Jebakan Slacktivism Remaja di Era “Onlife”

oleh -110 Dilihat
banner 468x60


Oleh: Christian Charlie Muda

Perkembangan teknologi digital telah merestrukturisasi cara manusia berinteraksi, berpikir, dan mengekspresikan kepedulian sosialnya. Batas antara dunia nyata dan dunia maya kini melenyap di balik layar gawai. Filsuf Luciano Floridi menggambarkan kondisi eksistensial kontemporer ini sebagai era onlife yaitu sebuah realitas hyperterkoneksi di mana pengalaman daring (online) dan luring (offline) melipat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam ruang onlife, media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan ekosistem utama tempat generasi muda memproduksi identitas, membentuk persepsi, dan merespons isu-isu global.

Bagi kelompok remaja yang tumbuh sebagai digital natives, ruang siber menawarkan panggung yang amat luas untuk menyuarakan ketidakadilan, krisis iklim, hingga isu kemanusiaan. Hanya dengan satu sentuhan jemari, sebuah pesan solidaritas dapat menyebar melintasi batas benua dalam hitungan detik. Namun, kemudahan ini menyimpan paradox mendalam. Di balik kepedulian yang tampak bergelora di media sosial, lahir sebuah fenomena yang dikenal sebagai slacktivism (atau clicktivism) yaitu perilaku mendukung suatu gerakan sosial atau politik melalui tindakan minim usaha, seperti menekan tombol like, mengunggah ulang (repost) tagar populer, atau menandatangani petisi daring, tanpa diiringi komitmen aksi nyata di dunia fisik.

Dalam perspektif filsafat informasi Floridi, manusia modern dipahami sebagai inforg (informational organism) yaitu entitas yang keberadaannya terwujud, diproses, dan dibentuk melalui arus informasi di dalam lingkungan ekologis yang disebut infosfer. Sebagai seorang inforg, remaja senantiasa berinteraksi dengan agen-agen informasional lain, termasuk algoritma media sosial yang dirancang untuk memikat perhatian. Di sinilah slacktivism menemukan lahannya. Algoritma menyajikan isu-isu sosial sebagai komoditas visual yang menarik secara estetis. Akibatnya, keterlibatan sosial remaja kerap kali bergeser dari empati yang mendalam menjadi sekadar ritual kurasi persona digital.

Dampak psikologis dan etis dari jebakan ini tidak mendasar. Ketika seorang remaja mengunggah kembali narasi krisis lingkungan atau gerakan sosial di cerita Instagram-nya, otak merespons dengan pelepasan dopamin, menghadirkan kepuasan moral instan (moral gratification). Ia merasa telah menjalankan kewajiban sosialnya dan berhasil membangun citra diri sebagai pribadi yang kritis serta peduli. Namun, karena kepuasan tersebut telah terpenuhi secara digital, dorongan untuk melakukan tindakan nyata seperti mengurangi sampah plastik, menggalang dana secara konkret, atau terlibat langsung dalam aksi komunitas justru menyusut. Slacktivism secara halus menggantikan efikasi aksi nyata dengan rasa nyaman yang semu.

Lebih jauh lagi, fenomena ini melahirkan kesenjangan tajam antara identitas digital dan integritas diri di dunia luring. Dalam kerangka Floridi, kesehatan infosfer sangat bergantung pada kejujuran dan akurasi informasi yang beredar. Ketika aksi kepedulian sosial hanya digunakan sebagai sarana berburu validasi publik (likes dan followers), kebenaran dari gerakan itu sendiri terdegradasi. Isu-isu Kemanusiaan yang kompleks disederhanakan menjadi sekadar tagar yang cepat viral namun cepat pula dilupakan. Remaja rentan terjebak dalam arus entropi informasi yaitu kondisi di mana ruang digital dipenuhi oleh kebisingan konten yang dangkal, manipulatif, dan kehilangan bobot makna.

Tidak dapat dimungkiri bahwa slacktivism memiliki sisi positif sebagai sarana memicu kesadaran awal (awareness) terhadap suatu isu. Namun, berhenti pada batas menekan tombol layar adalah sebuah kelumpuhan etis. Kehadiran digital yang terfragmentasi membuat remaja hadir secara visual di dunia maya, tetapi absen secara emosional dan aksi di lingkungan sekitarnya. Mereka peka terhadap isu-isu dunia di layar gawai, tetapi acuh tak acuh terhadap persoalan tetangga, keluarga, atau komunitas lokal mereka sendiri.

Untuk memutus rantai slacktivism ini, proses pendampingan dan pembentukan karakter remaja di era digital harus diarahkan pada pemulihan keheningan dan kerendahan hati epistemik. Remaja perlu diajak untuk mengevaluasi motivasi di balik setiap unggahan digital mereka: apakah tindakan tersebut murni didasari empati untuk perubahan, atau sekadar perburuan citra diri agar diakui oleh kawan sebaya?

Selain itu, literasi digital tidak boleh lagi dipersempit sebatas kemampuan teknis mengoperasikan gawai atau menghindari hoaks. Literasi digital di era onlife harus berakar pada etika informasi, yakni kesadaran bahwa setiap tindakan informasional membawa konsekuensi moral terhadap ekosistem infosfer. Remaja harus dibimbing untuk menjembatani jurang antara dunia daring dan luring. Kepedulian yang diungkapkan melalui tagar di media sosial wajib ditransformasikan menjadi disiplin hidup harian, keterlibatan nyata dalam organisasi lokal, serta aksi sosial yang mengakar pada perjumpaan tatap muka.

Kedisiplinan untuk melatih retret digital atau pembatasan diri dari layar secara berkala juga menjadi krusial. Dengan mengambil jarak dari bisingnya algoritma dan perburuan validasi, remaja memberi ruang bagi batinnya untuk berefleksi secara mendalam. Dari keheningan itulah lahir rasa empati yang autentik yaitu empati yang tidak membutuhkan sorotan kamera gawai untuk bertindak, dan tidak memerlukan pujian kolom komentar untuk merasa berarti.

Pada akhirnya, era onlife bukanlah ancaman yang harus dihindari, melainkan realitas yang menuntut kedewasaan etis. Remaja sebagai inforg di era modern memiliki potensi luar biasa untuk menjadi penggerak perubahan zaman. Namun, perubahan sejati tidak pernah lahir dari ketukan jari di atas layar kaca semata. Dengan menyelaraskan narasi kepedulian di media sosial dengan aksi nyata di dunia fisik, remaja dapat melepaskan diri dari cengkeraman slacktivism. Hanya melalui perpaduan antara kesadaran digital yang kritis dan komitmen aksi yang konkret, generasi muda dapat merawat infosfer sekaligus menjadi pembawa dampak yang nyata, jujur, dan berdaya ubah bagi masyarakat.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.