Aku ini tubuh yang dipetak-petak,
dipahat atas nama cinta dan tambang.
Anak-anakku menciumku dengan sepatu proyek dan menyebutnya pembangunan.
Dulu, aku mengajari kalian mengeja kata-kata di atas lumpur yang diberkati hujan, tapi kini kalian hanya mengenalku lewat peta, bukan lewat getaran tanah yang kuceritakan.
Aku pun pernah menjadi rumah, sekarang aku hanya panggung politik dalam layar, Air susuku kau sedot dengan alat-alat berat, yang tak tahu bedanya pohon dan tiang iklan.
Lihatlah, pulau-pulauku berdiri sendiri, berdandan dengan peraturan yang dibuat tanpa menyebut namaku.
Tapi aku tetap mencintai kalian dengan sabar yang melampaui akal. Karena seorang ibu tidak pernah membedakan anak-anaknya, meski telah menyakiti.
Agustus 2025
Oleh: Fileski Walidha Tanjung






