Yang paling ditakuti oleh Ibu, ketika saya tumbuh dewasa, saya menjadi anak yang tak berguna bagi nusa, bangsa dan agama. “Bu, apakah nusa itu sama artinya dengan bangsa?” tanya saya pada suatu hari. Namun, Ibu tidak menjawab, yang berarti mungkin saja ia mengerti, atau mungkin juga tidak sama sekali.
Ibu saya adalah generasi keempat dari saudagar kaya-raya Pak Narto, tapi sebagaimana Pak Narto sendiri, di bawahnya hampir mengalami nasib yang sama. Ketika mereka sudah menua dan usianya mencapai 70-an, perusahaan milik keluarga kami (PT Bajatama) mulai membaik, dan bersamaan dengan itu datanglah ajal kematian menjemput mereka.
Semoga hal ini tidak berlanjut pada nasib ibu saya di kemudian hari. Demikian pula Ibu berharap agar saya pun tidak mengalami nasib yang sama dengan mereka semua.
Barangkali itulah yang membuat saya dimasukkan ke sekolah unggulan berasrama (boarding school) yang harga pendaftarannya mencapai ratusan juta rupiah. Banyak anak-anak tentara yang mengabdi pada rezim Orde Baru disekolahkan di sana. Konsekuensinya, sebagian dari mereka menjadi teman-teman dekat saya, bahkan beberapa menjadi sahabat karib dalam satu asrama.
Terpampang jelas pada tulisan di pintu gerbang “The International Boarding School” yang konon lebih mengedepankan prestasi, bakat dan keunikan siswa. Konon, sejumlah alumninya banyak yang sudah terkenal luas, hingga menembus mancanegara.
Kami menekuni bidang yang berbeda-beda. Bahkan, seminggu dua kali kami menjalani praktek lapangan sesuai hobi dan kesenangan masing-masing. Ada yang suka melukis, bermain musik, tata boga hingga penataan busana dan rias pengantin. Di kelas saya, ada Poppy yang merasa dirinya tampil paling cantik dan menarik. Ada Tomi dan Ocit yang terus-terusan bertengkar dengan Lusi di sepanjang jam pelajaran.
Bu Guru Indah menyuruh saya dan Tomi agar berpindah duduk di sebelah siswi bermata sipit keturunan Cina, yang sulit mengeja namanya sendiri. Orang satu ini sepertinya berkemauan keras, egois, namun ia tak pernah menceritakan apa kemauannya.
Ia akan mudah menjotos jidat Anda karena suatu urusan sepele, meskipun ia juga menggelengkan kepalanya ketika Bu Guru menanyakan apakah ia ingin menjadi petinju ataukah pegulat. Ia hanya memejam-mejamkan pelupuk matanya ketika ditanya. Dan barangkali hal itu menunjukkan keunggulan tersendiri lantaran sulit ditebak apa yang menjadi cita-citanya.
Ada juga murid perlente yang konon keturunan habib, dan karenanya masih ada garis dari anak-cucu Rasulullah melalui jalur Hasan bin Fatimah. Namun, ia memiliki hobi memanjat tembok sekolah yang berdekatan dengan pohon mangga milik tetangga. Ia menyatakan dirinya lebih menyukai buah mangga ketimbang kurma yang sering dikirimkan orang tuanya.
Baginya, buah kurma terlampau manis seperti madu, dan sepantasnya menjadi santapan semut atau lebah yang biasanya hinggap menghisap saripati bunga.
Berbeda dengan Haruka keturunan Jepang di sebelahnya, yang pernah menjalani tarnsplantasi tulang pipi. Dia anak seorang manajer perusahaan Jepang yang kaya-raya, namun entah kenapa, dia sering mengakui dirinya ingin bunuh diri lantaran membenci semua laki-laki di muka bumi ini.
Dari semua kelas di sekolah kami, justru kelas kami-lah yang dinyatakan paling berprestasi. Kecuali saya dan Rudy yang pernah membunuh kucing piaraan milik anak Pak RT tetangga sekolah sebelah kiri. Saat itu, kami mencoba mempraktekkan racun tikus yang dicampur dengan sarden yang kami beli dari Alfamey. Kucing belang itu tidak langsung mati, ia sempat berlarian dan kehilangan keseimbangan.
Ketika kucing itu mnghembuskan nafasnya yang terakhir, justru Rudy telah mencuri ponsel milik Bu Guru Indah, dan mencoba mengabadikan nyawa kucing yang akan keluar dari tubuhnya. Meski pada akhirnya, hanya nihil dan sia-sia, karena yang dapat tertangkap kamera hanyalah suara kucing yang mengorok dan mengeluarkan busa dari mulutnya.
Ketika kami sepakat membuang mayat kucing itu di ruang laboratorium tempat anak-anak kelas 9 melakukan praktikum kimia, akhirnya penasihat dewan pedagogi menjelaskan kepada orang tua kami, bahwa saya dan Rudy terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah.
Ibu kembali membawa saya pulang sambil menyetir mobil dengan mulut membisu. Suatu perjalanan panjang yang menjengkelkan, karena ia diam seribu basa. Tak pernah mau mengeluarkan suaranya ketika saya tanyakan ke sekolah unggulan mana lagi saya harus melanjutkan pendidikan.
Sesaat kemudian, setelah mobil diparkir di garasi seraya membanting pintunya keras-keras, dengan muka merah Ibu memutuskan bahwa sekolah di pesantren jauh lebih baik buat saya.
“Kenapa harus di pesantren?” tanya saya terkesiap.
Ia tidak menjawab, matanya seolah memberi isyarat mengerikan, jika terjadi apa-apa yang menimpa dirinya dikarenakan ulah perbuatan saya sebagai anaknya.
Sambil menghempaskan punggungnya di sofa, ia hanya bercerita bahwa mantan suaminya (ayah saya) dulu pernah menembaki seekor kucing dan dua ekor anjing yang berkeliaran dengan senapan pemburu. Konon, ia bercita-cita menjadi pemain bola yang handal, sehingga binatang apapun yang berkeliaran dianggapnya sampah-sampah yang harus dibersihkan dari lapangan bola.
Salah satu peluru senapan menembus tengkuk seorang pemulung yang membuat Ayah harus mendekam di penjara, justru pada hari ketika ia akan dilantik sebagai penerus tongkat estafet sebagai direktur utama di perusahaan PT Bajatama, milik almarhum kakek saya. (*)
Oleh: Supadilah Iskandar
Penulis adalah Pengamat dan peminat sastra milenial, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online.







