Bi Siti Marfuah, seorang wanita berusia empatpuluh tujuh yang tubuhnya gemuk dan montok, berprofesi sebagai pencari jodoh atau makelar pernikahan, dan seringkali orang-orang menyebutnya “Mak Comblang”. Ia mengurus berbagai hal yang biasanya dibicarakan dengan bisik-bisik, karena menyangkut rahasia pribadi yang agak sensitif dan prinsipil. Sore itu, ia didatangi seorang lelaki yang mengenakan baju batik dan kopiah hitam, melangkh agak malu-malu menuju pagar rumahnya, sambil menghisap rokok dengan penuh selera.
Tuan rumah melongok ke jendela, seakan sudah mengendus kehadirannya. Mak Comblang itu pura-pura duduk di sofa dan membiarkan si tamu mengetuk pintu beberapa kali sambil mengucap salam.
“Waalaikum salam.” Tuan rumah membukakan pintu, menatap wajah tamu dengan seksama, dan tanyanya, “Siapa, ya?”
Sang tamu terdiam agak terkesima menatap muka Bi Marfuah yang bulat, dengan dagu yang rata namun agak terbelah. “Senang sekali saya ketemu rumah Ibu ini, kenalkan nama saya Mahmud. Tetapi, karena saya sudah haji, maka orang-orang memanggil saya Pak Haji Mahmud.”
Tuan rumah mempersilakan masuk dan duduk di sofa ruang tamu, dan setelah mengamati si tamu yang tampaknya orang yang baru dikenalnya, Bi Marfuah kemudian berkata, “Sepertinya Pak Haji Mahmud ini orang yang baru pertama kali ke rumah saya, bukankah begitu?”
“Benar sekali, Ibu Siti… Ibu Marfuah… oya, maaf, enaknya saya memanggil apa, ya?”
“Cukup Bi Marfuah saja. Orang-orang sudah biasa memanggil saya Bi Marfuah.”
“Baik, Bi Marfuah. Saya sendiri datang dari Desa Semanggi, dan asli orang Betawi. Jadi, sengaja saya berkunjung ke sini mau membicarakan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi.”
Keduanya terdiam sesaat, lalu kata sang tuan rumah memecah kesunyian, “Baik kalau begitu. Kira-kira apa yang bisa saya bantu untuk Pak Haji?”
Sebelum Haji Mahmud menjawab, Bi Marfuah mengangkat tangannya seakan memberi isyarat, lalu melangkah ke belakang seraya membuatkan secangkir teh manis dan menyodorkannya ke hadapan sang tamu.
“Memang saya baru kali ini ke sini. Itu pun karena saya diberitahu oleh Pak Salim tukang warung kopi di perempatan kampung Jombang.” Ia mendekatkan mulutnya ke telinga Bi Marfuah, dan katanya agak berbisik, “Kabarnya Bi Marfuah ini biasa membantu orang-orang yang berniat akan menikah, maksud saya memiliki pasangan hidup… maaf, kalau saya ada salah-salah kata, yang tentunya pekerjaan Ibu termasuk amal ibadah karena suka membantu orang yang membutuhkan pertolongan…”
“Apakah Pak Haji juga membutuhkan pertolongan saya?” kata Bi Marfuah agak genit, dan langsung ke topik permasalahan.
“Tentu saja, Bi Marfuah, tentu saja, dan untuk itulah saya berterimakasih kepada Pak Salim yang memberi tahu alamat Ibu di kampung Jombang ini.”
“Kalau boleh saya tahu, berapa usia Pak Haji Mahmud?” tanya Bi Marfuah seketika.
“Saya?” katanya sambil menunjuk dadanya sendiri, “Kalau tidak salah, mungkin sekitar 55-an… dan boleh dibilang usia saya ini sudah selayaknya mempunyai seorang putera yang sudah dewasa. Tetapi untunglah kedua anak saya sudah mandiri, dan tinggal di perantauan bersama istri dan anak-anak mereka…”
“Berarti Pak Haji juga sudah momong cucu?”
“Ya, kurang lebih seperti itulah… sekitar dua orang cucu.”
Keduanya saling diam, kemudian kata Bi Marfuah sambil menggeser duduknya, “Kira-kira apa pekerjaan Pak Haji Mahmud sekarang ini?”
