Pertempuran Terakhir di Timor Timur

oleh -1428 Dilihat
banner 468x60

Tembakan beruntun dari pasukan Fretilin membuat para pasukan ABRI semakin terpojok, meskipun tetap berlindung di balik bukit. Percikan api dan suara-suara peluru yang berdesing, menembus batang pepohonan, semakin membuat Yanto terkesima memandangi kawan-kawan seperjuangan yang seakan kehilangan nyali dan keberanian. Ada beberapa kawannya yang berdiri meringkuk membelakangi tebing, dua orang terlihat gemetar sambil berdoa dan memandangi foto istri dan anaknya, kemudian memasukkan kembali foto itu ke kantong baju loreng mereka.

“Bagaimana, Wan? Sepertinya jumlah mereka ratusan, sementara teman-teman kita hanya beberapa puluh orang saja,” kata Yanto kepada Iwan dengan suara tergagap.

“Mereka juga bersenjata lengkap,” balas Iwan dengan bibir bergetar, “saya bingung, dari mana mereka mendapatkan senjata-senjata otomatis itu?”

“Nah, ini dia sobat karibku!”

Tiba-tiba muncul Feri menepuk bahu Yanto dengan tepukan lembut di pundaknya, “Tenang saja kawan, saya kira mereka belum terlatih memakai senjata-senjata itu. Sebentar lagi kita akan memanjat bukit itu, lalu kita habisi anjing-anjing Fretilin itu dengan senjata kita.”

“Ya, pokoknya jangan diberi kesempatan… kita musnahkan mereka sampai ke akar-akarnya!” teriak Farid, kawan di sebelahnya.

Sebelum mereka menaiki bukit, Yanto berusaha menggandeng tangan Iwan, dan bisiknya, “Kamu jangan jauh-jauh dari saya. Kita berdua akan baik-baik saja. Setahun lalu, ketika kita bertugas di selatan juga baik-baik saja, kan? Kalau terjadi apa-apa dengan kamu, tentu saya enggak akan mendapat restu untuk menikah dengan adikmu beberapa bulan lalu.”

“Ah, justru Vera yang berpesan pada saya agar menjaga kamu.” Keduanya saling tersenyum dan bersenda gurau dalam beberapa waktu.

Tak lama kemudian, mereka terperanjat oleh sebuah ledakan yang menghantarkan lebih banyak percikan api di batang-batang pohon. Suasana sudah mulai gelap. Waktu menunjukkan Pk. 18.00. Perintah untuk menaiki bukit segera dilontarkan.

“Brengsek! Farid, coba kamu lihat bukit itu tinggi sekali, tebing-tebingnya juga curam, bagaimana kita bisa naik ke atas dengan ransel-ransel seberat ini?” terdengar suara Iwan mengeluh.

Yanto mencoba menyesuaikan perlengkapannya, dengan mengurangi beberapa beban di punggungnya. Suara tembakan artileri semakin dilancarkan oleh pihak musuh. Iwan dan beberapa kawannya merasa tak sanggup menaiki bukit terjal itu. Mereka takut melintasi lapangan yang agak terbuka sebelum menyusup masuk dalam perlindungan beberapa batu besar. Ia melirik ke arah Yanto dengan tatapan terkesima. Seketika terbersit ingatannya ketika mereka berboncengan motor sewaktu SMA dulu, membolos sekolah selama dua hari untuk memanjat gunung Salak di daerah Bogor. Ia mengakui bahwa Yanto lebih berani dari dirinya, sebagai anak yatim yang ditinggal mati ayahnya sejak usia SD, lalu tumbuh besar dalam asuhan ibu dan pamannya yang memerintahkannya agar mendaftarkan diri di sekolah kemiliteran.

Sementara Iwan masih memiliki ayah-ibu, dengan dua kakak yang sudah berkeluarga. Sedangkan Vera adiknya, telah menjadi istri Yanto hanya empat bulan sebelum keberangkatannya melakukan tugas pada gelombang kedua, menuju wilayah Timor Timur.

Yanto dan Iwan mendaftarkan diri sebagai anggota ABRI, setelah kelulusannya di akademi kemiliteran. Sesudah mengikuti latihan dasar, mereka merasa dirinya layak untuk menerima penugasan ke daerah Timor-Timur, untuk bergabung dalam pertempuran melawan “Fretilin” yang dianggap sebagai pemberontak RI. Ketika tiba saatnya untuk mengucapkan salam perpisahan, Iwan menghindari tatapan pada kedua mata orang tuanya. Namun, dia tak bisa menghindari tatapan mata Vera adik satu-satunya. Dengan mata berlinang, Vera mendesaknya agar berjanji menjaga dirinya sendiri, juga berpesan agar menjaga Yanto suaminya.

Di balik pintu, Vera menatap wajah suaminya, meletakkan kedua tangan di pundaknya, kemudian menciumnya. Setelah itu, ia merasa tak kuat lagi untuk berdiri, serta merta berlari menuju kamarnya sambil berusaha bersikap tegar. Yanto menghampirinya dan memeluknya erat-erat di atas tempat tidur, lalu mengucapkan salam perpisahan.

