Setelah berdoa dengan ketekunan dan kelelahan yang panjang
linangan airmata tak tertahankan
Tetapi kenapa bukan cahaya terang didapatkan,
bukan pelangi dan aurora yang indah menawan
melainkan justru badai prahara yang tiada henti menerjang.
Lalu, apakah hidup kita masih layak untuk diperjuangkan?
Apakah gelap ini suatu hukuman ataukah undangan
untuk terus dan terus melaju dan mencari titik terang?
Apakah kita layak memperjuangkan kebenaran versi kita
dengan mengabaikan Kebenaran Sejati yang pasti berlaku,
serta menepis kebenaran-kebenaran makhluk yang bersifat duniawi?
Saat ini, kita sedang melangkah menelusuri tikungan demi tikungan
di sepanjang jalan terjal dan berliku
Sesekali dijumpai kegelapan yang pekat
seakan Tuhan berpangku tangan membiarkan gelap itu bernaung di sekitar kita.
Kadang kita melangkah terlampau jauh
namun sang takdir memaksa kita untuk berputar haluan
Bagaikan anak balita yang ditarik paksa oleh sang ibu
lantaran bermain dan bersenda gurau di sekitar jalan raya.
Mengapa Tuhan selalu menolak apa-apa yang kita sukai?
Apakah penolakan-Nya adalah perlindungan bagi kita?
Apakah kegagalan kita adalah penjagaan, agar kita tidak terjatuh
ke dalam jurang keangkuhan dan kesombongan?
Apakah penundaan ini merupakan isyarat bahwa kita belum siap
untuk bersyukur atas nikmat yang akan dilimpahkan-Nya?
Sudahkah kita siap mendapatkan hasil yang berbeda
dari apa-apa yang diimpikan,
sedangkan hasil yang kita perjuangkan hakikatnya bukanlah milik kita
tetapi mutlak menjadi hak dan ketentuan Allah?
Kita terkenang pada perjalanan hidup Yusuf
yang dikhianati saudara-saudaranya, dijatuhkan ke lubang sumur,
dijadikan budak, difitnah dan dipenjarakan selama bertahun-tahun.
Mengapa kita tak sanggup mengumpulkan kesabaran
yang dicontohkan para pendahulu,
seandainya kita diposisikan di dalam penjara saat ini?
Ataukah di kegelapan sumur, ataukah di tengah lautan dan mendekam
dalam lambung ikan paus seperti Yunus?
Apakah jika kenyataan tak sesuai dengan doa-doa dan harapan,
lalu kita menganggap bahwa doa-doa kita akan sia-sia belaka?
Kuatkan iman dan kesabaran kita, karena pada waktunya
Tuhan akan mengubah hati kita menjadi yakin,
tawakal dan ridho atas pemberian-Nya.
Tuhan tidak harus mengubah keadaan kita seperti apa yang kita mau,
karena bagaimana pun kita hanyalah hamba yang lemah dan serba terbatas.
Mungkin Tuhan tak mengubah orang yang memusuhi kita,
rivalitas kita atau pekerjaan kita,
tetapi yang Dia ubah adalah kekuatan mental kita
serta perlindungan dari orang-orang yang membenci dan memusuhi kita.
Tuhan akan menjadikan kita sebagai ahli sabar dan syukur,
serta mampu mensyukuri posisi kita
dengan kemampuan mengubah ekspektasi dan perspektif yang berbeda.
Biarlah Tuhan memperlambat jalan hidup kita,
apabila melangkah cepat justru mencelakakan diri kita.
Untuk apa kita meraih keindahan pada waktu yang kita inginkan,
namun pada akhirnya patah dan hancur
karena kita telah salah menentukan pintu saat kita masuk,
lantaran belum sanggup menaruh hati kita pada apa yang Tuhan pilihkan.
Ketika semua pegangan dalam hidup ini tak dapat diandalkan,
serta patah satu-persatu, maka gantungkan pegangan kita
hanya kepada Allah semata.
Jadilah seperti musafir yang patuh menuruti perintah agar berbelok arah,
meskipun perjalanan sudah teramat jauh.
