Musim hujan bulan lalu, saya terkenang ketika paman saya, Mang Odon mengajak saya makan Laksa Tangerang yang sering dikenal dengan “Laksa Banten”. Saya masih ingat perbincangan di sela-sela menikmati laksa sore itu, saat Mang Odon menarik nafas panjang, mengisyaratkan aroma hangat dari dapur, dilatari bunyi ketukan lincah pisau pada papan talenan, ketika seorang koki mengiris bawang merah.
Di sebelah kios pedagang laksa, sebuah restoran menawarkan empat varietas berbeda dari hamburger steak ketika kami sedang menikmati laksa. Saya pernah sekali makan di restoran itu bersama Mang Odon. Ia memesan Japanese-style yang dilapisi dengan parutan lobak. Restoran itu ditata dengan cukup rapi. Pelayannya cantik-cantik, memakai rok yang sangat pendek, meski Mang Odon menegaskan bahwa ia ingin mencoba menikmati masakannya, bukan mau membeli daster, kutang, maupun rok pendek.
Tetapi, Mang Odon tak bisa menyalahkan para pelayan di sana. Mereka tak punya kewenangan untuk mengatur seragam apa yang mesti dikenakan. Hingga tak kuasa pula untuk menutupi auratnya tiap kali mengantar menu atau memberesi meja setelah kami makan.
“Kenapa tidak menjual laksa di sini? Sedangkan anak-anak muda Banten banyak yang menyukai laksa?”
Pelayan itu tersenyum mendengar pertanyaan Mang Odon, sementara sang manajer di sudut sana sepertinya menyimak apa-apa yang diusulkan olehnya. Setelah kami selesai menyantap hidangan, sang manajer mendekati meja kami, mengambil posisi duduk, serta menanyakan apakah Mang Odon banyak berkiprah di dunia kuliner di Banten, yang terkait dengan soal masakan laksa.
“Saya hanya jadi penikmat saja, tetapi tak mengerti soal bahan-bahan yang diracik untuk pembuatan laksa.”
Sedikitnya saya paham mengenai bumbu masak untuk pembuatan laksa. Sebenarnya ia adalah adaptasi kuliner Cina dengan kuliner lokal Tangerang yang sering disebut Cina Benteng. Ia memakai mie beras yang mirip mie lidi terbuat dari tepung beras, jika tak ada bisa dipakai bihun biasa. Isiannya selain ayam, ada telur ayam rebus, kentang dan kacang hijau.
Selain itu, ada juga varian berdasarkan daerah asal, misalnya laksa Medan yang disertai kaldu ikan, laksa Sarawak dengan kuah udang dan belacan, laksa Singapura yang kental santan. Tetapi dulu, sewaktu saya kuliah di daerah Bandung, saya lebih sering menikmati laksa Bogor dengan tambahan oncom gurih.
Di depan Mang Odon, saya harus berhati-hati jika membicarakan soal sejarah masakan Indonesia, terutama jika masakan itu diadaptasi dari Cina yang dikhawatirkan mengandung daging babi.
“Tetapi Nabi menganjurkan kita agar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina?” pancing saya.
“Menuntut ilmu boleh-boleh saja, bahkan wajib, tetapi tidak menyangkut soal masakannya!” tegas Mang Odon.
***
Saya termasuk orang yang gampang tertantang jika berurusan dengan masalah kuliner dan cara membuat laksa yang enak. Suatu ketika di hari Minggu, Mang Odon mengabarkan pada saya, bahwa di gedung alun-alun Kota Tangerang, sedang diadakan seminar tentang “Laksa Banten”. Kami pun langsung meluncur menuju gedung alun-alun, serta menikmati berbagai jenis laksa yang terhidang di meja prasmanan panjang, dihiasi dengan beberapa prasmanan yang melingkar.
Para muda-mudi gaul mengenakan pakaian tradisional Jawa dan Sunda, sibuk melayani kami dengan memberikan mangkuk-mangkuk antik yang dilatari kertas-kertas tisu dan sendok di bawahnya. Ketika kami hadir, ratusan orang sudah mengantri untuk mencicip dan menikmati masakan laksa yang boleh dipilih, dan tinggal menyebutkan jenis laksa apa yang kami sukai.
Duduk di sebelah Mang Odon seorang gadis Sunda yang ternyata mahasiswi dari perguruan tinggi Universitas Pamulang (Unpam), yang tak mau menyebutkan siapa namanya. Dia terlihat cantik, anggun, mengenakan kacamata agak tebal, dan kalau bicara, tampak logat sundanya yang lembut, anggun, namun agak cempreng.
