Oleh: Indah Noviariesta
Sudut-sudut kehidupan rumah-tangga dalam karya-karya Hafis Azhari, seakan menyimpan kosmos tersendiri dalam khazanah sastra Indonesia. Halaman rumah tak pernah digambarkan sebagai halaman, bahkan dapur tak pernah dilukiskan sebatas tempat menanak nasi. Ia menceritakan perihal pertengkaran, kesunyian, aroma perselingkuhan, kelembutan terselubung, rahasia yang tercium, bahkan gestur sekecil apa pun yang bergema dalam lintas generasi. Ia menggambarkan fenomena rumah-tangga Indonesia, sebagai tempat berlindung sekaligus medan pertempuran, di mana ruang-ruang yang tampak biasa, dapat dikemas secantik mungkin menjadi estetika yang luar biasa.
Dalam novelnya Pikiran Orang Indonesia (POI), sering kali ia melihat ke dalam untuk mengungkap apa yang banyak dilupakan buku-buku sejarah. Tergambar suatu psiko-histori Indonesia, semacam tekstur kehidupan, keintiman ruangan, hingga koreografi tugas yang menyatukan seluruh keluarga dengan budaya Nusantara hingga Asia. Dari satu bab ke bab lain, pembaca yang awam akan mengira, bahwa karyanya merupakan corak sastra yang acak dan absurd, sementara yang lainnya mampu memberi penilaian obyektif, bahwa Hafis Azhari dengan POI-nya tak ubahnya seorang pencatat sejarah rumah tangga yang paling menjulang tinggi.
Kehidupan keluarga dan rumah-tangga, masa lalu narator utama, pendidikan hingga pengalaman religiositasnya, bersatupadu dalam suatu era kebangkitan generasi baru yang bergejolak, pemberontakan nalar dan akal sehat, seakan menggugat suatu rezim yang melindungi sekaligus mencekik kepentingan rakyat.
Dalam cerpennya, Maesa Utami (litera.co.id) Hafis melukiskan rumah-tangga yang menyembunyikan hasrat terlarang dan pengabaian emosional sebuah pernikahan. Bagaikan interior rumah tangga yang sarat dengan kerahasiaan, sensualitas dan subversi. Tak beda jauh dengan cerpen lainnya, Konsultasi Kesehatan (islampos.com) yang menyiratkan rumah-tangga seakan menjadi ruang politik, kebingungan identitas seorang psikiater yang tak mampu menyembuhkan penyakit pasiennya, sebelum ia sanggup menyembuhkan penyakitnya sendiri.
Ia melukiskan pintu-pintu yang setengah tertutup, sebagai detail-detail kisah yang mengungkap suhu emosional pernikahan dan dislokasi kehidupan seorang profesional yang mengalami kematian pakar atau post power syndrom. Ia juga berhasil menyiratkan ruang-ruang domestik menjadi arsip memori bagi keluarga yang menghadapi trauma dan tekanan psikotik, serta gejala patologis sejak era tahun 1965.
Hal serupa terjadi pada novelnya Perasaan Orang Banten (POB), bagaikan tali temali yang terputus, lalu dirajut menjadi kain tenun yang langka dalam estetisme sastra yang menawan. Ia melukiskan rumah-tangga dalam suatu kampung dan pedesaan (Jombang) yang mencerminkan miniatur kebantenan dan keindonesiaan. Rumah-rumah tangga yang merembes ke dalam ekosistem masyarakat religius yang tak pernah menjiwai aturan dan ajaran agamanya. Bagaikan atheisme terselubung yang justru lebih mengimani mististisme dari ajaran leluhurnya. Jimat-jimat yang dikemas dengan mantra-mantra pusaka berbahasa Arab, yang dianggap bertuah, lalu diperjualbelikan di tengah pasar, bagaikan lembaran-lembaran keramat dari rahasia terselubung ajaran Kabalah.
Dalam novel POI, Hafis berhasil menggugat fenomena rumah-tangga Indonesia yang tidak pernah netral kelas. Apa yang tampak biasa telah diungkap menjadi lapisan ketidakadilan dan kesewenangan, dalam rangka membangkitkan kesadaran publik yang selama ini dininabobokan oleh penguasa. Baginya, rumah bukan sekadar tempat berlindung, melainkan sebagai sarana potensial di mana kasta militerisme dapat menyusup melalui celah-celah pintu bagaikan mudahnya sinar matahari menyusup masuk. Anak-anak belajar ketaatan dan kepatuhan pada dogma-dogma agama, yang kemudian dengan mudah direkrut dalam ajang pendidikan yang indah sekaligus politis-pragmatis.
