Menjelang Penembakan Presiden

oleh -231 Dilihat
banner 468x60

DENGAN kawalan ketat dari CIA, setelah turun dari pesawat di bandara Baltimore (Maryland), Allen Cole dipaksa masuk ke dalam mobil berwarna hitam. Ia duduk di kursi belakang, diapit oleh dua orang agen intelijen. Mereka melaju kencang di atas aspal yang basah oleh hujan salju sejak tadi pagi. Suasana hening dan senyap, tak seorang pun bicara. Allen menengok kiri dan kanan, lalu katanya heran, “Mau dibawa ke mana lagi saya?”

Mereka telah menjadwalkan semuanya untuk pemuda 31 tahun dari Los Angeles itu. Tiga orang intelijen itu memakai jas lengkap dengan dasi dan kacamata hitam. Salah seorang dari mereka mengenakan topi bertuliskan “Make America Great Again”, sementara Allen hanya mengenakan kaos dan celana, dengan sepatu sport berwarna putih.

“Pak Sopir,” kata Allen, “sepertinya kita mengarah ke Washington DC, ada apa ini?”

Sopir itu tak menjawab. Ketiga intelijen itu saling mendelik, kemudian tetap menatap lurus ke depan.

“Pak, tolong kasih tahu Sopir sepertinya kita menuju ke Washington DC?”

“Ya, memang kita mau ke sana,” bisik intelijen yang duduk di sebelah Allen.

“Turunkan saya di sini… saya harus kembali, karena sore ini mau mengajar anak-anak.”

“Nanti mereka diberitahu, kalau hari ini diliburkan. Tenang saja.”

“Tapi mau ke mana kita?”

Ketiga intelijen itu diam kembali. Mobil terus meluncur ke arah selatan. Di luar hujan salju mulai turun lagi. Sopir menyalakan penyeka kaca mobil.

“Apa-apaan ini? Kenapa saya dibawa ke tempat ini?” kata Allen, setengah berteriak.

Seorang intelijen yang duduk di samping Sopir menatap keluar jendela, “Tampaknya sudah seminggu ini hujan salju tak henti-henti. Bikin kepala pening saja. Saya kira hari ini cuaca cerah, ternyata salju masih turun juga.”

“Mau dibawa ke mana saya?” kata Allen sekali lagi, “ah, kalian ini bercanda atau apa?”

“Kita sedang serius. Sangat serius.”

“Tapi, mau dibawa ke mana saya?”

“Coba diam, atau saya sumpal mulutmu pakai sepatu ini?!” kata seorang yang duduk di samping Sopir.

Mobil itu terus melaju selama setengah jam. Angin berhembus kencang, hujan salju masih turun ketika mobil memasuki kota Washington DC. Mereka kembali mengenakan kacamata hitamnya. Tiba-tiba mobil berbelok ke area parkir sebuah hotel. Tampaknya, Allen dibawa masuk menuju ruangan besar di Ballroom Hilton. Di sana terdapat meja bundar yang dipersiapkan untuk ratusan undangan yang akan hadir. Pada tiap meja akan diisi oleh sepuluh orang. Penyelenggara acara adalah pengurus persatuan wartawan Gedung Putih.

Untuk acara kali ini, pengurus menyediakan beberapa meja di bagian depan untuk para wartawan dari media-media terkenal seperti New York Times, BBC, CNN, hingga Fox News dan lain-lain. Seperti biasa, pengusaha media mengundang relasi mereka untuk mengisi meja-meja utama. Dengan bangga, Presiden Amerika menyatakan dirinya akan hadir, seakan tidak menyadari problem yang sedang dihadapi pemerintah akhir-akhir ini.

Acara makan malam bersama para wartawan, selalu menarik bagi semua kalangan. Presiden dijadwalkan menjadi pembicara, yang akan disela oleh beberapa acara, dan yang terpenting adalah lawakan politik dari para komika terkemuka. Tetapi, sebelum para tamu berdatangan, serombongan agen CIA memutuskan untuk menyekap Allen Cole terlebih dahulu di ruangan khusus.

***

Satu jam kemudian para undangan hadir dan mengisi tempat duduk masing-masing. Susana Ballroom begitu riuh-rendah dengan beragam canda-tawa dari para tamu undangan. Pada beberapa meja di bagian depan sudah diisi kalangan wartawan yang siap mengadakan konferensi pers bersama Presiden seusai acara makan malam. Sebagian besar wartawan tak percaya kalau Presiden cukup punya nyali untuk menghadiri acara tersebut. Sebab, dalam sepanjang sejarah kepresidenan, Trump selalu menolak untuk hadir, apalagi sampai berhadap-hadapan langsung dengan komunitas wartawan.