“Kamu datang ke sini mau ikut acara seminar, atau cuma ngarepin makan laksa doang?” celetuk Mang Odon dengan suara yang sengaja dikeraskan. “Menurut saya, Laksa Banten itu rasanya biasa aja, kok?”
Mahasiswi Sunda itu melotot dan tersinggung, tidak menjawab. Laksa di mangkuknya yang tinggal separuh, tidak lanjut dia makan.
Kemudian tanya saya lagi, “Emang kamu kuliah di jurusan apa, sampai sempat-sempatnya menghadiri seminar tentang masakan laksa segala?”
Melototnya tambah sangar. Ia menendang ke samping hingga mengenai betis saya. Orang-orang sekitar melirik kami dengan tatapan melotot. Suasana menjadi canggung dan senyap, tetapi saya berusaha mengendalikan diri dengan menampilkan wajah lugu dan polos.
“Kalian ini apa-apaan sih?” mahasiswi Unpam itu berbisik kemudian, “Seenaknya datang ke sini cuma mau menjelek-jelekkan Laksa Banten? Nanti mereka marah dan menangkap kalian, tahu?”
“Siapa yang marah, dan siapa yang menangkap kami?” tanya saya.
“Kalian nggak tahu, apa akibatnya kalau Maung Laksa itu marah?”
“Maung Laksa?” tanya Mang Odon heran.
“Maung Laksa Banten… ya, sudahlah, mungkin kalian enggak bakal ngerti.”
“Maung Laksa apaan sih?” tanya saya ketus.
“He, tolol amat sih kamu! Maung Laksa itu penguasa tunggal di Banten dalam soal masakan laksa, ngerti nggak?”
“Nggak,” kata saya menggeleng.
“Ssst!”
Mahasiswi Unpam itu menyuruh kami diam, dan acara seminar segera dimulai. Sebuah film dokumenter tentang sejarah masakan laksa diputar melalui infocus yang menyorot salah satu sudut dinding ruangan. Limabelas menit kemudian, tampil di panggung seorang yang menyatakan dirinya Presiden Direktur Masakan Laksa Banten (disingkat PDMLB). Si PDMLB menerangkan lebih lanjut perihal sejarah masakan Laksa Banten, bahwa konon ada penemuan mutakhir dari para arkeolog yang telah berhasil menemukan wajan-wajan peninggalan zaman Majapahit dan Pajajaran di daerah Pasir Gintung, yang “diduga” adalah panci bekas merebus masakan laksa. Bahkan, ada sebuah sajak hasil gubahan seorang penyair bernama Imong dan Abud, yang hidup di zaman Pajajaran, dan konon menyinggung soal masakan laksa.
Mang Odon terbahak-bahak mendengar pernyataan itu, tetapi orang-orang sepertinya tenang dan anteng saja menyimak uraian sang PDMLB dengan tekun dan aman sentosa. Saya melirik ke arah mahasiswi di sebelah saya yang juga serius mendengarkan, dan seketika teringat tentang apa yang dikatakan tadi mengenai “Maung Laksa”. Apa yang dia maksud?
“Apa sih maksudnya?” tanya saya kemudian.
“Diam, kamu, goreng!” bentaknya.
“Maksudmu? Penggorengan?”
“Jelek!”
***
Ceramah seminar si PDMLB berlangsung hampir satu jam. Benar-benar bikin suntuk dan menyebalkan. Apa yang ingin dia sampaikan sebenarnya simpel saja. Bagaimana kita perlu mengangkat Laksa Banten yang memiliki tradisi panjang, sebagai masakan tradisional yang merakyat dan digandrungi oleh khalayak di zaman generasi milenial ini. Hanya itu saja sebenarnya. Yang lain-lainnya cuma bualan omong kosong, hanya basa-basi yang menghambur kata-kata belaka.
Setelah itu, tampil Direktur Utama Masakan Laksa Banten (disingkat DUMLB), menjelaskan tentang perkembangan masakan laksa akhir-akhir ini. Bagaimana generasi muda milenial ditekankan agar mampu menciptakan inovasi terbaru mengenai Laksa Banten, dengan beragam campuran sana-sini dan tetek-bengek. Baginya, produk lokal yang memiliki sejarah panjang ini, membutuhkan darah segar untuk terus eksis dan berkembang pesat, serta sanggup bersaing dengan produk-produk impor yang membanjir di tengah pasaran kita.