Dalam novel POB, Hafis secara lugas menunjukkan bagaimana ruang domestik mencerminkan aspirasi kelas yang berubah-ubah. Ia menggambarkan keinginan dan hasrat kaum pengusaha dan politisi kampung yang tak pernah mempelajari ilmu-ilmu politik modern. Para jongos yang mengabdi sebagai kaum inlander dengan mobilitas ke atas, tekanan kehormatan kelas menengah, bahkan teater sehari-hari untuk mempertahankan status dalam empat dinding.
Kisah cinta
Dalam cerpen Cinta Itu Buta (Suara Merdeka), Hafis juga menggambarkan rumah-tangga sebagai wadah pengawasan sosial. Ketidakmampuan sang tokoh menggapai hasrat cintanya, diliputi oleh tekanan yang diberikan melalui kerabat yang memberikan petunjuk di ruang-ruang dapur. Para teman dan tetangga berbisik-bisik di ruang-ruang pengajian, ibarat festival ritual yang dijalankan secara tidak manusiawi dan beradab.
Dalam cerpennya, Detik Terakhir Kematian Seorang Jenderal Tua (Radar NTT), Hafis melukiskan kehidupan rumah-tangga seorang militer yang menyimpan karakter yang menyerap rasa malu, duka, dan harapan. Ia mengungkap keterkaitan antara kekuasaan, memori dan warisan militerisme Orde Baru, sebagai cinta dan kasih sayang yang dikodekan dalam rumus-rumus algoritma. Di situ tersirat, bahwa hakikat makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga garis keturunan. Kisah-kisah keluarga yang bekelindan dengan lelucon tentang karma-karma leluhur. Ruang-ruang dapur yang dikemas menjadi mitos para pengkhotbah dan pendongeng kaum politisi.
Dalam novel POB kita dapat menyimak pelukisan rumah-rumah tangga yang meluas ke ruang-ruang publik, di sekitar pertigaan kampung Jombang, warung kopi, kios pangkas rambut, lingkungan pesantren, masjid, suara-suara azan yang bersatupadu dengan teriakan para pedagang di pasar-pasar kakilima. Seakan ia mencerminkan karakter sastra Asia Selatan yang melukiskan tangga depan rumah, tempat para tetangga ngerumpi di saat senja; halaman tempat para perempuan mengeringkan padi sambil bergosip dan bertukar cerita; termasuk beranda tempat anak-anak menguping rahasia orang dewasa. Di ruang-ruang liminal itu, yang tidak sepenuhnya privat maupun publik, dapat disulap menjadi sentakan karya dan kreasi yang apik dan adihulung dalam khazanah sastra Indonesia.
Hubungan cinta antara Yosef dan Jamilah, dalam kaitannya dengan tokoh Tohir selaku marbot masjid, telah menjelma bagaikan semesta cinta yang rapuh di tengah konflik pancaroba. Ia mencerminkan simbol kelembutan yang terus-menerus terancam, namun tak pernah padam. Novel POB seakan sanggup menyibak dan menjelajahi halaman belakang rumah, gang-gang di perkampungan, juga hunian-hunian sempit, yang merupakan ruang-ruang yang mengungkap kekerasan yang dilakoni para politisi dungu, pengusaha kampung, cinta buta yang bertepuk sebelah tangan, hingga hasrat seksual yang tak pernah terlampiaskan. Sampai akhirnya, menyimpan bara api dan hawa nafsu yang kian menggelegak dan membabi-buta.
Rumah tangga
Hafis seakan sanggup menyibak kekerasan dalam rumah-tangga (KDRT) yang ditulis tanpa ornamen; pintu-pintu terselubung misteri dari sekian generasi yang ditutup rapat oleh para leluhur. Ia membuka mitos dan karma-karma leluhur yang seringkali disebut “pantangan” atau “pamali”. Ia juga menyingkap hasrat tersembunyi dari kaum atheisme beragama, serta sanggup mendefinisikan ritme kehidupan agraris yang seringkali menjadi tunggangan mereka. Siapa yang duduk di mana; siapa yang memasuki rumah siapa; siapa yang harus makan lebih dulu; bahkan siapa yang wajib berdiri di barisan kursi depan pada acara-acara hari besar keagamaan.
Secara implisit, ia membicarakan yang lembut dan yang mengerikan, hingga para pembaca merasa riskan ketika melihat adanya kebrutalan yang tersembunyi di balik tembok-tembok. Meskipun, pada dasarnya para pembaca akan dibuat sadar, karena sesuatu yang riskan itu justru merupakan bayangan dari hakikat dirinya sendiri.
