Penyiar itu duduk termenung di rumahnya yang kecil dan sederhana, ditemani segelas kopi dan sepiring pisang goreng di atas meja. Dengan tatapan
Doa Sang Penyair
Wahai Tuhanku, maafkan jika aku telah berkarya tidak sesuai dengan kehendak dan ridho-Mu. Puisi-puisiku telah mengilhami banyak orang pada kebaikan dan keburukan.
Tobat Sang Penyair
Apa yang harus kutuliskan setelah puluhan tahu melanglang buana dengan kata berkeluh kesah menulis bait-bait puisi tentang para penguasa yang dungu dan
TVRI Mengedit
Seorang elit politik merasa kewalahan karena ditantang debat oleh seorang seniman kawakan yang selama puluhan tahun menjadi idola rakyat jelata. Sang elit
Guruku
Guruku…Di balik senyummu, ada letih yang kau sembunyikan,Langkahmu tetap tegap meski waktu sering tak ramah,Kau menjaga mimpi kami seperti cahaya kecil yang
Presiden Masuk Ka’bah
Puluhan tahun aku berjuang bersama rakyat marjinal, mereka yang terpojok dan terpinggirkan. Ribuan kata dan kalimat telah kugoreskan dalam bait-bait puisi indah
Berpacaran Zaman Sekarang Kurang Etis
Di Jalan kampus sering kulihat langkah tergesa Dua anak muda saling menautkan dunia terlalu cepat Seakan waktu harus ditelan tanpa jedaPadahal cinta
Luka yang Mereka Gali Sendiri
Di tanah ini janji sering tumbuh tanpa akar Kata mereka manis, tapi tangan penuh siasat liar Rakyat menunggu cahaya dari pintu yang
Ketika Lonceng Terakhir Memanggilmu Pulang
Di kepakan pagi yang perlahan redup,namamu, melayang seperti doa yang tak pernah selesai. Di altar gereja kita, tempat langkahmu menua dalam kesetiaan,
Penabur
Sunyi yang ditaburkannyaterus saja merambat dalam gelapakar-akarnya menembusi tinggi gedungsibuk mencari ruang-ruang yang dapat diisitapi tak mereka temukan apapunkecuali rel-rel panjang dan
- 1
- 2
- …
- 6
- Berikutnya
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











