“Laut, Paru-Paru Biru Dunia”: Menggali Pandangan Viktor Bungtilu Laiskodat

oleh -1103 Dilihat
banner 468x60

Pernyataan Viktor Bungtilu Laiskodat bahwa laut merupakan penghasil oksigen terbesar di dunia sempat memantik kontroversi. Sebagian publik menilainya sebagai upaya menegasikan peran hutan. Namun polemik itu sesungguhnya membuka ruang diskusi yang lebih penting: betapa selama ini laut kerap terpinggirkan dalam wacana ekologis, padahal secara ilmiah justru memegang peran dominan dalam menopang kehidupan di bumi.

Penelitian Oseanografi modern menunjukkan bahwa sekitar 50–70 persen oksigen atmosfer bumi diproduksi oleh fitoplankton laut—organisme mikroskopis yang hidup di lapisan atas samudra dan melakukan fotosintesis (Field et al., 1998; NASA, 2020). Fitoplankton, meski tak kasat mata, bekerja tanpa henti di seluruh samudra dunia, menjadikan laut sebagai paru-paru biru planet ini.

Selama ini, istilah “paru-paru dunia” lebih sering dilekatkan pada hutan hujan tropis, khususnya Amazon. Padahal, secara neraca oksigen global, hutan dan laut memiliki peran yang berbeda. Hutan memang krusial sebagai penyerap karbon, penyangga biodiversitas, dan pengatur iklim regional. Namun, produksi oksigen terbesar justru berasal dari laut, sebuah fakta yang sering luput dari narasi kebijakan lingkungan (NOAA, 2019).

Dalam konteks ini, pernyataan Laiskodat seharusnya dibaca bukan sebagai simplifikasi, melainkan sebagai kritik terhadap bias daratan (land-biased thinking) dalam pembangunan. Negara kepulauan seperti Indonesia—dengan lebih dari 70 persen wilayah berupa laut—ironisnya masih menempatkan laut sebagai halaman belakang pembangunan. Eksploitasi berlebihan, pencemaran plastik, kerusakan terumbu karang, dan pemanasan laut terus berlangsung tanpa kesadaran bahwa yang dirusak bukan sekadar ruang ekonomi, melainkan sistem pendukung kehidupan global.

Laporan IPBES (2019) menegaskan bahwa degradasi ekosistem laut berdampak langsung pada menurunnya produktivitas fitoplankton akibat perubahan suhu dan keasaman laut. Jika tren ini berlanjut, maka krisis iklim bukan hanya soal suhu dan cuaca ekstrem, tetapi juga menyentuh fondasi biologis produksi oksigen bumi.

Dalam kerangka itulah, gagasan Laiskodat menemukan relevansinya. Ia menempatkan laut bukan sekadar sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai subjek peradaban. Bagi wilayah kepulauan seperti NTT, Flores Timur, atau Maluku, laut bukan hanya ruang hidup ekonomi nelayan, tetapi ruang etika ekologis. Melindungi laut berarti menjaga napas manusia sendiri.

Perdebatan publik semestinya tidak berhenti pada soal siapa lebih berjasa antara hutan dan laut. Keduanya saling melengkapi. Namun mengakui laut sebagai penghasil oksigen terbesar dunia adalah langkah awal untuk mengoreksi ketimpangan cara pandang dalam kebijakan lingkungan nasional. Tanpa laut yang sehat, hutan pun kehilangan maknanya.

(Suluh di ßukit Kurban Lamanabi ~glas~)

Oleh: Gama Lusi Andreas Soge

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.