Ceramah Pengantar Kematian

oleh -655 Dilihat
banner 468x60

Ketika ratusan pasien Covid-19 meninggal dalam beberapa bulan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang, justru Pak Suyanto, seorang Sekretaris Daerah (Sekda) terkapar di kantornya karena komplikasi dan serangan jantung. Iring-iringan pengantar jenazah berangkat menuju masjid sebelum dimakamkan. Bupati Herman selaku rekan kerja dan atasannya dimintai bantuan oleh istri mendiang agar turut-serta memberi sambutan, tetapi kemudian Bupati mengontak Ustaz Sukra, seorang sahabat lamanya, agar memberi ceramah penutup untuk mengantar kepergian almarhum.

Seperti diketahui bersama, Ustaz Sukra ini dikenal memiliki bakat hebat dalam berpidato maupun berceramah. Kadang menyempatkan diri mengisi khotbah Jumat, ceramah pernikahan, kuliah tujuh menit (kultum) menjelang buka puasa Ramadhan, hingga acara-acara pemakaman jenazah.

Kata-kata yang diucapkannya mengalir fasih dari mulutnya, baik dalam keadaan perut berisi maupun keroncongan. Kadang kata-kata itu membuat para hadirin merasa sedih, terenyuh dan terharu dibuatnya. Tidak jarang ibu-ibu pengajian yang merasa dirinya banyak dosa menangis sesenggukan, dan momentum ini dimanfaatkan Sang Ustaz untuk menyampaikan orasi yang lebih tajam dan menyentak-nyentak, sampai akhirnya mengundang banjir air mata seperti sengatan listrik yang menjalar ke mana-mana.

Sering ia diundang ceramah untuk mengisi acara majlis ta’lim. Meskipun, lebih sering ia menggantikan posisi penceramah utama karena berhalangan hadir. Kadang ia bicara ngalor-ngidul membahas hari kiamat dan akhir zaman, perihal munculnya satrio piningit atau Nyai Roro Kidul yang dihubung-hubungkan dengan dalil dari Al-Quran dan hadis-hadis Nabi. Kalau waktu bicaranya sudah tak tertanggungkan lagi, kadang beberapa ibu maju ke depan, mendekati panitia agar ceramahnya segera dihentikan karena malam sudah larut.

“Siap, Pak Bupati, pagi ini jam 09.00 tepat, saya akan hadir di masjid At-Taqwa,” kata Ustaz Sukra membalas permintaan Bupati.

“Usahakan pakai sarung dan kopiah, supaya suasananya lebih khidmat,” tambah Bupati lagi.

“Baik, Pak Bupati.”

“Sebenarnya, kalau dia meninggal karena Covid, cukup dikumpulkan saja dengan mayat-mayat yang siap dikuburkan minggu ini. Tetapi, dia meninggal karena serangan jantung, dan tak mungkin dikuburkan secara protokoler. Jadi, tolong diberi wejangan atau pengantar ke alam kubur dengan sambutan yang agak panjang, karena di sana juga akan ikut-serta menyolatkan dari tingkat eselon atas hingga menengah, bahkan para anggota dewan akan ikut mengantar sampai pemakaman. Kalau saja almarhum ini hanya pegawai negeri biasa, atau sekadar anggota dinas dan eselon bawah, mungkin tidak begitu merepotkan. Tetapi, Ustaz tahu sendiri, kan, dia itu Sekda, seorang sekretaris, atau boleh dibilang sebagai penjaga dan tiangnya kantor kami…”

“Oh, ya, ya, saya ngerti… dia sekretaris Bapak… dan kalau enggak salah, Bapak sendiri pernah mengenalkan pada saya…”

“Ya, benar sekali… dan nanti setelah acara pemakaman, tolong Pak Ustaz jangan buru-buru pulang, karena Bendahara sudah menyiapkan amplop khusus untuk Pak Ustaz…”

“Baik, siap, terima kasih.”

Para pejabat dan anggota dewan beserta tokoh masyarakat berbaris di shaf depan. Sedangkan rakyat biasa ikut menyolatkan di barisan tengah dan belakang. Sebagai pemberi sambutan utama, Ustaz Sukra mulai maju ke depan, berdiri di samping kiri peti jenazah. Para saudara dan handai-taulan berdiri di samping kanan. Dan setelah Bupati Herman mengucap salam, kontan disambut dengan ribuan jamaah yang ikut menyolatkan.

