Ketika Dongeng Membuka Makna yang Lain

oleh -89 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Ada alasan mengapa cerita lama selalu menemukan jalan untuk kembali kepada kita. Ia hadir melalui buku yang dibacakan seorang ibu sebelum anaknya tidur, suara guru di ruang kelas, pertunjukan wayang, film, komik, sinetron, atau percakapan sederhana tentang tokoh yang sejak kecil kita kenal. Cerita-cerita itu diwariskan bersama sejumlah kepastian: siapa yang baik, siapa yang jahat, siapa yang patut dikasihani, siapa yang pantas dihukum, dan siapa yang berhak memperoleh kebahagiaan.

Pengulangan membuat pola tersebut terasa alamiah. Padahal, sesuatu yang terus diceritakan belum tentu memiliki satu-satunya makna. Pengulangan hanya menunjukkan bahwa sebuah tafsir berhasil bertahan dan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Mungkin persoalannya justru terletak pada cara kita membaca. Kita terlalu lama menerima dongeng sebagai cerita yang telah selesai. Sejak kecil kita mengenal Sangkuriang sebagai anak yang bersalah kepada ibunya, Keong Mas sebagai perempuan baik yang menjadi korban kejahatan, Nyi Endit sebagai perempuan kaya yang kikir, Bawang Merah sebagai saudara yang jahat dan Bawang Putih sebagai korban yang sabar, sementara Nini Anteh dikenang sebagai perempuan yang akhirnya tinggal di bulan bersama kucingnya. Struktur semacam itu memang memudahkan kita mengenali pesan moral. Anak-anak dapat segera menunjuk siapa yang baik dan siapa yang jahat. Orang dewasa pun merasa telah memahami cerita ketika kebaikan memperoleh ganjaran dan kejahatan menerima hukuman.

Namun, karya sastra tidak selalu menjadi menarik ketika jawabannya sudah tersedia. Ada kalanya sebuah cerita justru memperoleh kehidupan baru ketika pembaca mulai mempertanyakan jawaban yang selama ini dianggap mapan.

Di sinilah gagasan dekonstruksi Jacques Derrida dapat digunakan untuk membaca kembali folklor. Dekonstruksi bukan sekadar membalik posisi baik menjadi buruk atau mengubah tokoh jahat menjadi tokoh baik. Cara baca ini berusaha melihat bagaimana sebuah makna dibangun melalui pertentangan tertentu dan bagaimana pertentangan tersebut ternyata tidak pernah benar-benar stabil. Yang disebut baik membutuhkan yang buruk agar dapat dikenali sebagai kebaikan.

Pahlawan membutuhkan penjahat agar kepahlawanannya terlihat. Pusat memperoleh statusnya sebagai pusat karena ada sesuatu yang ditempatkan di pinggir. Dongeng banyak bekerja melalui oposisi semacam itu. Akan tetapi, justru karena maknanya dibangun melalui oposisi, dongeng selalu terbuka untuk pembacaan lain.

Ambillah Sangkuriang sebagai contoh. Kita mengenalnya terutama melalui konflik antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang berujung pada kegagalan pembangunan perahu dan terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Dalam versi yang populer, Sangkuriang ditempatkan sebagai tokoh yang melakukan kesalahan besar karena tidak mengetahui bahwa perempuan yang hendak dinikahinya adalah ibunya sendiri. Dayang Sumbi kemudian berada dalam posisi moral yang lebih dapat dibenarkan karena berusaha menghindari perkawinan tersebut.

Pembacaan seperti itu memang mungkin dan telah diwariskan secara luas. Akan tetapi, bagaimana jika pusat perhatian kita dipindahkan kepada pengalaman Sangkuriang sebagai seorang anak yang tumbuh tanpa pengetahuan mengenai asal-usul dirinya? Ia kehilangan ayah, meninggalkan rumah, kemudian kembali sebagai seseorang yang tidak mengenali ibunya. Ketika kebenaran mengenai identitas tersebut terbuka, dunia yang selama ini ia pahami tiba-tiba kehilangan pijakan. Kemarahannya memang tidak serta-merta dapat dibenarkan, tetapi apakah ia cukup dipahami sebagai kejahatan? Ataukah kemarahan tersebut juga memperlihatkan keterkejutan seseorang yang mendapati bahwa sebagian penting dari identitas dirinya telah disembunyikan?

