Nyi Hindun sedang duduk di samping jendela rumah megahnya yang bercat hijau tua. Ia duduk di kursi rotan berlapis busa yang dijadikan alas, sambil menikmati pisang goreng dan kopi susu pada cangkir bermotif bunga-bunga. Di luar jendela anak-anak SD tampak sedang berlarian sambil bermain lompat-lompatan dengan karet yang disusun sebagai mata rantai yang panjang. Dia menatap tajam anak-anak yang sedang bermain di taman seberang jalan. Semula ia menduga para guru SD menahan anak-anak agar jangan bermain di luar pagar halaman sekolah, karena serangkaian peristiwa kematian beruntun di komplek perumahan tempatnya tinggal.
Pihak polisi sudah menyimpulkan bahwa sebagian besar peristiwa kematian disebabkan kecelakaan, serangan jantung, meskipun ada juga kematian yang disebabkan kasus bunuh diri. Tetapi pagi itu, Nyi Hindun merasa senang para warga komplek menganggap biasa saja dengan kasus-kasus kematian itu, serta tidak mengambil tindakan pencegahan ekstra demi keselamatan anak-anak mereka. Jadi, anak-anak seumuran SD tetap diperbolehkan untuk pergi dan kembali ke rumahnya sesuka hati.
Ia melirik ke arah jam dinding menunjukkan pukul 09.00, berarti waktunya anak-anak SD menjalani istirahat pertama. Ada udara yang bergerak tenang dan senyap di sekelilingnya. Bau wewangian tercium menyengat dari salah satu kamar tengah yang tak pernah ditempati. Perlahan dia menghirup kopi susu sambil menikmati sepotong pisang goreng di tangan kirinya.
Suara detak jam terdengar jelas memenuhi ruangan luas yang bergaya ornamen kumpeni di zaman Hindia Belanda itu. Dia bisa merasakan setiap menit di usia senjanya yang telah mencapai delapan puluh tahun lebih. Kulitnya yang dulu kencang dan sawo matang, kini telah berkerut dengan wajah yang sudah berkeriput. Pipi dan bibirnya yang dulu montok, sekarang hanya berupa garis-garis coklat muda, pucat dan tak berbentuk. Rambutnya yang dulu panjang dan mengkilat, sekarang hanya putih dan abu-abu yang disematkan dalam sanggul berwarna suram. Sorot matanya masih terbilang tajam, namun disertai warna kusam dan keriput.
Jam 09.30 anak-anak sekolah berlarian menuju kelas masing-masing, bagaikan kerumunan semut yang menggeremet memperebutkan gula yang disodorkan di hadapan mereka. Begitu jarum jam menunjukkan hampir di angka sepuluh, tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu di teras samping kiri rumahnya. Tak habis pikir, siapakah gerangan yang berkunjung ke rumah di waktu menjelang siang ini. Sebab, biasanya hanya adik perempuannya yang suka mengetuk pintu samping. Tetapi, sejak tahun lalu adiknya itu meninggal, tak pernah ada lagi orang yang mengetuk pintu samping kecuali hari ini.
Dengan menggunakan tongkat rotan, ia berjalan melintasi lantai dari kayu jati, lalu berikutnya lantai dari kayu mahoni, sebelum akhirnya mencapai pintu samping. Dia mengambil kunci pintu yang tergantung lalu membukanya dengan rasa jengkel.
Tampaknya anak tetangga berusia sekitar sebelas tahun, sedang berdiri sambil menatapnya dengan tajam. “Apa kabar, Nek?” sapa bocah lelaki itu.
Nyi Hindun terheran-heran sambil mengerutkan keningnya, lalu jawabnya pelan dan serak, “Baik, ada apa, Nak?”
“Boleh kan, saya masuk ke dalam?”
Belum sempat dibalas, bocah kecil itu tiba-tiba nyelonong masuk melewati Nyi Hindun, melihat-lihat ruang tengah yang luas, lalu menuju dapur dan mengambil posisi duduk.
“Kenapa kamu enggak sekolah, Nak?” tanya Nyi Hindun mendekati bocah itu.
Sambil memalingkan mukanya, dia berkilah, “Ah, sekolah itu membosankan, Nek, cuma begitu-begitu aja…”
“Kok, begitu-begitu aja? Tapi, kamu kan bisa belajar di sekolah?”
