Menghidupkan Pembelajaran Hikayat di Ruang Kelas

oleh -644 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Heri Isnaini

Di tengah kehidupan yang semakin akrab dengan layar, video pendek, dan informasi yang bergerak cepat, membaca hikayat mungkin terasa seperti pekerjaan yang membutuhkan kesabaran ekstra. Siswa terbiasa berhadapan dengan cerita yang disajikan secara visual, konflik yang segera mencapai puncak, dan narasi yang dapat ditinggalkan kapan saja ketika perhatian mulai beralih. Sementara itu, hikayat hadir dengan bahasa Melayu klasik, tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian, perjalanan panjang, dan peristiwa yang tidak selalu tunduk pada logika kehidupan sehari-hari. Perbedaan pengalaman membaca inilah yang membuat pembelajaran hikayat di sekolah memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual.

Namun, persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat hikayat tampak modern agar disukai siswa. Pertanyaan yang lebih mendasar ialah bagaimana menghadirkan kembali sastra sebagai ruang untuk membangun imajinasi, memahami kebudayaan, dan menafsirkan kehidupan. Hikayat tidak perlu menyamar menjadi cerita digital agar memiliki arti. Ia perlu dibaca dengan cara yang memungkinkan siswa menemukan hubungan antara dunia yang dibayangkan masyarakat masa lalu dan persoalan yang mereka hadapi sekarang.

Hikayat merupakan bagian dari tradisi sastra Melayu yang memperlihatkan bagaimana masyarakat mengolah pengalaman, kepercayaan, nilai, dan harapan melalui cerita. Di dalamnya, kita menjumpai keberanian, kesetiaan, pengorbanan, pertarungan kekuasaan, serta berbagai peristiwa luar biasa. Hikayat bukan sekadar cerita tentang tokoh yang memiliki kesaktian atau mampu menaklukkan berbagai rintangan. Ia merupakan jejak kebudayaan yang menyimpan cara masyarakat membayangkan hubungan antarmanusia, kekuasaan, dan kehidupan. Karena itu, pembelajaran hikayat semestinya tidak berhenti pada kegiatan menghafalkan definisi, mengidentifikasi tokoh, atau menemukan amanat sebagaimana mencari jawaban dalam lembar kerja.

Persoalannya, pembelajaran sastra kadang-kadang terlalu sibuk menguraikan unsur intrinsik hingga lupa menghadirkan pengalaman membaca. Siswa diminta menentukan alur, latar, tokoh, dan amanat, tetapi tidak selalu diajak memikirkan mengapa konflik dalam cerita terjadi atau bagaimana mereka akan bersikap jika menghadapi persoalan serupa. Akibatnya, hikayat terasa seperti benda lama yang dipajang di ruang kelas: diketahui keberadaannya, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari pengalaman belajar.

Padahal, guru dapat memulai pembelajaran dengan pertanyaan yang dekat dengan kehidupan siswa. Mengapa seseorang tetap membela temannya meskipun mengetahui bahwa temannya bersalah? Apakah kesetiaan berarti selalu mengikuti kehendak orang yang kita hormati? Mengapa seorang pemimpin harus mendengarkan pendapat orang lain? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat menjadi pintu masuk untuk membaca hikayat. Siswa terlebih dahulu berhadapan dengan persoalan, kemudian menelusuri bagaimana persoalan serupa dibangun melalui tokoh dan konflik dalam teks.

Ketika mempelajari Hikayat Hang Tuah, misalnya, siswa dapat mendiskusikan kesetiaan, persahabatan, dan tanggung jawab moral. Hang Tuah kerap dipahami sebagai tokoh yang merepresentasikan keberanian dan kesetiaan. Namun, pembelajaran tidak semestinya berhenti pada kesimpulan bahwa kesetiaan selalu merupakan kebajikan. Guru dapat mengajukan pertanyaan: apakah kesetiaan kepada pemimpin harus selalu mengalahkan pertimbangan moral? Bagaimana jika perintah seseorang yang dihormati bertentangan dengan keadilan?

Pertanyaan tersebut dapat dihubungkan dengan situasi yang konkret di sekolah. Seorang siswa mengetahui bahwa sahabatnya melakukan perundungan terhadap teman sekelas, tetapi ia memilih diam karena takut kehilangan pertemanan. Ia merasa harus membela sahabatnya, meskipun menyadari bahwa tindakan itu merugikan orang lain. Melalui diskusi tentang kesetiaan dalam hikayat, siswa dapat mempertimbangkan bahwa membela teman tidak selalu berarti membenarkan perbuatannya. Kesetiaan juga dapat diwujudkan melalui keberanian mengingatkan, mencegah tindakan yang merugikan, dan membantu teman memperbaiki kesalahan. Dengan demikian, nilai dalam sastra tidak berhenti sebagai amanat yang dituliskan di akhir jawaban, tetapi menjadi bahan pertimbangan ketika siswa mengambil keputusan.

