Oleh: Gerardus Taena
Realitas dunia modern dewasa ini ditandai oleh berbagai bentuk kekacauan: krisis moral, fragmentasi sosial, konsumerisme, hingga hilangnya orientasi hidup yang jelas. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan yang seharusnya membawa manusia menuju kehidupan yang lebih baik justru sering kali melahirkan alienasi, individualisme ekstrem, dan relativisme nilai. Dalam konteks ini, refleksi filosofis-teologis menjadi penting untuk membaca kembali arah perjalanan manusia modern.
Pemikiran Augustinus dari Hippo menawarkan kerangka refleksi yang mendalam melalui konsepnya tentang Civitas Dei (Kota Allah) dan Civitas Terrena (Kota Duniawi). Menurutnya, sejarah manusia adalah pergulatan antara dua cinta: amor Dei (cinta kepada Allah) dan amor sui (cinta diri). Kedua cinta ini melahirkan dua “kota” yang berbeda orientasi dan tujuan. Oleh karena itu, esai ini berargumen bahwa kekacauan dunia modern dapat dipahami sebagai dominasi cinta diri yang berlebihan, yang menjauhkan manusia dari orientasi ilahi dan kebenaran sejati.
Konsep dasar pemikiran Agustinus berakar pada pemahaman bahwa manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh cinta. Dalam karyanya De Civitate Dei, ia menyatakan bahwa Kota Allah dibangun atas dasar cinta kepada Allah hingga melupakan diri, sedangkan Kota Duniawi dibangun atas dasar cinta diri hingga mengabaikan Allah. Dalam konteks modern, fenomena seperti materialisme, hedonisme, dan ambisi kekuasaan mencerminkan dominasi amor sui yang tidak terarah.
Kekacauan realitas modern dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan. Secara sosial, manusia semakin terfragmentasi oleh identitas sempit dan konflik kepentingan. Secara budaya, nilai-nilai kebenaran menjadi relatif, sehingga sulit membedakan antara yang baik dan yang buruk. Secara spiritual, manusia kehilangan makna hidup karena orientasinya hanya tertuju pada kepuasan diri yang bersifat sementara. Semua ini menunjukkan bahwa Kota Duniawi semakin menguat dalam kehidupan manusia modern.
Agustinus tidak menolak keberadaan dunia, tetapi ia mengkritik orientasi cinta yang salah. Dunia menjadi kacau bukan karena keberadaannya, melainkan karena manusia menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Dalam dunia modern, hal ini tampak dalam kecenderungan manusia untuk mengukur kebahagiaan berdasarkan kepemilikan, pencapaian, dan pengakuan sosial. Akibatnya, manusia terjebak dalam siklus ketidakpuasan yang terus-menerus.
Sebaliknya, konsep Kota Allah menawarkan alternatif yang bersifat transendental. Kota Allah bukan sekadar realitas eskatologis, tetapi juga sebuah orientasi hidup yang menempatkan Allah sebagai pusat. Cinta kepada Allah mengarahkan manusia pada kerendahan hati, keadilan, dan solidaritas. Dalam perspektif ini, keteraturan hidup tidak berasal dari kekuatan manusia semata, tetapi dari keterbukaan terhadap rahmat ilahi. Relevansi pemikiran Agustinus dalam dunia modern terletak pada kemampuannya untuk mengungkap akar terdalam dari krisis manusia, yaitu orientasi cinta yang keliru.
Kekacauan bukan hanya persoalan struktural atau sistemik, tetapi juga persoalan batin manusia. Tanpa transformasi interior, perubahan eksternal tidak akan membawa pembaruan yang sejati. Kekacauan dunia modern pada hakikatnya merupakan refleksi dari dominasi cinta diri yang tidak terarah. Melalui lensa pemikiran Augustinus dari Hippo, dapat dipahami bahwa manusia hidup dalam ketegangan antara Kota Duniawi dan Kota Allah, antara amor sui dan amor Dei. Ketika cinta diri menjadi pusat, dunia kehilangan arah dan jatuh dalam kekacauan. Sebaliknya, orientasi pada cinta kepada Allah membuka jalan menuju keteraturan, makna, dan kedamaian sejati.
Oleh karena itu, solusi atas krisis modern tidak hanya terletak pada reformasi sosial atau kemajuan teknologi, tetapi pada pembaruan hati manusia. Dunia akan menemukan kembali keseimbangannya ketika manusia belajar mencintai dengan benar bukan hanya dirinya sendiri, tetapi terutama Allah sebagai sumber segala kebaikan. Dengan demikian, refleksi Agustinian tetap relevan sebagai kritik sekaligus harapan: bahwa di tengah kekacauan dunia modern, manusia masih memiliki kemungkinan untuk kembali kepada orientasi cinta yang sejati.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang







