Penyiar itu duduk termenung di rumahnya yang kecil dan sederhana, ditemani segelas kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja. Dengan tatapan

Wahai Tuhanku, maafkan jika aku telah berkarya tidak sesuai dengan kehendak dan ridho-Mu. Puisi-puisiku telah mengilhami banyak orang pada kebaikan dan keburukan.

Apa yang harus kutuliskan setelah puluhan tahu melanglang buana dengan kata berkeluh kesah menulis bait-bait puisi tentang para penguasa yang dungu dan

Seorang elit politik merasa kewalahan karena ditantang debat oleh seorang seniman kawakan yang selama puluhan tahun menjadi idola rakyat jelata. Sang elit

Guruku…Di balik senyummu, ada letih yang kau sembunyikan,Langkahmu tetap tegap meski waktu sering tak ramah,Kau menjaga mimpi kami seperti cahaya kecil yang

Puluhan tahun aku berjuang bersama rakyat marjinal, mereka yang terpojok dan terpinggirkan. Ribuan kata dan kalimat telah kugoreskan dalam bait-bait puisi indah

Sunyi yang ditaburkannyaterus saja merambat dalam gelapakar-akarnya menembusi tinggi gedungsibuk mencari ruang-ruang yang dapat diisitapi tak mereka temukan apapunkecuali rel-rel panjang dan

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.