Karya Sastra yang Menolak Putus Asa 

oleh -1175 Dilihat
banner 468x60

Oleh: Supadilah Iskandar

“Sastrawan yang baik mestinya sudah selesai dengan dirinya, serta melampaui keakuannya. Jika Anda masih terpesona kekuasaan juga sibuk memperkaya diri, berarti Anda belum selesai dengan diri Anda.” (Hafis Azhari, penulis novel Perasaan Orang Banten)

Kegaduhan politik dan maraknya rumor dan hoaks di sana-sini, membuat banyak orang berpendapat bahwa membenci pihak lain adalah bagian dari fesyen. Beberapa waktu lalu, kita menyaksikan orang tewas yang dipertontonkan melalui Facebook, lalu orang-orang mengerubungi dan meratapinya. Namun, tak lama kemudian sebagian justru menyanyikan lagu seakan mensyukurinya.

Ya, dengan mudahnya orang-orang di sekitar kita menyebarkan lagu tentang kematian. Bahkan, dengan entengnya mereka meremehkan kehidupan sambil mengucap ingin mati hari ini.

Ketika tak ada uang sepeser pun di kantong, berapa banyak orang yang memilih hidup bermalasan sembari menyanyikan lagu-lagu seperti orang dungu dan tolol. Mereka memberi kesaksian bahwa dirinya merasa kesepian di tengah jagat kehidupan yang membosankan. Setidaknya, itulah yang juga dinarasikan melalui tokoh Tohir dan kawan-kawan, dalam novel yang banyak dibicarakan kritikus sastra, yakni Perasaan Orang Banten (POB).

Bagi seorang Tohir, tanpa dapat menemukan makna hidup, ia hanya bernapas dengan kesadaran akan hari-harinya yang sia-sia belaka. Sambil memandang Pak Salim, si tukang warung kopi di perempatan desa Jombang, ia membayangkan sosok tambun itu dulunya menggemaskan di masa anak-anak, lalu kemudian tumbuh menjadi dewasa hingga menua. “Orang itu kini mulai pikun, dan suatu hari nanti akan mati membusuk seperti kematian seorang seniman debus di emperan Pasar Tanah Abang.”

Begitupun nasib Pak Majid yang dulunya seorang aktivis pergerakan berhaluan kiri. Di serambi kios pangkas rambut, ia pun berkhayal tentang suatu fiksi ilmiah, di mana manusia dapat hidup abadi dengan tubuh yang mampu bertahan selama ribuan tahun sebagaimana puisi-puisi Chairil Anwar. Novel POB seakan menertawakan identitas keindonesiaan kita yang hidup diselubungi friksi-friksi politik yang selalu menjanjikan kemakmuran fiktif. Padahal, ia digarap oleh penulis yang merupakan “orang dalam”, juga berpendidikan di jurusan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Tokoh-tokoh yang dinarasikan seakan tak pernah mengerti apa artinya hidup bahagia selaku khalifah di muka bumi ini. Mereka seakan membenci asal-usul kelahirannya, lalu dengan mudahnya mengutuk masa lalu yang penuh kegetiran. Mereka sering mengucap “assalamualaikum” atau “sampai berjumpa lagi”, tanpa pernah mengerti arti perjumpaan dan perpisahan yang sesungguhnya.

Dalam novel POB, seakan kebahagiaan, perpisahan, cinta, dan persahabatan, semuanya hanya terbeli dengan nominal rupiah sebagai jargon kapitalisme dan gaya hidup hedonis di suatu kota industri (Cilegon) sebagai miniatur keindonesiaan kita. Kota tersebut pernah disinggahi keturunan Walisongo, pedagang VOC, hingga para pewaris Orde Baru yang kemudian menjadi penguasa di wilayahnya.

Tak ayal, novel tersebut mengisahkan berbagai dagelan dan lelucon politik yang mampu dinarasikan secara jenaka oleh penulisnya. Besok akan ada politisi yang dipenjarakan, sementara rival politiknya tertawa cengengesan. Entah pagi ataupun malam, musim panas ataupun hujan, di suatu tempat seseorang berkelahi dan mendekam dalam jeruji besi, sementara sang kiai terus berkhotbah di atas mimbar masjid, sambil mengumandangkan pentingnya iman dan ketakwaan.

Suatu hari, sang marbot Tohir menyetel lagu-lagu gubahan Iwan Fals. Ia berusaha mendengarkan lagu-lagu sembari membaca liriknya. Begitu banyak lagu-lagu ceria yang dinyanyikan penyanyi kondang itu, tetapi Tohir justru memutar-mutar ulang lagu yang bernada melankolis, kesedihan, bahkan cenderung depresif. Akhirnya, ia pun mengoleksi lagu-lagu dangdut yang dinyanyikan Poppy Ratnasari, seakan-akan ia memeluk vokalisnya dengan penuh kegembiraan.

