Gempa Tidak Pernah Membaca Berita

oleh -58 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Pagi di Flores mungkin bermula seperti pagi-pagi lain yang pernah dilalui orang-orang di sana. Ada rumah yang pintunya baru saja dibuka, ada dapur yang mulai dipenuhi bunyi peralatan memasak, ada anak-anak yang mungkin masih menggeliat di tempat tidur, dan ada orang-orang yang sudah memikirkan pekerjaan sebelum matahari benar-benar meninggi. Pagi memiliki kebiasaannya sendiri: ia datang tanpa meminta izin, membawa cahaya yang perlahan menyentuh atap rumah, jalan, pepohonan, halaman, dan wajah-wajah yang sudah akrab dengan rutinitas.

Lalu tanah bergerak. Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores dan Nusa Tenggara Timur. Guncangan yang terjadi pada kedalaman relatif dangkal itu memicu longsor, merusak rumah dan fasilitas umum, mengganggu akses jalan serta komunikasi, dan membuat ribuan orang meninggalkan rumah mereka. Dalam beberapa hari pertama, angka korban terus berubah; laporan menyebut sedikitnya 68 orang meninggal dan lebih dari 200 orang terluka, sementara ribuan warga harus tinggal di tenda atau tempat pengungsian karena rumah mereka rusak dan gempa susulan masih terjadi.

Namun gempa tidak pernah membaca berita. Ia tidak tahu bahwa Indonesia sedang merayakan hari kemerdekaan. Ia tidak tahu bahwa di Jakarta orang-orang sedang mengikuti upacara, mengenakan pakaian terbaik, mengibarkan bendera, dan menyanyikan lagu-lagu yang sejak sekolah dasar telah menjadi bagian dari ingatan kebangsaan. Tanah hanya bergerak mengikuti hukum geologinya sendiri, sementara manusia, dengan seluruh pengetahuan dan perasaannya, dipaksa menghadapi akibat dari gerakan yang berlangsung dalam hitungan detik.

Di sinilah sebuah berita tentang bencana mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit daripada angka. Sebab di belakang angka 68 terdapat 68 riwayat kehidupan yang tidak pernah sama. Berita selalu membutuhkan angka. Jumlah korban membantu kita memahami skala bencana, jumlah rumah yang rusak memberi gambaran tentang kebutuhan pemulihan, sementara jumlah pengungsi membantu pemerintah dan lembaga kemanusiaan menentukan berapa banyak makanan, air, obat-obatan, tenda, dan tenaga yang harus dikirimkan.

Tanpa angka, penanganan bencana akan kehilangan salah satu alat pentingnya. Namun angka mempunyai sifat yang aneh. Ia sangat berguna untuk mengatur sesuatu yang besar, tetapi mudah sekali membuat sesuatu yang sangat manusiawi terasa jauh. Ketika kita membaca “68 orang meninggal”, pikiran segera menangkap jumlahnya, tetapi belum tentu menangkap kehidupan yang hilang bersama angka itu. Kita membutuhkan statistik untuk memahami bencana, tetapi kita membutuhkan cerita untuk memahami manusia yang berada di dalamnya.

Mungkin di situlah sastra mempunyai pekerjaannya. Sastra tidak terburu-buru menghitung. Ia ingin tahu siapa yang kehilangan rumah, siapa yang masih mencari anggota keluarganya, siapa yang tidur di bawah terpal karena takut kembali ke bangunan yang retak, dan siapa yang setiap malam memandangi rumahnya dari kejauhan karena tempat yang selama bertahun-tahun memberinya rasa aman tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang mengancam.

Di Reo, misalnya, seorang pedagang pakaian bernama Rasyid Jafar mengatakan rumahnya kini tinggal reruntuhan dan keluarganya membutuhkan makanan, obat-obatan, serta air bersih. Kalimat seperti itu membuat berita bergerak dari angka menuju seseorang. Rumah yang rusak tidak lagi sekadar masuk kolom statistik; ia mempunyai pemilik, mempunyai kehidupan yang pernah berlangsung di dalamnya, dan mempunyai cerita yang tiba-tiba terputus. Barangkali begitulah manusia kembali mendapatkan wajahnya.