Pembelajaran Hikayat Bayan Budiman juga dapat dihubungkan dengan kebiasaan siswa menggunakan media sosial. Cerita berbingkai dalam hikayat tersebut memberi kesempatan untuk membahas cara cerita disampaikan, bagaimana nasihat dibangun, dan mengapa seseorang perlu mempertimbangkan akibat tindakannya. Guru dapat menghadirkan situasi sederhana: seorang siswa menerima tangkapan layar percakapan yang mempermalukan teman sekelasnya. Ia dapat meneruskan pesan tersebut ke grup kelas, membiarkannya, atau memeriksa konteks dan menghentikan penyebarannya. Siswa kemudian mendiskusikan pilihan tindakan beserta konsekuensinya.

Hikayat tentu tidak bercerita tentang grup percakapan digital. Namun, nilai kebijaksanaan dan pertimbangan terhadap akibat tindakan dapat menjadi jembatan untuk memahami persoalan tersebut. Di sinilah relevansi sastra bekerja, bukan karena cerita lama memiliki jawaban langsung atas setiap persoalan modern, melainkan karena cerita menyediakan situasi untuk melatih penilaian. Siswa belajar bahwa sesuatu yang mudah dilakukan belum tentu patut dilakukan, dan sesuatu yang ramai dibicarakan belum tentu layak disebarkan.

Persoalan kepemimpinan juga dapat dipelajari melalui hikayat. Konflik mengenai penguasa, pengikut, dan tanggung jawab dapat dihubungkan dengan pengalaman memilih ketua kelas, membagi tugas kelompok, atau mengelola kegiatan organisasi siswa. Seorang ketua kelompok, misalnya, memberikan pekerjaan ringan kepada teman dekatnya, sementara anggota lain harus menyelesaikan tugas yang lebih berat. Situasi ini dapat digunakan untuk mendiskusikan keadilan dan tanggung jawab. Siswa diminta menyusun pembagian tugas yang lebih proporsional serta menjelaskan alasan di balik keputusan mereka. Pembelajaran sastra dengan demikian menjadi latihan untuk mempertimbangkan persoalan sosial yang benar-benar mereka alami.

Agar pengalaman membaca lebih bermakna, guru juga dapat mempertemukan hikayat dengan film fantasi, komik, atau permainan digital yang dikenal siswa. Perbandingan itu tidak dimaksudkan untuk menyatakan bahwa semua cerita populer berasal dari hikayat. Siswa dapat diminta membandingkan perjalanan tokoh, ujian yang dihadapi, pertolongan yang diterima, atau cara konflik diselesaikan. Mereka kemudian menjelaskan persamaan dan perbedaan cara kedua cerita membangun tokoh serta nilai yang ditawarkan. Melalui kegiatan ini, siswa memahami bahwa cerita memiliki bentuk dan konvensi yang beragam, sekaligus membawa cara tertentu dalam membayangkan dunia.

Tantangan lain dalam pembelajaran hikayat ialah bahasa Melayu klasik yang tidak selalu mudah dipahami siswa. Kosakata, struktur kalimat, dan ungkapan yang sudah jarang digunakan dapat membuat mereka kesulitan mengikuti cerita. Jika tidak ditangani, pembelajaran mudah berubah menjadi kegiatan menerjemahkan kata demi kata tanpa sempat menyentuh pengalaman estetik teks.

Guru dapat mengatasinya melalui pembacaan bertahap. Siswa mengenali kosakata yang sulit, menduga maknanya berdasarkan konteks, kemudian membandingkan dugaan tersebut dengan penjelasan yang tersedia. Setelah memahami jalan cerita, mereka dapat membahas bagaimana pilihan bahasa membangun suasana dan menggambarkan tokoh. Adaptasi ke dalam bahasa Indonesia masa kini juga dapat dilakukan, tetapi sebaiknya disertai perbandingan dengan teks asal. Siswa dapat mendiskusikan apakah perubahan bahasa turut mengubah suasana, karakter tokoh, atau nuansa tertentu. Dengan demikian, adaptasi tidak sekadar menyederhanakan teks, tetapi menjadi cara memahami hubungan antara bahasa dan pengalaman pembaca.

