Kepada waktu yang tabah di pundak karanaku telah berjalan begitu lama
hingga tak berujung
setapak demi setapak.
Ada jalan beraspal yang siap untuk melangkah cepat
ada jalan terjal yang ikhlas menerima setiap penyesalan
ada tepuk tangan dan sorak-sorai di udara
dan aku tahu, saat kulihat dedaunan yang berubah warna
akan ada kebahagiaan di suatu tempat peristirahatan.
Namun cakrawala tempat kuarahkan wajahku
tetap di tempatnya—dalam kegelapan
dan jalan-jalan itu semakin panjang
bagai ular yang siap menelan bumi
dan aku seperti tersalib pada bayangan malam
seraya mengharap secercah cahaya keramat
memulihkan panglihatanku.
Berapa lama lagi aku bisa mengembara di jalan ini?
aku telah berjalan dan berjalan selamanya
tak menjumpai setitik cahaya pun membelaiku
atau tanah yang menggambarkan bayanganku
apakah itu jalan menuju fajar?
bertumpu pada semak berduri?
bertanyalah aku pada sunyi.
Atambua, 16 Juni 2026
Oleh: Silvester Kiik