“Sekarang saya menjadi sopir perusahaan di PT Rakata Steel, Kota Cilegon, tetapi kadang-kadang kalau Sabtu dan Minggu saya bekerja serabutan, kadang menjadi sopir angkot… dan alhamdulillah saya sudah memiliki mobil angkot sendiri… walaupun mobil keluaran tahun lama, tapi masih cukup bagus untuk dibawa narik penumpang antar kota.”
Bi Marfuah manggut-manggut, sambil mata mendelik seraya menguji kejujuran tamunya, lalu sambung Haji Mahmud lagi: “Selain itu, saya juga punya tabungan di bank… walaupun tidak terlalu banyak, tapi mudah-mudahan cukup untuk mahar atau mas kawin, serta untuk masa-masa bulan madu, insya Allah….”
Bi Marfuah tersenyum mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Haji Mahmud. Lalu, dengan gerakan yang lihai, Mak Comblang itu mendelikkan alis matanya, kemudian berdehem sambil menutup mulutnya tanpa berkedip. “Lalu, kira-kira, pengantin seperti apa yang menjadi idola dan idaman… maksud saya, yang menjadi selera Pak Haji Mahmud?”
“Pengantin seperti apa?” ulang Haji Mahmud agak terkejut.
“Ya, kami ada perempuan Sunda sudah janda, satu lagi gadis dari Madura, lalu ada juga perempuan asal Padang yang ditinggal mati suaminya, tapi usianya masih di kisaran 45-an.”
Haji Mahmud menyenderkan punggungnya ke sofa sambil menghela nafas dalam-dalam. Setelah beberapa kali melirik ke wajah Bi Marfuah, ia pun berkata, “Saya kira, terserah pada takdir yang akan menentukan nantinya, apakah saya cocok dengan yang janda ataukah yang masih gadis… terserah Bi Marfuah yang sudah berpengalaman, enaknya yang seperti apa?”
“Wah, enggak bisa begitu dong, bagaimana pun harus Pak Haji sendiri yang menentukan… oya, ngomong-ngomong, kira-kira Pak Haji Mahmud sukanya yang seperti apa, yang kulitnya putih, hitam, yang kurus atau yang gemuk?”
“Waduh, bagaimana ya? Terserah Bi Marfuah sajalah.” Sekali lagi dia melirik agak genit kepada tuan rumah, sambil membetulkan posisi kopiahnya, “Jadi begini, Bi Marfuah, saya ini orangnya simpel, pengennya yang praktis dan ringan-ringan saja. Kalau bisa istri saya nanti, bisa memahami saya yang suka kelayapan ke mana-mana. Maklum, saya kan sudah belasan tahun menjadi sopir perusahaan, di samping saya juga cukup bebas menjadi sopir angkot pada tahun terakhir ini, supaya punya simpanan secukupnya. Karena itu, saya merasa saat inilah waktu yang tepat untuk menemui orang yang bisa membantu, terutama setelah ngobrol-ngobrol di warung kopi bersama Pak Salim…”
“Artinya, Pak Haji Mahmud sudah memiliki cukup simpanan untuk menikah?”
“Kurang lebih seperti itu,” katanya dengan penuh keyakinan.
“Oya, ngomong-ngomong… maaf, bukannya saya mau menyelidik atau ikut campur dalam urusan agama, tetapi bolehlah saya bertanya, tahun berapa Pak Haji Mahmud pernah melakukan ibadah haji?”
“Mungkin sekitar tahun 2018,” jawabnya menerawang, “dan alhamdulillah waktu itu saya diberangkatkan bersama rombongan karyawan di perusahaan PT Rakata Steel di Kota Cilegon.”
“Berarti bukan dari hasil menabung?”
“Diberangkatkan oleh perusahaan,” ralat Haji Mahmud, “tetapi tentunya pihak perusahaan yang menyimpan tabungannya untuk saya, kurang lebih seperti itu.”
Mak Comblang itu mempersilakan sang tamu untuk meminum teh suguhannya, dan ia pun menghirupnya sedikit meskipun sudah agak mendingin.
“Berarti, sudah berapa lama, Pak Haji Mahmud hidup sendirian selama ini?”
Haji Mahmud menatap wajah Bi Marfuah dengan seksama, dan jelasnya lagi, “Mungkin sejak tahun 2017, kira-kira enam bulan setelah anak kedua saya menikah dengan perempuan dari Lampung. Berarti kalau dihitung-hitung sampai sekarang, sekitar delapan tahun saya hidup menyendiri.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Baiklah apanya, Bi Marfuah?”
