(Sebuah catatan kritis terhadap pemanfaatan tantangan menjadi peluang bagi kaum muda)
Pemuda atau biasa dikenal dengan kaum muda adalah generasi unggul yang memiliki pengaruh yang besar terhadap sebuah perubahan suatu bangsa. Perubahan yang mereka ciptakan bisa terjadi dalam beberapa aspek; baik itu aspek sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Perubahan yang terjadi karena kehadiran dari para pemuda menjadi sebuah dasar yang dapat membuat eksistensi mereka tidak boleh diabaikan. Selain itu, ada alasan lain yang menjadikan eksistensi pemuda tetap kuat dan kokoh, yaitu; Mereka mampu melahirkan berbagai pemikiran yang inovatif, kreativitas yang tinggi dan masih banyak keunggulan lainnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir kaum muda memiliki tantangan yang sangat besar yang dimana mereka harus mampu bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul dari perkembangan zaman.
Kemajuan teknologi imformasi dan komunikasi sudah sangat pesat saat ini. Informasi yang pada awalnya sulit untuk didapatkan, kini didapatkan hanya dengan sekali klik di media informasi. Namun tidak hanya sebatas pada gerakan jari tangan, kaum muda juga dituntut untuk lebih bijak dalam menanggapi segala informasi tersebut. Dalam opininya yang berjudul “Urgensi Pendidikan Karakter di Tengah Ancaman Hoax”(Roudlon, 2017, hlm. 1-2), Roudlon, S.Ag menyampaikan berbagai tanggapannya terkait dengan upaya yang dapat mencegah terjadinya hoaks. Dalam opininya ini, beliau ingin menyampaikan bahwasannya pendidikan karakter menjadi salah satu upaya preventif untuk memberantas hoaks.
Bertolak dari orientasi di atas, kita dapat membayangkan tentang kehadiran teknologi informasi yang pada awalnya bertujuan untuk menambah wawasan, akan tetapi sudah mengalami pergeseran makna. Kehadirannya, sudah menjadi pisau yang tajam dan kian mulai menusuk paradigma para pemuda di era ini. Oleh karena itu, disorientasi wacana ini menjadi intensi dasar penulisan artikel ini, sehingga pada bagian terakhir penulis akan memberikan berbagai upaya preventif yang dapat membantu masyarakat terutama kaum muda agar tetap bertahan pada titik eksitensinya.
Informasi: Menambah Wawasan atau Menjadi Tombak bagi Kaum Muda
Term hoaks sudah lazim di dengar di era ini, bahkan seringkali menjadi wacana diskursus dikalangan masyarakat. Eksistensinya seringkali menjadi tombak yang menusuk pikiran masyarakat terutama para pemuda. Meskipun demikian, para pemuda masih belum sadar akan ancaman yang terjadi karena kehadiran berbagai informasi hoaks. Kehadiran media digital yang menyajikan berbagai informasi yang dapat menambah wawasan. Namun, segala informasi yang disajikan tersebut, belum dipastikan keaslian atau kebenarannya, sehingga apabila tidak dikritisi dengan baik, maka akan memberikan dampak yang buruk bagi masyarakat (dibaca: para pemuda) itu sendiri. Sehingga, istilah informasi mengalami pergeseran tujuan dan maknanya.
Pergeseran makna informasi itu sendiri, menjadi tantangan terbesar setiap masyarakat (dibaca: kaum muda). Berbagai informasi yang disajikan, justru memiliki dua makna, yaitu; Menjadi wacana yang dapat menambah wawasan atau pengetahuan bagi setiap masyarakat (dibaca: para pemuda) atau justru menjadi tombak tajam menusuk paradigma individu. Terhadap kehadiran kedua makna ini, akan menjadi dasar, adanya sikap mengkritisi semua informasi yang ada. Selain itu, kehadirannya juga memicu lahirnya dua kepribadian yang dimana sebagian memiliki pribadi yang kritis dan non-kritis. Berdasarkan identifikasi dari Kementrian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Mereka menemukan berbagai data terkait dengan isu hoaks yang beredar.
Salah satu isu hoaks yang mereka temukan terkait dengan seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) guru Kementerian Agama (Kemenag) tahap tiga tahun 2025. Terhadap informasi ini, didalamnya terdapat link berkaitan dengan pemutihan sertifikat tanah gratis, serta adanya pengklaiman bansos dari perampasan aset koruptor. Data ini menjadi tolak ukur bahwa masih banyaknya individu yang belum bersikap kritis terhadap kehadiran informasi. Artinya, ketika mendapatkan informasi terbaru, tanpa menganalisisnya terlebih dahulu dan melakukan perbandingan dengan beberapa sumber mereka langsung menganggap bahwa informasi tersebut valid.
