Di pasar malam, keadilan dijual murah
di kios sebelah boneka dan permen kapas.
Lampu warna-warni menyilaukan mata pembeli
hingga mereka tak sadar telah membeli tirani
dengan kembalian senyum palsu.
Keadilan duduk di pojok, memeluk lutut,
mendengar musik dangdut dari pengeras suara
yang pecah nadanya.
Setiap nada patah adalah tulang rusuk
yang retak di tubuhnya,
namun tak seorang pun membawanya pulang.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung








