Menikahi Wanita Bali

oleh -702 Dilihat
banner 468x60

“Bagaimana, kamu sudah telpon ayahmu?” tanya Puspa ketika kami sedang duduk-duduk santai di Pantai Sanur, Bali.

“Mungkin besok saya akan telpon Ibu dulu.”

“Lalu, kamu akan bilang terus terang kalau kita mau nikah?”

“Saya kira begitu,” kata saya ragu.

“Kok, saya kira? Bukankah orang tuamu akan senang, kalau mereka akan punya menantu lagi dari puteranya yang kedua?”

Saya tidak menjawab. Hanya mengangkat bahu dan menatapnya erat-erat. “Puspa, kamu hidup di Bali sini, dari kecil sampai besar kamu tinggal di Denpasar. Tentu kamu belum tahu cara berpikir orang tua saya yang dari Jawa, terlebih mereka masih keturunan Jawa Banten.”

“Lalu, apa bedanya Jawa Solo dengan Jawa Banten?”

“Tentu enggak sama, Puspa,” jalas saya lagi. “Jawa Banten, Cirebon, Demak, tentu berbeda dengan Jawa Surabaya, Jogja maupun Solo.”

“Tapi mereka tentu akan senang jika diberitahu puteranya akan menikah dengan orang Bali, iya kan?”

“Itu keliru, Puspa, tentu mereka tidak akan senang kalau anaknya menikah dengan orang jauh, apalagi jika beda agama?”

“Berarti, karena kamu beragama Islam, dan saya Hindu, begitu?”

“Ya,” kata saya mengangguk.

“Tapi, bukankah orang tuamu tinggal di Tangerang yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari pusat ibukota Jakarta?”

“Ya, memeng seperti itu.”

Saya menjelaskan posisi Tigaraksa tempat kelahiran saya, kemudian bersekolah dari tingkat SD hingga SMU di wilayah Tangerang Utara, sampai kemudian kuliah dan bekerja di bagian administrasi Bandar Udara Ngurah Rai, Denpasar. Di tengah atmosfir kota besar yang sarat hiruk-pikuk dan keberagaman, Puspa selalu menganggap konyol adat kuno yang mengharuskan seseorang dari suku tertentu untuk mencari pasangan hidup dari suku yang sama, termasuk agama yang sama. Lalu, Puspa pun angkat bicara, “Menurut saya, orang tuamu tak mungkin menentang pernikahan kita hanya karena beda suku dan agama. Bukankah, suku Jawa itu cukup terbuka ketimbang Sunda atau Bali?”

“Memang seperti itu, tapi kalau masalah beda agama, suku Jawa-Banten terbilang konservatif ketimbang Jawa-Jawa lainnya.”

Kami terdiam selama beberapa waktu. Tapi kemudian, Puspa berusaha memecah kesunyian, “Ayolah, Sayang, kamu harus berani menelpon mereka. Setidaknya ibumu lebih dulu. Saya percaya ibumu tidak akan menentang pernikahan kita. Saya tahu, dia sangat sayang padamu. Kalaupun dia marah, pasti dia akan segera memaafkan. Ayolah, sampaikan saja terus terang…”

Saya menggenggam tangan Puspa erat-erat seraya menatap wajahnya. Matahari sore mulai terbenam di balik ufuk barat Pantai Sanur. Kemudian, saya pun membalas, “Saya mungkin mudah saja menghubungi Ibu atau Ayah di Banten, tapi untuk bicara soal pertunangan, atau siapa perempuan yang rencananya saya nikahi, dan apa agamanya…”

“Lalu?”

“Ah, saya kira enggak mungkin, Puspa, saya khawatir mereka akan kecewa… terlebih Ayah, kalau darah tingginya kumat lagi, saya khawatir dia terkena stroke seperti beberepa tahun lalu.”

“Okelah kalau begitu,” kata Puspa sambil meremas-remas bahu saya. “Terserah kamu saja, sebab saya kan wanita? Saya kira, kamu lebih paham mengenai kondisi ayahmu di provinsi Banten.”

***

Cukup berat bagi saya memikirkan bagaimana cara memberitahu kedua orang tua perihal wanita yang akan saya nikahi nanti. Dalam perjalanan pulang menuju rumah dinas di Denpasar, saya memikirkan berbagai cara untuk mengatasi kekecewaan Ayah nanti, apalagi mengingat ia pernah menyatakan adanya seorang gadis yang dianggap cocok buat saya, yakni anak seorang tuan tanah yang tinggal di Kota Cilegon, Banten. Saya pernah menanyakan Ibu lebih jauh, mengenai gadis yang pernah diperkenalkan pada saya ketika bertandang bersama orang tuany ke rumah, setelah hari raya Idul Adha beberapa tahun lalu.

