Oleh: Anselmus DW Atasoge
Hari ini, 15 Januari, Gereja Katolik mengenang dan merayakan Pesta Santo Arnoldus Janssen. Bagi saya, kenangan dan perayaan ini membawa diskursus penting mengenai bagaimana visi seorang tokoh abad ke-19 tetap relevan dalam bangunan dialog antar iman kontemporer. Warisan intelektual pendiri Serikat Sabda Allah (SVD) ini menawarkan sebuah paradigma yang dikenal sebagai ‘hospitalitas spiritual’. Konsep ini menjadi krusial di tengah dinamika masyarakat plural yang sering kali terjebak dalam eksklusivisme. Melalui pendekatan yang sistematis, Santo Arnoldus menunjukkan bahwa ‘perjumpaan antar keyakinan’ harus berlandaskan pada ‘keterbukaan hati yang teruji secara intelektual maupun spiritual’.
Dasar pemikirannya berpijak pada posisi epistemologis yang mengakui keberadaan ‘Semina Verbi atau Benih-Benih Sabda’ di dalam setiap kebudayaan dan tradisi. Secara teologis, prinsip ini menegaskan bahwa kebenaran serta kebaikan bersifat universal dan dapat ditemukan dalam berbagai manifestasi kepercayaan manusia. Pandangan tersebut mengubah pola hubungan antarumat beragama dari ‘model konfrontatif’ menuju ‘model apresiatif’. Eksistensi kebenaran pada pihak lain diakui sebagai ‘jejak kehadiran Ilahi’ yang telah ada mendahului interaksi manusiawi. Di titik ini, dialog menjadi sebuah proses penyingkapan bersama terhadap hakikat kebenaran yang multidimensional.
Integrasi antara iman dan ilmu pengetahuan menjadi pilar penyangga dalam pemikiran Santo Arnoldus Janssen. Penekanan beliau pada studi antropologi, linguistik, dan budaya merupakan bentuk ‘penghormatan intelektual’ terhadap identitas mitra dialog. Memahami bahasa serta adat istiadat pihak lain adalah langkah metodologis untuk meruntuhkan ‘tembok prasangka’ yang sering kali muncul akibat ketidaktahuan. Bagi saya, upaya ini merupakan ‘dekonstruksi stereotip’ melalui literasi budaya yang komprehensif. Dengan dan dari posisi ini, perjumpaan antar iman pun bertransformasi menjadi ruang pertukaran gagasan yang setara, bermartabat, dan jauh dari tendensi dominasi ideologis.
Kebajikan utama Santo Arnoldus Janssen bermuara pada inklusivitas yang berpusat pada ‘hati manusia sebagai ruang perjumpaan’. ‘Vivat Deus Unus et Trinus in cordibus nostris’ merupakan doa khas serta motto hidup Santo Arnoldus Janssen. Ungkapan yang berarti “Hiduplah Allah Tritunggal Maha Kudus dalam hati kami” ini mengandung konsekuensi sosiologis bagi setiap individu untuk menjadikan batinnya sebagai rumah bagi kemanusiaan.
Kata ‘Vivat’ jauh melampaui ucapan selamat. Ia merupakan sebuah kerinduan eksistensial agar Allah Yang Esa dan Tritunggal benar-benar menjadi ‘detak utama dalam denyut kehidupan batiniah manusia’. Dalam pemaknaan ini, Allah tidak lagi dipandang sebagai entitas yang jauh di angkasa, melainkan ‘Sahabat Karib’ yang bersemayam di kedalaman diri, membimbing setiap pikiran dan tutur kata agar selaras dengan frekuensi kasih-Nya yang tak terhingga.
Dalam konteks ini, hospitalitas spiritual menuntut kerendahan hati untuk mendengarkan tanpa ‘interupsi egoistik’, di mana dialog menjadi efektif saat setiap pihak mampu memosisikan diri sebagai pembelajar. Dalam kaitannya dengan membumikan moderasi beragama di tengah keragaman agama dan etnis hospitalitas ini menjadi titik starnya. Sikap tersebut menjadi fondasi utama dalam menciptakan ruang aman bagi eksistensi serta penghormatan terhadap keyakinan sesama. Inilah esensi cita-cita dari pengarusutamaan moderasi beragama agar harmoni sosial dapat terwujud secara berkelanjutan.
Relevansi pemikiran Santo Arnoldus Janssen di era kontemporer ini berpijak pada keberhasilannya mengintegrasikan spiritualitas transenden dengan keterbukaan batin yang imanen. Hospitalitas spiritual yang ia wariskan hadir sebagai antitesis terhadap polarisasi sosial yang kerap dipicu oleh ‘rigiditas paradigma dan segregasi ruang hidup’. Dalam cakrawala ini, keberagaman tidak lagi dipandang sebagai ancaman terhadap identitas, melainkan sebuah taman persemaian di mana benih-benih kebajikan universal tumbuh mekar melalui dialog yang otentik.
Upaya merawat kemajemukan pada akhirnya bertumpu pada kesediaan manusia untuk menanggalkan jubah eksklusivisme dan membuka diri bagi kehadiran yang lain. Dengan menghargai benih kebaikan yang tertanam dalam setiap pribadi, perjumpaan lintas batas bertransformasi menjadi sebuah aksi nyata yang inklusif demi mewujudkan perdamaian abadi. Inilah simfoni moderasi yang mengalun dari kedalaman hati, di mana keteguhan iman bersanding mesra dengan kerendahan hati untuk merayakan kemanusiaan dalam bingkai harmoni yang universal.***
Penulis adalah Staf Pengajar di Stipar Ende Flores