Dalam cerpennya, Menanam Pohon Sebelum Kiamat (tatkala.co) Hafis menorehkan tamsil dan metafora perihal kehidupan rumah-tangga sebagai semesta mikro yang bersifat sakral dan spiritual. Baginya, rumah tangga adalah sekolah pertama untuk kekuatan, di mana anak-anak dapat belajar tentang kepatuhan, perbedaan pendapat, rasa takut dan kelembutan, jauh sebelum mereka mempelajarinya di dunia terbuka. Baginya, rumah tangga adalah tempat berkembangnya hal-hal yang tak terucapkan. Kesiapan moral menghadapi badai prahara yang mengisyaratkan kesunyian, ketakutan, hasrat, dan kesehatan mental. Ia seakan mampu memecah kesunyian rumah-tangga, lalu mengubahnya menjadi medan-medan naratif.
Bagi Hafis, rumah dan keluarga bagaikan kapal yang membawa beban dari segala yang akan ditinggalkan. Ia menyimpan sejarah lebih setia daripada buku-buku teks. Kisah-kisah lisan, pusaka leluhur, resep-resep, ritual agama serta kepentingan politik, semuanya tersimpan di ruang-ruang pribadi, bukan pada monumen-monumen yang dipolitisasi para penguasa.
Melalui karya-karyanya, Hafis seakan mampu memprsembahkan fenomena alam semesta yang mengejawantah di balik pintu-pintu rumah tangga. Ia bukan hanya sebagai arsitektur, namun sekaligus menyimpan argumen, warisan, negosiasi, memori, dan mitos-mitos leluhur. Ia menyimpan generasi-generasi di balik dindingnya, bahkan setelah mereka tiada. Bagi Hafis Azhari, rumah tangga adalah semesta mikro yang harus disusun dan dibentuk oleh rasa kasih sayang, diterangi oleh harapan, serta diilhami oleh sejarah yang mendewasakan.
Membaca karya Hafis, seakan kita diingatkan, bahwa ruangan terkecil pun harus dihargai, karena ia dapat menampung semua benua dan jagat semesta ini.
Karakter cerpen
Dalam banyak cerpennya, baik yang disumbangkan untuk media daring maupun luring, Hafis berhasil menorehkan rumah diaspora menjadi arena negosiasi antar generasi, di mana keyakinan dan hasrat berbenturan di meja makan, warung kopi, hingga ke pasar-pasar. Sepertinya, ia sengaja menjadikan dialek Jakarta sebagai sentrum bagi dialog tokoh-tokohnya. Dialek itu berakar dari bahasa Melayu Pasar yang biasa dipakai sebagai “bahasa gaul” oleh Bung Karno, Hatta, Sjahrir dan para bapak bangsa kita. Sedangkan, untuk karya tulis digunakan bahasa Melayu Tinggi yang perkembangannya terus berproses hingga hari ini. Namun demikian, Hafis punya caranya sendiri untuk melabrak kultur pendangkalan dan pembakuan bahasa, yang selama beberapa dekade diprogramkan oleh politik militerisme Orde Baru.
Membaca karya-karya Hafis Azhari, baik dalam bentuk novel maupun cerpen-cerpennya, tentang hal-hal domestik yang terungkap, tak ubahnya dengan membaca kepribadian diri kita sendiri; cermin halaman rumah kita, nenek dan kakek kita, kamar anak-cucu kita, kursi-kursi usang leluhur kita, berikut karakter tersembunyi dari manusia Indonesia. Termasuk sinar mentari dari peradaban asia dan dunia yang saling menyusup masuk ke dalamnya. Bahkan, di suatu tempat dalam lubuk hati, kita semua membawa satu ruangan semesta, sebuah pintu yang membuka ke dalam jati diri kita saat ini, sebagai satu kesatuan dengan masa lalu, yang pasti akan berdampak baik maupun buruk bagi masa depan kita.
Dalam novel POB, Hafis telah membantu kita semua, karena sanggup membuat dunia pribadi terasa lebih mudah dipahami. Corak prosa yang mengingatkan kita, bahwa tak ada yang boleh diremehkan dari relung-relung keluarga dan rumah-tangga manusia Indonesia. Ibarat bekal baja yang dapat menampung rasa cinta. Ia seakan mendobrak pintu leluhur yang dengan rapat menyimpan ketakutan selama berabad-abad.
Dan bagi banyak pembaca, terutama mereka yang telah meninggalkan rumah, karya dan kreasi Hafis bagaikan atlas emosional, sebuah cara agar mereka kembali ke kampung halaman. Memasuki rumah dengan jiwa-jiwa lapang, serta membuka pintu bagi transformasi spiritual yang mencerdaskan dan mendewasakan. ***
Penulis adalah Aktivis organisasi Gerakan Membangun Nurani Bangsa (Gema Nusa), pemenang lomba penulisan Cagar Budaya, juga peraih nominasi untuk penulisan cerpen nasional terbaik, yang diselenggarakan Litera (2021)