***

“Ayo, cepat naik! Semuanya, cepat berlindung ke atas bukit!”

Teriakan perintah dari pemimpin pasukan menghentikan lamunan Yanto. Terlihat Iwan terengah-engah bersamaan dengan cuaca dingin di musim penghujan bulan Desember. Air hujan menembus pakaian mereka. Kedalaman yang hijau dan gelap membuat kebanyakan dari mereka menggigil kedinginan. Beberapa anggota ABRI terjatuh keberatan dengan perlengkapan di pundak mereka.

Saat Yanto dan beberapa pasukan maju mendaki bukit, sebuah peluru menembus teman di depannya, hingga membuatnya jatuh terjengkang. Dia terlihat pada kedua matanya yang seakan tidak lagi menyiratkan adanya harapan untuk bertahan hidup. Tak lama kemudian, Iwan pun merasakan rasa perih yang begitu menusuk di bahu kirinya. Sebelum kehilangan keseimbangan, dia merasakan sebuah lengan kokoh menariknya menuju puncak bukit.

“Wan, bangun Wan! Kamu enggak kenapa-napa, kan?”

Iwan menggelengkan kepalanya saat Yanto berusaha menenangkan dirinya. Beberapa pasukan ABRI tergeletak dan seseorang terjatuh ke jurang, setelah puluhan peluru menembus tubuhnya. Beberapa orang merintih kesakitan, dan dua orang terpeleset ke dalam barikade.

“Di sebelah mana kamu tertembak, Wan?” tanya Yanto seketika. Kekhawatiran terlihat pada wajahnya saat mencari sumber dari noda merah yang secara perlahan mengalir ke bawah.

“Di bahu kiri ini,” jawabnya sambil menempelkan telapak tangan pada bercak darah di bagian lukanya. “Aduuh, tadinya saya kira sebongkah batu yang melesat, tapi tiba-tiba ada rasa perih.” Iwan terengah-engah dan menjatuhkan kepalanya di atas rumput basah.

“Ayo, buka ranselmu, saya mau ambil perban dan obat-obatan.”  Iwan mengangkat kepalanya saat merasakan Yanto membuka perlengkapannya, serta mengendurkan tali pengikat dari pundaknya.

“Apa yang kamu lakukan, To? Sebaiknya kamu terus mendaki bukit itu…”

“Tidak bisa, kamu juga harus merangkak ke sana. Ayo, saya akan membantu supaya kita sama-sama mencapai puncak bukit.”

Tembakan-tembakan dari tentara Fretilin semakin manjadi-jadi. Sambil merangkak pelan, Iwan memaksakan diri menuju bukit melalui dinding-dinding karang yang terjal. Beberapa mayat dan orang-orang sekarat dari pasukan ABRI bergelimpangan. Terpaksa Iwan merangkak di balik tubuh-tubuh mereka seakan memanfaatkan tubuh-tubuh itu sebagai pelindung. Sebelum ia mencapai bukit melalui lereng karang yang terjal, lagi-lagi sebuah lengan kekar menggapai dan menangkap ke arah bajunya, lalu menariknya menuju tempat yang aman.

Di balik sebongkah batu besar, Iwan dapat melihat belasan pasukan ABRI tewas tergeletak, bahkan dia pun melihat Feri terpelanting jatuh ke bawah bukit.

“Ayo cepat, Wan, lihat apa kamu? Ayo, terus merangkak ke atas!”

“Saya sudah enggak kuat, To,” katanya dengan suara merintih.

Iwan mengamati melalui sudut gelap, ratusan pasukan Fretilin terus membidikkan senjata otomtisnya. Suara gemelutuk memenuhi telinganya, dan dia menyadari bahwa itu adalah suara giginya sendiri. Seakan ia tak mampu lagi menahan ketakutannya. Hawa dingin musim hujan menerpa seluruh tubuhnya, membuat luka di bahunya agak mengering. Seketika ia merasa kebas dan ngilu, seakan separuh badannya tak berfungsi. Namun, Yanto masih menggandeng lengan kanannya dan menyeretnya terus menuju puncak bukit.

Kabut musim hujan mulai turun, seakan beradu dengan asap-asap puluhan bom mortar yang diledakkan oleh pasukan musuh. Yanto menyandarkan tubuh Iwan pada dinding batu, karena ia merasa lemah dan tak berdaya. Lebih banyak lagi pasukan musuh semakin bergabung di lereng-lereng bukit, di antara mereka berseragam Fretilin, namun sebagian lain berpakaian preman seperti para pasukan sukarelawan Timor Timur.

Sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding batu, Yanto tak menanggapi suara-suara Iwan yang berkali-kali menanyakan, kapan pertempuran ini akan berakhir, dan kapan pasukan ABRI dipulangkan ke Jawa.

Saat menoleh ke tebing sebelah utara, Yanto melihat punggung dari sosok yang dikenalnya. Tiga orang tentara berlarian ke sana kemari. Yanto sadar dia tak bisa melepaskan tatapan matanya pada salah satu dari mereka. Perlahan orang itu berbalik, menghadap ke arah Iwan dengan tatapan heran. Sisi kiri wajahnya telah hancur terkena ledakan peluru mortir. Lengannya bergelantungan di sampingnya. Bahkan, dengan setengah badan yang tercabik-cabik, Yanto tahu bahwa itu adalah Farid teman karibnya.

