Oleh: Heri Isnaini Pernahkah kita membuka media sosial hanya untuk melihat satu atau dua unggahan, tetapi kemudian menghabiskan waktu hampir satu jam
Tag: Heri Isnaini
Menghidupkan Pembelajaran Hikayat di Ruang Kelas
Oleh: Heri Isnaini Di tengah kehidupan yang semakin akrab dengan layar, video pendek, dan informasi yang bergerak cepat, membaca hikayat mungkin terasa
Legenda Urban dan Cara Kita Menyembunyikan Ketakutan
Oleh: Heri Isnaini Manusia modern gemar menyebut dirinya rasional. Kita mengukur jarak dengan satelit, membaca tubuh melalui hasil laboratorium, dan menyimpan dunia
Malam dan Hasrat Manusia untuk Menaklukkan
Oleh: Heri Isnaini Malam selalu mempunyai cara sendiri untuk mengubah cara manusia memandang kenyataan. Pada siang hari, segala sesuatu tampak memiliki ukuran
Sapardi Djoko Damono dan Cinta yang Menjelma Menjadi Luka
Oleh: Heri Isnaini Ada sesuatu yang selalu menarik dari cara Sapardi Djoko Damono memperlakukan cinta. Ia tidak tergesa-gesa menjadikan cinta sebagai peristiwa
Di Mana Pendidikan Bahasa Anak Bermula?
Oleh: Heri Isnaini Pernahkah kita melihat anak yang begitu fasih memainkan gawai, tetapi kebingungan ketika diminta menceritakan kembali apa yang baru saja
Ketika Dongeng Membuka Makna yang Lain
Oleh: Heri Isnaini Ada alasan mengapa cerita lama selalu menemukan jalan untuk kembali kepada kita. Ia hadir melalui buku yang dibacakan seorang
Krisis Pembelajaran Bahasa yang Terfragmentasi
Oleh: Heri Isnaini Di ruang-ruang kelas, bahasa sering hadir dalam keadaan yang ganjil. Ia diajarkan, tetapi tidak selalu dihidupkan. Ia disusun dalam
Gempa Tidak Pernah Membaca Berita
Oleh: Heri Isnaini Pagi di Flores mungkin bermula seperti pagi-pagi lain yang pernah dilalui orang-orang di sana. Ada rumah yang pintunya baru
Mengapa Film Horor Indonesia Tidak Pernah Kehabisan Penonton?
Oleh: Heri Isnaini Bioskop Indonesia kembali dipenuhi film horor pada 2026. Judul-judul baru bermunculan hampir setiap bulan. Ada kisah tentang ritual keluarga
Anak-Anak yang Kehilangan Rasa Takjub
Oleh: Heri Isnaini Suatu pagi, saya membawa sebuah puisi ke ruang kelas. Tidak ada yang istimewa. Hanya selembar kertas berisi beberapa bait
- 1
- 2
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











