Perspektif Tunggal Orang Indonesia

oleh -51 Dilihat
banner 468x60

Perspektif tunggal bermata satu, telah memaksa dan menggiring umat manusia agar berbaris dalam keseragaman digital. Akses kehidupan manusia akan dikendalikan hingga seluruh bangsa-bangsa akan dipaksa agar menjadi taat dan patuh, serta menjadi bagian dari sistem yang telah didesain dan dipersiapkan oleh mereka.

Itulah program yang dinamakan great reset, dan sedang mereka jalankan agar umat manusia menjadi budak total dari sistem yang diciptakan Dajjal sebagai manifestasi dari Raja Iblis yang memberontak agenda Tuhan, termasuk para kroni dan pengikut-pengikutnya yang setia di republik ini.

Kekayaan alam Indonesia semakin dikeruk, jalur-jalur perekonomian dibentangkan, dan keuntungannya dinikmati segelintir elit. Mereka akan sebar pecahan dari bulir-bulir emas bagaikan remah-remah roti yang membuat kaum miskin saling berebut keuntungan; saling cakar dan sikut kiri-kanan, bahkan saling mencari pelampiasan untuk cari selamat sendiri-sendiri.

Tak ada cita-cita yang tinggi bagi mereka, kecuali mengikuti pola hidup para elit dengan gelimang kemegahan duniawi sebagai ilusi kenikmatan hidup yang akan terus mereka propagandakan.

Terbukti, bahwa saat ini banyak pakaian yang dikenakan kita terbuat dari wol Inggris. Sepatu yang dipakai orang Indonesia, diimpor dari Italia; jam tangan yang dikenakan juga dari Swiss, bahkan hape dalam genggaman kita diimpor dari korea dan Cina.

Sejak 32 tahun era Orde Baru, tatanan ekonomi telah berjalan. Segalanya dianggap mungkin bagi manusia, dan dapat diperlakukan sehendak hatinya. Kebutuhan orang Indonesia telah diproduksi, agar produsen memproduksi pemenuhan yang terus-menerus disiasati. Mereka tak peduli apakah kebutuhan itu bersifat primer, sekunder, atau hanya sampingan belaka.

Mereka tak memikirkan mana kebutuhan sebenarnya, dan mana yang harus direkayasa dan disiasati. Sampai pada gilirannya, produksi menjadi tuan dari kebutuhan dan bahkan bagi hidup manusia itu sendiri.

Tak peduli apakah produksi mengabdi pada manusia, ataukah justru manusia yang mengabdi demi produksi. Segala sistem aparatur negara sampai wilayah agama dan moral, akhirnya harus dikendalikan oleh penguasa tunggal.

Para tokoh agama, sastrawan, budayawan hingga cendikiawan, harus ditundukkan untuk mengabdi pada kebijakan dan ketetapan pemerintah, karena yang boleh berlaku hanyalah tafsiran dan ideologi rancangan negara.

Demi untuk kelancaran pihak pemerintah dalam mendukung program Great Reset ini, makin diperjelas pihak manakah yang mereka lindungi, termasuk jutaan rakyat yang harus mereka korbankan.

Kini, campur-tangan pemerintah sebagai abdi-abdi lokal sangat diperlukan untuk memuluskan kepentingan yang dikehendaki dan dirancang oleh elit-elit global. Lalu, siapakah yang harus ditunjuk sebagai kaki-tangan yang loyal bagi kepentingan sang penguasa lokal? Mereka semakin getol merumuskan tentang siapa yang layak menduduki pemerintah daerah, dari tingkat teratas hingga terbawah, bahkan rektor-rektor di universitas sekalipun.

Untuk menangani wilayah-wilayah tertentuseperti Aceh, NTT hingga Papua yang bergejolak, maka operasi militer harus segera dikerahkan. Beberapa petinggi jenderal dan pihak kepolisian harus segera mengadakan training dan pelatihan sebagaimana mereka yang pernah digembleng oleh Pentagon di masa kejayaan Orde Baru, agar mengikuti program kerjasama IMET dalam Terrorism in Low Intensity Conflict, yakni suatu pelatihan bagaimana membuat provokasi dan aksi teror penguasa untuk mengendalikan rakyat yang sedang dipimpinnya.

Hal ini telah terjadi, setua umur peradaban manusia. Sebagaimana kota York (Inggris) yang pernah ditinggalkan sebagian penduduknya. Lalu, mereka hijrah dan mendesain kota baru bernama New York (Amerika Serikat). Seketika itu, jutaan warga kulit hitam Afrika dipekerjakan sebagai budak untuk memenuhi hajat pemenuhan dan kebutuhan warga kulit putih, serta berjalannya demokrasi liberal di Amerika Serikat.

Banyak yang sukses dan terangkat dejaratnya dalam mengembangkan potensi dan bakat mereka, seperti Mohamad Ali, Mike Tyson, Michael Jackson, Stevie Wonder, hingga Whitney Houston dan Oprah Winfrey. Tetapi kemudian, muncul pertanyaan krusial, berapa juta dari warga kulit hitam itu yang terbunuh dan dikorbankan oleh mereka demi pemenuhan kejayaan negeri adikuasa tersebut?

Akan tetapi peradaban Islam yang dibangun Rasulullah sejak 1400 tahun lalu, telah sanggup mengangkat hak dan martabat manusia, serta mengembangkan potensi para budak kulit hitam, seperti Bilal bin Rabah, Ummu Aiman hingga Zaid bin Haritsah, tanpa mengorbankan satu orang pun warga kulit hitam di wilayah Jazirah Arab dan sekitarnya. ***

Oleh: Eeng Nurhaeni

(Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten, banyak menulis puisi dan esai keislaman di media-media lokal dan nasional)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.