Bi Marfuah menyender ke sofa, dan mengambil posisi duduk yang lebih santai, sementara mata Haji Mahmud agak jelalatan di sekitar buah dadanya yang besar dan ranum. Lalu, kata Mak Comblang itu secara lebih eksplisit, “Oke, kembali ke soal pertanyaan saya tadi… kira-kira perempuan seperti apa yang disukai Pak Haji?”
“Dari ketiga pilihan tadi?”
“Ya,” katanya tegas.
“Coba tolong dipertegas sekali lagi, yang pertama seorang janda Sunda… lalu?”
“Gadis asal Madura, dan janda dari Padang.”
“Apa mungkin saya mendapatkan yang masih gadis?” tanyanya agak malu-malu.
“Kenapa tidak mungkin? Bahkan saya pernah menjodohkan gadis tujuhbelas tahun dengan kakek berusia enampuluhan… dan kebetulan, gadis Madura yang saya punya sekarang ini badanya agak kurus… tapi terserah Pak Haji, kalau mau nanti saya perkenalkan, dan saya ajak ke sini.”
“Waduh, sayang sekali,” katanya seperti menyesali sesuatu.
“Apanya yang sayang sekali?”
“Begini Bi Marfuah, dulu mantan istri saya juga orangnya kurus, sedangkan saya ini sering menyopiri karyawati perusahaan, dan kalau hari Sabtu juga menyopiri angkot, dan banyak penumpang perempuan yang berangkat ke pasar, termasuk mahasiswi-mahasiswi yang mau berangkat ke kampus. Jadi, saya sudah melihat dan mengenal banyak model-model perempuan, sampai akhirnya saya berkesimpulan bahwa tampaknya saya ini lebih menyukai yang berbadan gemuk daripada yang kurus, kurang lebih seperti itu, Bi Marfuah?”
Karena badan Bi Marfuah memang gemuk dan montok, rupanya Bi Marfuah merasa tersanjung dengan pengakuan jujur sang tamu. Tetapi, ia membiarkan dirinya membisu, tak memberi komentar, lalu Haji Mahmud melanjutkan: “Karena itu, sejak pertama kali saya bertemu dengan Bi Marfuah di depan pintu tadi, ternyata saya melihat sesuatu yang di luar perkiraan saya, yang tadinya menyangka Bi Marfuah ini kurus… tapi ternyata… alhamdulillah, maksud saya Bi Marfuah ini ternyata mukanya bulat, badannya gemuk, dan ehm, dagunya agak terbelah. Tapi, sebelumnya saya mohon maaf kalau saya bicara terus-terang di depan Bi Marfuah saat ini, bahwa tipikal perempuan seperti itulah yang selama ini saya idam-idamkan… ehm, maaf, kalau saya bicara blak-blakan di depan Bi Marfuah…”
Haji Mahmud melirik sekali lagi ke tubuh Bi Marfuah yang montok. Namun, untuk membiarkan tak lama-lama mengamati tubuhnya, Bi Marfuah berusaha memancingnya sekali lagi, “Tapi, saya punya yang masih gadis, dan umurnya masih 27 tahun.”
“Tadi sudah dibilang, saya ini orangnya simpel, Bi Marfuah,” kilahnya lagi, “saya merasa keberatan bukan lantaran gadisnya, tetapi yang pertama dia orang jauh, sehingga saya tak mau ribet ke Madura ngurus sana-sini saat pernikahan nanti, kedua… ya, itu tadi, saya enggak suka yang kurus-kurus. Selain itu, saya bukannya sok idealis untuk tidak mau menikahi perempuan kaya, karena saya juga enggak mau hidup seorang suami ditanggung oleh istrinya, sebab agama mengajarkan kita bahwa pihak laki-laki-lah yang bertanggungjawab untuk menafkahi istri dan anak-anaknya. Meskipun begitu, saya juga tak mau menikah dengan perempuan miskin walaupun saya menyukai dan mencintai dia. Sekarang ini, Bi Marfuah tahu sendiri, harga-harga barang semakin naik dari tahun ke tahun, dan saya harus punya pandangan ke depan yang nantinya harus menghidupi dan menyekolahkan anak-anak.”
Keduanya saling membisu selama beberapa menit. Kemudian insting Mak Comblang semakin tajam mengendus gerak-gerik sang tamu, dan tanyanya: “Lalu, berapa kira-kira jumlah mas kawin yang Pak Haji persiapkan untuk calon istri Bapak?”
Haji Mahmud berpikir sejenak, kemudian balik bertanya, “Sekarang begini saja,” ia pun menggeser posisi duduknya, “biasanya berapa mas kawin yang diberikan calon suami kepada calon istrinya? Coba, Bi Marfuah sebutkan?”
