Musik, Korupsi dan Pelecehan Seksual

oleh -1257 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Pujiah Ketut Lestari

Film “Tar” berkisah tentang ambisi seorang perempuan bernama Lydia Tar. Tokoh ini diperankan aktris yang pernah dua kali meraih piala Oscar, Cate Blanchett. Bakatnya yang luar biasa dalam dunia musik klasik menjadikan Tar perempuan pertama yang menjadi konduktor sebuah orkestra besar dan terkemuka di Jerman.

Film “Tar” diproduksi ketika munculnya gerakan perempuan yang menuntut kesetaraan hak dengan pria semakin terasa di Eropa dan seluruh dunia. Tetapi, akan keliru jika kita berkesimpulan bahwa film tersebut seakan bicara tentang perlakuan tidak adil terhadap kaum wanita. Sebab, dengan memakai logika terbalik, Tar sebagai wanita justru menyalahgunakan kekuasaan untuk melecehkan sesama wanita, yang kebanyakan korbannya adalah wanita-wanita muda.

“Ia seorang perempuan yang diberi kewenangan untuk memimpin orkestra terhebat di dunia. Ia berjuang keras untuk meraih pencapaian besar, tetapi juga menyalahgunakan wewenangnya. Ada banyak pertanyaan rumit yang diajukan melalui film ini, tetapi pada prinsipnya lebih menyoroti sifat kekuasaan yang merusak, sekaligus apa-apa yang akan terjadi ketika seorang wanita menggenggam kekuasaan tersebut,” demikian ujar Blanchett selaku pemeran utama.

Lydia Tar digambarkan sebagai satu dari 15 orang yang pernah meraih empat penghargaan besar dunia hiburan yang biasa disebut EGOT (Emmy, Grammy, Oscar, dan Tony). Siapapun yang coba menghalanginya, akan dengan mudah dilibas dan disingkirkannya. Film ini digarap oleh sutradara terkemuka, Todd Field yang juga menulis skenarionya. Field pernah meraih nominasi Oscar untuk debut filmnya yang terkenal, “Little Children” dan “In the Bedroom.” Kerjasama Field dan Blanchett dalam film Tar telah mendorong film ini menjadi layak diperhitungkan dalam ajang-ajang kompetisi film bergengsi.

Sophie Kauer, yang mempelajari cello klasik di Akademi Musik Norwegia, menjadikan Tar sebagai film perdananya tampil di layar lebar. Ia memerankan seorang musisi muda di bawah arahan Blanchett yang memperalatnya. Incorporated Society of Musicians (ISM) baru saja merilis hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perundungan, rasisme, dan pelecehan seksual saat ini adalah yang terburuk sepanjang sejarah industri musik. “Saya berharap film ini dapat membantu menjadikan industri musik klasik sebagai tempat yang lebih aman bagi orang untuk bekerja,” ungkap Kauer.

Kajian psikoanalisa

Film Tar seakan mampu menangkap pesan-pesan universal, bahwa ego dan obsesi yang tak terkendali, dapat menjerumuskan manusia menjadi binatang-binatang liar. Ego itu akan terus tumbuh hingga bekerja untuk memanipulasi dan mengeksploitasi sesama manusia, terutama mereka yang berada di lapisan bawah.

Dalam sistem kolaboratif di orkestra, satu pihak tak boleh mendominasi pihak lainnya. Orkestra seperti set film dan sebagian besar kolaborator didorong ke bagian lainnya untuk sama-sama memerankan fungsinya secara adil dan proporsional. Tar adalah wanita pertama yang menjadi konduktor utama dalam The Berlin Philharmonic. Dia adalah konduktor orkestra Jerman yang sangat terkenal, sampai kemudian merasa berhak melakukan apa saja kepada para bawahannya. Tar juga seorang anggota klub EGOT dan sekaligus seorang ibu. Dia mendapati dirinya berada di garis bidik skandal #MeToo yang berbahaya.