Tak berapa lama, sambil menunggu hingga semuanya tenang, Pak Bupati melangkah maju, mengalihkan pandangan kepada semua yang hadir, dan katanya tenang, “Kita telah ikhlas mengantarkan kepulangan jenazah, meskipun secara pribadi saya merasa kaget dan terharu karena kepulangan yang tiba-tiba seperti ini. Karena itu, mari kita dengarkan wejangan dan sambutan Ustaz Sukra sebagai pengantar kepulangan almahum, serta perpisahannya dengan kita yang hidup di alam fana ini….”

Ustaz Sukra maju ke depan, perisis di depan peti jenazah. Ia membetulkan posisi kopiahnya yang kebesaran, mengucap salam, berdehem beberapa kali, dan katanya: “Kita semua telah kehilangan putera terbaik, pejabat penting di kabupaten ini… kita semua tahu bahwa Pak Soegeng ini orangnya baik hati, ramah, dan sangat dekat dan akrab dengan masyarakat. Dia sangat dermawan dengan rakyat kecil, baik sebelum diadakannya acara pemilu, juga tetap baik dan soleh setelah diadakannya acara pemilu. Kita semua merasa kehilangan karena cepatnya beliau meninggalkan kita, sampai-sampai kita semua merasa sedih dan pilu. Kita juga tahu sifatnya yang akrab dan sangat mencintai ketiga anak-anaknya, juga sangat menyayangi istri yang ditinggalkannya. Tetapi apa pun, dan bagaimana pun kita tak bisa menghindar dari takdir yang digariskan Sang Pencipta. Dialah yang pertama kali menghembuskan nafas ke jasad Pak Soegeng, dan Dia pula Yang Berwenang untuk mengambilnya kembali….”

Sementara Ustaz Sukra melanjutkan ceramahnya, para hadirin saling menoleh ke kiri dan kanan, mulai berbisik-bisik. Mereka merasakan adanya kejanggalan dengan materi ceramah tersebut, misalnya Ustaz Sukra menyebut nama Pak Soegeng, sedangkan yang wafat adalah Pak Suyanto. Kemudian, dikatakan bahwa si mayat begitu dermawan dan akrab dengan rakyat kecil, padahal sebagai pejabat kabupaten Pak Suyanto dikenal keras kepala, garang, dan tak pernah mengulurkan tangannya untuk rakyat kecil. Lagipula, dia hanya memiliki anak tunggal satu-satunya.

Lalu, dibilang dia penyayang kepada istri dan anaknya, padahal dalam beberapa bulan terakhir, dia pernah disatroni istri pertamanya di hotel dan sedang berduaan bersama istri mudanya. Suatu ketika, ia berurusan untuk ke sekian kalinya dengan pihak aparat karena percekcokan dengan seorang waria di sebuah warung kopi di Pasar Kelapa.

Tetapi, para hadirin berusaha mengendalikan diri, bersikap tenang, dan membiarkan Ustaz Sukra meneruskan ceramahnya sambil mengutip dalil-dalil Al-Quran: “Kita perlu menghargai pengabdiannya yang tinggi sebagai birokrat dan pejabat publik, bahwa tugasnya sebagai umaro yang selalu bersinergi dengan ulama di kabupaten Serang ini. Kita semua tahu bahwa tipikal pejabat seperti Pak Soegeng inilah yang patut kita teladani bersama. Karena itu, taatlah kepada perintah Allah, Rasul dan pemerintah yang sedang memimpin. Kita juga tahu, Pak Soegeng ini amat benci para koruptor yang merugikan rakyat. Orangnya tak mau kompromi dengan suap menyuap, dan dia begitu jujur dalam memberi pelayanan kepada rakyat Serang… dan satu hal yang membuat saya terkenang dan selalu ingat, adalah murah senyumnya, tahi lalat di hidung, serta jenggotnya yang tak pernah saya lupakan…”

Tak lama kemudian, para pendengar semakin gusar dan mulai mengamati sesuatu yang aneh pada Sang Ustaz. Pak Bupati mendekat dan mulai berbisik pelan, “Kalau Pak Soegeng masih hidup, Ustaz, dia ada di sini… ikut menyolatkan jenazah…”

Dengan terkesiap Ustaz Sukra membelalakkan matanya, “Jadi, yang mati ini siapa?”

