Di saat dunia hiburan ketar-ketir dan banyak yang mengalami gulung-tikar, kini utang-utangmu semakin menumpuk dan urusanmu semakin menimbun. Seharian kamu mengurung diri di kamar, tanpa mau menyahut ketika pembantumu memanggil, lalu ibumu berteriak-teriak dari luar bahwa tidak pantas orang terkenal yang gambarnya sering tampil di layar teve, bersikap kayak anak bocah seperti itu.
Ayahmu tak henti-hentinya ngedumel dan menggerutu, lalu memaksamu agar cepat-cepat keluar, hingga kamu menghujaninya dengan sumpah-serapah, serta mengancamnya untuk mengambil kembali Avanza yang telah kamu beli sebagai hadiah ulang tahunnya setahun yang lalu.
Kini kamu sedang duduk di sofa empuk yang dihiasi karpet putih yang tebal, sementara ibumu keluar dari kamar sambil ngeloyor ke dapur, dan dengan mengepakkan majalah di tangan, lalu dengan sengit dan nyinyir mengatakan bahwa tahun-tahun ketenaran dan kepopuleran sudah berlalu. “Sekarang tak ada lagi yang bisa diandalkan! Segalanya sudah berakhir!”
Semua stasiun teve menampilkan acara yang monoton dan statis. Ibumu mengatakan bahwa acara talkshow sudah ditiadakan, tetapi ayahmu masih berusaha menenangkan agar jangan khawatir. Bulan depan kamu masih bisa merilis album dangdutmu yang terakhir, yang telah diiklankan oleh beberapa siaran teve akhir-akhir ini.
Ibumu mencak-mencak lagi, bahwa album itu tidak bakal laku di pasaran, karena kamu tak pernah mau nurut sama orang tua, sambil tangan di pinggang mengatakan bahwa doa-doa ibumu sangat manjur dan mujarab. “Salah sendiri enggak mau dengar omongan orang tua!” demikian ia berceloteh. Lalu, kamu membalasnya sebagai orang tua kolot dan dungu, kayak gak pernah makan sekolahan, terus membela diri bahwa segala keruwetan ini akan segera berakhir bertepatan dengan masa pergantian presiden yang dianggap norak dan kampungan itu. Dengan lagak seorang penyair yang mendeklamasikan puisi, kamu memoncongkan mulut di hadapan ibumu, sambil berdalih, “Habis gelap terbitlah terang.”
Tapi nasi sudah menjadi bubur. Demikian ibumu terus menantang. Dajjal akan segera turun dan kiamat sudah di ambang pintu, bahkan mereka akan menjatuhkan bom nuklir di setiap sudut-sudut kota, berbagai racun dan wabah penyakit menular, semua perusahaan gulung-tikar, ribuan orang mati bergelimpangan, rumah-rumah sakit tak sanggup menangani pasien. Lalu, kamu bersikeras membela diri, bahwa semua itu boleh terjadi di mana-mana, asalkan tidak di Jakarta sini.
Ibumu mengamit koran dari tumpukan, lalu menunjukkan bahwa berita perang sudah memenuhi setiap halaman, belum lagi perang dagang yang sengit antara Amerika dan Cina, ribuan anak-anak dan wanita mati di Palestina, terus kamu mengaku muak dan pusing dengan berita-berita semacam itu, lalu untuk apa kita mati-matian meraih prestasi dan menapaki jenjang karir kalau semuanya itu harus berakhir seketika.
Keesokannya, ibu dan ayahmu mendiskusikan cara untuk bertahan hidup, dan mengisi galon-galon dengan air keran untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ayahmu khawatir kalau-kalau PLN akan mengulangi kembali pemadaman listrik. Pasokan semakin menipis, sementara pekerjaanmu di dapur kian menumpuk setelah para pembantu memutuskan berhenti bekerja.
Satu-satunya koneksi ke dunia luar adalah ponsel yang sinyalnya tersendat-sendat. Kadang terputus secara tiba-tiba, lalu kamu mendapatkan siaran teve yang menayangkan musik pop dengan DJ yang masih berteriak lantang bahwa semua ini hanya soal waktu. Ayahmu mencoba mengganti channel lainnya yang menayangkan da’i dan penceramah yang hanya mau tampil dengan bayaran selangit pada acara hari-hari besar keagamaan.