“Belajar apaan? Paling-paling berantem,” katanya tak acuh.
Nyi Hindun mengamati ekspresi anak itu erat-erat, lalu kembali bertanya ketus, “He, kenapa kamu tidak datang lewat pintu depan, Nak?” Nyi Hindun seketika menutup dan mengunci pintu, lalu mengantongi kuncinya.
“Emang kenapa kalau saya enggak masuk dari pintu depan?” Dia mengamati ruangan besar di dalam rumah itu, lalu katanya heran, “Rumah ini besar sekali… apakah selama ini Nenek tinggal sendirian di sini?”
Anak itu melirik ke arah Nenek yang sedang mempersiapkan toples kecil berisi permen-permen cokelat yang diambil dari kotak meja.
“Kalau tahun lalu, Nenek masih tinggal sama adik Nenek di rumah ini.”
“Tapi dia sudah meninggal, kan?”
“Ya, benar. Nenek merasa kesepian setelah dia meninggal,” katanya dengan tatapan mendelik.
“Kenapa adik perempuan Nenek meninggal?” anak itu kembali bertanya.
“Dia jatuh di kamar mandi, “ Nyi Hindun menghirup kopi susunya dengan lambat. “Kalau orang seumuran Nenek jatuh, akibatnya sangat membahayakan, kamu ngerti, kan?”
Komentar seperti ini biasanya mengundang rasa empati, namun tidak demikian dengan bocah ini. Dia menganggapnya aneh. Nyi Hindun meraih kursi, lalu duduk. “Oya, siapa namamu, Sayang?” dia bertanya dengan suara yang paling lembut.
“Nama saya Rido… ah, saya kira Nenek tahu nama semua anak di sekitar komplek…”
Nyi Hindun agak tersenyum dengan tatapan menerawang. “Kamu bilang tadi kalau sekolah itu membosankan, lalu apa jadinya kalau kamu tidak mau sekolah?”
“Saya bisa belajar dari mana saja, Nek. Bisa dari rumah, dari pasar, dari tetangga seperti Nenek Hindun ini… iya, kan?”
“Ya, itu benar, Sayang, di mana-mana anak pintar sepertimu bisa belajar,” suaranya agak menggumam.
“Saya juga banyak belajar dari adik Nenek yang meninggal… namanya Ibu Ratih, kan?”
Nyi Hindun agak tersentak, “Apa yang kamu pelajari dari Ibu Ratih, Nak?”
“Dia banyak mengobrol dengan ibu saya, bahkan beberapa hari sebelum beliau meninggal.”
“Mengobrol apa, Nak?” katanya curiga sambil menggeser posisi duduknya.
Rido kembali melihat sekeliling ruangan. Ia melihat beberapa patung dari tokoh perwayangan di beberapa sudut ruangan. Bau wewangian terhirup di hidungnya. Terlihat ada dua kamar yang tertutup rapat. Di depan pintu dari kamar sebelah kiri, terdapat bupet dari kayu jati yang di atasnya dilapisi cermin yang tertutup kain hitam. “Apakah Nenek tidur di kamar itu?” tangan Rido menunjuk ke arah pintu kamar.
Nyi Hindun terkesiap kaget. Ia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Rido mengulangi pertanyaannya, hingga dijawab singkat, “Itu kamar khusus. Nenek tidur di kamar sebelahnya.”
Pandangan Rido tidak berpaling dari kamar tersebut. Ia menebak bau wewangian seakan bersumber dari kamar khusus itu.
“Apakah kamu masuk ke rumah Nenek, karena disuruh ibumu?”
“Sama sekali tidak. Ibu bilang, sebaiknya saya enggak mengganggu orang tua seperti Nenek.”
“Oh, sama sekali enggak mengganggu… kamu enggak mengganggu Nenek, Sayang.”
Nyi Hindun tersenyum pada anak itu, tetapi ekspresi anak itu tetap kosong, dengan dahinya yang mengernyit.
“Nenek tahu enggak, semua orang di komplek perumahan ini mengira Nyi Hindun ini nenek tua yang lemah, sakit-sakitan… dan juga baik hati…”
“Maksudnya?”
“Ya, orang-orang mengira Nenek ini perempuan tua yang baik hati… tetapi belum tentu saya punya pendapat yang sama dengan mereka…”
“Apa maksudnya, Rido… Nenek enggak ngerti.”
Dia memandangi patung di sebelah bupet yang dilapisi kain hitam itu. Tak berapa lama, seekor kucing hitam berjalan mendekat sambil menggosok-gosokkan punggungnya di kaki kursi yang diduduki Rido. Seketika ia memalingkan pandangannya ke arah kucing.
“Apakah kucing hitam itu piaraan Nenek?”
“Ya, sejak masih kecil Nenek yang mengasuh.”
“Kok saya tak pernah melihat kucing itu main di luar rumah?”
“Paling jauh dia main di pekarangan belakang, di sekitar rerimbunan pohon itu,” ia menunjuk ke halaman belakang. “Oya, apakah kamu mau permen cokelat ini, Nak?” ia mulai membuka satu permen cokelat dari toples.
“Nenek taruh saja permen itu di atas meja, nanti saya yang membukanya. Biasanya Ibu membuatkan susu putih, lalu setelah menaruhnya di meja, saya mencelupkan permen cokelat di dalam gelas.”
Seketika Nyi Hindun mengambil satu gelas dari rak, lalu menyeduhkan susu putih dan menyodorkannya ke hadapan Rido. Ia mengamati kemasan cokelat, sambil katanya lirih, “Saya kurang suka permen seperti ini,” cetusnya sambil melangkah menuju jendela, melihat anak-anak sepantarannya tengah bermain, sehingga menghalangi pandangan Nyi Hindun.
“Kalau begitu, Nenek mau ambilkan agar-agar,” ia melangkah menuju kulkas, seraya mengambil agar jelly dari sudut rak bawah dari dalam kulkas tersebut.
Rido terus saja mengamati gerak-gerik Nyi Hindun, “Saya kira Nenek ini bukan orang baik-baik. Saya baru kali ini melihat-lihat ruangan dalam rumah Nenek, sepertinya rumah Nenek ini tak beda jauh dengan rumah orang yang melakukan pesugihan di Gunung Kawi.”
Nyi Hindun tersentak kaget, meski berusaha cepat mengendalikan diri. Dia tak habis pikir, bagaimana cara menghadapi anak yang responnya tampak kasar ini. Dia berbalik untuk melihat ke arah jendela dengan tatapan tajam. Sepertinya ia khawatir ada orang yang menguping percakapan mereka.
Dalam pandangan orang biasa, anak ini akan tampak normal dan tak perlu dikhawatirkan. Paling-paling ia dianggap anak nakal, yang selalu membolos di sekolah. Tetapi Nyi Hindun bisa membaca perbedaannya. Dia juga bisa menebak gelagat bocah yang mencurigakan ini.
“Bagaimana dengan cokelat spesial ini, Rido?” Nyi Hindun menawarkan batangan cokelat seukuran jempol tangan dewasa. Dia membuka cokelat unik itu dari kemasan berwarna kuning keemasan. “Lihat, ini pasti cokelat khusus yang rasanya lebih enak dari Silver Queen.”
“Ibu sering menawarkan Silver Queen di Indomart dan saya suka sekali. Tetapi, cokelat ini sama sekali saya tidak kenal, Nek.”
Cokelat yang terbuka itu tampak menyala. Dia mengulurkan tangannya pada Rido dan terkejut ketika anak itu berjalan cepat untuk mengambilnya. Rido memotong cokelat itu menjadi dua, lalu mencelupkan sepotong pada susu putih yang tinggal setengah gelas lagi.
Nyi Hindun tersenyum dan semakin terkendali sekarang. Ia bicara lebih halus, lebih serak, dan lebih rendah, hampir menyerupai geraman. Tiba-tiba ia terdiam lalu duduk tegak. Dia meletakkan satu tangan di dadanya sambil memasang ekspresi serius. Ia melangkah menuju jendela, menatap lama keluar, lalu balik ke arah meja sambil memerintahkan anak itu agar menghabiskan susunya.
“Tapi, minuman Nenek juga belum habis?”
“Oo iya, mungkin sudah agak dingin.” Ia mengamit gelas lalu meneguk minumannya sekali lagi.
Rido memelototi Nyi Hindun sambil berdiri mematung. Salah satu tangannya mengepal di samping, kemudian setelah beberapa saat, sikapnya santai. Dia berdiri tegak, dan merapikan kerah bajunya yang agak terlipat. Rido bangkit dari kursinya, melangkah ke arah jendela dan bergumam, “Saya kira benar, apa yang dikatakan adik perempuan Nenek pada ibu saya beberapa hari sebelum dia meninggal…”
“Apa yang dikatakan adik Nenek pada ibumu, Nak?”
“Katanya, Nenek sering mengunjungi Gunung Kawi untuk melakukan konsultasi pada kuncen-kuncen di sana…”
“Kata siapa?” Nyi Hindun terbelalak kaget.
“Katanya lagi, tiap malam Jumat Kliwon Nenek semalaman menyendiri di kamar khusus dan tak boleh ada yang mengganggu. Kadang Nenek bicara sendirian di depan cermin yang dilapisi kain hitam itu setelah membakar dupa dan kemenyan di setiap sudut-sudut ruangan.”
Rido meletakkan tangan di balik punggung dan menunggu reaksi Nyi Hindun.
“Benarkah adik Nenek bilang begitu?”
‘Iya, makanya saya percaya ketika ada warga komplek mengatakan, di wajah Nenek tersirat adanya energi siluman…”
“Hmm, energi siluman. Dari mana kamu bisa melihatnya?”
“Dari gerak-gerik Nenek, dari sorot matanya… juga dari bayangan nyawa di sekitar tubuh Nenek…”
“Bayangan nyawa?”
Kalimat itu lebih seperti sebuah pernyataan daripada pertanyaan, lalu sambung Rido lagi, “Saya mengawasi Nenek selama beberapa minggu ini dari jendela yang terbuka di dapur itu. Apakah Nenek ingat kejadian kemarin malam, saat Nenek bicara sendirian di depan cermin yang dilapisi kain hitam itu?”
Rido merentangkan tangan melintasi gorden tanpa menyentuhnya. Dia menyeringai untuk ke sekian kalinya. Nyi Hindun tidak berkata apa-apa, dan hanya terus memerhatikannya.
“Saya bukannya memata-matai Nenek. Saya hanya sedang bermain-main di pekarangan rumah, lalu mendengar suara-suara aneh seperti orang berbisik membaca mantra, lalu mencium bau wangi dari rumah Nenek, lalu melihat dari pintu belakang ketika Nenek menyingkap kain hitam yang menutupi cermin itu. Sepertinya Nenek sedang bicara dengan seseorang atau suatu makhluk, entah dia berada di Gunung Kawi, Gunung Lawu, Gunung Kemukus, ataukah Gunung Karang di daerah Banten.”
Nyi Hindun tak bergeming, Rido melanjutkan dengan antusias: “Lalu Nenek memberi makan kucing hitam piaraan Nenek, membakar dupa dan kemenyan lalu menaruhnya di sekeliling ruangan, sambil tangan menadah ke atas seperti perempuan tua yang menari-nari tanpa alas kaki, dengan hanya memakai daster yang kotor dan kumal…”
Rido bangkit dari duduknya, menari-nari di atas lantai menirukan gaya Nenek, lalu katanya lagi, “Seperti kebanyakan kabar yang disiarkan teve dan media sosial, tampaknya Nenek ini sedang mengamalkan lelaku pesugihan dengan menumbalkan orang-orang yang dibenci, iya kan, Nek?”
Nyi Hindun melotot tajam, ia menggeser posisi duduknya sambil menghela nafas dalam-dalam. Rido tertawa keras seraya meneruskan: “Menurut cerita banyak orang, pesugihan tumbal orang yang dibenci biasanya dilakukan dengan cara berteman dengan bangsa jin yang diajak bekerjasama dengan si pelaku pesugihan. Jin itu selalu diajak bicara sambil bisik-bisik, karena dia memiliki kemampuan mengabulkan permintaan si pelaku, seperti memberikan uang, jabatan, wanita yang disukai, bahkan kekuasaan. Konon kata ibu saya, pelaku pesugihan biasanya membuat perjanjian khusus dengan jin tersebut, semacam kontrak tertulis atau lisan yang mengikat kedua belah pihak. Jadi, yang mau saya tanyakan, benarkah Nyi Hindun pernah melakukan itu, hingga saudara-kerabat Nenek satu-persatu telah meninggal dunia?”
Nyi Hindun menatap tajam pada Rido. Tangannya mencengkeram pegangan kursi dan rahangnya seakan mengatup rapat. Ia tetap terdiam, ketika Rido angkat bicara: “Sepertinya Nenek merencanakan beberapa tetangga juga harus menjadi tumbal pesugihan, termasuk ibu saya. Padahal, Nenek tidak tahu sama sekali, siapakah ibu saya itu? Siapakah leluhur beliau? Sekarang saya mau kasih tahu, bahwa ibu saya itu adalah cicit dari seorang kiai besar di daerah Cilegon Banten, yang memiliki garis keturunan dari Sultan Gunung Jati, Cirebon. Berarti masih dalam satu garis leluhur dengan ahlul bait keluarga Nabi Besar Muhammad.”
Rido menoleh untuk melihat apakah ada reaksi dari Nyi Hindun. Ia menopang dagunya dengan sikap dramatis, seakan ia menikmati akting yang ditirukannya dari nenek tua itu. Rido merasa tenggorokannya agak kering, lalu ketika ia bersiap-siap mengambil cangkir susu, tiba-tiba kucing hitam melompat di atas meja, dan seketika menumpahkan minuman hingga tumpah berantakan.
Nyi Hindun terkesiap, segera mengambil lap pel, sambil memukulkan gagangnya ke arah kucing yang berlarian menuju pekarangan belakang rumah.
Setelah mengelap lantai, Nyi Hindun menunggu sampai Rodi selesai bicara. “Satu hal lagi yang membuat saya membedakan Nenek dengan adik perempuan yang telah Nenek tumbalkan itu…”
“Apa itu?”
“Sekarang dia sudah berada di surga dan mendapat ampunan Tuhan, sedangkan Nenek meskipun panjang umurnya, namun Tuhan telah mengharamkan surga bagi orang seperti Nenek…”
“Apa sebabnya? Bukankah semua orang akan dimaafkan Tuhan?”
“Bagi yang berbuat dosa dan meminta maaf, akan diampuni oleh Tuhan, tetapi kata ibu saya, pelaku pesugihan itu bukan saja melakukan dosa, tetapi dosa besar dan kemusyrikan telah menjadi bagian dari hidupnya… Nenek tidak hanya berbohong tetapi kebohongan telah menjadi bagian dari hidup Nenek… itulah yang membuat Tuhan murka hingga hari pembalasan nanti…”
“Cukup, cukup! Saya pusing mendengarnya!”
Mata Nyi Hindun melotot tajam. Ia mengamit gelas dan menghabiskan minuman seperti orang kehausan, sambil terus menatap Rido tanpa berkedip.
“He, bocah ingusan… tadi kamu masih memegang cokelat setengah potong lagi, apakah cokelat itu sudah dimakan?”
“Enggak, Nek,” katanya menggeleng, “Saya sudah mencelupkan ke minuman Nenek.”
“Apa? Kenapa kau lakukan itu, Anak Brengsek!!” tiba-tiba dia berteriak histeris.
Rido kaget melangkah mundur dari kursinya, seraya membela diri, “Biasanya ibu saya juga memasukkan cokelat ke dalam minuman susunya, emang kenapa, Nek?”
“Sekarang kamu harus makan agar-agar di piring itu! Cepat!!” ancamnya bengis.
Rido merasa takut sambil melompat dan menghindari meja. Ia terperangah menatap mata Nyi Hindun yang murka dengan wajah pucat ketakutan.
Rido melangkah pelan mendekati pintu keluar, sambil menyaksikan kematian Nyi Hindun dengan nafas tersengal-sengal. Tepat Pk. 11.30 ketika matahari mulai meninggi, sang pelaku pesugihan itu mati dengan mata terbelalak, tangan mencengkeram kursi dengan mulut menganga. Batuknya semakin keras dan panjang, hingga tinggal berupa suara bisikan terengah-engah. ***
Oleh: Hafis Azhari
(Peneliti historical memory, penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten)