Rumah selalu mempunyai kedudukan yang aneh dalam kehidupan manusia. Ia dibangun dari bahan-bahan yang dapat dihitung [batu bata, semen, kayu, genting, besi], tetapi maknanya tidak pernah selesai ketika bangunan itu selesai didirikan. Di sebuah rumah, seseorang belajar berjalan. Di sana pula seorang anak pertama kali mendengar namanya dipanggil, seseorang menerima kabar tentang kelahiran, keluarga makan bersama, orang tua menua perlahan, dan benda-benda kecil yang tampaknya tidak penting mulai mengumpulkan kenangan tanpa disadari pemiliknya. Sebuah kursi yang sudah kusam, kalender yang belum dilepas dari dinding, piring yang diwariskan dari orang tua, foto keluarga yang warnanya mulai pudar, atau bekas goresan tinggi badan anak di dinding dapat mempunyai nilai yang jauh melampaui harga benda tersebut.

Ketika gempa meruntuhkan rumah, yang runtuh bukan hanya susunan materialnya. Ada bagian dari riwayat keluarga yang ikut tercerabut. Itulah sebabnya saya selalu merasa bahwa kalimat “rumah rusak” tidak pernah cukup untuk menggambarkan apa yang sesungguhnya terjadi. Rumah bukan hanya ruang yang mempunyai alamat. Ia adalah tempat di mana waktu meninggalkan bekasnya secara diam-diam. Ketika seseorang kehilangan rumah, ia kehilangan ruang tempat masa lalunya selama ini disimpan.

Mungkin itu pula yang menjelaskan mengapa banyak korban bencana memilih tetap berada di sekitar rumah mereka meskipun bangunannya sudah rusak. Dalam laporan tentang kondisi Flores beberapa hari setelah gempa, sejumlah warga tetap bertahan dekat rumah dan ternak mereka, sementara sebagian besar masih memilih tidur di luar karena takut gempa susulan. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam keputusan itu. Orang mungkin tidak dapat lagi tidur di dalam rumah, tetapi ia belum siap meninggalkan seluruh kehidupan yang tersimpan di sekitarnya.
Di tempat pengungsian, kehidupan kemudian mengambil bentuk yang berbeda. Terpal menjadi atap sementara, halaman menjadi kamar tidur, dan ruang terbuka berubah menjadi tempat keluarga-keluarga mengatur kembali kehidupan mereka. Anak-anak bermain di antara orang dewasa yang sedang mengurus bantuan, sementara orang tua berusaha menciptakan semacam rutinitas agar hari tidak sepenuhnya dikuasai oleh kecemasan.

Kita sering membicarakan trauma sebagai istilah psikologis, tetapi bagi orang yang mengalami bencana, trauma dapat mempunyai bentuk yang sangat sehari-hari. Ia mungkin muncul ketika lantai sedikit bergetar, ketika suara benda jatuh terdengar terlalu keras, ketika malam menjadi terlalu sunyi, atau ketika seorang anak tiba-tiba bertanya apakah rumah akan roboh lagi.

Dalam situasi seperti itu, ingatan tidak bekerja seperti album foto yang dapat dibuka dan ditutup sesuka hati. Ingatan tinggal di dalam tubuh. Ia dapat muncul melalui suara, bau, gerakan, atau tempat tertentu yang secara tiba-tiba mengembalikan seseorang kepada detik ketika tanah bergerak dan dunia yang dikenalnya berubah.

Flores sendiri mempunyai riwayat panjang dengan gempa dan tsunami. Tragedi besar pada 1992 masih menjadi bagian dari ingatan masyarakat setempat, ketika gempa dan tsunami menewaskan sekitar 2.500 orang. Bencana baru kemudian hadir di lanskap yang telah menyimpan pengalaman serupa, sehingga tanah yang berguncang membawa serta ingatan lama yang mungkin selama bertahun-tahun hanya tersimpan di ceruk keluarga dan komunitas. Bencana tidak pernah datang ke ruang yang benar-benar kosong. Ia datang ke tempat yang sudah mempunyai ingatan.

