Keterampilan Menulis Penting untuk Semua Profesi

oleh -626 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Muhammad Subhan

BATERAI laptop saya habis pagi itu. Saya lupa mengisinya saat dini hari ketika mempersiapkan materi. Setelah rangkaian sambutan dan pembukaan acara selesai, saya meminta panitia menyiapkan sebuah meja kecil di depan ruangan. Fungsinya untuk meletakkan laptop, sebab kabel penghubung ke infokus ternyata lebih pendek dari perkiraan saya, di samping saya hendak menambah daya baterai.

Di depan saya, ada sekitar lima puluh peserta duduk di kursinya masing-masing. Mereka adalah pelajar dan guru yang mengikuti Pelatihan Menulis Esai Konten Budaya Lokal, kegiatan yang ditaja Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Solok, Selasa, 18 November 2025. Ini kali pertama saya menyambangi Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Solok yang kini menempati gedung baru di komplek Islamic Centre.

Seperti biasa, sebelum saya membagikan materi, selalu ada jeda waktu untuk menyiapkan laptop dan membuka slide presentasi. Di saat-saat itulah biasanya muncul ruang kosong.

Mengisinya, saya memberi peserta waktu sekitar lima menit untuk menuliskan identitas singkat berupa nama, asal sekolah, ditambah dua pilihan cita-cita, serta satu kalimat yang harus disempurnakan: “Seandainya saya menjadi penulis, maka saya akan ….”

Peserta segera menuliskan catatan mereka, sementara saya kembali berkutat dengan laptop dan membuka materi bertajuk “Kiat Praktis Menulis Esai dengan Teknik Storytelling.”

Tugas ringkas itu sebenarnya adalah pintu masuk untuk melakukan perkenalan agar suasana lebih cair. Saya membuka sesi dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu, meski beberapa peserta sudah mengenal saya sebelumnya. Setelah itu, saya mempersilakan mereka memperkenalkan diri satu per satu.

Pada bagian cita-cita, jawaban peserta cukup menarik: sebagian besar bercita-cita menjadi dokter, pengusaha, pramugari, guru, ASN, dan beberapa bahkan menuliskan ingin menjadi anggota dewan. Tampaknya, menjadi wakil rakyat kini telah menjadi salah satu pilihan masa depan yang cukup populer.

Namun, ada hal yang membuat saya termenung: tidak satu pun peserta yang menuliskan cita-cita menjadi penulis, baik penulis buku, wartawan, esais, sastrawan, maupun profesi lain yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Bagi banyak siswa, profesi penulis tampaknya belum cukup menggoda untuk dijadikan masa depan.
Meski demikian, pada bagian “Seandainya saya menjadi penulis…”, justru muncul beragam keinginan yang menggoda.

Ada yang menyebut, sendainya jadi penulis, ia ingin menerbitkan buku bermanfaat, ada yang ingin berbagi pengalaman lewat cerita, ada yang ingin keliling dunia dengan kata-kata, ada yang ingin menyuarakan kebenaran meski pahit, ada pula yang bercita-cita mengkampanyekan literasi ke sekolah-sekolah.

Dan tentu saja, di antara itu, ada beberapa yang ingin kaya dengan banyak cuan dari royalti karya.

Inilah kontras yang menarik: tidak ada yang bercita-cita menjadi penulis, tapi semua ingin menikmati “keajaiban-keajaiban” yang hanya dimiliki seorang penulis.

Padahal, keinginan tidak seharusnya berhenti pada kalimat “seandainya”. Ia harus beranjak menjadi niat, tekad, rencana, dan aksi yang disiapkan dengan sungguh-sungguh sejak dini, terutama saat masih duduk di bangku sekolah.

Tetapi saya paham dan maklum, tidak semua orang yang belajar menulis ingin menjadi sastrawan, wartawan, atau penulis profesional.

Menulis bukan sekadar profesi, ia adalah keterampilan dasar kehidupan, sebagaimana membaca. Menulis dibutuhkan oleh siapa pun, apa pun profesinya kelak: dokter, insinyur, guru, pengusaha, teknokrat, birokrat, bahkan politisi.

Di sinilah poinnya, menulis penting untuk semua profesi.

Bayangkan, betapa kuatnya sebuah bangsa jika para profesionalnya memiliki budaya menulis. Dokter yang menulis akan melahirkan buku, artikel, atau catatan edukatif mengenai kesehatan masyarakat. Pengetahuan tidak berhenti di ruang medis, tetapi menyebar ke banyak orang. Guru yang menulis akan melahirkan gagasan visioner tentang masa depan pendidikan. Ide-ide yang selama ini hanya tergantung di papan tulis bisa menjadi referensi nasional bahkan dunia. Pengusaha yang menulis akan berbagi wawasan tentang manajemen usaha, keberanian mengambil risiko, dan pentingnya literasi finansial. Teknokrat dan birokrat yang menulis akan menjadi pelayan publik yang berpikir jernih, visioner, dan mampu mengambil keputusan berdasarkan refleksi mendalam. Sebaliknya, politisi yang menulis akan tampil sebagai pemimpin yang memahami sejarah, konteks sosial, dan arah masa depan bangsanya.