Konon menurut Ibu, bapaknya adalah sahabat karib Ayah sewaktu ia menjalani bisnis tanah di daerah Ciwandan, Anyer. Beberapa hari setelah ia diperkenalkan pada saya, konon Ayah sempat menanyakan pendapat saya melalui Ibu mengenai “perempuan pribumi” tersebut. Tentu jika saya berminat, saya sudah memberikan jawaban yang serius melalui Ibu. Namun, yang terbayang oleh saya adalah Puspa yang waktu itu sudah menjalin hubungan dekat selama satu tahun, sampai pada akhirnya saya memutuskan ingin bertunangan dengan gadis asal Bali tersebut.

Merasakan firasat yang kuat tentang kedekatan saya dengan gadis Bali, Ayah pernah berkata tegas ketika saya pulang kampung saat mengambil cuti panjang, “Abah dan Ibu sudah menemukan perempuan yang cocok buat kamu. Dia masih orang pribumi Banten, berbahasa Jawa-Banten. Dia asli kelahiran Cilegon, karena bapaknya pernah menjadi ustaz di madrasah Nurul Yaqin, sampai kemudian dia menjalani bisnis tanah bersama Abah di daerah Ciwandan. Jadi, sebagai anak, kamu jangan sampai mengecewakan orang tuamu.”

Di hari kedua sejak saya masih di kampung halaman, saya mendapati Ayah sedang duduk-duduk di ruang teve. Di sela-sela siaran “Kuliah Subuh”, atas perintah Ibu saya pun mendekati Ayah dan berkata terus terang: “Begini Abah, saya minta maaf sebelumnya, karena saya kurang berminat dengan Sarwati yang pernah diperkenalkan Ibu beberapa waktu lalu. Saya tahu dia anak sahabat Abah, tapi mohon maaf, saya sudah punya calon istri yang sudah saya kenal lama di Bali…”

“Di Bali? Agamanya apa?” tanya Ayah seketika.

Saya tidak menjawab. Dengan pandangan menerawang saya menghela nafas dalam-dalam. Untuk memecah kesunyian, saya pun menjelaskan lebih jauh tentang Puspa, wanita Bali yang selama ini saya menjalin kedekatan dengannya. Lebih lanjut, saya nyatakan terus terang, bahwa saya senang dengan Puspa, dan mencintai dia.

“Apa urusannya dengan cinta?” teriak Ayah sambil bersejingkat dari tempat duduknya. “Saya enggak ngomong soal cinta, tapi soal agamanya apa? Paham enggak, kamu?!”

Lalu, saya menjawab terus terang bahwa sejak kecil Puspa dibesarkan dalam tradisi Hindu, dan…

“Apa? Hindu?” kata Ayah sambil bertolak pinggang. Seketika itu, ia batuk-batuk, matanya memerah kemudian terjatuh dalam posisi duduk. Tak berapa lama, badannya kejang-kejang, lalu kami pun memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

Tentu saja pembicaraan kami di ruang teve beberapa tahun lalu, tak pernah saya ceritakan pada Puspa. Tapi memang seperti itulah keadaannya. Berkali-kali Puspa menyinggung soal sikap dan karakter orang Jawa yang egaliter dan terbuka, termasuk orang Jawa-Banten. Namun, kalau sudah memasuki persoalan agama yang dianggap prinsipil, tentu bukan perkara ringan bagi para orang tua yang masih menganut kepercayaan yang konservatif.

“Lalu, bagaimana dengan Sarwati. Dia sangat mengharapkan kamu, terutama kedua orang tuanya,” demikian bela Ibu, setelah Ayah pulih dari sakitnya.

“Maaf Bu, saya enggak suka dengan Sarwati, saya enggak cinta sama dia.”

“Lagi-lagi kamu bicara soal cinta? Yang kami pikirkan, bagaimana masa depan keluargamu? Bagaimana dengan rizkimu, dan rizki anak-anakmu nanti?”

“Bu, soal rizki itu sudah diatur Yang di atas. Kami mohon Ibu doakan saja, mudah-mudahan rumah-tangga kami berjalan lancar, dan diridhoi oleh Allah Ta’ala.”