Pertanyaan tersebut tidak bertujuan membebaskan Sangkuriang dari kesalahannya. Yang dipersoalkan adalah keterbatasan cara baca yang hanya menyediakan satu posisi moral bagi seorang tokoh. Membaca ulang cerita bukan berarti membatalkan cerita. Kita hanya membuka kembali ruang yang selama ini mungkin tertutup oleh kebiasaan menafsirkan. Persoalan serupa tampak dalam kisah Keong Mas. Kita terbiasa menganggap bentuk keong sebagai kutukan dan tubuh manusia sebagai bentuk keberadaan yang lebih sempurna.

Seorang perempuan harus meninggalkan tubuh keong agar dapat kembali menjadi putri yang cantik. Tetapi dari mana ukuran tersebut berasal? Mengapa menjadi manusia dianggap lebih baik daripada menjadi keong? Mengapa tubuh manusia diposisikan sebagai bentuk keberadaan yang lebih tinggi, sementara tubuh hewan ditempatkan sebagai hukuman

Pertanyaan itu mungkin terasa berlebihan jika diajukan terhadap sebuah dongeng. Padahal, justru melalui pertanyaan semacam itulah dongeng memperlihatkan lapisan kebudayaan yang selama ini tersembunyi. Cerita rakyat tidak hanya menyimpan alur dan tokoh. Ia juga membawa cara masyarakat memandang tubuh, kecantikan, kelas sosial, alam, dan kehidupan. Keong Mas dapat dibaca sebagai cerita tentang tubuh dan identitas, tetapi juga tentang keinginan manusia untuk kembali kepada bentuk dirinya yang dianggap ideal.

Jika pembacaan berhenti pada gagasan bahwa orang baik akan mendapatkan kebahagiaan, kita kehilangan persoalan yang lebih menarik. Cerita tersebut juga dapat dibaca dengan menanyakan tubuh seperti apa yang dianggap layak dicintai, bentuk keberadaan seperti apa yang dianggap lebih tinggi, dan mengapa seorang tokoh harus mengalami perubahan tertentu agar kembali diterima oleh lingkungan sosialnya.

Situ Bagendit menawarkan persoalan lain. Nyi Endit biasanya dikenang sebagai perempuan kaya yang kikir. Tenggelamnya wilayah tempat tinggalnya kemudian dibaca sebagai hukuman yang sepadan dengan perilakunya. Struktur moralnya tampak sederhana: kekayaan yang tidak dibagikan dianggap sebagai kesalahan, keserakahan mendatangkan bencana, dan orang miskin memperoleh posisi moral yang lebih tinggi.

Namun, pembacaan ulang dapat mengajukan pertanyaan yang berbeda. Mengapa perempuan kaya begitu mudah ditempatkan sebagai simbol keserakahan? Siapa yang menentukan bahwa Nyi Endit adalah tokoh yang serakah Bagaimana masyarakat yang melahirkan cerita tersebut memandang kekayaan seorang perempuan? Mengapa orang miskin yang datang meminta pertolongan hampir secara otomatis memperoleh legitimasi moral

Pertanyaan tersebut tidak mengharuskan kita mengubah Nyi Endit menjadi pahlawan. Yang lebih penting adalah memeriksa mekanisme naratif dan kultural yang membuat seseorang ditempatkan sebagai penjahat. Dengan demikian, pembacaan tidak berhenti pada karakter tokoh, tetapi bergerak menuju struktur nilai yang memungkinkan karakter tersebut diberi label tertentu.

