Tembok-tembok pembatas didirikan, seakan menjadi hak milik bangsa Israel Raya yang memaksakan diri menjadi negara-bangsa yang baru. Mungkin saja Tuhan mengizinkan, tetapi segala hal yang dipaksakan oleh kekuatan akal dan tipu muslihat, belum tentu Tuhan meridhoinya.
Eksploitasi manusia disemarakkan, pembunuhan dan genosida berlangsung demi kepentingan sekularisme dan hiper modernitas. Mungkin saja Tuhan mengizinkan tetapi belum tentu meridhoinya.
Peperangan dilestarikan oleh negeri adidaya, berikut sistem telah diciptakan dan senjata-senjata pemusnah diperjualbelikan. Mungkin saja Tuhan mengizinkan tetapi belum tentu meridhoinya.
Ajaran agama didakwahkan dan disebarluaskan, perbedaan mazhab dan aliran kepercayaan juga saling membinasakan. Ya, barangkali semuanya itu mendapat izin dari Tuhan, meskipun belum tentu meridhoinya.
Padahal, sungguh sangat mudah bagi Tuhan untuk membuat kita menjadi satu umat yang toleran dan saling menghargai, juga saling menyebarkan sikap tenggang rasa antara satu dengan yang lainnya. Tetapi, beginilah adanya kita, dan begitulah adanya mereka. Kita hanya dapat berikhtiar dalam kebaikan dan kesabaran, karena Tuhan menjanjikan adanya perubahan jika manusia berupaya untuk mengubah dirinya sendiri.
Kita diperintahkan untuk saling berlomba dalam kebaikan, meski hakikatnya kita hanya mampu berbuat baik jika kita memiliki kekuatan untuk melakukan kebaikan, berkat izin dan ridho dar-Nya. Bahkan, kita bisa menggerakkan tubuh dan beribadah pun, oleh karena mendapat anugerah kekuatan dari-Nya.
Kita ini sesungguhnya bukan siapa-siapa, hanya sebutir debu yang terombang-ambing oleh hempasan ombak dan angin. Kita tak mungkin melawan arus dan badai, kecuali hanya berupaya untuk berjuang dan terus bertahan hingga sampai ke muaranya. Dan Tuhan menjanjikan adanya “akhir yang gemilang” bagi hamba-hamba-Nya yang sanggup bertahan dengan kesabaran.
Tetapi di sisi lain, kita pun sedang menyaksikan maraknya konflik dan pertikaian yang selalu saja terjadi karena manusia merasa diri lebih berkuasa dari yang lainnya; merasa diri lebih unggul dari yang lainnya; bahkan segala yang dimilikinya seolah-olah akan abadi dalam genggamannya.
Mengapa banyak manusia hiper modern bersikeras hingga akhir hayat, bahwa segala yang dicapai dari kesuksesan, popularitas, pangkat dan jabatan, seolah-olah berkat jerih payah dan perjuangannya sendiri? Mengapa mereka memilih “gagal paham” dalam memaknai sejarah kehancuran dan keterpurukan dari umat-umat terdahulu? ***
Oleh Enzen Okta Rifa’i
(Alumnus International University of Africa, Republik Sudan, juga banyak menulis opini dan puisi di berbagai media lokal dan nasional)





