Kepada Penguasa yang Belum Selesai dengan Dirinya

oleh -445 Dilihat
banner 468x60

Lukamu belum tersembuhkan jika kau merasa senang dan tertawa atas penderitaan orang, sementara kau merasa susah melihat orang dalam kesuksesan dan kemenangan. Lukamu belum terobati manakala kau masih memendam amarah, serta mencari-cari peluang untuk melampiaskan dendam kesumat yang selama ini kau simpan erat-erat.

Lukamu belum tersembuhkan jikalau kau masih sibuk mengobati luka dengan obat-obat yang tak pernah menyembuhkan. Lukamu takkan tersembuhkan jika kau merasa menjadi korban dari amukan zaman, baik yang berupa bencana alam, maupun ulah tangan-tangan jahil manusia tak berperadaban. Ya, lukamu belum tersembuhkan manakala kau berjoget ria saat meraih kemenangan dalam kontestasi kekuasaan. Padahal, ia hanyalah amanat yang dipikulkan di pundakmu agar kau sanggup menjaganya dengan baik, dan dengan penuh rasa syukur.

Banyak penguasa modern yang merasa tersakiti, serta diperlakukan sewenang-wenang oleh para pendahulunya. Sehingga, mereka hidup terpuruk berkalang tanah, sampai kemudian Sang Takdir memposisikan dirinya selaku penguasa baru, hingga tersingkaplah segala luka yang membuatnya tergoda untuk melakukan hal yang sama dengan para pendahulunya. Segala sesuatu yang semula dia benci, kemudian seketika berubah menjadi sesuatu yang dia cintai. Bukankah manusia akan berbuat dan beramal, sesuai dengan kehendak dan kecenderungan cinta yang tersimpan dalam jiwa dan pikirannya?

Penguasa yang merasa dirinya terluka; merasa dirinya dihinakan dan diinjak-injak; tak jarang ketika legitimasi berada dalam genggamannya, ia merasa dirinya dalam kemenangan, lalu bersikeras menciptakan perlakuan yang sama dari para pendahulunya. Sampai kemudian mengejawantah menjadi pihak yang menghinakan dan menginjak-injak, bahkan tega melukai rakyat jelata yang dulu pernah menjadi mitra perjuangannya.

Kita melihat karakter penguasa dari zaman ke zaman, dari pra-modern hingga pasca-modern saat ini, mereka tak sanggup menanggung luka-luka yang pernah ditorehkan para musuh dan pesaingnya. Mereka tak sanggup mengubah luka dengan cinta, lalu memancarkan cinta-kasih kepada rakyat yang dipimpinnya. Mereka selalu saja memilih jalan-jalan terjal yang semakin melukai dan mencelakakan dirinya sendiri.

Berbeda dengan perjuangan para nabi dan para wali kekasih Allah. Mereka sanggup memaknai kekuasaan sebagai amanat yang harus dipikul dengan rasa tanggungjawab. Mereka adalah tipikal manusia yang sudah selesai dengan dirinya. Sebagaimana Rasulullah sanggup mengobati luka-luka masa lalu, yang pernah ditorehkan oleh para musuh dan lawan politiknya.

Dalam peristiwa Fathu Makkah, Rasulullah dan para sahabat memilih untuk melupakan masa lalunya, lalu memberi maaf dan pengampunan bagi mereka yang pernah menorehkan luka, baik secara fisik maupun spiritual. Ya, Rasulullah terang-terangan menolak dendam dan amarah. Bukan seperti yang ditempuh raja-raja terdahulu, baik Romawi, Mesir Kuno hingga Babilonia.

Ketika terluka saat kekalahan Perang Uhud, Rasulullah tetap tersenyum kepada para sahabat, terutama kepada Fatimah anak tercinta, yang setia merawatnya. Saat diperlakukan semena-mena oleh kaum musyrikin, serta dilempari bebatuan oleh kaum Thaif, Fatimah tekun mendampinginya, bahkan menyisiri rambut untuk membersihkan kotoran debu yang dilemparkan para pembencinya.

Sebelum perang berkecamuk, senantiasa Rasulullah memperingatkan para sahabat agar jangan menyakiti para lansia, wanita dan anak-anak, bahkan jangan sampai merusak pohon-pohon yang sedang berbuah. Ya, dialah sang Nabi akhir zaman, manusia sejati dan insan kamil, yang memancar dari dirinya cahaya dan ruh Allah, sebagai manifestasi dari sifat-sifat Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. (*)

Oleh: Hafis Azhari

(Peneliti historical memory Indonesia, juga seorang Nahdliyin yang menulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.