“Hidup ini adalah perjalanan yang panjang di dalam waktu yang sempit, isilah dengan perjuangan yang membanggakan, dan hargai dengan ketulusan.”
Sesungguhnya saya sudah mendengar nama beliau sebagai salah satu tokoh politik Nusa Tenggara Timur (NTT) ketika masih di bangku kuliah. Terlebih ketika saya mulai bergabung di organisasi kemahasiswaan baik di intern maupun ekstern kampus termasuk saya bergabung di PMKRI. Nama Raymundus Sau Fernandes (Ray Fernandes) sudah beredar luas di kalangan para aktivis dan selalu menjadi salah satu sosok/tokoh panutan bagi kita junior. Hal ini bisa dipahami karena beliau salah satu sosok sentral (aktivis Cipayung Plus/alumni GMNI Cabang Kupang) sehingga nama Almarhum begitu familiar di kalangan para aktivis.
Saya mulai mengenal secara dekat ketika beliau memutuskan bergabung dengan Partai NasDem dan apalagi beliau dipercayakan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem NTT. Kami semakin intens berinteraksi dalam berbagai ruang kegiatan partai dan agenda politik. Bagi saya, beliau adalah sosok panutan bagi setiap anak muda yang hendak belajar di ruang organisasi dan politik.
Beliau seorang sosok yang amat peduli tentang kaderisasi. Di balik cerita kesuksesan dalam panggung politik, ada begitu banyak kader muda yang tumbuh dan besar dari bimbingan beliau. Beliau tidak hanya memberikan motivasi dan mendorong tetapi beliau sekaligus memfasilitasi dan mementori banyak kader muda.
Dalam keseharian dia selalu memancarkan semangat kerendahan hati dan kesederhanaan dalam hidup. Semangat berjuang dan kerja keras. Tidak mengherankan bila kita melihat bagaimana beliau ketika masih muda tetapi sudah mengemban amanah besar seperti Anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) periode 1999 – 2004 di usia 27 tahun dan masuk periode kedua pada tahun pertama menjadi wakil bupati termuda yaitu berumur 33 tahun. Kemudian beliau menjadi bupati TTU dua periode. Prestasi ini adalah buah dari mental juang dan semangat kerja keras yang melekat kuat dalam diri beliau. Saya amat terkejut ketika beliau menghadiri beberapa kali agenda rapat partai secara virtual.
Ketika masa pandemi Covid 19, beliau mengikuti rapat daring dari kebun dengan tampilan khas pakaian dan dilengkapi topi layaknya seorang petani tulen. Beliau seakan mengajarkan para kader partai NasDem peserta rapat bahwa betapa pentingnya merawat semangat kerja keras dan berkarya tiada henti. Adalah suatu waktu, saya berkesempatan mampir di rumah beliau di TTU, hanya untuk sekedar bersilaturahmi dan berdiskusi sekaligus menggali banyak pikiran serta pengalamannya.
Lalu beliau mengajak saya pergi ke kebun dan beliau menyetir sendiri mobilnya. Di kebun yang begitu luas dan letaknya tidak jauh dari rumah tinggal, terdapat beragam aktivitas. Ada giat timbang hasil bumi dengan beberapa jenis varietas (seperti asam, mente, dan lainnya), di sana ada Sapi, ada kerbau, ada kambing dan dilengkapi area tanaman holtikultura. Aktivitas ini justru menjadi rutinitas kesehariannya dan saya betul-betul terkejut.
Beliau tidak memberikan saya banyak nasihat kata-kata tapi berikan saya sebuah teladan dan contoh yang praktis. Saya sempat melontarkan nada pujian, kakak adalah orang hebat dan sebagai seorang adik, saya sangat bangga dan bersyukur mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu dari kakak! Tetapi jawabannya mengagetkan saya, ade saya menyesal karena saya terlambat! Tapi saya timpali dengan pertanyaan lanjutan, bagaimana kakak mengatakan terlambat? Sementara kakak sudah menduduki berbagai jabatan puncak dalam karier politik.
Lalu dengan nada tegas, beliau menjawab yah ade masih muda dan ade harus mulai! Itu adalah pernyataan dan bukan sebuah jawaban atas pertanyaan yang saya lontarkan. Beliau seakan tidak pernah menjelaskan tentang kehebatannya. Malah justru sebaliknya beliau memberikan motivasi balik. Beliau seakan menggarisbawahi bahwa perjuangan untuk sebuah kebaikan dan kemajuan itu tidak akan terbatasi oleh jabatan besar apapun dan di manapun. Langkah kaum pejuang tidak boleh terhenti.
Teruslah berjuang sepanjang hayat masih dikandung badan dan itu yang Ray Fernandes tunjukkan. Dia tetap mengarungi samudera kehidupan sampai ajal menjemputnya di tengah laut yang sunyi. Perairan Oebubun menjadi tempat pertarungan terakhir sang pejuang yang tak kenal lelah apalagi nyerah.
Rabu (26/3/2025) sore menjadi lembaran terakhir buku kehidupan Ray Fernandes, ia pamit istri dan anak-anak untuk pergi bersama tujuh orang lainnya untuk memancing ikan di laut pantai utara sebuah hoby yang dilakukannya selama sebulan terakhir.
Ray Fernandes sosok aktivis mahasiswa dan tokoh politik kelahiran Bijeli Noemuti dari keluarga petani sederhana yang pernah bercahaya di tengah pulau Timor itu telah kembali ke rahim ibu pertiwi dengan cara yang tragis.
Terima kasih banyak senior, kakak Raymundus Sau Fernandez. Sang guru yang telah memberikan teladan hidup dalam setiap perjuangan dan pengabdian. Selamat jalan menuju rumah Bapa dan semoga berbahagia di Surga.
Oleh: Yuvensius Tukung / Ketua Pemuda Katolik NTT dan Kader Partai NasDem







