Menyeberangi Arus, Bertaruh Nyawa: Potret Buram Pemerataan Pendidikan di Pedalaman NTT

oleh -156 Dilihat
Siswa SMP Satap Benteng Sipi di tepi Sungai Wae Pekas
banner 468x60

PENDIDIKAN sering kali digaungkan sebagai hak segala bangsa dan kunci utama memutus rantai kemiskinan. Namun, ketika kita menengok ke wilayah pedalaman, slogan tersebut terasa seperti utopia yang menari-nari jauh dari realitas. Jarak antara kebijakan di pusat dan pemenuhan fasilitas dasar di daerah terpencil masih terbentang sedemikian lebar, menyisakan perjuangan hidup dan mati bagi anak-anak bangsa yang hanya ingin belajar.

Salah satu potret nyata dari ketimpangan ini terjadi di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para siswa SMP Satap Benteng Sipi yang berasal dari Dusun Baja, Desa Benteng Pau, harus menantang maut setiap pagi. Demi bisa menuntut ilmu di Kampung Nio, Golo Wuas, tempat sekolah mereka berada, mereka harus menyeberangi Sungai Wae Pekas tanpa adanya fasilitas jembatan permanen. Saat musim hujan tiba, debit air sungai bisa meluap hingga mencapai ketinggian 3 meter. Seragam yang basah kuyup dan keterlambatan masuk sekolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Namun, risiko terbesar yang mereka bawa di pundak mereka bukanlah nilai yang buruk, melainkan keselamatan nyawa mereka sendiri.

Kondisi memprihatinkan ini bukan sekadar cerita belaka, melainkan sebuah realitas pahit yang terekam jelas dalam bukti nyata di lapangan. Kita dapat melihat langsung wajah-wajah polos para siswa dengan seragam olahraga mereka yang khas tengah berdiri di tepi aliran sungai berbatuan. Area ini menjadi saksi bisu bagaimana setiap hari mereka harus bersiap menerjang arus dan berkompromi dengan alam yang keras demi bisa sampai ke ruang kelas.

Tidak hanya harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai yang bisa meluap sewaktu-waktu, medan perjalanan darat yang mereka tempuh selanjutnya pun tidak kalah ekstrem dan berbahaya. Para siswa harus berjuang mendaki jalur tanah yang curam, licin, dan dipenuhi semak belukar di tengah hutan pedalaman. Mereka terpaksa berjalan beriringan sambil merayap di dinding bukit yang terjal. Medan yang sangat berbahaya ini lebih mirip jalur pendakian gunung ekstrem bagi profesional ketimbang rute harian yang harus dilalui anak-anak demi mendapatkan pendidikan dasar.

Kasus di Manggarai Timur ini adalah sebuah ironi besar di tengah narasi modernisasi dan digitalisasi pendidikan yang kerap dibanggakan di tingkat nasional. Bagaimana kita bisa bicara tentang kualitas kurikulum, peningkatan literasi, atau daya saing global, jika infrastruktur paling mendasar seperti jembatan penyeberangan dan akses jalan yang aman saja belum mampu disediakan oleh negara?

Negara tidak boleh menutup mata dan membiarkan keteguhan hati anak-anak di Dusun Baja ini lenyap digulung arus Sungai Wae Pekas atau tergelincir di jurang hutan. Keberanian dan semangat belajar mereka yang besar di tengah segala keterbatasan adalah tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) harus segera direalisasikan secara konkret, bukan sekadar menjadi komoditas janji politik. Karena pada setiap langkah kaki mereka yang bertelanjang di jalanan berlumpur, ada masa depan bangsa yang sedang dipertaruhkan.

Oleh: Serliana Mei Astriyani

Penulis adalah Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris FKIP UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.