Pada hakikatnya, menulis adalah alat berpikir, bukan sekadar aktivitas menuangkan kata.

Dengan menulis, seseorang akan terlatih menata gagasan, menyusun argumen, memetakan persoalan, dan menemukan solusi.

Tak ada peradaban besar di dunia yang lahir tanpa budaya literasi. Jepang, Korea Selatan, negara-negara Nordik, hingga Amerika Latin memiliki tradisi menulis dan membaca yang kuat sebagai fondasi kemajuan mereka.

Kita pun bisa menuju ke sana, jika pendidikan literasi tidak berhenti pada slogan.

Masuk ke materi inti pelatihan di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Solok itu, saya menjelaskan kepada peserta bahwa menulis esai bukan hanya kemampuan teknis, melainkan kemampuan menceritakan gagasan. Esai yang baik bukan sekadar kumpulan argumen, tetapi rangkaian ide yang bergerak secara halus, logis, dan memikat.

Di sinilah teknik “storytelling” memainkan peran.

Storytelling membuat esai tidak kering. Ia memberi “nyawa” pada gagasan. Melalui cerita, pembaca tidak hanya memahami isi esai, tetapi juga merasakan alurnya. Esai dengan storytelling biasanya memiliki lima pola yang dimulai dari pembuka yang menggugah. Pembuka di alenia pertama atau halaman pertama naskah bisa berupa pengalaman pribadi, kejadian-kejadian humoris, atau fenomena sehari-hari. Pembaca pasti suka hal-hal dramatis.

Kemudian, pengembangan ide atau gagasan. Ide harus segar. Berangkat dari isu kekinian yang akan menggiring pembaca pada inti gagasan dengan bahasa yang jernih.

Gagasan itu perlu didukung contoh konkret yang realistis agar argumen tidak melayang. Contoh-contoh itu menguatkan narasi sehingga pembaca tidak sekadar direcoki hal-hal terkait teori yang berat sehingga bikin pusing kepala.

Selanjutnya refleksi, mengajak pembaca merenungkan sesuatu yang lebih besar. Ini juga terkait dengan tujuan esai yang hendak ditulis, apakah ingin memengaruhi pikiran dan suasana hati pembaca, sehingga pembaca menyetujui, bertindak dan melakukan gagasan, hingga ikut membagikan gagasan yang dianggap bersetuju dengan harapan.

Di bagian akhir esai, penting membuat penutup yang menancap, satu dua kalimat yang membuat esai sulit dilupakan, berkesan, dan menjadi ingatan.

Saya memberi contoh bagaimana memulai esai ini dengan kisah batrei laptop yang habis pagi itu. Kisah ini menjadi pintu masuk bagi saya untuk membicarakan topik yang lebih luas: disiplin, kebiasaan, atau pentingnya persiapan dalam dunia pendidikan. Pun dalam bidang pekerjaan lainnya.

Bagi pelajar, teknik ini sangat relevan. Mereka hidup dalam dunia yang penuh cerita: di rumah, di sekolah, di media sosial, di lingkungan permainan, semua penuh cerita. Tinggal bagaimana cerita itu dipungut, dipilih, dipilah, diolah, dan dijadikan dasar untuk menyampaikan pesan.

Storytelling juga mampu memperkuat esai-esai bertema budaya lokal yang potensinya bertebaran di setiap daerah. Cerita tentang kampung halaman, tradisi keluarga, permainan tradisional, kuliner khas, pepatah adat, ritual, atau pengalaman masa kecil adalah bahan baku yang kaya untuk dituliskan.

Ketika dikemas dengan baik, esai semacam itu bukan hanya menjadi tulisan, tetapi rekaman budaya.

Saat pelatihan mendekati akhir, beberapa peserta mengajukan beberapa pertanyaan, seperti bagaimana mencari ide, cara membuat pembuka yang kuat, bagaimana mengatasi rasa minder saat menulis, hingga solusi saat menghadapi kebuntuan menulis.

Namun, inti jawaban dari semua pertanyaan itu adalah bagaimana seorang penulis berani keluar dari zona nyaman, kemudian menyediakan waktu yang cukup untuk membaca dan berlatih menulis, menjaga disiplin waktu, melatih keberanian dengan mempublikasikan karya, serta menemukan hal-hal baru sehingga pintu-pintu kebuntuan yang tertutup terbuka kembali.

Sebagai keterampilan dan kecakapan hidup yang bahkan dapat berkembang menjadi profesi yang profesional, menulis penting dipelajari sejak dini, meski kelak seseorang memilih jalan hidup apa pun. Apa pun cita-cita yang ingin dikejar, kemampuan menuliskan gagasan akan selalu menjadi bekal berharga, karena dari tulisanlah manfaat dapat dipungut banyak orang.

Dan pada akhirnya, manfaat itulah yang menjelma menjadi nilai, jejak, sekaligus warisan pemikiran yang akan ditinggalkan, meski tubuh telah tiada, dan menjadi “nyawa kedua” yang membuat penulisnya hidup kembali lewat karya-karyanya. []

Artikel sudah terbit di majalahelipsis.id

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.