Pagi gelap menunggu honor. Langkah letih menuju sekolah
Senyum dipaksa tampak utuh. Perut kosong menyimpan sabar
Tumpukan tugas mencuri tidur. Suara murid tetap dipeluk
Tenaga habis dianggap biasa. Pengabdian murah dipuji pidato
Rapat panjang tanpa kepastian. Janji pejabat tinggal baliho
Nama guru dipakai Kampanye. Nasibnya tenggelam setelah pemilu
Hujan deras pulang berjalan. Sepatu robek tetap dipakai
Mereka mendidik masa depan. Namun hidupnya terus diremehkan
***
Pesan dari puisi ini adalah Guru honorer telah memberikan waktu, tenaga, dan kesabaran demi masa depan anak-anak, tetapi kehidupan mereka sering tidak dihargai dengan layak.
Jangan hanya memuji pengabdian guru, tetapi juga peduli pada kesejahteraan hidup mereka.
Pendidikan akan sulit maju jika orang yang mendidik terus hidup dalam perjuangan dan ketidakpastian.
Oleh: Aprianus Gregorian Bahtera
(Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)