Bukan karena gagal dan menyerah, tetapi hanya dialihkan ke jalan yang benar
hingga terhindar dari kecelakaan dan marabahaya.
Kita harus ridho menerima takdir hidup terbaik yang ditentukan Allah,
karena memang setiap jiwa punya rute perjalanan yang unik dan berbeda-beda.
Namun pada akhirnya, semua menginginkan jalan hidup yang menyelamatkan,
yakni ridho ilahi.
Untuk itu, tak ada kata gagal selama kita masih mengandalkan “Allah”
dan selalu berbaik sangka kepada-Nya.
Biarlah jika saat ini kita sedang dialihkan, meski pada waktunya kita akan diberitahu
apa-apa yang belum bisa kita mengerti saat ini.
Kita hanyalah hamba kecil yang tak kuasa mengatur hasil.
Tugas kita adalah menguatkan hati agar tetap teguh berpegang
dan berharap hanya kepada-Nya.
Biarlah jika kita tersesat dan melangkah terlalu jauh, tetapi kembalilah pada Allah.
Biarlah saat ini diliputi kegelapan dan kekecewaan, tetapi kembalilah pada Allah.
Biarlah harapan kita hancur-lebur dan doa-doa tak terkabul,
tetapi kembalilah segera kepada Allah.
Dan biarlah kita telah memasuki pintu yang salah, tetapi kembalilah
dan masuklah melalui pintu baru yang pasti terbuka,
hingga para penduduk langit bersuka cita menyambut kehadiran kita.
Adapun mengenai harapan dan doa-doa kita,
pahamilah bahwa ada waktunya Allah segera memberi,
tetapi ada waktunya Allah menahan dulu agar kita siap menjaga amanat pemberian-Nya.
Kita harus berhati-hati jika belum siap memikul amanat tersebut.
Biarlah kita terluka menanti cahaya,
karena bukan soal harapan kita yang harus segera terwujud,
tetapi soal kesiapan mental dan kekuatan hati kita di hadapan Allah.
Kadang kita mulai mendekat kepada-Nya setelah hati kita diuji oleh kekecewaan,
setelah direnggut kembali apa-apa yang kita miliki dan sangat kita cintai dalam hidup ini.
Allah ingin membentuk dan menguatkan hati kita, karena dengan mengenali-Nya,
maka segala kekecewaan dan kesulitan akan terasa ringan di pundak kita.
Tetapi, jika harapan dan doa selalu dikabulkan, boleh jadi kita hanya mengenali arti sabar dan syukur, tetapi bukan dalam pengertiannya yang sejati.
Juga kita tak dapat mengenali arti tawakkal yang hakiki.
Pada prinsipnya, apa yang paling berharga bagi kita
bukanlah mimpi yang harus menjadi kenyataan,
tetapi hati yang harus hidup dan merdeka dari kecenderungan hawa nafsu duniawi.
Itulah yang dinamakan hati yang selamat (qalbun salim),
karena sudah memiliki kekuatan agar tak bergantung pada selain Allah.
Seberapa banyak manusia di era hiper modern ini, yang hatinya sakit dan mati,
karena kehilangan orang yang dicintai,
atau mengalami berbagai kegagalan dan kekecewaan?
Padahal, jika manusia kuat menghadapi luka,
ia akan sanggup menjadikan luka itu sebagai batu loncatan untuk mendekat pada Allah.
Ia akan sanggup bersujud secara batin, tetap tenang dan lembut di tengah kegalauan,
hingga kelak akan mudah untuk mengikhlaskan apapun yang lepas dan hilang darinya.
Ketahuilah, luka yang menganga, adalah jalan mulus
yang menjadi pintu terbuka bagi keluarnya cahaya terang.
Semoga Allah menjaga pikiran dan perasaan kita
agar senantiasa bergantung kepada-Nya Yang Maha Pengasih dan Penyayang,
hingga kita tak lagi memaksakan kebenaran versi diri kita,
kemudian dibekali hati lapang untuk berserah diri pada kebenaran-Nya yang sejati. ***
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah Peneliti dan penikmat sastra milenial Indonesia, menulis puisi dan prosa di berbagai media nasional, luring dan daring









