Tidak jarang para penguasa di dunia ketiga mengawali kekuasaannya dengan niat baik, berikhtiar memakmurkan negeri demi kemaslahatan rakyatnya.
Barangkali Soeharto mengawali kekuasaannya dengan niat-niat baik, sebagaimana Jokowi di tahun permulaan.
Mereka melakukan kerja-kerja politik, tidak hanya berkoar-koar di podium dengan maksud mendirikan NII atau negara khilafah.
Kita menghargai itikad baik Soeharto saat menumpaskan gerakan radikalisme yang merongrong persatuan dan kesatuan RI.
Sebagaimana Soekarno telah berjuang keras menumpaskan gerakan separatisme dari PRRI Permesta hingga DI/TII.
Semuanya berikhtiar melakukan kerja politik.
Meski di antara mereka berbeda-beda menghadapi ending kepemimpinannya.
Soekarno telah menorehkan tinta emas, dengan warisan keilmuan yang patut diandalkan bagi kelangsungan peradaban negeri ini.
Sementara yang lainnya, sibuk mementingkan urusan dinasti serta menumpuk harta kekayaan bagi kesenangan hidup di hari tua.
Yang satu mementingkan kehidupan akhirat tanpa meninggalkan warisan harta, hingga kemudian tercatat indah dalam sejarah, sedangkan yang lainnya meninggalkan kekayaan dan anak-anak keturunan (dinasti) karena lebih mementingkan kedudukan duniawi.
Mereka berlomba meraih kesenangan hidup bagi umur tua yang hanya bersifat nisbi dan hanya ilusi belaka.
Jika yang dipentingkan adalah harta dan anak-anak keturunan (dinasti), lalu jejak apa yang diteladani dari Kanjeng Nabi yang di akhir hayatnya memikirkan, “Ummati… ummati…”
Akankah Anda menghadapi masa sekarat, lalu mati di pembaringan sambil mengucap, “Anakku… hartaku… partaiku….” (*)
Oleh: K.H. Muhajirin
Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Annafsiah, Kalideres, Jakarta Barat







