Bila sajasecangkir kopi inimenyimpan riuh gelombangtetap akan kubancuhpada malam yang sepi Bayangan rembulan mengaburmembiarkan kesendirianlarut dibuai dinginlantas memelukkutiada tangisan lagihanyalah rintik hujansemakin

(Instalasi: meja kerja, laptop/mesin ketik, arit, pacul, kambing, sesek bambu,sepeda unto)Meja kerja menampung bunyi ketukan,setiap huruf jatuhseperti benih yang dilempar ke tanah.Mesin

(Instalasi: ranjang, nakas, lampu tidur, bunga melati dan mawar merah)Di ranjang itu,dua bantal saling menatap dalam diam—tak pernah tidur, tak pernah benar-benar

(Instalasi: meja bulat, kursi, lilin, bunga, kain putih)Di meja bundar ini,kita duduk berhadapanseperti dua cermin yang saling lupa wajah.Lilin itu meleleh pelan,menyisakan

Monumen yang terbuat dari batu hitambertuliskan nama-nama yang dibungkam.Setiap pejalan yang lewat, memalingkan mukaseolah pahatan itu sekadar hiasan musim.Hujan menitikkan air mata

Kami terlahir dari koneksi Wi-Fi dan warisan luka.Membaca sejarah dari layar retak,dan menulis masa depan dengan jempol jariKami bukan bodoh, hanya dibesarkandalam

Aku ini tubuh yang dipetak-petak,dipahat atas nama cinta dan tambang.Anak-anakku menciumku dengan sepatu proyek dan menyebutnya pembangunan. Dulu, aku mengajari kalian mengeja

Tidak Ada Postingan Lagi.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.