Ada satu kisah dari gempa ini yang menurut saya sulit dilepaskan dari ingatan. Ketika tanah berguncang dan fasilitas kesehatan mengalami gangguan, seorang perempuan bernama Maria Florida Nogo Kelen harus menjalani operasi persalinan darurat. Kehamilannya bermasalah dan bayi harus dilahirkan lebih awal; dalam kondisi listrik yang terputus-putus, dokter melakukan operasi dengan bantuan cahaya senter, sementara bangunan rumah sakit ikut berguncang. Bayinya lahir dengan berat sekitar 1,3 kilogram dan kemudian ditempatkan dalam inkubator di luar ruangan. Anak itu diberi nama Gempita, yang berkelindan langsung dengan kata “gempa”.

Saya tidak tahu apakah sebuah nama dapat mengubah nasib seseorang. Mungkin tidak. Namun nama selalu membawa sesuatu. Ia adalah cara manusia memberi tanda kepada pengalaman yang terlalu besar untuk dibiarkan tanpa sebutan. Seorang anak lahir di tengah bencana, lalu namanya menyimpan peristiwa yang mengiringi kelahirannya. Di dalam nama itu terdapat ketakutan seorang ibu, keberanian para tenaga kesehatan, keterbatasan fasilitas, dan sebuah kehidupan kecil yang justru muncul ketika banyak kehidupan lain sedang kehilangan tempat berpijak. Ada ironi yang sulit diabaikan di sana: bumi mengguncang kehidupan, sementara kehidupan baru justru datang ke dunia. Bagi statistik, seorang bayi mungkin hanya menjadi satu angka tambahan dalam catatan kelahiran. Bagi ibunya, ia adalah seluruh dunia yang harus dipertahankan.

Mungkin itulah masalah terbesar ketika bencana diberitakan terlalu cepat: manusia mudah berubah menjadi angka. Kita mengatakan 68 meninggal, ribuan mengungsi, ribuan rumah rusak, ratusan fasilitas kesehatan terdampak, puluhan sekolah tidak dapat digunakan. Semua itu benar dan diperlukan. Bahkan angka-angka tersebut menjadi bagian penting dari kerja kemanusiaan karena bantuan harus dihitung, kebutuhan harus dipetakan, dan sumber daya harus disalurkan.
Tetapi manusia selalu lebih luas daripada data yang mencatatnya. Di balik satu rumah yang rusak terdapat kebiasaan bertahun-tahun; di balik satu korban terdapat keluarga yang kehilangan seseorang yang mungkin menjadi pusat kesehariannya; di balik seorang pengungsi terdapat pekerjaan yang terhenti, sekolah yang tidak dapat berjalan seperti biasa, hewan ternak yang harus dijaga, dokumen yang mungkin hilang, dan benda-benda kecil yang mungkin tidak pernah dianggap penting sampai semuanya lenyap dalam satu pagi.

Berita membutuhkan angka agar dunia segera bergerak. Sastra membutuhkan manusia agar dunia tidak lupa untuk merasa. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Angka memberi kita skala, sementara cerita memberi kita kedalaman. Angka membantu tangan menjangkau mereka yang membutuhkan pertolongan; cerita membantu pikiran memahami mengapa pertolongan itu tidak boleh berhenti ketika kamera sudah pergi.
Barangkali kita juga perlu membaca kembali kata “korban”. Kata itu sering digunakan dengan mudah sehingga seseorang yang telah kehilangan rumah, keluarga, pekerjaan, atau rasa aman perlahan-lahan hanya dikenali melalui apa yang telah menimpanya. Ia menjadi korban gempa, korban longsor, korban bencana.

Padahal sebelum tanah bergerak, ia adalah seseorang dengan nama, pekerjaan, keluarga, kebiasaan, kesukaan, kecemasan, dan rencana-rencana kecil untuk hari berikutnya. Gempa mengubah keadaan, tetapi tidak seharusnya menghapus identitas. Di sinilah bahasa menjadi penting. Cara kita menyebut seseorang menentukan cara kita melihatnya. Ketika manusia direduksi menjadi “korban”, ada kemungkinan kita hanya melihat penderitaannya. Ketika kita kembali menyebut namanya, pekerjaannya, keluarganya, rumahnya, dan cerita yang pernah dijalaninya, kita mengembalikan sebagian martabat yang sering hilang dalam bahasa statistik.