Kamu menyaksikan sendiri kematian dan peperangan di setiap negara, sementara kamu tetap berdalih bahwa Jakarta akan baik-baik saja. Padahal, kamu lihat sendiri partai-partai politik saling bertikai sengit memperebutkan suara di ajang kontestasi pemilu. Kamu hanya akan dibayar bila mau bersusah-payah panas-panasan di panggung pemilu, dengan penonton yang berjubel di sana-sini, jaminan keamanan yang tak jelas, para konstituen yang seenaknya merobohkan panggung yang reot dan didirikan semaunya.
Setidaknya, para pemuda nakal dan urakan mudah saja menyerbu panggung, merangkul dan memeluk artis dangdut kesukaannya, bahkan tidak jarang pendatang baru yang terseok-seok di depan panggung dikerumuni para penggemar, bagaikan memperebutkan kambing guling yang disantap beramai-ramai, atau serupa ikan asin murahan yang dikerubungi lalat.
Ketika listrik padam di malam pertunjukan itu, panitia seenaknya memutus kontrak kerjasama dan membatalkan pembayaran, lalu matamu sembab dipenuhi dengan tangisan frustasi. Ponselmu masih memiliki baterai untuk mengontak sana-sini, tapi semuanya itu tidak bertahan lama, hingga kamu uring-uringan di kamar, mencak-mencak seharian sambil mengutuk segala omong kosong itu. Ayahmu berusaha menenangkan lagi, lantas mengingatkan bahwa orang sabar itu disayang Tuhan, tetapi kamu meneriakinya agar diam jangan banyak cingcong, karena kesabaran itu ada batasnya.
Berita di teve menyiarkan kembali bahwa harga BBM naik, dan dengan sendirinya harga kebutuhan pokok juga akan melambung tinggi. Kiriman paket COD datang, sementara dompetmu kosong hingga lagi-lagi ayahmu yang menalanginya. Siaran di layar teve mengabarkan sekali lagi, bahwa akan ada pemadaman listrik secara bergiliran di separuh wilayah ibukota Jakarta.
Pagi harinya, ayahmu keluar kamar sambil mengabarkan bahwa ibumu sakit, dan dia sendiri merasa kurang sehat. Kamu menyuruh pembantumu yang masih bertahan agar segera membelikan obat di apotik, meski dalam hati merasa takut membayangkan kemungkinan mereka akan mati, lalu meninggalkanmu sendirian. Siangnya, kamu duduk-duduk menghadap jendela kamar, mendengar beberapa pemuda berteriak sengak di depan jalan, lalu kamu melongok ke halaman rumah untuk memastikan tidak ada properti yang mengalami kerusakan, juga pagar depan terlihat masih utuh.
Kini, ekor matamu mendelik ke arah bupet kaca, lalu memutuskan untuk memindahkan beberapa piala yang pernah diberikan gubernur dalam ajang penghargaan penyanyi dangdut tingkat provinsi, serta beberapa cenderamata berharga menuju lantai atas, kemudian merapikannya di atas lemari kamar, agar kamu bisa sering memandanginya dari tempat tidur, serta meyakinkan dirimu bahwa kamu adalah artis pendatang baru terkenal, dan punya prospek baik di masa depan, serta akan segera menaiki tangga-tangga kesuksesan secara gilang gemilang.
Esok harinya, kamu akan manggung lagi atas undangan suatu partai politik, menirukan gaya Dewi Persik atau Ayu Tingting. Namun, pagi ini ayahmu memanggilmu dengan suara serak di ruang depan. Dia kelihatan sakit dan suaranya tersendat-sendat karena radang paru-paru. Kamu marah padanya karena dia lupa minum obat sejak kemarin lusa. Kamu tidak ingin dia muntah lagi di karpet. Suara ayahmu kini terdengar jauh dan semakin jauh.
Kamu segera mengontak sopir agar membawanya ke rumah sakit, lalu kamu harus segera berdandan menor karena malam harinya harus ada di acara Tonight Show, dan tampil mempesona seperti biasanya. Besok, wajahmu akan terpampang lagi di media-media cetak dan daring. Dengan penuh percaya diri, kamu terus menaiki tangga-tangga kesuksesan yang bersifat semu dan fatamorgana belaka. ***
Oleh: Niluh Pujiah Lestari
Pegiat organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa, penulis prosa dan esai di berbagai media nasional cetak dan online.







