Dalam situasi yang demikian ini, Kampus UNWIRA telah berhasil menciptakan ruang kultural yang luar biasa. UNWIRA membuktikan diri tidak hanya sebagai menara gading yang sibuk memproduksi nilai akademis di dalam ruang kelas yang dingin, tetapi juga sebagai laboratorium ekologis yang hidup. Melalui gerakan HijaukanUNWIRA, pihak kampus berhasil menembus batas-batas edukasi konvensional.

Musik dan seni tidak lagi berhenti sebagai hiburan telinga penenang kepenatan kuliah, tetapi telah bermutasi menjadi bahan bakar pergerakan lingkungan yang masif. Musik digunakan sebagai pemantik emosional dan spiritual yang menggerakkan kesadaran kolektif mahasiswa. Ketika seorang idola lintas generasi memberikan teladan untuk merawat alam, pesan ekologis tersebut akan meresap jauh lebih dalam ke dalam sanubari generasi muda dibandingkan dengan satu semester perkuliahan teori lingkungan.

Menghijaukan kampus bersama sang legenda adalah metode pedagogi terbaik untuk mengajarkan satu hal fundamental kepada generasi z dan milenial: bahwa mahasiswa sejati adalah mereka yang peduli pada tanah tempat mereka berpijak. Gelar akademik, pemikiran kritis, dan argumen yang filosofis akan kehilangan maknanya jika manusia yang memilikinya abai terhadap krisis air, kekeringan, dan penggundulan hutan di sekitarnya. Pohon-pohon yang ditanam di lingkungan UNWIRA adalah investasi peradaban.

“Satu Pohon, Sejuta Kehidupan” adalah pengingat bahwa dari setiap tunas yang dirawat, kita sedang menyelamatkan pasokan oksigen, menjaga tanah dari erosi, dan mewariskan mata airbukan air mata bagi generasi NTT di masa depan.

Melalui romantisme ekologis ini, Iwan Fals dan UNWIRA Kupang telah mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri. Perjuangan menyelamatkan bumi harus dimulai dari tempat di mana ilmu pengetahuan diproduksi. Sudah saatnya seluruh elemen civitas akademika melangkah keluar, menyingsingkan lengan baju, dan mulai menanam. Karena pada akhirnya, setinggi apa pun ilmu terbang, kita semua akan kembali bersandar pada tanah yang sama. Kampus hijau bukan lagi sebuah tren estetika, melainkan manifestasi dari akal sehat yang lestari.

Oleh: Fransiska Osi Ratrigis

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris FKIP UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.