Saya sadar bahwa watak dan karakter Ibu jauh lebih bijaksana ketimbang kaum lelaki. Saya tidak mau memancing perdebatan yang seringkali tak mengenal ujung-pangkalnya jika terpantik suatu permasalahan dengan Ayah. Bukan saja soal agama, perbedaan mazhab dan aliran kepercayaan. Bahkan, ketika Ayah bercerita tentang masa lalunya, yang konon pernah bergabung dengan suatu organisasi keagamaan, serta melarang keras adanya penganut aliran Ahmadiyah di Banten, saya yang waktu itu masih sekolah SD, tak pernah ikut-campur urusan tersebut. Ibu juga melarang kakak saya yang duduk di bangku SMU, serta jangan ikut-ikutan Ayah. Ia menyarankan agar kami lebih fokus belajar demi masa depan kami.

Konon, Ayah pernah digelandang bersama puluhan anggotanya di kantor kepolisian. Tapi, ketika pihak kepolisian membebaskan mereka, justru sebagian aktivis organisasi tersebut semakin membabi-buta, dan menganggap dirinya berada di posisi “pemenang”. Namun demikian, Ibu berusaha keras melerai serta melarang Ayah untuk turut-campur lebih jauh. Ia tidak sepakat dengan konsep “jihad” yang dikumandangkan Ayah dan teman-teman pergerakannya. Baginya, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah-tangga, serta menyekolahkan anak-anak dengan baik, termasuk bagian dari konsep jihad yang sesungguhnya.

“Saya pernah menjadi pengurus BKOI, yaitu Badan Koordinasi Organisasi Islam,” kata Ayah dengan bangga sambil menepuk-nepuk dadanya. “Bangunan gereja yang berdiri di Kota Serang sejak zaman Belanda, hampir kami ratakan dengan tanah. Organisasi kami juga pernah menyerbu dan mengobrak-abrik klenteng di daerah Karangantu, Banten.”

“Tapi waktu itu Abahmu ditahan di kantor polisi untuk yang kedua kalinya,” cetus Ibu, “seminggu kemudian baru dibebaskan…”

“Nah itu dia, kenapa mereka membebaskan saya?” sela Ayah lagi. “Ayo, kenapa seminggu kemudian Abah dibebaskan? Itu karena pihak polisi minta maaf dan merasa bersalah telah menangkap Abah yang tidak bersalah.”

“Ya sudahlah, Abahmu memang tak pernah merasa bersalah,” celetuk Ibu sambil ngeloyor pergi.

***

Lebaran Idul Fitri saya memutuskan untuk mengajak Puspa ke kampung halaman di Banten. Potongan rambutnya tergerai indah hingga bahu. Ia mengenakan blus batik dengan celana hitam dan sepatu kulit berwarna putih. Selama tiga hari ia menginap di rumah, ditemani bibi, atau adik bungsu dari Ibu yang tinggal di Tigaraksa. Saat itu, Ibu menerima dengan hati terbuka, akan tetapi Ayah hanya mondar-mandir ke toilet, lalu mengunci diri di dalam kamar.

Reaksi ini sama sekali tak terbayangkan oleh Puspa. Menurutnya, kebungkaman Ayah terasa lebih mengancam daripada serentetan pidato-pidato pedas. Ia selalu menolak untuk berjumpa, sekalipun di meja makan. Beberapa kali ia hanya membicarakan topik favoritnya tentang agama. Lebih tepatnya, tentang aliran agama yang diyakininya.

Beberapa jam sebelum kami pamit menuju bandara Soekarno-Hatta, tiba-tiba Ayah membuka suaranya, “Jadi, nama lengkapnya siapa, Dik?”

 “Puspa Indah Seruni,” jawab Puspa pelan sambil tersenyum.

Ayah terdiam sejenak, dan lanjutnya lagi, “Balinya di daerah mana… nama desanya apa?”

“Desa Dangin Puri di Denpasar, hanya tiga kilometer dari bandara Ngurah Rai, Bali.”

Hanya itu yang ditanyakan Ayah. Semula saya berharap ia bertanya lebih banyak pada Puspa, sebagaimana ia banyak mengomentari soal-soal agama yang sering diperdebatkan bersama saya dan kakak sejak dahulu. Tapi, barangkali ia memliki keterbatasan kosa-kata untuk sekadar berbasa-basi dengan calon menantunya sendiri. Ketika Puspa di dalam kamar, Ayah menyempatkan diri untuk bicara dengan saya di serambi halaman rumah, memberikan wejangan guna mengubah niat dan rencana saya. Namun, saya menyatakan terus terang padanya, bahwa Puspa-lah pilihan saya yang paling tepat.