Todd Field dan Cate Blanchett membangun potret karakter yang menunjukkan kepada kita seorang wanita misterius yang penuh fantasi untuk membangun ambisinya, seakan sibuk menggali-gali lubang yang kelak bisa menjerumuskan dirinya sendiri. “Sasaran utama kita adalah menciptakan sejarah. Waktu adalah bagian penting dari interpretasi. Saya telah memulai untuk membangun sejarah. Kalian tak dapat berbuat apa-apa tanpa kehadiran saya,” demikian seloroh Lydia Tar dengan angkuhnya.

Dampak langsung yang diakibatkan nafsu eksplorasi dengan memanfaatkan ambisi kekuasaan di era hiper modern ini, dapat kita saksikan bersama, khususnya dalam soal kejahatan siber, penipuan online, pornografi, perjudian, hingga prostitusi online dan perdagangan manusia.  

Bukan psikopat

Film Tar seakan menantang dunia psikologi betapa rumitnya memahami karakteristik perempuan yang terobsesi akan pencapaiannya. Ia laiknya manusia normal dan baik-baik saja, juga tak dapat dikategorikan sebagai psikopat yang tega membunuh dengan tangannya (atau dengan tangan orang lain) demi memuaskan ego dan nafsu birahinya. Tetapi di sisi lain, Tar seringkali didesak oleh naluri hewani yang ada dalam dirinya, hingga tak sanggup menunda atau menghentikan perilaku yang dapat merugikan dirinya maupun pihak lain.

Ada rasa empati yang menunjukkan sifat-sifat kewanitaan pada diri Tar, namun tidak jarang menampilkan karakteristik yang sulit ditebak dalam kategori psikopat ataukah bukan. Beda dengan manusia normal dalam menyikapi ketakutan dan kesedihan. Ada ekspresi yang ditunjukkan pada otot wajah hingga pancaran mata, ketika ia menyaksikan kejadian dramatis yang menyangkut kesedihan atau ketakutan. Padahal, seorang penguasa yang memiliki spektrum psikopat tinggi, biasanya tak mampu bereaksi seperti halnya orang-orang normal.

Akhir-akhir ini, terdapat hasil penemuan menakjubkan yang dipublikasikan oleh jurnal Personality Disorder: Theory, Research, and Treatment. Para kriminolog telah berhasil mengumpulkan 140 narapidana dalam kasus pemerkosaan dan pembunuhan tingkat tinggi. Semua partisipan mengamati sejumlah foto yang memperlihatkan ekspresi wajah dengan ragam emosi, mulai dari emosi palsu sampai dengan yang tulus.

Ternyata, orang-orang yang memiliki kadar sifat psikopat tinggi, perasaannya dangkal dan empatinya amat rendah. Mereka cukup mahir membaca emosi orang yang marah, senang, atau orang yang menolak dan menentang. Namun, terhadap orang yang sedang mengalami tekanan yang menimbulkan rasa sedih dan takut, mereka tidak mampu membacanya dengan baik.

Pada prinsipnya, film Tar tidak bicara secara eksplisit tentang dampak manusia hiper modern, sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi. Tetapi, ia menohok langsung ke jantung persoalan psikologi dan psiko histori manusia yang memiliki potensi untuk berkembang, bahkan melebihi nafsu-nafsu liar dari binatang-binatang buas.

Film ini mengajarkan kita semua bahwa hakikat teknologi maupun kekuasaan yang melingkupinya, ibarat pisau bermata dua. Ia dapat dimanfaatkan untuk mempermudah kehidupan, namun di sisi lain ia pun dapat menghancurkan kita semua, bila kita salah dalam mengelola dan memanfaatkannya. ***

Penulis adalah Penulis prosa dan esai sastra di berbagai harian nasional luring dan daring, di antaranya kompas.idnusantaranews.cosastranesia.comruangsastra.com, Jurnal Toddoppuli, Kabar Madura, Radar Banten, Tangsel Pos, NU Online dan lain-lain. 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.