Monumen yang terbuat dari batu hitam
bertuliskan nama-nama yang dibungkam.
Setiap pejalan yang lewat, memalingkan muka
seolah pahatan itu sekadar hiasan musim.
Hujan menitikkan air mata di atas prasasti,
membaca nama-nama dengan nada lirih.
Sementara jalan raya terus memakan ban-ban mobil,
dan udara tak henti mengunyah deru mesin.
Keadilan menjadi patung:
megah tak bergerak,
terabaikan sampai lumut dan menyerah.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung







