Korban Terorisme di Tahun 1965

oleh -934 Dilihat
banner 468x60

Enampuluh tahun lalu, saya dikenal sebagai dokter muda di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ketika saya ditugaskan mengotopsi beberapa jenderal yang tewas karena insiden penembakan di kediaman mereka, saya berusaha menjalankan prosedur dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana saya pernah melakukannya saat terjadi pengeboman di Cikini, yang menewaskan beberapa warga sipil, anak-anak, hingga dua orang ajudan Presiden Soekarno di tahun 1957.

Ketika terjadi pengeboman di Bali, sebetulnya saya sudah menjalani masa=masa pensiun. Banyak orang yang menjemput kematian di sekitar Paddy’s Pub dan Sari Club di Jalan Legian itu. Tercatat 202 korban jiwa dan 209 orang luka-luka atau cedera. Kebanyakan korban merupakan wisatawan asing yang sedang berkunjung ke lokasi yang merupakan tempat wisata tersebut. Tim Investigasi Gabungan Polri dan kepolisian luar negeri yang telah dibentuk untuk menangani kasus itu menyimpulkan, bahwa bom yang meledak di Paddy’s Pub berjenis TNT seberat satu kilogram, sedangkan di Sari Club, berjenis bom RDX berbobot antara 50 hingga 150 kilogram.

Ratusan yang luka-luka segera dilarikan ke Rumah Sakit, sedangkan sebagian yang tewas dibawa ke Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda di pusat kota Denpasar. Banyak tokoh masyarakat Bali, baik yang beragama Hindu maupun Islam mempertanyakan prosedur ini, bahkan orang-orang yang bekerja di Rumah Sakit Umum (RSUD) juga tak memahami, mengapa otopsi harus dilakukan terhadap para jenazah. Padahal, penyebab kematian korban dalam serangan teroris itu sudah sangat jelas. Ada beberapa mayat yang di dalam tubuhnya terdapat pecahan shrapnel, kepingan logam, hingga kawat dan paku.

Tetapi, pada kasus seorang jenazah yang tewas di Sari Club, terdapat karyawan laki-laki berusia sekitar 50-an tahun. Di dalam tubuhnya, selain terdapat kepingan logam yang merobek perut dan tulang-tulang rusuknya, namun juga terdapat tumor-tumor sebesar telur ayam di sekitar lambung, ginjal hingga hatinya. Ketika dokter spesialis patologi mengecek isi tengkorak kepalanya, tiba-tiba ia tersentak kaget: “Ya ampun! Orang ini walaupun tidak terkena serangan teroris, sebenarnya sudah waktunya dia mati!”

“Huss!” potong saya mengingatkan.

Memang, tumor-tumor itu sudah merambat dan menggerogoti seluruh organ tubuhnya, bahkan hingga ke bagian otaknya. Seorang dokter muda yang kelihatannya agak profesional ikut-ikutan nyeletuk: “Meskipun tidak terkena serangan teroris, orang itu paling kuat hanya beberapa minggu lagi umurnya.”

Untuk kita sebagai manusia beriman, memang agak sulit memahami bagaimana seorang manusia Indonesia dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun, meskipun dia menderita kanker stadium akhir tanpa terdeteksi. Mungkin dia tergolong orang yang tak suka pergi ke rumah sakit, atau mungkin dia merasa sakit kepala dan mual-mual, namun cukup diolesi remason atau minyak kayu putih untuk penghilang masuk angin. Apa pun alasannya, ketika pihak keluarga menyambut jenazah setelah proses identifikasi, sulit bagi saya untuk memutuskan apakah perlu membicarakan soal belasan tumor ganas yang bersarang di tubuhnya, ataukah cukup diam saja seribu basa.

Kalau pun saya bicara terus terang kepada pihak keluarganya, lalu apa faedahnya jika kata-kata saya tak bisa menawarkan penghiburan sama sekali. Malah justru membuat mereka kaget setengah mati. Atau boleh jadi, mereka tak mengerti sama sekali urusan medis dan kedokteran, bahkan memilih tidak tahu banyak. Karena tidak jarang orang yang justru dapat mempertahankan hidup bahagia, lantaran tak ingin mengetahui sesuatu secara berlebihan.

***

Saya sempat berbincang-bincang selama setengah jam bersama janda mendiang yang tampaknya masih muda, sekitar 35-an tahun. Tapi tentu saja saya tak mau membuka rahasia soal tumor-tumor ganas yang bersarang di tubuh suaminya. “Sebetulnya, hari itu saya sudah melarangnya untuk berangkat kerja, tetapi tetap saja dia berangkat.”

“Emang kenapa, Bu,” pancing saya.

“Dia kelihatan sedang flu selama dua hari terakhir, tetapi dia tak mau menelepon hanya untuk sekadar izin sakit, apalagi sampai membolos.”

“Berarti suami Ibu memang rajin di tempat kerja.”

“Mungkin saja, tetapi mungkin juga dia takut sama atasannya.”

Pada akhirnya, setelah mengetahui kondisi istrinya, saya pun mempertimbangkan, toh tidak akan mengubah apa pun jika saya menceritakan apa adanya. Suaminya sudah tiada, dan dia sendiri telah menjadi janda dengan seorang anak yang kini beranjak dewasa. Inilah yang paling utama, ketimbang saya bicara tentang urusan ilmu kedokteran, serta perawatan kesehatan dan segala tetek-bengek kebugaran jasmani yang gak ada juntrungannya.

Si istri bahkan tidak membuka kain penutup pada mukanya. Ia hanya memeriksa lengan tangan kanannya yang terdapat tompel sebesar kacang tanah di sekitar pergelangannya. Tidak jarang orang mengidentifikasi jasad suami yang dikasihinya dengan memperhatikan wajah, tetapi wanita itu hanya ingin mengidentifikasi jasad mendiang dengan melihat pergelangan tangan, karena barangkali ingatan akan wajah suaminya akan menghantui perjalanan hidupnya ke depan.

Ia perhatikan dengan seksama jari-jari tangannya yang rapi dan gemuk, dengan kuku pada kelingkingnya yang agak panjang. Saya termasuk salah satu dokter yang ikut hadir pada acara pemakaman. Hadir juga pada kesempatan itu Bapak Gubernur Bali, Kapolda, kepala Kodam, ketua DPRD beserta beberapa tokoh agama, baik dari Hindu maupun Islam. Di sela-sela acara pemakaman, terlihat kepala Kodam berbisik-bisik dengan muka merah kepada Kapolda Bali, dan kita semua bisa memahami dari jauh apa-apa yang mereka bisikkan. Tentu saja agar Bali dapat meningkatkan keamanan dan stabilitas, yang membuat pamor mereka sebagai aparatur negara tetap diakui di mata masyarakat.

Tampaknya dugaan saya tidak meleset, ketika mendengar mereka bergantian memberikan sambutan setelah acara penguburan jenazah, yang isinya tidak kurang tidak lebih, yang itu-itu juga, dan begitu-begitu juga. Janda mendiang tampaknya kurang sreg mendengar janji-janji itu. Tetapi, ia berusaha menutupinya agar tak menyinggung siapa pun. Dia sudah terbiasa mendengar janji-janji elit politik di negeri ini, yang tak beda jauh dengan para politisi dungu, seperti tergambar pada novel Hotel Prodeo itu. Seusai acara pemakaman, lagi-lagi saya menimbang-nimbang apakah akan memberitahu istrinya perihal kondisi sang suami yang sebenarnya sudah di ambang kematian, apa pun penyebabnya.

Terdetik dalam hati saya ingin menanyakan hukum agamanya kepada para dai kondang sejuta umat, seperti Ustaz Adi Hidayat, Felix Siauw, Habib Jafar atau Arrazy Hasyim yang lulusan filsafat UIN Jakarta itu. Terlintas juga dalam benak saya, ingin menanyakan hal tersebut pada Mama Ghufron yang konon sering berjumpa Nabi Khidir dan dapat menghalau serangan para Malaikat. Namun akhirnya, ketika saya tanyakan Ryu Hasan, dokter slengean yang cucunya pendiri NU itu, tetap saja dia kewalahan dan tak dapat memastikan di mana letak ruh dan kesadaran, dalam jagat mikro tubuh manusia.

Di sepanjang perjalanan, setelah pamit dari rumah janda mendiang, saya mencoba mencari-cari jawaban filosofis dari segala kemungkinan yang terjadi. Apa dampaknya jika saya memberitahukan, dan apa pula akibatnya jika saya memilih diam dan bungkam saja.

Tetapi, informasi dan kebenaran yang tersimpan selama enampuluh tahun lalu, khususnya saat saya mengotopsi korban-korban para jenderal yang diambil dari lubang kecil yang dinamakan “Sumur Lubang Buaya” oleh klik kekuasaan Orde Baru, tentu tak mungkin saya sembunyikan dalam seumur hidup saya. Sebab, hal tersebut bukan menyangkut layak atau tidak layak, tetapi ini soal kejujuran yang harus dikemukakan kepada rakyat, ketimbang terus berusaha untuk menggelapkan, membohongi, serta menutupi kebenarannya.

Serangan teror yang mengorbankan jenderal-jenderal pendukung Presiden Soekarno, oleh anak-anak buah Jenderal Soeharto di tahun 1965 itu, sudah menyangkut hal prinsipil soal keterbukaan dan transparansi manusia Indonesia yang akan berdampak luas, serta memengaruhi sendi-sendi pikiran dan perasaan ratusan juta bangsa ini.

***

Tujuh hari setelah pemakaman lelaki berusia 50 itu, saya bermimpi tentang janda mendiang yang sedang tekun mengamati tompel sebesar kacang tanah pada lengan tangan suaminya. Mungkin tak ada seorang pun dari milyaran penduduk bumi ini yang memiliki kesamaan dengan lengan mendiang, bahkan dalam soal bentuk sidik jari sekali pun.

Segera saya berjijnjit menuju dapur agar tak membangunkan istri dan anak saya, kemudian menyeduh kopi pahit dan duduk sendirian sambil merenung. Apa tugas saya selaku khalifah di muka bumi ini? Bukankah selama ini saya jadi dokter dan bergabung dengan tim forensik, bukan lantaran pengabdian yang tulus, tetapi justru dibayar oleh negara? Jika negara membayar tugas-tugas pengabdian saya selama puluhan tahun, bukankah uang yang mereka bayarkan hakikatnya bersumber dari pajak dan jerih-payah perjuangan rakyat juga? Lalu, apa yang telah saya sumbangkan untuk proses kebaikan, kecerdasaan, dan kedewasaan rakyat saya sendiri?

Tak ada pilihan lain, jika saya harus jujur kepada Tuhan, maka saya harus bersikap jujur kepada diri sendiri. Bagi siapa yang mengenal dirinya, maka ia dapat mengenal Tuhannya. Karena itu, perlu saya sampaikan kepada rakyat Indonesia, mengutip surat Al-Maidah (ayat 8): Janganlah kebencianmu kepada suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adillah, karena adil itu lebih dekat dengan takwa.”

Tetapi ironisnya, ayat Al-Quran itu telah dilanggar oleh propaganda militerisme Orde Baru, yang membiarkan hoaks dan kebohongan tentang kematian para jenderal membias, bahkan dikembangkan oleh media-media Barat yang berambisi untuk menggulingkan kepemimpinan Presiden Soekarno.

Sebagai tim forensik, saya tidak menemukan apa pun pada tubuh-tubuh mayat korban G30S. Saya tidak menemukan adanya penyiksaan pada tubuh para jenazah. Pemerintah Orde Baru telah berbohong ketika menyebarluaskan informasi tentang adanya luka tusuk, luka iris, bahkan mutilasi. Mereka juga telah menyebar hoaks ketika memberitakan para jenderal yang dianiaya dan disiksa sebelum meninggal, bahkan memfitnah para aktivis Gerwani yang diberitakan menari-nari telanjang mengelilingi para korban.

Pada umumnya, luka-luka itu disebabkan peluru yang bersarang di tubuh-tubuh mereka. Dan saya percaya, tak seorang pun di antara mereka yang menderita tumor ganas seperti lelaki 50 tahun yang ditemukan tewas di Sari Club itu. Makanan mereka steril dan organik, tak pernah terkontaminasi oleh produk-produk Amerika seperti McDonald, KFC, HotDog, bahkan American Pizza sekalipun.

Mungkin hanya peluru-peluru yang bersarang di tubuh saja, yang merupakan produk Amerika Serikat. Karena, para pelaku penembakan itu menggunakan Thompson Submachine Gun, yang merupakan senapan mesin yang dirancang oleh John T. Thompson sejak tahun 1918. Senapan mesin ini diproduksi Amerika secara massal sejak Perang Dunia Kedua, yang juga dikenal dengan kaliber 45 ACP. Sedangkan, Angkatan Darat Indonesia menyebut jenis senapan ikonik ini dengan julukan “Tommy Gun”.

Seharusnya, pemerintah Orde Baru melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai sumber peluru dan senapan tersebut. Tetapi lagi-lagi, mereka enggan melakukannya. Orde Baru juga mengabaikan nasib para keluarga mendiang jenderal, setelah mereka menduduki tampuk kekuasaan. Para janda mendiang mengaku kesulitan menghidupi anak-anak mereka, hingga mereka menyadari bahwa ayah-ayah mereka memang dulunya adalah pendukung setia Presiden Soekarno yang lebih dulu dikorbankan, sampai akhirnya kekuasaan Soekarno digulingkan.

Untuk itu, Presiden Soekarno pernah meminta hasil otopsi agar segera diberitahukan kepada publik, karena yang diinginkan Soekarno adalah kejelasan dan kejujuran demi mendidik rakyat yang dicintainya.

Sedangkan, mereka yang mengambil keuntungan dari kekisruhan politik, hanya menghendaki rakyat Indonesia tetap bodoh, agar terus-menerus dibohongi dan ditakut-takuti oleh penguasa baru sebagai abdi-abdi lokal, di bawah kendali para elit global sebagai induk semangnya. Dan pola seperti itu, masih terus berlanjut hingga saat ini. (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory, juga penulis novel Pikiran Orang Indonesia, Jenderal Tua dan Kucing Belang

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.