Kebohongan dalam Rumah Tangga 

oleh -1306 Dilihat
banner 468x60

Usia suaminya sekitar 64 tahun, hanya selisih satu tahun di atas istrinya. Sekitar Pk. 03.00 dini hari sang istri terbangun. Sang suami tak ada di sampingnya, sepertinya ia mendengar suara pintu dapur yang sedikit berderit. Ia melangkah pelan ke arah dapur. Suasana sunyi dan senyap, hanya diterangi lampu 8 watt yang agak remang. Mereka berjumpa di depan kulkas tua yang pintunya sudah berkarat. Ada satu ketupat yang terbelah dua di dalam kulkas. Si istri kemudian menawarkan, jika sang suami mau memakannya, ia akan memanaskan opor ayam di kuali yang hanya tinggal kuahnya saja. Si suami menyetujuinya hingga ia duduk terdiam di kursi menunggu hidangan yang akan disediakan istrinya.

Tadi, saat ia meletakkan tangannya di atas bantal suaminya, ia menyadari tempat itu kosong. Ia tak mendengar suara napas suaminya. Kini, di atas meja ia menyediakan semangkuk ketupat dan kuah opor ayam. Dia tahu kalau suaminya telah membelah ketupat itu menjadi dua. Pisaunya masih tergeletak di samping piring bersama janur yang sudah terbelah. Ia mengambil sendok dan memotong ketupat menjadi potongan-potongan kecil yang kemudian disiram dengan kuah opor hingga penuh.

“Apakah ketupat ini perlu dibagi menjadi dua mangkuk?” tawar suaminya sambil menatap serius ke wajah istrinya.

“Enggak usah,” tolak sang istri, “perut saya masih kenyang.”

Si istri memegang perutnya yang kian membuncit. Lemak di sekitar pinggul semakin menggelambir. Tak beda jauh dengan timbunan di sekitar rahang dan pipinya yang tembem. Hidungnya yang kecil dan pesek seakan tenggelam oleh tumpukan lemak di sekitar pipi kiri dan kanannya. Ia menyadari berat badannya yang bertambah dua kali lipat setelah melahirkan anak pertama dan keduanya yang kini sudah berkeluarga, dan tinggal jauh di perantauan.

Beberapa minggu lalu, ia sempat menimbang berat badannya yang mencapai 108 kilogram. Saat siang hari kadang sosoknya terlihat lebih muda, dan otot-ototnya agak mengencang, tetapi ketika malam tiba si istri benar-benar menyadari, seakan dirinya jauh lebih tua ketimbang suaminya.

Julukan gembrot yang disematkan memang sepadan dengan kondisi tubuhnya yang bulat, dan tingginya hanya 153 sentimeter. Sementara sang suami tampak masih segar-bugar, dengan kondisi fisik yang prima dan semampai.

“Sebaiknya kamu tidur saja. Kalau lama-lama keluar kamar di tengah malam begini, nanti kamu sakit lagi,” ujar suaminya.

Ia tak mempedulikan nasihat suaminya. Bahkan, ia tak tahan karena suaminya berbohong. Laki-laki itu terus-menerus berbohong setelah menikah dengannya selama empat puluh tahun.

“Nanti kalau selesai makan, taruh saja piringnya di bak cucian,” ujar istrinya sambil menyeret kakinya yang gemuk menuju kamar.

Ia berbaring sendirian di ranjang, mengingat masa lalunya sewaktu gadis bersama-sama teman-teman sepantarannya ketika duduk di bangku kuliah. Ada satu-dua pria yang bersimpati, salah satunya menunjukkan rasa suka kepadanya. Saat itu, ia masih gadis belia, 22 tahun, dan berat badannya hanya 70 kilogram. Walaupun tak bisa dikatakan cantik, dulu ia masih bisa bersolek dan berdandan sesuai dengan postur dan bentuk tubuhnya.

Kadang, dia membuka-buka album foto saat pernikahannya, dan sesekali menunjukkan pada suaminya, meski sang suami memandangnya sepintas seakan tanpa ekspresi sama sekali.

Seketika itu, si istri menengok ke arah jendela, seakan melihat adanya bayangan di luar sana. Ia melongok sedikit ke kaca jendela saat suaminya masuk, “Kenapa belum tidur?” tanya sang suami. “Tidurlah, jangan sering-sering begadang. Nanti kamu sakit lagi.”

Wanita itu mengangkat tangannya ke arah saklar lampu. Keduanya kembali menyusuri lorong-lorong gelap di pembaringan. Cuaca di luar jendela berangin kencang. Suara dahan pohon berderak-derak mengenai atap rumah.

“Itu seperti suara dahan pohon tertiup angin?” tanya istrinya pelan.

“Mungkin,” jawab suaminya, “nanti kita suruh si Juned untuk menebasi dahan-dahan pohon yang sudah memanjang.”

Tak berapa lama, si istri mendengar suara lagi. Kali ini di sekitar jendela. “Bukan suara atap rumah, sepertinya bunyi ketukan?” Ia menyalakan lampu sebentar, jam dinding menunjukkan Pk. 03.45 dini hari.

Ia kembali mematikan lampu, lalu bergumam, “Enggak mungkin bunyi dahan pohon seperti itu.”

“Sekarang lagi musim hujan, di luar banyak angin,” sahut suaminya pelan, seolah-olah ia mengatakan dalam keadaan setengah tidur.

“Oo, kamu belum tidur rupanya,” sindir istrinya.

“Karena cuacanya dingin.”

“Lalu?”

“Sudahlah tidur, nanti kamu sakit lagi.”

Wanita itu menyadari betapa palsunya suara suaminya ketika ia berbohong. Sebentar kemudian, muncullah kesunyian. Si istri menguap menunjukkan rasa kantuk. Ia mendengar suaminya mengunyah sisa-sisa makan ketupat di mulutnya. Tak berapa lama, keduanya terdiam membisu, lalu si istri menghela nafas dalam-dalam seakan menunjukkan dirinya masih terjaga.

Jika suaminya sedang benar-benar lapar, ia bisa makan empat ketupat sekaligus dengan opor ayam yang disediakan istrinya. Tapi kali ini, hanya tersisa satu ketupat bekas tadi malam. Di pembaringan di samping istrinya yang gembrot itu, perut sang suami masih terasa lapar. Seakan membayangkan tiga ketupat lagi tersedia di meja makan, dan ia siap membelahnya dengan sebilah pisau, lalu melahapnya dengan rakus dan kemaruk. []

Oleh: Muhamad Pauji

Penulis adalah Penikmat sastra mutakhir Indonesia, juga pegiat organisasi OI (Orang Indonesia).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.