“Pak Suyanto, Sekda yang sekarang… kalau Pak Soegeng, Sekda periode tahun lalu….”

Sambil menoleh ke arah Pak Soegeng seakan memastikan jenggot dan tahi lalatnya, Sang Ustaz segera melotot ke arah Bupati, “Tapi Bapak sendiri yang bilang kalau sekretaris Bapak meninggal, iya kan?”

“Iya, benar, tapi Pak Soegeng sudah dipindahkan sebagai Kepala Humas setahun lalu… tapi yang meninggal ini sekretaris sekarang… namanya Suyanto.”

Bupati Herman menoleh ke keranda mayat. Pak Soegeng sebagai Humas periode sekarang, yang berdiri di baris kedua, menatap jengkel ke arah Sang Ustaz. Ingin rasanya ia menempeleng mukanya yang kuning langsat dan kecokelatan.

Para hadirin terheran-heran, mengapa tidak ada konfirmasi yang jelas antara Bupati, keluarga jenazah dan pihak penceramah. Setelah prosesi pemakaman usai, Pak Soegeng berjalan pelan ke arah Sang Ustaz yang sedang berdiri di samping Bupati.

Sambil membetulkan posisi sarungnya yang agak kedodoran, ia pun berkata ketus, “Sebetulnya ceramah Anda tadi ditujukan buat orang hidup atau orang mati?”

“Ee… anu…,” balasnya kikuk dan serba salah.

“Apakah Anda mau mengubur saya hidup-hidup?”

“Enggak, Pak… sama sekali tidak…”

“Apakah Anda tidak tahu kalau si Suyanto itu tak pernah memelihara jenggot seperti saya ini, dan dia tak pernah jenggotan seumur hidupnya. Dagunya selalu kelimis sepanjang hayat. Juga tak ada tahi lalat di hidungnya seperti saya ini,” ia pun mengelus-elus tahi lalat besar di hidungnya.

Semuanya terdiam kaku, lalu sambung Pak Soegeng, “Kenapa enggak ditanyakan dulu kepada Pak Bupati mengenai dia, apakah betul Suyanto itu seorang dermawan, sayang pada keluarga, murah senyum dan benci pada korupsi… coba tanyakan pada Pak Bupati ini… siapa si Suyanto itu sebenarnya…”

“Sudah, sudah, cukup, tidak baik kita membicarakan orang mati,” Pak Bupati berusaha menyudahi pertengkaran. “Setidaknya Pak Ustaz sudah menyampaikan ceramah yang bagus untuk mengantar kepergian Pak Suyanto tadi. Semoga para birokrat dan pejabat kita mau menyimak dan mengambil pelajaran dengan sebaik-baiknya.”

“Bukan begitu, Pak,” ia menggeleng sambil terus mendesak, “saya hanya ingin tahu, apakah si Sukra ini benar-benar seorang Ustaz, ataukah cuma pemain debus keliling?”

“Tapi Bapak sudah dengar tadi, kan, dia mengucap dalil-dalil yang cukup fasih.”

“Masalahnya, pedagang kaki lima juga pintar mengutip dalil-dalil tentang perdagangan.”

“Saya kira, Ustaz Sukra ini penceramah agama, dan… maksud saya, bukan sekadar pedagang keliling…”

Sambil tersenyum simpul, Pak Bupati menepuk-nepuk pundak Pak Soegeng, lalu melangkah menuju mobilnya. “Maafkan kami, Pak, ini soal kesalahpahaman… kami semua tahu, Pak Soegeng ini memang pejabat terbaik di kabupaten kita ini… dan para pejabat sekarang perlu banyak mencontoh dan meneladani kinerja Bapak… semoga lain kali kesalahpahaman ini tak terulang kembali….” (*)

Oleh: Hafis Azhari

Penulis adalah Peneliti historical memory Indonesia, juga pengarang novel Pikiran Orang Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.