Di sinilah folklor menjadi penting. Cerita rakyat bukan sekadar hiburan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia membawa nilai, norma, ingatan, ketakutan, harapan, dan cara masyarakat memahami dunia. Proses pewarisan pun tidak pernah benar-benar netral. Ada bagian yang dipertahankan, ada yang dilupakan, ada yang diubah, dan ada yang memperoleh tekanan lebih besar daripada bagian lainnya. Versi yang kita kenal sekarang hanyalah salah satu bentuk dari perjalanan panjang sebuah cerita.

Gagasan tentang “cerita asli” pun perlu diperlakukan secara hati-hati. Banyak folklor pada mulanya hidup secara lisan. Ia berpindah dari mulut ke mulut (oral traditions), dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu wilayah ke wilayah lain. Setiap pencerita memiliki kemungkinan untuk menambahkan, mengurangi, mengubah, atau memberi tekanan baru pada bagian tertentu. Ketika cerita kemudian dituliskan, salah satu versi memperoleh bentuk yang lebih permanen. Tulisan menciptakan kesan bahwa cerita telah selesai, padahal sebelumnya ia hidup melalui perubahan.

Membaca ulang dongeng, dengan demikian, bukan tindakan merusak tradisi. Pembacaan ulang justru dapat menjadi cara untuk menjaga tradisi tetap memiliki hubungan dengan kehidupan manusia. Tradisi yang tidak pernah boleh ditafsirkan kembali perlahan kehilangan kemampuan untuk berbicara kepada zaman yang berubah. Ia tetap dapat dipajang dan dihormati, tetapi semakin jauh dari pengalaman manusia yang terus bergerak.

Dekonstruksi menjadi menarik diterapkan pada cerita rakyat sebab ia tidak hanya bertanya, “Apa pesan moral cerita ini?” Pertanyaan yang lebih jauh adalah, “Mengapa pesan moralnya harus dibangun dengan cara seperti itu?” Siapa yang memperoleh keuntungan dari pembagian baik dan buruk tersebut? Suara siapa yang diberi ruang? Suara siapa yang tidak pernah terdengar?

Pertanyaan mengenai suara menjadi semakin penting ketika kita melihat posisi tokoh perempuan dalam banyak dongeng. Perempuan kerap hadir melalui fungsi yang sudah ditentukan: sebagai ibu, anak, istri, kekasih, korban, atau perempuan yang harus dihukum karena melanggar norma. Bahkan ketika menjadi tokoh utama, kehidupan perempuan sering diarahkan kembali menuju tatanan sosial yang dianggap normal.

Pembacaan ulang membuka kemungkinan untuk melihat tokoh-tokoh tersebut sebagai subjek yang memiliki dunia batin dan kehendaknya sendiri. Nini Anteh, misalnya, tidak harus dipahami hanya sebagai perempuan yang “terbuang ke bulan”. Ia dapat dibaca sebagai sosok yang memiliki kerinduan, pilihan, dan pengalaman subjektif. Kehadiran kucingnya pun dapat dibaca lebih jauh, bukan hanya sebagai pelengkap cerita, melainkan sebagai pintu untuk memikirkan hubungan manusia dengan makhluk lain serta batas yang selama ini kita buat antara manusia dan bukan manusia.

Bawang Merah pun dapat dibaca dengan cara yang lebih kompleks. Kita terlalu mudah menjadikannya tokoh jahat hanya karena ia gagal memenuhi standar moral yang dilekatkan pada Bawang Putih. Padahal, iri hati, kemarahan, kecemburuan, dan keinginan untuk memiliki merupakan bagian dari pengalaman manusia. Ketika dongeng mengubah emosi tersebut menjadi ciri seorang tokoh antagonis, kita dapat bertanya apakah cerita itu sedang menggambarkan kejahatan atau sedang memperlihatkan bagaimana kebudayaan mendisiplinkan emosi tertentu agar sesuai dengan norma yang dianggap baik.