“Tergantung, apakah dia janda atau masih gadis?”
“Sekarang saya tanya, kalau dia masih gadis biasanya diberi mas kawin berapa gram?”
Ia menatap mata Haji Mahmud, dan jawabnya pelan, “Kadang-kadang sepuluh gram emas… ada juga yang berani memberi duapuluh lima gram.”
Sambil menghitung-hitung dengan jari dan bibirnya yang bergerak-gerak, Haji Mahmud bergumam, “Berarti, kalau diuangkan, sekitar limapuluh juta, ya?”
“Ya, sekitar segitu.”
“Tapi, kalau sepuluh gram berarti cuma duapuluh juta.”
“Ya.”
“Untuk yang masih gadis?”
“Ya, walaupun sepuluh gram itu angka yang paling minimal.”
“Berarti kalau untuk yang janda?”
“Sekitar tujuh atau delapan gram.”
“Barangkali lima gram cukup?”
“Jarang yang memberi lima gram sekarang ini.”
“Walaupun ada?”
“Dulu ada, tapi sekarang enggak ada.”
“Oo, begitu,” ia pun berdehem sambil menggeser duduknya. “Baik, sekarang begini aja… bagaimana kalau saya persiapkan sepuluh gram… walaupun sudah janda?”
“Maksudnya, yang dari Madura atau dari Padang?”
“Yang dari sini,” katanya dengan tatapan nanar.
“Yang dari sini? Siapa?”
“Ahh… kan tadi saya sudah bilang kalau saya itu orangnya pengen yang simpel dan praktis… ya, siapa lagi kalau bukan janda di depan mata saya ini?”
“Astaghfirullah adzim!” pekik Bi Marfuah sambil membanting punggungnya keras-keras di atas sofa. Dua menit berlalu dalam keheningan. Pipi dan matanya memerah.
“Sekarang saya mau tanya, Bi Marfuah ini dari suku Jawa atau Sunda?”
“Sunda,” jawabnya agak menunduk.
“Umur?”
“Empatpuluh tujuh… tapi besok Maret sudah empatpuluh delapan.”
“Sekarang saya mau tanya satu lagi,” ujar Haji Mahmud, “berapa jumlah yang dibutuhkan Mak Comblang untuk biaya pakaian pengantin, urusan KUA, dan mempersiapkan prasmanan buat saudara-kerabat yang akan diundang makan-makan?”
Bi Marfuah terdiam sejenak, lalu jawabnya pelan, “Kalau pada tahun-tahun lalu, ketika banyak acara pernikahan, biayanya sekitar limabelas juta cukup… tapi sekarang ini lagi jarang perkawinan, mau enggak mau kami memasang tarif sekitar duapuluh jutaan.”
“Baik kalau begitu, sepuluh gram mas kawin untuk Bi Marfuah… ditambah duapuluh juta untuk acara makan-makan dan rias pengantin, bagaimana, setuju?”
“Maaf, apakah Pak Haji menyebut angka empatpuluh juta tadi?”
“Oya, berarti kalau sepuluh gram itu harganya duapuluh, ditambah duapuluh juta untuk acara pernikahan… berarti total semuanya empatpuluh juta ya? Baiklah kalau begitu?”
“Ditambah Al-Quran dan seperangkat alat solat.”
“Yang itu harganya berapa?”
“Sekitar sejuta.”
“Berarti total semuanya empatpuluh satu juta?”
“Ya.”
Makelar penikahan itu memerhatikan gestur Haji Mahmud tanpa berkedip. Raut mukanya memerah dan malu-malu. Sementara Haji Mahmud terus menatap Bi Marfuah dari kaki sampai ujung rambut. Tak berapa lama, keduanya saling tersenyum gembira, tertawa, dan tanpa terasa air mata bahagia berlinang di pipinya yang merona.
Keduanya duduk berdampingan sambil menghela nafas panjang. Haji Mahmud mulai menjelaskan pandangan hidupnya kepada sang calon istri, terutama perihal kehidupan yang sakinah, agar saling menjaga hak dan kewajiban dalam kehidupan berumah-tangga nanti. ***
Oleh: Chudori Sukra
Penulis adalah Penggiat organisasi Mufakat Budaya Indonesia (MBI), juga penulis prosa dan esai untuk media-media nasional, seperti Kompas, Koran Tempo, Republika dan lain-lain







