Oleh: Agustinus Bili Mude
Sulit dimungkiri bahwa realitas hidup modern hari ini berjalan beriringan dengan ketergantungan kita pada teknologi. Lewat layar ponsel di genggaman, kita sekarang bisa dengan mudah meminta bantuan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mengetik tugas, merangkum materi, bahkan menemani mengobrol lewat aplikasi asisten virtual saat sedang merasa sepi. AI tidak lagi terasa seperti masa depan yang jauh, melainkan sudah menjadi seperti “teman sekamar” yang selalu ada. Namun, di tengah semua kemudahan ini, sebuah pertanyaan jujur mengusik hati: Ketika mesin digital bisa berpikir dan merespons kita dengan begitu pintar, apa sebenarnya yang membuat kita tetap menjadi manusia seutuhnya di mata Tuhan?
Pertanyaan ini membawa ingatan pada kisah penciptaan di Kitab Kejadian, di mana ditegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai Imago Dei—menurut gambar dan rupa Allah. Dulu, kita sering menganggap bahwa keunikan manusia dibanding makhluk lain terletak pada akal budi dan kemampuan berpikir (rasio). Namun, kehadiran AI hari ini seolah menampar asumsi tersebut. Kalau ukuran kemanusiaan kita hanya dihitung dari seberapa cepat mengolah data, menghafal informasi, atau menyelesaikan pekerjaan teknis, manusia jelas sudah kalah telak dari Algoritma komputer.
Untungnya, iman Katolik memandang manusia jauh lebih dalam dari sekadar fungsi otak. Gambar dan rupa Allah di dalam diri kita tidak pernah diukir di atas sirkuit logika biner yang dingin, melainkan pada kapasitas rohani untuk mengasihi. AI mungkin bisa merangkai untaian kalimat doa yang sangat indah dan menyentuh, tetapi AI tidak punya jiwa untuk benar-benar berdoa. AI bisa menyajikan data statistik kemiskinan di layar komputer secara akurat dalam hitungan detik, tetapi ia tidak akan pernah bisa memiliki hati yang hancur dan tergerak oleh belas kasihan untuk mengulurkan tangan menolong langsung di lapangan.
Gereja Katolik sendiri sebenarnya tidak pernah memusuhi kemajuan zaman. Jika membaca dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Gaudium et Spes (Artikel 33), Gereja justru memuji penemuan-penemuan manusia sebagai bentuk keterlibatan dalam mengembangkan ciptaan Tuhan. Teknologi itu baik, sejauh ia memuliakan martabat manusia. Masalahnya muncul ketika dunia modern mulai membalik logika ini: kita memperlakukan sesama manusia seperti mesin, dan sebaliknya, memperlakukan mesin seperti manusia.
Di dunia kerja atau kuliah saat ini, kita sering dituntut untuk berfungsi layaknya Algoritma komputer—harus selalu produktif, bekerja cepat tanpa eror, dan instan. Ketika mulai lelah secara mental atau gagal memenuhi standar tersebut, sistem sosial dengan mudah mengabaikan kita. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti dengan sangat tepat mengingatkan bahaya dunia digital yang sering kali hanya menciptakan ilusi komunikasi, tetapi gagal membangun kedekatan yang sejati. Kehidupan modern rentan terjebak dalam apa yang beliau sebut sebagai budaya “buang” (throwaway culture).
Krisis ini terasa semakin nyata ketika banyak orang yang mengalami kesepian mulai mencari kenyamanan emosional pada AI companion (mitra kecerdasan buatan). Relasi ini semu karena sifatnya yang searah; AI dirancang untuk selalu setuju dan tidak pernah menuntut pengorbanan apa pun dari kita. Padahal, menjadi sesama manusia yang sejati berarti siap untuk repot, siap terluka, dan berani berkorban demi orang lain. Menanggapi hal ini, Paus Fransiskus dalam Pesan Hari Perdamaian Dunia 2024 menyerukan pentingnya Algor-ethics (Etika Algoritma), agar teknologi apa pun yang diciptakan selalu menempatkan martabat manusia di tempat yang paling utama, bukan sekadar urusan efisiensi atau keuntungan bisnis.
Esensi menjadi sesama manusia digambarkan dengan sangat indah melalui perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37). Tindakan kasih orang Samaria itu tidak terjadi lewat transfer instruksi otomatis dari jarak jauh. Kasih itu nyata karena ia mau menghentikan perjalanannya, turun dari keledainya, menyentuh luka, dan hadir secara fisik dengan segala risikonya. Inilah “Algoritma Kasih” yang sesungguhnya, yang bersumber dari misteri Inkarnasi Yesus sendiri—bagaimana Allah tidak menyelamatkan dunia yang rusak ini dari kejauhan lewat sistem otomatisasi surgawi, melainkan memilih menjadi manusia nyata yang mau hadir dan menderita bersama manusia.
Pada akhirnya, tantangan kita hari ini adalah bagaimana menghidupi misteri kehadiran itu dalam tindakan nyata yang sederhana. Langkah konkret bisa dimulai dengan menaruh batasan yang sehat: biaralah AI membantu menyelesaikan pekerjaan teknis, tetapi jangan biarkan ia menggantikan kehadiran nyata bagi keluarga dan sahabat. Kita perlu berani mengambil waktu untuk mematikan gawai sejenak (digital sabbath) demi membangun keheningan doa batin dengan Tuhan. Dan yang paling penting, mari sengaja meluangkan waktu untuk menyapa, mendengarkan, atau mengunjungi sesama secara fisik—terutama mereka yang sedang sakit atau kesepian di sekitar kita.
Di tengah kepungan teknologi digital yang serba cepat dan dingin, panggilan tertinggi sebagai orang beriman adalah tetap menjaga kehangatan hati. Menjadi manusia yang otentik berarti menjadi pribadi yang tahu kapan harus bertelut dalam doa yang sunyi, yang mau menangis bersama mereka yang menangis, dan yang berani mengasihi sesama tanpa syarat. Kebenaran dan kasih sejati tidak akan pernah ditemukan dalam barisan kode biner yang kaku, melainkan dalam hati manusia yang hidup dan dipenuhi oleh rahmat Ilahi.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang







