“Don Lako Don Ita”

oleh -317 Dilihat
banner 468x60

Hari Minggu, 4 Januari 2026, Keluarga Besar Manggarai Yogyakarta yang terhimpun dalam wadah Ikatan Keluarga Manggarai Yogyakarta (IKAMAYA) menyelenggarakan Natal dan Tahun Baru Bersama di Gedung Hall STPMD “APMD” Yogyakarta.

Perayaan Natal dan Tahun Baru bersama Keluarga Manggarai Yogyakarta, bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Ia menjelma sebagai ruang pulang — bukan pulang secara geografis ke Manggarai di Flores, melainkan pulang secara kultural, emosional, dan spiritual ke akar bersama sebagai orang Manggarai yang hidup di tanah rantau.

Di tengah dinamika Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan perjumpaan lintas identitas, perayaan ini menjadi ruang merajut kembali yang tercerai oleh jarak, waktu, dan kesibukan.

Natal selalu dimaknai sebagai peristiwa kelahiran harapan. Dalam iman Kristiani, Natal adalah kelahiran Sang Damai di tengah dunia yang penuh konflik dan ketimpangan. Dalam konteks Manggarai, makna ini bertemu dengan filosofi relasi dan keseimbangan: manusia hidup karena manusia lain, memberi bukan hanya soal materi, tetapi soal menghadirkan diri bagi sesama.

Karena itu, Natal hari ini tidak hanya dirayakan di altar doa, tetapi juga di meja makan bersama, dalam tawa, dalam bahasa ibu, dalam cerita tentang kampung halaman. Di situ iman dan budaya tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan.

Bagi para perantau Manggarai di Yogyakarta — terutama mahasiswa STPMD “APMD” dan kampus lain — Natal dan Tahun Baru sering menjadi waktu paling terasa rindu. Rindu orang tua, rindu tanah, rindu kebun, rindu bahasa. Acara bersama ini menjadi ruang aman untuk tetap menjadi Manggarai di tanah Jawa, tanpa harus kehilangan diri.

STPMD “APMD” sebagai tempat perayaan memiliki makna simbolik yang penting. Kampus ini dikenal sebagai ruang refleksi kritis tentang desa, pembangunan, keadilan sosial, dan keberpihakan pada masyarakat kecil.

Merayakan Natal dan Tahun Baru di sini seolah menegaskan bahwa iman dan budaya tidak boleh berhenti pada ritus, tetapi harus berbuah dalam sikap sosial: solidaritas, keberpihakan, dan tanggung jawab bersama.

Tahun Baru memberi kita kesempatan bukan hanya untuk bergerak maju, tetapi juga untuk menengok ke dalam: apa yang sudah kita jalani, apa yang harus kita perbaiki, dan apa yang harus kita jaga. Dalam kearifan Manggarai dikenal ungkapan wuat wa’i, lelo langkas — akar harus kuat agar pucuk bisa tumbuh. Tanpa ingatan, kita kehilangan arah; tanpa arah, kita kehilangan makna.

Karena itu, Keluarga Manggarai Yogyakarta bukan sekadar komunitas nostalgia, melainkan komunitas nilai. Ia menjaga kesinambungan antara generasi tua dan muda, antara kampung dan kota, antara adat dan perubahan zaman. Di sinilah identitas menjadi jembatan, bukan tembok.

Natal mengajarkan kerendahan hati melalui palungan; budaya Manggarai mengajarkan kerendahan hati melalui berbagi dan hidup dalam relasi.

Keduanya bertemu dalam pesan yang sama: manusia tidak besar karena menguasai, tetapi karena melayani. Maka perayaan hari ini sesungguhnya adalah tindakan etis: memilih untuk tetap bersama di dunia yang mudah tercerai, memilih untuk tetap peduli di dunia yang mudah acuh, dan memilih untuk tetap manusiawi di dunia yang sering kehilangan kemanusiaan.

Semoga semangat Natal — damai, rendah hati, dan penuh cinta — serta harapan Tahun Baru — pembaruan, keberanian, dan kesetiaan — terus menyertai Keluarga Manggarai Yogyakarta, dan mengalir keluar dari ruang kecil di STPMD “APMD” ini menjadi berkat bagi banyak orang.*

Oleh: Gregorius Sahdan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.