Tetapi kali ini, dugaan mereka meleset. Sebab, Presiden dan istrinya sudah melangkah dari tempat parkir untuk segera mengisi tempat duduk pada jamuan meja makan yang telah disediakan. Kontan, sebagian wartawan terperanjat kaget. “Bagaimana mungkin dia berani hadir di acara yang dia benci?” bisik sesama wartawan.

Mereka mengangkat bahu, tidak mengerti. Memang, baru kali ini Presiden Trump mau hadir di acara tahunan bersama para wartawan senior. Sampai kemudian, beberapa menit acara siap dimulai, tiba-tiba terdengar suara tembakan di ambang pintu masuk. Puluhan orang gegana dari tim anti teror tiba-tiba muncul dan menyusup masuk, dan seketika menggantikan posisi para ajudan presiden. “Keadaan dalam bahaya! Keadaan dalam bahaya!!” teriak salah seorang dari mereka.

“Segera amankan Presiden… amankan Pak Presiden!!”

Para tamu VIP segera menunduk di bawah meja. Para wartawan terheran-heran dengan suara tembakan di luar. Ada apa gerangan dengan bunyi tembakan itu? Akal-akalan siapa lagi ini? Dan kenapa presiden dan istrinya dikawal agar segera keluar ruangan? Kenapa pula acara konferensi pers harus dibatalkan?

Padahal, dalam acara sepenting itu, biasanya ketika komika tampil di depan podium, dengan entengnya mereka mengolok-olok para tokoh politik, termasuk presiden sekalipun. Hampir semua presiden hadir di acara tahunan seperti itu. Tokoh politik yang punya selera humor justru sangat menyukai acara-acara semacam itu, termasuk Presiden Barack Obama hingga Bill Clinton.

Tetapi, mungkinkah presiden pemabuk yang senewen siap digoreng habis-habisan di acara malam itu? Mungkinkah presiden yang telah membuat hancur perekonomian Amerika, akibat dukungan kepada Isreal untuk menyerang Iran; bahkan belum lagi kelar tuduhan perdagangan seks anak-anak, yang membuatnya bakal kelimpungan menghadapi pertanyaan-pertanyaan cerdas dari para wartawan? Siapa yang berada di balik perintah agar Presiden mau menghadiri acara brengsek tersebut?

Siapa pula yang berkhianat dan akan membuat rusak citra Amerika di mata dunia? Bukankah Trump sudah sepakat dengan moto dan panca jiwa negara, agar membuat Amerika jaya wijaya seperti era 1970 hingga 1990-an?

Begitu banyak pertanyaan kenapa dan mengapa berseliweran di kepala para elit global yang mendukung Zionisme, yang dikira mampu menghimpun kekayaan untuk mencapai kesenangan hidup bagi umur tua; yang dikira dapat hidup nyaman dengan menciptakan pulau-pulau hedonis dengan fasilitas mewah; berikut bunker-bunker megah yang telah mereka persiapkan untuk menghadapi hari kiamat?

Dapatkah manusia hidup tenang, dan berkuasa atas kesehatan tubuhnya, bahkan untuk mengontrol nyamuk dan ngengat kecil, yang tiba-tiba menyusup lubang hidung dan telinga, lalu menyengat organ-organ dalam tubuh manusia, seperti yang dialami Raja Namrud di zaman Nabi Ibrahim dulu?

***

Tiga jam kemudian, orang-orang berseragam itu mengapit Presiden menuju bangunan paviliun yang letaknya tak begitu jauh dari Hotel Hilton. Hujan salju sudah mulai reda. Pintu paviliun dibuka, dan mereka dengan cepat menyarankan Presiden agar masuk. Ada tiga orang berseragam militer sudah menunggu di dalam. Satu orang mengenkan topi berlogo “Make America Great Again”. Di pojok kanan ruangan itu, terdapat seorang pemuda sekitar 30-an tahun, duduk dengan kaos lusuh dan tangan terikat di belakang kursi.

Seorang berpakaian militer membisiki telinga Presiden, bahwa itulah pemuda yang sejak lama merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat.

Presiden mengamati wajah lelaki muda itu, kemudian bertanya dengan suaranya yang serak, “Benarkah kau yang melakukan semuanya ini?”

Pemuda itu terdiam dalam waktu yang cukup lama, kemudian ia menggeser duduknya dan balik bertanya, “Melakukan apa?”

Presiden mendekatkan mulutnya, “Benarkah kau yang menembakkan senjata di Ballroom Hilton tadi?”

“Saya diculik dan dibawa ke Hotel Hilton, dan saya sama sekali tak membawa senjata.”

“Oya? Lalu suara tembakan apa di teras hotel tadi?”