Mungkin sastra bekerja dari ceruk yang sama. Ia mengambil sesuatu yang terlalu besar untuk dipahami sekaligus, kemudian mendekatkannya kepada kita melalui satu kehidupan. Bencana sebesar apa pun akhirnya dapat kita pahami melalui seorang ibu, seorang anak, sebuah rumah, sebuah kursi yang tertinggal di antara reruntuhan, atau seseorang yang masih menyimpan kunci rumah yang sudah tidak dapat lagi dibuka.

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika jalan-jalan Flores kembali dipenuhi kendaraan dan toko-toko kembali buka, orang-orang mulai memperbaiki rumah, sekolah kembali menerima murid, dan tenda-tenda perlahan dibongkar, berita tentang gempa itu akan bergerak turun dalam ingatan publik. Berita baru akan datang menggantikannya, angka baru akan memenuhi layar, dan perhatian masyarakat akan berpindah kepada peristiwa lain yang lebih segar.

Itulah sifat berita. Ia bergerak cepat karena dunia terus berubah. Namun bagi mereka yang kehilangan seseorang, berita tidak pernah benar-benar selesai pada hari ketika media berhenti memberitakannya. Bagi seseorang yang rumahnya runtuh, tanah yang sama mungkin terasa berbeda bahkan setelah bangunan baru berdiri. Bagi seorang anak yang terbangun karena gempa, malam mungkin membutuhkan waktu yang panjang sebelum kembali menjadi malam biasa.

Mungkin kita tidak dapat menghentikan gempa, sebagaimana kita tidak dapat meminta tanah membaca berita tentang dirinya sendiri sebelum bergerak. Yang dapat kita lakukan adalah belajar membaca manusia dengan lebih teliti setelah bencana terjadi.

Membaca rumah yang runtuh sebagai riwayat, bukan sekadar material yang rusak. Membaca pengungsian sebagai kehidupan yang sedang berusaha disusun ulang. Membaca angka korban sebagai pintu menuju nama-nama, keluarga, pekerjaan, kenangan, dan masa depan yang mendadak berubah arah. Sebab ketika berita mengatakan bahwa puluhan orang meninggal, kita perlu membayangkan bahwa di dalam kalimat itu ada puluhan dunia yang berhenti pada waktunya masing-masing.

Dan ketika berita mengatakan ribuan rumah rusak, kita perlu mengingat bahwa rumah-rumah itu pernah menyimpan suara anak-anak, percakapan keluarga, aroma masakan pagi, pakaian yang dijemur, doa sebelum tidur, dan begitu banyak hal kecil yang tidak pernah masuk laporan kerusakan.

Gempa tidak pernah membaca berita. Ia tidak mengenal statistik, tidak memahami perayaan kemerdekaan, tidak peduli pada kamera, dan tidak mengetahui bahwa satu bangunan yang roboh mungkin telah berdiri selama puluhan tahun sebagai tempat seseorang menyimpan seluruh masa kecilnya.

Manusialah yang membaca berita. Dan mungkin tugas kita setelah membacanya adalah memastikan bahwa angka-angka itu tidak berhenti sebagai angka. Di balik 68 ada nama. Di balik sebuah rumah yang runtuh ada riwayat. Di balik seorang pengungsi ada kehidupan yang sedang mencari bentuknya kembali.

Di balik seorang bayi bernama Gempita ada sebuah kelahiran yang berlangsung di tengah bumi yang berguncang. Di sanalah bencana berhenti menjadi sekadar peristiwa geologis dan mulai memasuki wilayah yang lebih dalam: wilayah ingatan, bahasa, keluarga, kebudayaan, dan cerita manusia. Sebab tanah mungkin bergerak hanya beberapa menit, tetapi manusia membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk memahami apa yang telah hilang, apa yang masih dapat diselamatkan, dan bagaimana sebuah kehidupan dapat kembali dibangun dari tempat yang pernah runtuh.

Bandung, 17 Agustus 2026

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.