Kemudian, dia mengakhiri ceramahnya dengan menyinggung soal kemenangan atlet bulutangkis nasional dalam ajang piala olimpiade, lalu dikait-kaitkan seenak udelnya dengan kemajuan kuliner, terus dihubungkan-hubungkan agar masakan laksa, bakso, kue klepon, cucur, rengginang, serabi, juga harus memenangkan lomba kuliner tingkat internasional.
Sebelum acara selesai, kami buru-buru keluar. Seorang gadis mengenakan pakaian tradisional Sunda, dengan kerudung bertuliskan Darqo 89, menyodorkan beberapa berkas dan brosur, yang langsung kami terima tanpa basa-basi. Di tengah perjalanan, kami sempat membuka-buka lembaran berkas, dan satunya-satunya yang menarik perhatian adalah sayembara tentang membuat masakan Laksa Banten yang diadakan di lapangan Gedung Utama Provinsi Banten.
“Besar juga hadiahnya,” ujar Mang Odon.
“Berapa?” tanya saya sambil membuka-buka brosur.
“Sepuluh juta rupiah,” kata Mang Odon, “kamu ikut aja, lumayan hadiahnya buat makan-makan saat reuni teman-teman Darqo nanti…”
“Oke, siap,” tegas saya.
***
Seminggu setelah mengikuti lomba membuat Laksa Banten, saya menerima telepon dari Panitia Lomba, dan diminta untuk datang ke kantor esok lusa. Keyakinan saya cukup beralasan, dan saya mempersiapkan diri dengan menyetrika kemeja dan menyemir sepatu, untuk menampilkan diri di hadapan mereka dengan serapi mungkin.
Saya disambut langsung oleh PDMLB (masih ingat, kan?). Setelah menyambut kehadiran saya sambil senyum sumringah, dia menjelaskan tentang kesukaannya pada Laksa Banten yang saya buat dengan penuh inovatif, tetapi…
“Tetapi kenapa?” tanya saya heran.
“Di Perusahaan Laksa Banten, ada satu juri lagi yang sangat menentukan pemenang lomba, meskipun dia sudah tua dan giginya sudah ompong, tetapi… aduh, ehm… keputusan dari dia sangat menentukan juga… jadi…”
“Jadi?”
“Aduh, ehm, saya bingung menjelaskannya… biarpun dia sudah tua dan ompong, tapi dia cukup berjasa di jaman Orde Baru, jadi ehm, aduh… keputusan untuk menentukan siapa pemenang lomba masih diperdebatkan sampai saat ini…”
“Meskipun akhirnya, keputusan dari si tua bangka itu yang paling menentukan?”
“Kurang lebih seperti itu…”
“Siapa sih dia itu?”
“Maung Laksa.”
“Ha!” seru saya. “Maung Laksa lagi? Siapa dia?!”
Ketua panitia lomba menatap bingung ke muka saya, “Jadi, Anda mengikuti lomba laksa selama ini, sementara Anda nggak tahu Maung Laksa itu siapa?”
“Bukan begitu maksud saya,“ saya berkelit membela diri. “Memang saya pernah bincang-bincang akrab dengan seorang mahasiswi, dan kami membahas panjang-lebar soal Maung Laksa itu sebagai orang-orang tua yang…”
“Ah, Anda memang nggak paham tentang Maung Laksa…”
“Maksudnya, apakah orang-orang tua yang pernah berjasa di masa Presiden Soeharto dulu… dan mereka yang menyukai sajak-sajak indah tentang laksa-laksa di zaman Pajajaran itu?”
“Ooh, berarti Anda betul-betul belum tahu… kalau begitu, ayo ikuti saya.”
“Sompret doang!”
***
“Tuan Maung Laksa tinggal di sini,” kata si Panitia Lomba menjelaskan.
“Mereka keluarga istimewa dari para macan. Selama berabad-abad mereka tidak memakan apa-apa kecuali laksa-laksa.”
Tak membutuhkan penjelasan lebih panjang. Di ruangan besar itu terdapat puluhan anak-anak macan yang tinggal di lorong cekung seperti gua sarang walet. Ruangan itu ditata seperti gudang raksasa dengan atap setinggi lima meter, dan berbagai tiang saling melintang dari dinding ke dinding. Di ujung lorong itu terdapat ruang-ruang khusus yang dihuni macan-macan yang tubuhnya jauh lebih besar ketimbang kucing-kucing dalam buku Jenderal Tua dan Kucing Belang.
