PERYATAAN bahwa harga Pertamax Indonesia masih tergolong murah dibandingkan negara lain memang terdengar sederhana, menenangkan, dan mudah diterima apabila yang dibandingkan hanya harga nominal per liter. Pemerintah, melalui pernyataan yang dikutip media, menyebut bahwa walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia masih jauh lebih murah dibandingkan BBM RON 92/95 di negara lain. Dalam pemberitaan itu disebutkan bahwa Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter. Pemerintah juga membandingkan harga BBM nonsubsidi Indonesia dengan Filipina, Laos, Thailand, Myanmar, dan Singapura untuk menunjukkan bahwa harga Indonesia masih lebih rendah secara nominal.
Cara penyampaian seperti itu perlu dikritik secara serius, bukan karena datanya pasti salah, melainkan karena cara membacanya terlalu sempit dan dangkal. Harga BBM tidak bisa hanya dinilai dari angka rupiah per liter. Dalam ekonomi rumah tangga, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “berapa harga bensin?”, tetapi “berapa besar bagian pendapatan bulanan yang harus dikorbankan untuk membeli bensin?” Di sinilah muncul perbedaan besar antara harga nominal dan beban riil. Harga nominal melihat angka di pompa bensin, sedangkan beban riil melihat tekanan terhadap dompet, gaji, anggaran rumah tangga, dan daya beli masyarakat.
Kritik utama terhadap pernyataan “Pertamax Indonesia masih murah” adalah karena pernyataan itu berhenti pada permukaan. Jika Singapura menjual bensin sekitar Rp43.000 per liter dan Indonesia Rp16.250 per liter, memang benar Indonesia tampak jauh lebih murah. Namun, masyarakat Singapura memiliki pendapatan bulanan pembanding yang jauh lebih tinggi. Dalam tabel yang telah disusun oleh penulis, biaya 50 liter bensin di Singapura memang mencapai sekitar Rp2,15 juta, tetapi bebannya hanya sekitar 1,56 persen dari pendapatan bulanan pembanding. Di Indonesia, biaya 50 liter Pertamax hanya Rp812.500, tetapi karena pendapatan pembanding yang digunakan Rp5 juta per bulan, beban BBM langsung menjadi 16,25 persen dari pendapatan bulanan.
Di sinilah letak kekeliruan komunikasi publik. Pemerintah boleh menjelaskan bahwa harga Pertamax Indonesia lebih murah daripada negara lain, tetapi penjelasan itu tidak boleh berhenti pada harga per liter. Rakyat tidak hidup dari perbandingan angka nominal antarnegara. Rakyat hidup dari sisa pendapatan setelah membayar transportasi, makanan, listrik, pendidikan, cicilan, sewa rumah, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari. Maka ukuran yang lebih jujur adalah “beban BBM terhadap pendapatan” dan “daya beli BBM per bulan”, bukan sekadar “harga BBM per liter”.
Pertamax Indonesia naik menjadi Rp16.250 per liter dari Rp12.300 per liter, atau naik sekitar 32,1 persen. Reuters menyebut Pertamax sebagai bensin RON 92 yang banyak digunakan kelas menengah, dan mencatat bahwa Pertamax Green RON 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter. Reuters juga mencatat bahwa Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dampak inflasinya diperkirakan terbatas karena BBM tersebut tidak dipakai untuk transportasi umum.
Namun, pernyataan bahwa dampak inflasi terbatas juga tidak cukup untuk membaca persoalan sosial-ekonomi secara utuh. Inflasi bukan hanya soal apakah angkutan umum memakai Pertamax atau tidak. Inflasi juga menyangkut ekspektasi harga, biaya mobilitas pekerja, biaya logistik kecil, biaya usaha mikro, perilaku konsumsi, dan tekanan psikologis rumah tangga. Banyak pekerja, pedagang, pengemudi, kurir, karyawan kantor, dan keluarga kelas menengah bawah menggunakan kendaraan pribadi bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai alat bertahan hidup dalam sistem transportasi publik yang belum merata.
Tabel perbandingan terlampir menunjukkan bahwa Australia menjadi contoh paling jelas tentang perbedaan harga nominal dan daya beli. Harga bensin Australia sekitar AUD 1,74 per liter atau sekitar Rp21.904 per liter. Secara nominal, harga ini lebih mahal daripada Pertamax Indonesia. Namun, pendapatan bulanan pembanding Australia sekitar AUD 8.488 atau sekitar Rp106,8 juta. Karena itu, biaya 50 liter bensin hanya sekitar 1,03 persen dari pendapatan bulanan. Artinya, bagi masyarakat Australia, bensin yang secara nominal lebih mahal justru terasa sangat ringan secara daya beli.