“Sebagai orang tua, Abah hanya ingin memperjelas, bahwa ridho Allah itu terletak pada ridho orang tua.” Sambil menghela nafas dan mengerutkan dahinya, dengan lantang ia menambahkan, “Sekarang zaman sudah berubah. Saya enggak habis pikir siapa yang menyusupkan pikiran-pikiran aneh ini di kepala generasi muda, kalau bukan bisikan-bisikan setan yang segera harus dihindari. Sebab bagaimanapun, perempuan juga bagian dari hawa nafsu yang selalu berperan dalam menggoda umat manusia di muka bumi ini.” Seketika itu, ia menepiskan jari-jari tangannya, seakan melambai dan mengusir anaknya dari rumah.

Secara manusiawi, saya merasa terpukul oleh reaksi Ayah yang tidak menyetujui hubungan saya dengan Puspa. Namun, saya terus berharap bahwa suatu saat, boleh jadi ia akan berubah.

***

Beberapa bulan kemudian, saya mengambil liburan cuti dan menyempatkan diri pulang untuk menanyakan lebih jauh pada Ibu tentang perkembangannya. Saat itu, kembali Ayah mengurung diri lagi dalam kamar, dan tak mau saya jumpai. Di ruang dapur Ibu menceritakan pada saya tentang apa yang dilakukan Ayah bersama para tetangga selama beberapa bulan terakhir itu.

“Datang saja ke Ustaz Durip, nanti dia bisa menyelesaikan urusan anakmu,” kata Mang Sanusi pada Ayah.

“Buat apa? Anak saya enggak sakit apa-apa?” protesnya.

“Bukankah dia sedang tergoda dan kepelet sama perempuan Bali? Nah, itu perlu ditangkal dengan bacaan surat al-Falaq seribu kali bersama ramu-ramuan yang dibuat Ustaz Durip. Saya kira, ramuan itu sama saja dengan yang dipakai para perempuan untuk memikat hati kaum pria.”

“Menurut saya, ramuan itu juga yang dipakai Bi Siti untuk menaklukkan Haji Mahmud suaminya,” seloroh yang lainnya sambil tertawa.

Ayah  memang cenderung pesimis terhadap hal-hal yang bersifat supranatural. Ia tak percaya dengan mantra-mantra gaib dalam bahasa Jawa kuno, apalagi jika disandingkan dengan ayat-ayat Alquran seperti surat al-Falaq. Baginya, ayat-ayat agama harus tetap orisinil dan tak boleh dicampur-baurkan dengan urusan ramuan dan mantra gaib yang bersifat mistis dan tak sesuai dengan nalar.

Tetapi, tujuh bulan kemudian, ketika saya mengabarkan secara terang-terangan bahwa saya telah melangsungkan pernikahan sederhana di Denpasar, sambil melibatkan seorang kiai serta mengundang kerabat dan teman-teman terdekat, juga disahkan oleh pihak KUA Denpasar, suasana menjadi cukup menegangkan. Beberapa hari setelah Ayah mendengar kabar itu, ia langsung menghubungi ponsel saya dengan suaranya yang serak terbata-bata, sambil  menahan emosi: “Ayah tak habis pikir dengan kelakuanmu selama ini. Kalau saja kamu berani mengirimkan foto pernikahanmu dengan perempuan Bali itu, pasti foto-foto itu sudah Abah robek-robek di depan ibumu, paham enggak kamu?!”

Mendengar suara Ayah yang sedemikian garangnya, Puspa terisak-isak menangis di pundak saya. Seketika saya mengelus rambutnya dan berusaha menenangkan, “Enggak apa-apa, Sayang, sebenarnya Ayah itu orang baik. Kita lihat saja, suatu saat dia mesti akan berubah.”

Selama lima tahun Ayah menolak berhubungan dengan kami. Kini, ia telah memiliki seorang cucu laki-laki, Azka yang usianya sudah menginjak empat tahun. Azka adalah cucu ketiganya, karena sebelumnya ia telah memiliki dua cucu (keduanya puteri) dari keluarga kakak saya yang tiga tahun lebih dulu membina rumah-tangga. Menginjak tahun keenam, kami memutuskan untuk mudik menjelang hari raya Idul Fitri. Puspa mulai tertarik mempelajari keislaman yang menurutnya bagian dari khazanah keilmuan di era milenial ini. Ia pun melaksanakan puasa Ramadhan bersama jutaan penduduk muslim Indonesia lainnya. Ibu mengabarkan berita ini kepada Ayah, meski belum terang-terangan ia akan menerima kami atau tidak pada Idul Fitri kali ini.