Keduanya saling bertatapan. Yanto tidak dapat berucap atau bergerak sama sekali. Dia hanya bisa menatap wajah temannya, sampai kemudian sosok Farid berbalik, dan menghilang ke dalam asap dan kekacauan pertempuran.

“Kasihan, Farid itu, Wan. Seharusnya dia cepat bergabung dengan regu sembilan, tanpa harus merepotkan urusan perbekalan di ranselnya.” Iwan masih meraba penglihatannya melalui celah batu, namun Yanto segera mengamit lengan kanannya semakin mendaki puncak bukit.

Tatapan pada mata Farid sebelum dia menghilang berkelebatan di pikiran Yanto. Itu mungkin tatapan puas karena menyaksikan temannya selamat menuju puncak bukit. Barangkali Vera, sebagai teman sekelasnya sewaktu SMA, juga sempat berpesan pada Farid agar menjaga Yanto, sang suami yang baru menikahinya.

Tatapan mata Farid yang merasa puas menyaksikan Yanto mendaki bukit, seakan telah menepati janji kepada wanita yang dicintainya itu. Tatapan mata itu, seakan mengandung pesan sekaligus salam perpisahan terakhir ketika Yanto berhasil mencapai ketinggian bukit.

Keesokan harinya, ketika cuaca pagi semakin terang, tiga batalyon tentara ABRI berdatangan menuju bukit. Beberapa helikopter berpatroli di sepanjang perbukitan. Mereka akhirnya dapat memastikan, sekitar delapan belas tentara ABRI masih bisa terselamatkan. Sementara, duapuluh lebih telah gugur di medan pertempuran. Beberapa petugas medis mengobati luka-luka pada tubuh tentara yang terkena tembakan, termasuk lengan kiri Iwan yang berbaring setengah sadar. Sisa-sisa suara tembakan masih terdengar ketika ratusan tentara ABRI merangsek dan menyisir lereng-lereng bukit untuk mengusir puluhan pasukan Fretilin. Tiga orang berpakaian preman terpelanting jatuh bersama senapan otomatis di tangan mereka.

***

Yanto melihat dua orang petugas medis sedang merawat dan mengobati lengan Iwan. Seorang dari regu penolong menawarkan sebatang rokok pada Yanto, yang langsung menyulutkannya dengan korek api. Ketika mulai menuruni bukit, puluhan tentara sedang membungkus beberapa mayat korban dari tentara ABRI untuk segera dipulangkan kepada keluarganya di wilayah Jawa dan Sumatera. Yanto sempat menoleh saat puluhan tentara mulai berjalan mengangkat jasad-jasad korban yang berserakan. Beberepa orang berhenti untuk menggeser beban yang dibawa di pundaknya, sebelum melanjutkan perjalanan.

Seorang tentara yang selamat tampak mendekati petugas medis, sambil menggoyang-goyang tubuh temannya yang sudah tak bernyawa. “Maaf, Mas, jantungnya sudah berhenti. Dia sudah enggak bisa ditolong lagi,” kata seorang petugas medis menenangkan.

Tentara muda itu menangis sesenggukan. Sambil terus melanjutkan perjalanan menuruni bukit. Yanto berusaha menenangkannya, hingga mencapai pos peristirahatan. Lalu, dia pun bertanya lembut, “Kenapa kamu masih saja menangis, ada apa, Kawan?”

Dengan suara terbata, tentara muda itu menjawab sambil meratapi sang mayat, “Saya sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk selalu menjaganya.”

Yanto terhenyak sambil menghempaskan punggungnya pada kursi. Dalam waktu yang cukup lama, tatapannya menerawang, seakan bergumam mengulangi ucapan tentara muda itu, “Ooh, dia sudah berjanji pada kedua orang tuanya.”

Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya. Seketika pandangannya diarahkan kepada bukit di kejauhan sana. Ia merasa bahwa bukit itu telah dipenuhi oleh janji-janji yang tak ditepati. Ia merasa bahwa jasad-jasad pasukan ABRI yang bergelimpangan itu tentu dibekali oleh janji-janji yang diamanatkan oleh para istri, anak-anak maupun orang-orang tua mereka di tanah air.

Rokok di mulut Yanto seketika jatuh ke tanah, dan ia pun menginjaknya dengan sepatu. Matahari semakin bersinar menembus kabut pagi. Keesokan harinya, bersama pasukan gelombang ketiga, Yanto dan Iwan segera dipulangkan menuju Jakarta.

Beberapa hari kemudian, keduanya menyaksikan siaran teve yang menayangkan pengumuman hasil referendum dengan tatapan kosong. Keduanya harus menerima kenyataan, bahwa hasil referendum itu dimenangkan oleh rakyat Timor Timur, sampai kemudian mereka mengubah nama negerinya menjadi Timor Leste. (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.