Singapura juga menunjukkan pola yang sama. Harga bensin Singapura adalah yang paling mahal dalam tabel, yaitu sekitar SGD 3,08 per liter atau sekitar Rp43.010 per liter. Jika hanya dilihat dari harga per liter, Singapura terlihat sangat mahal. Tetapi karena pendapatan pembandingnya sekitar SGD 9.856 atau sekitar Rp137,6 juta per bulan, biaya 50 liter bensin hanya menyerap sekitar 1,56 persen dari pendapatan. Maka bensin mahal di Singapura belum tentu terasa berat, karena sistem ekonominya menghasilkan pendapatan yang jauh lebih tinggi.
Inggris berada di posisi yang juga relatif ringan. Harga bensin sekitar GBP 1,58 per liter atau sekitar Rp38.020 per liter. Biaya 50 liter mencapai sekitar Rp1,9 juta, jauh lebih tinggi daripada biaya 50 liter Pertamax Indonesia. Namun, pendapatan bulanan pembanding Inggris sekitar GBP 3.380 atau sekitar Rp81,3 juta. Dengan demikian, beban BBM terhadap pendapatan hanya sekitar 2,34 persen. Inggris mengajarkan bahwa harga tinggi tidak otomatis berarti beban berat apabila pendapatan masyarakat juga tinggi.
Malaysia menarik karena posisinya lebih dekat dengan konteks ASEAN. Harga bensin Malaysia sekitar MYR 3,72 per liter atau sekitar Rp16.435 per liter, hampir sebanding dengan Pertamax Indonesia Rp16.250 per liter. Namun, pendapatan bulanan pembanding Malaysia sekitar MYR 5.723 atau sekitar Rp25,3 juta. Akibatnya, biaya 50 liter hanya sekitar 3,25 persen dari pendapatan. Ini berarti, dengan harga per liter yang hampir sama, beban masyarakat Malaysia jauh lebih ringan daripada Indonesia. Perbandingan Indonesia dan Malaysia sangat penting karena memperlihatkan bahwa masalah utama Indonesia bukan hanya harga BBM, melainkan pendapatan riil, efisiensi dan produktivitas sistem ekonomi.
Vietnam menunjukkan sisi lain dari persoalan. Harga bensin Vietnam sekitar VND 23.005 per liter atau sekitar Rp15.758 per liter, sedikit lebih murah daripada Pertamax Indonesia. Namun, pendapatan pembanding Vietnam sekitar VND 10,6 juta atau sekitar Rp7,28 juta per bulan. Beban 50 liter bensin menjadi sekitar 10,83 persen dari pendapatan. Ini masih berat, tetapi tetap lebih ringan daripada Indonesia jika Indonesia memakai asumsi pendapatan Rp5 juta dan harga Pertamax Rp16.250. Vietnam memperlihatkan bahwa harga murah secara nominal tetap bisa menjadi berat apabila pendapatan masyarakat belum cukup tinggi.
Thailand memiliki harga bensin sekitar THB 52,99 per liter atau sekitar Rp28.948 per liter. Secara nominal, ini jauh lebih mahal daripada Indonesia. Tetapi pendapatan pembanding Thailand sekitar THB 23.115 atau sekitar Rp12,6 juta. Dengan demikian, biaya 50 liter bensin mencapai sekitar 11,46 persen dari pendapatan. Thailand masih tergolong berat, tetapi tidak seberat Indonesia dalam tabel pembanding tersebut. Ini memperlihatkan bahwa Indonesia tidak cukup membanggakan harga Pertamax yang lebih murah, karena persentase beban terhadap pendapatan bulanan tetap lebih besar.
Filipina hampir sejajar dengan Indonesia dalam hal beban riil. Harga bensin Filipina sekitar PHP 75,90 per liter atau sekitar Rp22.244 per liter. Pendapatan pembandingnya sekitar PHP 23.052 atau sekitar Rp6,76 juta. Biaya 50 liter bensin mencapai sekitar 16,46 persen dari pendapatan. Angka ini sangat dekat dengan Indonesia yang mencapai 16,25 persen. Artinya, secara daya beli BBM, Indonesia dan Filipina berada dalam tekanan yang hampir sama berat, meskipun harga nominal Filipina lebih tinggi.
Kamboja dan Laos menunjukkan kondisi ekstrem. Di Kamboja, beban 50 liter bensin mencapai sekitar 37,06 persen dari pendapatan pembanding. Di Laos, beban itu bahkan sekitar 38,40 persen. Angka ini menunjukkan bahwa di negara dengan pendapatan rendah, bensin bisa menjadi barang yang sangat menekan anggaran rumah tangga. Tetapi perbandingan dengan Kamboja dan Laos tidak boleh dipakai untuk menormalisasi beban Indonesia. Tidak tepat mengatakan bahwa Indonesia masih lebih baik hanya karena ada negara yang lebih berat. Standar kebijakan publik seharusnya bukan membandingkan penderitaan, tetapi memperbaiki keterjangkauan masyarakat.