***

Beberapa hari setibanya kami di kampung halaman, ternyata penghakiman terhadap pernikahan kami tidak terjadi di kalangan masyarakat Banten. Mereka menganggap wajar-wajar saja. Mungkin ada satu-dua orang yang sepemikiran dengan Ayah tetapi toh tidak berdampak apa-apa. Reaksi mereka juga biasa-biasa saja. Beberapa teman wanita sewaktu SMP dan SMU justru merasa senang dan gembira melihat saya bersama istri yang berasal dari suku Bali. Mereka bersahabat akrab dengan Puspa. Seiring berjalannya waktu, Puspa juga mampu menembus tembok pembatas yang menimbulkan keterasingan baginya. Dalam banyak hal, para wanita Banten justru mengakui kepribadian Puspa yang lebih rileks, santun, serta pintar dan terampil mengurus Azka anak kami.

Kisah kebahagiaan rumah-tangga kami semakin meluas di kalangan saudara-kerabat, baik dari pihak keluarga Ayah maupun dari pihak keluarga Ibu di kampung seberang. Mungkin Ayah hanyalah satu dari segelintir orang yang tidak tahu (atau tak mau tahu) hubungan saya yang begitu akrab dan mesra dengan istri. Bahkan, ketika ada saudara yang menyebut nama Puspa, Ayah serta-merta melengos dan menampik, hingga sebagian orang cenderung menghindari topik itu di depan Ayah.

Dengan susah-payah Ayah berusaha mengacuhkan berita tentang putranya sendiri. Meski ia tetap bertahan dengan keangkuhannya, hingga terus berusaha mengurung diri dalam kamar.

Pernah setahun lalu, ketika Puspa mencoba menelponnya, serta menyatakan tentang cucunya seraya memohon doa darinya, Ayah hanya membalas dengan singkat dan dengan suara terbata-bata, “Ya… saya… doakan,” katanya. Ketika Puspa mengabarkan bahwa Azka ingin sekali berjumpa dengan kakeknya, seketika telepon ditutup, dan Ayah tidak membalas sepatah kata pun.

Sampai saat ini, sebagai penduduk Indonesia kelahiran Banten, saya memandang orang tua sendiri, tak ubahnya cerminan tradisi leluhur kami yang pernah hidup sejak berabad-abad silam. Ayah tak ubahnya sosok Pak Salim, Haji Mahmud, Bang Jali, bahkan Kiai Muhaimin dalam novel Perasaan Orang Banten. Ia tak pernah mau mengalah, hingga terus bertahan dengan watak dan karakternya yang keras dan temperamental. Kadang, ia berusaha untuk semakin menguatkan ketetapan hatinya, seakan-akan tak terpicu emosi yang sebenarnya sangat mengganggu kesehatannya.

Ketika kami kembali ke Denpasar, Bali, kami berkesimpulan bahwa perjuangan ini masih cukup panjang. Meskipun kita tak boleh berhenti untuk menyatakan yang benar sebagai kebenaran. Dalam penerbangan dari bandara Soekarno-Hatta, di atas pesawat saya bersandar di sisi jendela. Langit mendung dirundungi awan hitam yang semakin menjauh. Angin berembus dari segala arah. Rintik-rintik hujan turun, meski kemudian terhempas ketika pesawat berhasil menembus awan tebal.

Saya membayangkan saat Ayah menyendiri di kamar, ia tak menyahut dan hanya menampakkan ekspresi hampa ketika kami menyatakan pamit untuk kembali ke Bali. Ia seakan tak mau memikirkan Azka, satu-satunya cucu putera yang sedang mungil-mungilnya. Dalam sanubarinya, barangkali ia merasa yakin bahwa pertempuran ini tak perlu ia menangkan. Ia menyenandungkan salawat Nabi sambil duduk terpaku di samping jendela kamar. Suaranya berpadu dengan bunyi rintik hujan yang turun dan menghujam di atas genting-genting rumah.

Tampaknya Ayah masih diselimuti kabut awan tebal, seakan bergelut dengan pikirannya sendiri, menerawang ke masa-masa kecilnya yang menggembirakan tanpa beban dosa dan kesalahan. Bagaimana mungkin dia akan terus menutup diri, bahkan terhadap Azka, bocah mungil yang lahir dari anak dan darah dagingnya sendiri?

Saya masih ingat ketika Azka berdiri di sampingnya seraya mencium tangannya, dalam cuaca langit hitam yang bergemuruh penuh amarah. Seketika saya menatap wajah Ayah yang dirundung murka bercampur kesedihan. Dari tatapan matanya terpancar rasa cemas dan takut, bahwa ia tak ingin mati sendirian, ketika anak tercintanya jauh di perantauan. Sementara, ia belum sempat menebus segala dosa yang harus dipikulnya. (*)

Oleh: Alim Witjaksono

Penulis adalah Peneliti sastra mutakhir Indonesia, menulis prosa dan esai di berbagai media nasional luring dan daring.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.