Hikayat juga dapat dialihwahanakan menjadi drama pendek, komik digital, rekaman cerita, atau video naratif. Siswa yang mengadaptasi sebuah episode Hikayat Hang Tuah menjadi drama, misalnya, harus menentukan konflik, memilih dialog, dan mempertimbangkan bagian cerita yang perlu dipertahankan atau diubah. Proses tersebut menuntut pemahaman terhadap teks sekaligus kemampuan menciptakan bentuk baru. Produk digital bukan tujuan akhir pembelajaran, melainkan sarana untuk menunjukkan bahwa siswa memahami cerita dan mampu mempertanggungjawabkan pilihan kreatifnya.

Di sini, guru perlu menjaga agar kreativitas tidak menggantikan kegiatan membaca secara mendalam. Video yang menarik belum tentu menunjukkan pemahaman yang baik apabila siswa tidak mampu menjelaskan hubungannya dengan teks. Sebaliknya, diskusi sederhana yang didasarkan pada pembacaan cermat dapat menghasilkan pemahaman yang lebih kuat. Teknologi sebaiknya memperluas cara siswa berinteraksi dengan sastra, bukan menjadi alasan untuk menghindari teks yang sesungguhnya sedang dipelajari.

Pembelajaran hikayat juga perlu memberi ruang bagi perbedaan penafsiran. Ketika seorang siswa menyatakan bahwa tindakan tokoh tertentu tidak adil, guru dapat meminta alasan dan bukti dari cerita yang mendukung pendapat tersebut. Siswa lain boleh mengajukan pandangan berbeda selama mampu menjelaskannya. Dengan cara ini, kelas sastra menjadi ruang untuk berlatih membaca, berargumentasi, mendengarkan, dan menghormati perbedaan. Siswa tidak hanya belajar tentang tokoh dalam cerita, tetapi juga belajar bagaimana menyampaikan penilaian tanpa merendahkan orang yang memiliki pendapat lain.

Merawat hikayat bukan berarti menempatkan seluruh nilai masa lalu sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan. Tradisi justru perlu dibaca secara kritis agar generasi muda dapat mengenali nilai yang masih relevan, memahami nilai yang lahir dari konteks historis tertentu, dan mendiskusikan persoalan yang memerlukan penilaian ulang. Menghargai warisan budaya tidak harus berarti menerima setiap gagasan di dalamnya tanpa pertimbangan. Tradisi dapat tetap hidup ketika dibaca, diperdebatkan, dan diberi makna oleh generasi yang berbeda.

Pada akhirnya, pembelajaran hikayat bukan sekadar urusan memperkenalkan karya sastra lama kepada siswa. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk melatih ketekunan membaca, membangun daya imajinasi, memahami sejarah kebudayaan, dan mempertimbangkan persoalan kemanusiaan. Hikayat menyediakan dunia yang mungkin berbeda dari pengalaman sehari-hari siswa, tetapi melalui perbedaan itulah mereka dapat belajar melihat kehidupan dari sudut pandang lain.

Sekolah tidak cukup menghasilkan siswa yang mampu menyebutkan tokoh, alur, latar, dan amanat. Pendidikan sastra perlu membantu mereka memahami mengapa cerita dituturkan, nilai apa yang dipertaruhkan, dan bagaimana manusia membayangkan kehidupan melalui bahasa. Ketika seorang siswa mampu menghubungkan kesetiaan dalam hikayat dengan keberanian menghentikan perundungan, atau kebijaksanaan tokoh dengan tanggung jawab menyebarkan informasi, sastra telah bergerak melampaui halaman buku pelajaran. Ia menjadi bagian dari cara siswa membaca dan menjalani kehidupannya.

Menghidupkan hikayat di ruang kelas, dengan demikian, bukan sekadar membawa masa lalu ke hadapan generasi muda. Upaya itu juga memberi kesempatan kepada generasi muda untuk berdialog dengan tradisi, menguji pertimbangan moral, dan membangun pemahaman tentang sesama. Hikayat tidak harus memberikan jawaban siap pakai bagi setiap persoalan. Cukuplah jika melalui cerita, siswa belajar mengajukan pertanyaan yang lebih baik, mempertimbangkan akibat tindakannya, dan memahami bahwa kehidupan manusia selalu lebih rumit daripada jawaban yang tersedia di lembar ujian.

Penulis adalah Dosen Sastra di IKIP Siliwangi, Kota Cimahi, Jawa Barat. Memiliki minat yang mendalam terhadap dunia sastra beserta berbagai kajiannya. Tulisan-tulisannya telah dipublikasikan di beragam media massa, baik daring maupun cetak. Menjadi kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.