Maka, tabel perbandingan tersebut memberi pesan yang sangat jelas. Australia hanya membutuhkan sekitar 1,03 persen pendapatan bulanan untuk membeli 50 liter bensin. Singapura sekitar 1,56 persen. Inggris sekitar 2,34 persen. Malaysia sekitar 3,25 persen. Vietnam sekitar 10,83 persen. Thailand sekitar 11,46 persen. Indonesia sekitar 16,25 persen. Filipina sekitar 16,46 persen. Kamboja sekitar 37,06 persen. Laos sekitar 38,40 persen. Dengan ukuran ini, Indonesia bukan termasuk negara dengan beban BBM ringan, melainkan masuk kelompok beban sangat berat.
Indikator kedua, yaitu daya beli BBM per bulan, membuat persoalan semakin mudah dipahami. Di Australia, pendapatan pembanding mampu membeli sekitar 4.878 liter bensin per bulan. Di Singapura sekitar 3.200 liter. Di Inggris sekitar 2.139 liter. Di Malaysia sekitar 1.538 liter. Di Vietnam sekitar 462 liter. Di Thailand sekitar 436 liter. Di Indonesia hanya sekitar 308 liter. Di Filipina sekitar 304 liter. Di Kamboja sekitar 135 liter. Di Laos sekitar 130 liter. Artinya, daya beli BBM masyarakat Indonesia jauh lebih dekat ke Filipina daripada ke Malaysia, apalagi Singapura, Inggris, dan Australia.
Karena itu, narasi bahwa Pertamax Indonesia masih murah harus dibaca secara kritis. Secara nominal, benar bahwa Pertamax Indonesia lebih murah daripada bensin di Singapura, Inggris, Australia, Thailand, Filipina, Laos, dan Kamboja. Tetapi secara beban terhadap pendapatan, Indonesia jauh lebih berat daripada Australia, Singapura, Inggris, dan Malaysia. Bahkan dibanding Vietnam dan Thailand, beban Indonesia masih lebih tinggi. Jadi masalahnya bukan hanya pada harga per liter, melainkan pada ketidakmampuan sistem ekonomi menghasilkan pendapatan riil yang cukup kuat untuk menanggung biaya energi.
Persoalan ini adalah persoalan sistem. Harga BBM menyentuh sistem energi, sistem transportasi, sistem pendapatan, sistem upah, sistem logistik, sistem produksi, sistem subsidi, dan sistem perlindungan sosial. Jika sistem transportasi publik belum memadai, masyarakat dipaksa memakai kendaraan pribadi. Jika pendapatan riil rendah, setiap kenaikan harga BBM terasa berat. Jika biaya logistik tinggi, tekanan energi mudah menjalar ke harga barang. Jika sistem produksi tidak efisien dan tidak produktif, pendapatan masyarakat sulit naik. Maka kenaikan Pertamax bukan hanya peristiwa harga, tetapi cermin kelemahan sistem ekonomi Indonesia.
Pemerintah seharusnya tidak cukup mengatakan bahwa harga Pertamax Indonesia lebih murah dibanding negara lain. Pernyataan seperti itu harus dilengkapi dengan analisis daya beli. Komunikasi publik yang hanya membandingkan harga nominal berisiko dianggap tidak peka terhadap realitas kehidupan masyarakat. Pemerintah perlu mengatakan secara jujur bahwa harga nominal Indonesia memang lebih rendah, tetapi beban terhadap pendapatan masih berat karena pendapatan riil masyarakat belum setinggi negara pembanding. Kejujuran seperti itu lebih mendidik publik daripada sekadar memilih angka yang terlihat menguntungkan suatu kebijakan pemerintah.
Lebih jauh lagi, kebijakan harga BBM harus dikaitkan dengan strategi peningkatan efisiensi dan produktivitas nasional. Indonesia tidak bisa terus-menerus berdebat pada tingkat harga saja. Yang harus dibangun adalah sistem ekonomi Indonesia yang membuat masyarakat memiliki pendapatan lebih kuat, transportasi publik lebih efisien, logistik lebih murah, industri lebih efisien dan produktif, serta perlindungan sosial lebih tepat sasaran. Tanpa itu semua, setiap kenaikan BBM akan terus-menerus terasa sebagai tekanan ekonomi, bukan sekadar penyesuaian harga.
Kesimpulannya, Pertamax Indonesia memang bisa terlihat murah apabila dibandingkan hanya berdasarkan harga per liter. Namun, berdasarkan tabel perbandingan beban BBM dan daya beli, Indonesia justru masuk kelompok negara dengan beban sangat berat. Dengan harga Rp16.250 per liter dan pendapatan Rp5 juta per bulan, biaya 50 liter Pertamax menyerap 16,25 persen pendapatan. Inilah angka yang harus dibaca publik. Bukan sekadar murah atau mahal di pompa bensin, tetapi ringan atau berat di dompet masyarakat.
Salam SUCCESS Cerdas Finansial!
Oleh: Vincent Gaspersz
Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management Systems Lead Specialist (Ahli Rekayasa Sistem dan Manajemen Sistem, Anggota Senior Institute of Industrial and Systems Engineers/IISE No. 880194630)