Transisi: Tantangan Menjadi Peluang oleh Kaum Muda
Eksistensi kaum muda di era ini memiliki berbagai tantangan yang dihadapinya. Kehadiran berbagai informasi (Dibaca: informasi hoaks) menjadi salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh kaum muda. Namun, adanya berbagai informasi tersebut membuat sebagian dari kaum muda terjerumus ke dalam penerimaaan informasi palsu. Penerimaan berbagai informasi palsu tersebut, tentunya ada berbagai faktor yang menyebabkannya. Oleh karena itu, kaum muda dituntut agar dapat menjadi figur utama yang dapat menangkal berbagai informasi hoaks tersebut.
Bertolak dari orientasi tersebut, adapun suatu aspek yang sangat diharapkan ada dalam diri kaum muda. Salah satu aspeknya adalah mereka harus mampu menjadikan berbagai tantangan yang ada dan mengubahnya menjadi peluang dalam melakukan tranformasi diri, akal budi dan lain-lain. Perubahan ini tentunya bukan sebuah produk jadi yang langsung digunakan akan tetapi, membutuhkan proses yang panjang untuk memaksimalkannya. Mengalami perubahan pola pikir menjadi salah satu cara yang tepat untuk memenuhi tujuan tersebut.
Perubahan pola pikir dan prespektif dalam menilai segala sesuatu menjadi langkah awal dalam menangkal berbagai informasi hoaks. Alasannya, apabila kaum muda sudah mengalami perubahan pola pikir tentunya mereka (Dibaca: kaum muda) memiliki daya kritis yang tinggi. Informasi yang disebarkan di platform informasi yang belum dipastikan kebenarannya apabila dikritisi dengan baik maka dengan sendirinya dapat dipastikan terkait dengan kebenarannya.
Informasi Hoaks: Penyebab dan Solusinya
Informasi hoaks ada bukan dengan sendirinya, melainkan adanya oknum-oknum yang tidak bertanggaung jawab yang berada dibalik layar. Dalam Bukunya yang berjudul “Aku Klik Maka Aku Ada” (2021:255), F. Budi Budiman menegaskan bahwa kehidupan masyarakat (dibaca: para pemuda) di era ini ditentukan oleh seberapa seringnya mereka bergumul dalam media sosial. Agar dapat memenuhi tujuan yang tersebut, menyebarkan berbagai berita yang belum dipastikan kebenarannya menjadi salah satu langkah yang mereka lakukan. Namun, tanpa mereka sadari mereka sudah membuat sebagian orang terpengaruh dengan informasi yang mereka berikan tersebut.
Berotolak dari kehadiran berbagai informasi hoaks tersebut, adapun beberapa faktor yang membuat sebagian masyarakat (dibaca: para pemuda) sering terjerumus kedalam informasi tersebut. Pertama, kurangnya budaya literasi digital. Literasi digital sangatlah penting dan menjadi salah satu solusi yang tepat untuk menangkal berbagai berita hoaks. Alasannya cukup logis, karena dengan berliterasi dalam dunia digital, para pemuda dapat dengan mudah mengkritisi berbagai informasi yang didapatkan. Oleh karena itu, setiap masyarakat (dibaca: kaum muda) yang belum menerapkan budaya literasi digital dalam kehidupannya tidak dapat dipungkiri ketika dia selalu terjebak dalam informasi hoaks.
Kedua, adanya rasa malas dalam melakukan verifikasi informasi. Melakukan verifikasi terhadap sebuah informasi dapat menentukan keaslian atau validnya informasi tersebut. Perlu dipahami bahwa, setiap informasi memiliki beberapa poin penting yang terdapat didalamnya yaitu; judul informasi, nama media yang menjadi pusatnya, serta informasi itu juga disoroti oleh berbagai media bukan hanya satu media. Oleh karena itu, ketika para pemuda memverifikasi akan informasi yang didapatkan, maka dengan sendirinya informasi tersebut akan terbukti kebenarannya. Sehingga, dapat meminimalisir akan penerimaan informasi hoaks.
Informasi hoaks menjadi salah satu tantangan yang dihadapi oleh para pemuda di era ini. Namun, kehadiran tantangan tersebut justru menjadi peluang bagi kaum muda, yang di mana literasi digital dan melakukan verifikasi terhadap informasi menjadi kekuatan para pemuda agar tidak mudah terjebak ke dalam informasi hoaks. Selain itu, mereka (Dibaca: kaum muda) juga dapat menjadi figur panutan atau contoh untuk orang lain agar penerimaan informasi hoaks dapat diminimalisir.
Oleh: Alfonsius Afrayen
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Matematika Unika Santu Paulus Ruteng