Cerita lama ternyata tidak sesederhana masa kecil kita. Mungkin kita hanya membacanya terlalu cepat. Di sinilah pentingnya membedakan penghormatan terhadap tradisi dari kepatuhan terhadap tradisi. Menghormati tradisi berarti bersedia mendengarkan apa yang diwariskannya sekaligus memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan terhadap warisan tersebut. Setiap generasi memiliki persoalannya sendiri. Cerita lama akan tetap memiliki daya hidup ketika mampu berjumpa dengan persoalan baru tanpa kehilangan jejak sejarah yang membentuknya.

Persoalan tersebut menjadi semakin relevan ketika teknologi generatif, termasuk AI, mampu menghasilkan dan memodifikasi cerita dalam hitungan detik. Struktur Sangkuriang dapat dipindahkan ke dunia futuristik, Keong Mas dapat diubah menjadi fiksi ilmiah, dan Situ Bagendit dapat dikembangkan menjadi cerita tentang krisis ekologis. Teknologi memungkinkan transformasi bentuk berlangsung dengan cepat. Namun, persoalan yang lebih penting bukan seberapa mudah sebuah cerita dapat diubah, melainkan mengapa cerita tersebut perlu dibaca dan diceritakan kembali.

Di titik ini, dekonstruksi bukan sekadar permainan intelektual untuk menghasilkan versi dongeng yang berbeda. Ia merupakan cara untuk membaca relasi kuasa yang bekerja di balik cerita. Ketika kita membaca ulang dongeng, kita sesungguhnya sedang memeriksa bagaimana masyarakat mengajarkan tentang baik dan buruk, tubuh dan kecantikan, gender dan keluarga, kekayaan dan kemiskinan, manusia dan alam, serta siapa yang dianggap layak diselamatkan atau dihukum.

Cerita rakyat dapat menjadi semacam cermin kebudayaan, tetapi cermin tidak selalu memperlihatkan wajah sebagaimana adanya. Ia juga memperlihatkan bagaimana sebuah masyarakat ingin memandang dirinya sendiri. Di dalam cerita, masyarakat menyusun gambaran tentang nilai yang dianggap pantas, perilaku yang dianggap menyimpang, dan manusia seperti apa yang layak memperoleh tempat.

Mungkin itulah sebabnya kita perlu membaca kembali cerita-cerita yang sejak kecil kita cintai. Bukan karena orang-orang terdahulu keliru ketika menciptakannya, melainkan karena kita terlalu lama menganggap bahwa sebuah cerita hanya memiliki satu pintu masuk. Padahal, cerita lama menyerupai rumah tua yang memiliki banyak ruang. Selama ini kita mungkin hanya duduk di ruang tamu, mendengarkan pesan moral yang sama, sementara di ruang-ruang lain masih tersimpan suara tokoh yang belum pernah kita dengarkan, pertanyaan yang belum pernah diajukan, dan kemungkinan makna yang belum memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Membaca ulang tidak berarti membuang cerita lama. Yang perlu dilakukan adalah membuat cerita tersebut kembali berhadapan dengan pertanyaan. Dongeng yang hanya memberikan jawaban mudah berubah menjadi pelajaran moral. Sebaliknya, dongeng yang membuat pembacanya bertanya, merasa ragu, melihat keganjilan, bahkan mempertanyakan keyakinannya sendiri menunjukkan bahwa cerita tersebut masih memiliki daya hidup.

Cerita lama tidak pernah benar-benar selesai. Yang selesai mungkin hanya satu cara membacanya. Setelah bertahun-tahun kita percaya bahwa kita telah mengetahui siapa yang baik dan siapa yang jahat, barangkali sekarang waktunya melihat kembali cerita-cerita tersebut dengan kesediaan untuk memahami sesuatu yang lebih kompleks. Dan, “Jangan-jangan yang selama ini kita sebut sebagai akhir cerita hanyalah akhir dari cara kita membacanya.”

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.