“Mana saya tahu?” jawabnya jengkel.

Presiden menatap kedua matanya, seakan menguji kejujurannya.

“Siapa nama Anda?”

“Allen Cole.”

“Dari?”

“Los Angeles.”

Presiden kemudian membiarkan pemuda itu bicara panjang-lebar, bahwa ia kelahiran Torrance, kota industri di tepi Pantai LA, tempat diproduksinya Helicopter Robinson, Honeywell hingga Honda Amerika. Ia juga lulusan perguruan tinggi pada universitas Caltech (California Tenhnology).

Allen tak pernah mau bekerja di perusahaan multinasional, tetapi mengabdikan diri sebagai guru Bimbel, mendidik anak-anak dari wilayah Asia, termasuk Indonesia. Konon, seorang anak menteri dari Jakarta juga ikut mengikuti salah satu cabang Bimbel yang didirikan Allen di daerah Pasadena. Tetapi kemudian, seorang pria berpakaian jas dengan earphone di telinganya, mendekati Presiden sambil berbisik. Pria itu menatap sekilas ke arah Allen, kemudian ngeloyor pergi meninggalkan paviliun.

Presiden berdehem beberapa kali, lalu menggeser kursinya berhadapan dengan Allen, sambil berkata ketus, “Benarkah Anda tidak menyukai saya?”

“Banyak yang tidak menyukai Anda,” kata Allen sambil memalingkan mukanya.

“Kenapa Anda tidak menyukai saya?”

“Saya tidak menyukai gaya kepemimpinan Anda.”

“Baik, lalu kenapa?”

Dengan agak sinis, ia menatap wajah Presiden, “Tanyakan pada jutaan orang yang turun ke jalanan beberapa hari lalu. Seharusnya Anda bertanggung jawab untuk menghadapi mereka.”

Presiden berjalan mondar-mandir di depan Allen, lalu seperti seorang pemabuk, dan dengan matanya yang sayu, ia menjongokkan wajahnya, “Anda belum menjawab pertanyaan saya tadi, kenapa Anda membenci saya?”

“Saya punya hak untuk membenci dan menyukai siapa pun, termasuk Anda.”

“Tapi, kenapa Anda akan membunuh dan menghabisi saya?”

Allen menatap Presiden terheran-heran, “Siapa yang akan membunuh Anda, dan siapa yang akan menghabisi Anda?”

“Lalu, ada kejadian apa di teras hotel Hilton tadi?”

“Saya tidak tahu,” jawabnya terbengong-bengong.

“Siapa yang menembakkan pistol di teras hotel tadi?”

“Saya sama sekali tidak tahu, Pak Presiden.”

“Lalu, untuk apa Anda membawa pistol ke tempat itu?”

“Justru saya balik bertanya, untuk apa saya hadir ke tempat itu? Apa kepentingan saya hadir ke situ, kalau bukan segerombolan orang tiba-tiba memaksa saya agar mengikuti mereka. Lalu, setelah turun pesawat di bandara Baltimore, saya dipaksa masuk memasuki mobil hitam, lalu mereka membawa dan menyekap saya di tempat brengsek itu!”

“Jadi, pistol dari mana itu?”

“Tanyakan pada orang yang memakai sarung tangan itu… yang tiba-tiba menyelipkan sebilah belati dan pistol ke dalam saku celana saya… lalu meringkus saya di teras hotel setelah terdengar adanya letusan?”

“Hey Bung, bukankah Anda termasuk salah satu undangan yang…”

“Ah, itu akal-akalan mereka saja!”

Presiden merasa pusing dan kembali berjalan mondar-mandir di ruangan seperti orang linglung. Tak berapa lama, ia berhenti sejenak di depan Allen, “Jadi, bukan Anda yang menembakkan pistol di teras hotel tadi?”

“Sama sekali tidak!” jawabnya tegas. Kemudian ia bergumam lirih, “Hanya orang yang enggak waras, bawa-bawa pistol dan belati di hotel untuk mengikuti acara semacam itu… dan dihadiri para wartawan pula?”

Ketika Presiden menyudahi interogasi terhadap Allen Cole, tiba-tiba para wartawan berhamburan mendatangi paviliun. Presiden segera mengontak ajudan dan seluruh kaki-tangannya, agar segera membubarkan para wartawan. Jangan ada konferensi pers, dan jangan sampai ada pertemuan antara para wartawan dengan Allen Cole.

“Kenapa, Pak Presiden? Untuk apa?” tanya salah seorang ajudan.

Presiden bertolak pinggang sambil bergumam, “Untuk membuat Amerika jaya kembali.”

“Lalu, apakah ada hubungannya dengan Pileg mendatang?”

“Diam kau!!” (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.