RADARNTT, Kupang – Menyatukan gagasan membangun Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam semangat kebersamaan. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem NTT menggelar Diskusi Publik bertajuk Kepemimpinan dan Pembangunan NTT dengan menghadirkan Gubernur NTT dan enam pembicara dari kalangan akademisi, praktisi dan politisi.
Diskusi Publik yang dihadiri sekitar 1000 peserta dari berbagai unsur pemangku kepentingan, akademisi, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Kupang itu berlangsung pada Jumat, 19 Desember 2025 di Millenium Ballroom.
Ketua DPW Partai NasDem NTT, Edistasius Endi, dalam kata sapaan pembukaan mengatakan diskusi publik ini penting sebagai wadah konsolidasi gagasan dan konsep pembangunan untuk kemajuan NTT.
“Saya berharap melalui forum ini kita bisa menyatukan konsep, gagasan, dan pikiran untuk NTT ke depan,” ujar Edi Endi saat membuka diskusi.
Ia mengakui meskipun NTT memiliki kekayaan potensi alam di sektor pangan, pariwisata, serta energi baru dan terbarukan, namun daerah ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan pembangunan yang serius.
“Harus kita akui, NTT masih menghadapi tantangan besar, mulai dari kualitas pembangunan manusia, ketimpangan infrastruktur, hingga angka stanting yang masih tinggi,” tegasnya.
Karena itu, Edi Endi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu dan bekerja sama membangun NTT secara kolektif. Menurutnya, pembangunan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus lahir dari kebersamaan dan kesadaran bersama.
“Dengan duduk bersama, kita bisa menyatukan pikiran untuk membawa NTT menjadi kebanggaan masyarakat NTT dan juga Indonesia,” tegasnya.
Dalam diskusi tersebut, Edi Endi juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang kuat dan berorientasi pada perubahan. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan kekuasaan, melainkan tanggung jawab moral untuk menjadi penerobos ketertinggalan.
“Pemimpin harus berani menerobos dan mengejar ketertinggalan agar NTT bisa sejajar dengan daerah-daerah yang lebih maju,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia berharap kepemimpinan NTT saat ini mampu melahirkan keputusan dan kebijakan strategis yang berpihak pada masa depan daerah. Ia mendorong model kepemimpinan yang visioner, inklusif, dan kolaboratif agar pembangunan benar-benar lahir dari kebersamaan, bukan dari menara kekuasaan.
“Mari kita buktikan bahwa tanah yang sering disebut gersang ini mampu melahirkan pemikiran-pemikiran besar yang menyuburkan peradaban bangsa. NTT bukan sekadar tempat lahir, tetapi kehormatan yang harus kita jaga dengan karya nyata,” pungkasnya.
Diskusi publik ini dihadiri dan diisi oleh Gubernur NTT sebagai pembicara utama serta Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, sebagai pembicara penutup. Diskusi dimoderatori Dr. Petrus Christian Mboeik dengan menghadirkan narasumber ternama, antara lain Dr. Pius Rengka, dua Guru Besar Undana Prof. David Pandie dan Prof. Fred Benu, Dr. Ananda Gudban, Dr. Silvia Fanggidae, dan Romo Dr. Leo Mali.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama dalam memaknai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-67 Provinsi NTT sekaligus momentum menyatukan pemikiran untuk masa depan pembangunan daerah.
Diskusi Publik juga dihadiri sejumlah tokoh NTT antara lain Dr. Anton Bele, Kristo Blasin, Anton Ali, Nelson Matara, Mohammad Ansor, Reni Marlina Un, Theo Widodo, Sofia Malelak de Haan, Kasimirus Kolo, Inocensius Fredy Mui, Julius Uly, Obet Naitboho, Kristien Samiyati Pati, Johana Lisapaly, Muhammad Nazir, Linus Lusi Making dan Paulus SK Limu. (TIM/RN)