“Perhatikan ini!” ujar sang Panitia Lomba. “Ini adalah laksa-laksa buatan para peserta yang telah tereliminasi dari lomba ini.”
Anak-anak macan berkerumun dan menyantap puluhan mangkuk dan wajan berisi laksa-laksa. Sebagian mereka melepehkannya dan mengaum seperti penyair di era Orde Baru yang tersihir dan terhipnotis oleh mantra-mantra, berdeklamasi di atas panggung gembira, “Laksa… laksa… laksa Banten….”
Auman mereka menggema ke langit-langit hingga telinga saya terasa pekak.
“Anda lihat?” kata si Panitia Lomba sambil memicingkan mata. “Mereka hanya mau makan laksa yang asli dan sejati… mereka tidak mau menyentuh produk-produk palsu dan tiruan, kan?”
Si Panitia mundur selangkah. Seorang pegawai berkemeja batik kuning menyodorkan sebuah wajan, “Dan sekarang, mari kita coba dengan masakan laksa buatan Anda. Jika mereka memakannya, Anda akan menang, tetapi jika mereka melepehkannya kembali, berarti Anda kalah…”
Brengsek! (pikir saya), ini tak bisa dibenarkan. Sesuatu mengatakan pada saya bahwa ini tak akan berhasil. Mereka tidak seharusnya membiarkan sekelompok anak macan dungu menentukan hasil sayembara. Tanpa menyadari kekhawatiran saya, si pegawai itu terus saja menyodorkan wajan berisi Laksa Banten hasil buatan saya, hingga macan-macan itu saling mencakar dan menerkam satu sama lain.
Beberapa macan tampak menikmati laksa, tetapi sebagian lain merasa jijik. Ada yang saling cakar dan saling terkam satu sama lain. Ada lagi yang tiba-tiba menjadi liar dan mengamuk ke sana kemari. Sementara yang lainnya melepehkannya dengan jijik sambil menggeram dan mengaum: “Maniis, asiin… pedas….”
Berarti, ini semua terjadi hanya karena laksa-laksa yang asin dan pedas (pikir saya), dan boleh jadi bagi macan-macan tolol itu rasa asin dan pedas adalah segala-galanya. Tak berapa lama, muncul macan paling besar yang mereka sebut “Maung Laksa”. Rupanya si Maung Laksa yang sudah tua dan ompong itu bisa bicara, “Sepertinya sebagian dari laksa buatan Bapak itu adalah tiruan dan bukan orisinal…”
“Emangnya ada sesuatu yang asli dan murni dalam karya cipta manusia di muka bumi ini?” bantah saya, “Bukankah semua yang diciptakan oleh kita hanyalah hasil modifikasi dan pembaruan dari yang sudah-sudah? Bahkan, apa yang dikatakan oleh nabi dan rasul, bukankah hasil modifikasi dari nabi-nabi sebelumnya?”
Melihat gelagat mereka yang tak memiliki selera humor, saya merasa jengkel, dan akhirnya keluar dari ruangan diikuti oleh sorot mata mereka yang menusuk tajam. Saya turun menggunakan elevator, bergegas meninggalkan gedung perusahaan Laksa Banten.
Sejenak saya merasa kesal karena harus kehilangan uang sepuluh juta rupiah, tetapi saya toh masih bisa menikmati perjalanan hidup yang panjang ke depan, serta tak mau terikat dan diperbudak oleh Mung Laksa yang dungu dan tolol itu.
“Bagi saya, rezeki bisa dicari dari mana saja. Biarpun gedung perusahaan itu habis dimakan rayap sekalipun, masakan Laksa Banten akan tetap eksis dengan inovasi-inovasi terbaru, atau dengan sistem pemasakan model terbaru,” demikian nasihat terakhir Mang Odon. ”Keberkahan hidup bisa diperoleh dari manapun sumbernya. Tak perlu terikat dan terbelenggu oleh aturan-aturan baku yang dibuat macan-macan brengsek itu. Biarkan saja mereka sibuk menebar prahara, saling mencakar dan menerkam satu sama lain. Lebih baik kita menempuh jalan hidup sendiri yang lebih bermanfaat dan bermaslahat bagi banyak orang.” (*)
Oleh Supadilah Iskandar
Penulis adalah Pengamat dan penikmat sastra milenial Indonesia, juga menulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online