Di sisi lain, Tohir merasa dirinya telah dibenci oleh kehidupan ini. Sambil meringkuk di serambi masjid, ia mengalami depresi berat ketika merasa kehilangan kembang desa Jamilah, wanita cantik yang sangat menghibur hatinya. Ia merasa tak punya tujuan hidup lagi. Meskipun begitu, Tohir tak ingin bunuh diri. Ia merasa takut neraka jika harus menggantung diri, atau menjalani kematian yang menimbulkan kerepotan banyak orang. Dalam batinnya, ia tak mau membebani siapa pun. Ia hanya menginginkan tidur nyenyak di dalam masjid, tanpa kemungkinan bangun lagi di pagi hari.

Namun, ketika ia mendapati dirinya masih hidup dan terus menanggung beban derita ditinggal kekasihnya, Tohir yang alim dan saleh itu pun akhirnya bangkit dan berani berbuat nekat di jalanan. Ia menyatroni Yosef yang dikira telah menculik Jamilah, lalu mengalami baku-hantam dengan sekelompok orang Batak di restoran Padang.

Meskipun ia telah melakukan tindakan sembrono yang di luar nalar dan akal sehat, setidaknya Tohir merasa dirinya terlepas dari depresi yang menghantam perjalanan hidupnya, hingga membuatnya lebih kuat. Beban yang seolah-olah sedang memikul neraka di pundaknya, kini sudah tak seberat dulu lagi. Bobotnya terasa jauh lebih ringan. Kadang ia memikirkan untuk mati muda, ketika sedang jenuh-jenuhnya membayangkan mengapa kehidupan umat manusia sedemikian bobroknya?

Ketika Tohir mulai pulih, dan masyarakat Jombang menjenguknya di rumah sakit, nalar sufistik dari pengarangnya menyibak tirai-tirai kedengkian dan dendam masa lalu. Selama ini Allah telah menyuguhkan kita dengan kesehatan dan solidaritas kebangsaan. Adakah rezeki yang lebih baik daripada itu? Pertanyaan itu dijawab dengan tetesan air mata, ketika Sang Kiai selaku sesepuh desa Jombang memberikan nasihat kepada kaum muda, menjelang keberangkatannya ke tanah suci Mekah.

Apa gunanya punya banyak uang kalau harus berkawan dengan penyakit? Selama ini mungkin kita sering kekurangan uang, tapi jika kita senantiasa sehat walafiat, di situlah letak anugerah kenikmatan hidup yang harus disyukuri. Sebab hakikatnya, tak ada kenikmatan hidup tanpa kemampuan untuk mensyukurinya.

Itulah moral massage yang terkandung dalam novel Perasaan Orang Banten. Sastra yang mengajarkan pesan-pesan ilahiyah (tauhid) semacam itu, akan mengarahkan kita agar rehat sejenak, ketimbang harus terus-menerus memforsir tenaga untuk bekerja, serta menjadi kuli-kuli nasional. Ia akan mengarahkan setiap orang yang putus asa, agar membatalkan niatnya untuk buru-buru bunuh diri. Sebab bagaimanapun, kita harus bertahan untuk hidup, membahagiakan orang lain sambil meyakinkan mereka, bahwa kehidupan setiap individu memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Setiap individu perlu menjalaninya secara istiqomah hingga mencapai ending yang husnul khatimah.

Membaca karya sastra semacam itu, membuat gairah kita terpacu bahwa semua manusia punya potensi yang berbeda untuk dapat menyumbang bagi kemajuan peradaban. Anda ingin merasakan jatuh cinta lagi. Anda ingin mendengar musik dan memnbaca novel terbaik lagi. Anda juga ingin menonton sekaligus menamatkan banyak film dan anime yang asyik-asyik. Bahkan, Anda pun bisa berbagi dengan menulis pengalaman getirmu dalam menjalani kehidupan, sampai kemudian Anda menyadari bahwa Anda tidaklah sendirian di muka bumi ini.

Kita sama-sama berlomba dalam perjuangan menjadi hamba-hamba terbaik, yang mampu berbagi kebaikan, serta memperingatkan mereka, bahwa kegagalan hidup hanyalah fase-fase yang pada gilirannya dapat membuahkan kebahagiaan dan kesejatian. (*)

Penulis adalah Pengamat sastra mutakhir Indonesia, juga menulis esai dan prosa di berbagai media nasional, cetak dan online.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.